Monday, 3 April 2017

Anggur Merah dan Resep Menunda Kegilaan

Hari ini tepat pukul 01.15 subuh hari, saya hendak menceritakan sebuah kisah yang mungkin tidaklah bersahabat di telinga, sidang pembaca sekalian tidak pula bermanfaat bagi ekonomi maupun menambah pengetahuan, melainkan berdasar pada kebaikan hati untuk sekedar berbagi pun lebih penting sebagai media pencurahan hati. Maka, saya merasa bahwa berbagi kisah itu sepenuhnya tidaklah salah. Bukankah berbagi itu lebih baik, dari pada menyimpan kisah ini dengan rapi dalam ruang yang sunyi. Memang, saya tahu bahwa hal berbagi itu tentu mengandaikan kualitas tertentu, yang saya maksudkan adalah bahwa dalam berbagi tentu kita akan meningkatkan kualitas atau sederhananya berbagi hal terbaik yang kita miliki, namun jujur saja bahwa dalam hal ini saya membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk melihat pun merasa bahwa apa yang akan saya bagikan itu bernilai atau pun tidak, menimbang proses waktu itu dan juga pengandaian bahwa berbagi itu adalah hal baik maka dengan penuh percaya diri dan dalam pengaruh anggur merah saya hendak menceritakan sebuah kisah tentang diri saya sendiri juga keempat kawan terbaik yang bagi saya sudah merupakan sahabat, dan beginilah kisah kami.
Satu harapan.com
Well, waktu itu kira-kira pukul 8 pagi, kawan saya yang bernama Deby menyampaikan pesan kepada saya melalui WhatsApp dan juga Messanger (Facebook) bahwa akan ada rencana menikmati time out bersama malam ini, dan yang lebih membuat hati senang ketika itu, isi dompet saya kosong namun yang menanggung semua logistik (biaya makan dan minum) ditanggung penuh oleh kawan saya yang lainnya yang bernama Rie.

Sewaktu saya membaca pesan tersebut, saya sedang menikmati pemutaran film Hacksaw Ridge, yang digelar di lingkungan kampus, dalam acara **, entah-lah saya lupa. Saya lalu membalas pesan Deby dengan berkata bahwa, “semua tergantung situasi, sebab saya masih sedang berdiskusi bersama salah satu senior mengenai rancangan visi agenda kedepan yang akan saya lakukan ketika ia terpilih menjadi ketua kelompok etnis Papua di Salatiga. Sedikit bercerita mengenai diskusi itu, ada pun saya hendak mengatakan bahwa saya siap menjadi tim pembantu teknis, terutama dalam hal peningkatan kapasitas intelektual setiap anggota.”

Mendengar penjelasan saya Deby pun mengeluh dengan gaya khasnya yang begitu manja, dan inilah kelemahan saya sebagai seorang pria yang memiliki wajah garang namun berhati merpati. Kata kawan saya Menten, saya waktu itu hendak mengusulkan agar pertemuan kami ditunda saja, namun karena Deby dengan senjata pamungkasnya mampu meluluhkan hati Cenderawasih jantan maka saya memutuskan bahwa time out saya adalah dari pukul 20.00 malam hingga seterusnya, mendengar penjelasan itu Deby mengiyakan bahwa kami akan bertemu pada waktu yang sesuai time out saya, lalu Deby mulai mengkomunikasikan kepada ketiga kawan saya yang lain, akhirnya mereka pun sepakat pukul 20.00 kami sudah harus berkumpul di kontrakan Deby.

Lalu pada waktu yang telah ditentukan itu, Deby kembali memberikan pesan kepada saya bahwa ia telah meminjamkan motor kekasihnya kepada Menten agar menjemput saya di kos. Tak lama setelah saya membaca pesan tersebut pintu kamar kos saya pun berbunyi, ada yang mengetok dari luar, dan ketika saya membuka pintu, yang terlihat adalah seorang pria kurus tinggi, berwajah lucu layaknya Dono dalam film Warkop DKI sedang berdiri dihadapan saya sambil melukiskan senyumnya yang begitu lebar.

Saya hendak menertawakan sikap kawan saya itu, namun dalam waktu singkat saya mempersilahkan ia untuk masuk, ia kemudian memutar lagu “ko tinggal turun naik” yang pada beberapa waktu ini sedang hits dijadikan sebagai song track dance dengan choreography yang tidak tahu makna atau filosofi dibaliknya itu, tapi biarpun menggelikan fenomena ini tentu bagian dari sejarah. Oke lupakan hal bodoh itu.

Well, tak lama setelah itu kami pun langsung bergegas menggunakan motor aoutomatic ke tempat di mana Deby dan Rie sedang menunggu kami. Sesampainya kami, mereka menyambut kami seperti sedang meneriaki maling ayam yang ketahuan sedang beraksi. “Kamfreeeeeeeet lah!.” Ucap saya dalam hati, bukan memaki kedua wanita itu, tetapi memaki keadaan yang selalu membuatku terlihat bodoh, konyol dan bagai sampah itu. Yah, kami disambut dengan teriakan. Seperti, “Weee.... dari mana saja, jomblo?” atau, “Kumis thu cukurlah!” atau, “Om, kapan turun praktek?” atau, “Kambing, sudah mandi belum?” atau, “Nyingg..., gelang di tangan thu sudah sama kayak bangkai ular saja.” atau, “Karibo, jang terlalu kampungan... rambut thu setahun sekali guntinglah.” dan masih banyak ungkapan sampah lainnya yang dilontarkan kepada saya.

Setelah menunggu Deby dan Rie yang masih saja terus mempercantik diri mereka, akhirnya pukul 12.00 kami pun berangkat menuju Indomaret 24 jam yang berlokasi di Ungaran, perbatasan wilayah Kota Salatiga dan Semarang. Dalam perjalanan kami singgah untuk menjemput satu lagi kawan kami yang bernama Eza, akhirnya Power Rangers pun lengkap sudah, dan siap untuk bertempur melawan jahatnya dunia, melawan kesendirian, menikmati arti bersama.

Setelah berkendara sekitar 10 menit kami pun sampai. Kami memilih tempat nongkrong di pojok agar tidak begitu terlihat ketika kami hendak melakukan ritual minum-minum. Rie berjalan masuk kedalam Indomaret, aku lalu mengeluarkan anggur merah yang sudah kami beli, dengan uang Rie. Tak lama kemudian Rie kembali dengan sekantung penuh makanan ringan, kacang, keripik, kacang lagi, keripik lagi, roti tawar, roti isi cokelat, roti isi keju, biskuit, air mineral, air soda. Aku lalu mulai menuangkan anggur di botol air mineral yang sudah aku kosongkan. Ritual pun dimulai.

Beginilah cara kami menikmati time out kami. Sekumpulan Power Rangers ini selalu masih saja sama, gila kocak, tidak tahu diri, panikan, sering curhat, galau-galau tidak jelas, ceplas-ceplos, namun baik. Hingga sebotol anggur habis, mulailah mulut kami cerewet sana-sini, memaki sana-sini, menyindir sana-sini, kadang sempat menyinggung perasaan salah satu dari kami. Namun, inilah yang terpenting, bahwa kebersamaan itu sebuah berkat, entah bagaimana kita merayakannya pada intinya adalah selalu bersama. Karena siapa saja bisa gila jika ia tak memiliki sahabat, dan sekalipun sahabat itu sering membuat jengkel itu bukanlah masalah besar, yang terpenting ia selalu ada disamping kita. Saya kadang berpikir bahwa kesepian bisa saja membuat kita menjadi gila. Oleh sebab itu untuk menghindari itu demikianlah cara kami menikmati time out dan cara menghidupi persahabatan. demikianlah kisah kami.
***
Tulisan ini ikut arisan godok.id bulan April. silakan dibagikan jika menyukai Elyan sebagai pemenang.

Elyan Mesakh Kowi

Berasal dari Manokwari Papua Parat dan sekarang masih jomblo.

0 comments:

Post a Comment