Wednesday, 5 April 2017

Ayah, Maaf.

Sore ini hujan tiba-tiba turun, seolah mereka tahu apa yang sedang kurasakan. Dua jam telah berlalu setelah pemakaman Ayahku. Semuanya masih terasa mimpi bagiku. Kepergian Ayah membuat duniaku seakan berhenti. Aku hanya terduduk lemah mengingat kenangan-kenangan yang hanya tersisa sekarang.

ayobuka.com
Kejadian itu bermula seminggu yang lalu. Ketika itu, aku sedang berada di perguruan tinggi tempat aku melanjutkan pendidikanku. Hari itu perasaanku memang kurang baik. Setelah pertengkaran dengan Ayah. Memang, aku sering bertengkar dengan Ayah. Tapi, kali ini pertengkaran itu begitu luar biasa. Waktu itu kami mempermasalahkan tentang pendidikanku selanjutnya. Beberapa hari sebelumnya Aku menelpon Ayah. Aku mengungkapkan keinginanku untuk melanjutkan ke perguruan tinggi di luar kota. Tiba-tiba ayah terdiam sejenak dengan apa yang ku sampaikan waktu lalu. “Nanti dulu ya, Nak. Syifa fokus saja dulu dengan ujiannya kan tinggal beberapa hari lagi, kita bicarakan nanti saja di rumah ya, Fa." hanya itu yang ayah jawab setelah terdiam untuk beberapa saat.

Hari itu ayah tiba-tiba menelponku. Ku pikir ada suatu hal terjadi sehingga ayah menelponku. Padahal biasanya aku yang menelpon ayah. Hari itu, kebetulan aku tidak ada jam kuliah. Tiba-tiba suara handpone ku menghentikanku. Aku mencoba menepi, sebelum melanjutkan perjalanan pulang.

Assalamualaikum.” sapa seseorang di seberang sana. Suara khas ayah. 
Waalaikumussalam” jawabku. Masih dengan pertanyaan yang sama dibenakku.
“Syifa gimana kabarmu nak?” Ayah kembali menanyaiku.
Alhamdulillah baik”, sembari menyunggingkan sebuah senyum di bibirku. Suara ayah tidak begitu jelas ditelingaku dan kendaraan yang berlalu dengan banyaknya tanpa henti membuat suara terdengar samar-samar.

“Ayah, Syifa masih dijalan, sebentar lagi sampai asrama. Nanti Syifa telpon lagi ya” dengan nada sedikit berteriak. Entah apa yang ayah jawab. Suaranya tak begitu jelas ditelingaku. Aku langsung menutup telpon Ayah diiringi salam. Perjalananku menuju asrama, tinggal lima puluh meter lagi. Ya, aku cukup berjalan kaki menuju asramaku. Karena asrama yang disediakan untukku dan teman-teman seperjuanganku hanya berjarak beberapa meter dari sekolahan. Tempat tinggal dan tempat kami belajar tidak dalam satu tempat. Butuh beberapa meter dari asrama menuju sekolahan.

Dan akupun sampai diasrama. Aku langsung menuju kamarku, ”Assalamualaikum” sapaku sembari melangkah dengan sepatu ditanganku. “Waalaikumussalam” jawab Risa, teman satu asrama denganku. Aku terkumpul dengan enam orang dalam kamar yang ku tempati. Sejak tiga tahu lalu, kami sudah menempati tempat ini. Dan dari sanalah persaudaraan kami dimulai.

“Sudah pulang Fa?” sapa Silvia yang baru keluar dari dapur dengan makanan yang penuh dimulutnya. “Ya nih” jawabku yang melangkah menuju dapur untuk memenuhi keinginan tenggorokanku yang dari terus berteriak memohon air. “ Yang lain mana?” tanyaku sembari meneguk makananku. “Biasa.” Jawab Silvia dengan nada seolah tak memperdulikan pertanyaanku.

Tiba-tiba silvia memanggilku dengan nada sedikit agak berteriak "Fa, Fa handphone mu bunyi." "Iya" jawabku dengan nada yang sama dengan Silvia sambil melangkah menuju asal suara handphone ku. Kulihat nama yang tertera dilayar handphoneku. “Oooh, Ayah” ucapku dengan nada sedikit agak berbisik. “Siapa Fa?” tanya Silvia. "Ini Ayah" jawabku. "Hmmm" respon Silvia sambil menganggukkan kepalanya. "Aku masuk kekamar dulu ya" ucapku sambil melangkah berlalu maninggalkan Silvia. Silvia hanya mengacungkan jempolnya kepadaku.

Assalamualaikum" sapaku kepada Ayah mendahului pembicaraan. "Gimana kabarnya Yah?" tanyaku. "Alhamdulillah sehat" jawab ayah, "lagi apa, Fa?" tanya Ayah. "Baru pulang kuliah, Yah. Ibu mana Yah?" Tanyaku. "Ada di dapur" jawab Ayah. Sebenarnya bukan itu inti dari pertanyaan yang ku ajukan. Tapi, ku urungkan niat untuk bertanya lebih dulu, biarlah ayah yang menyampaikannya lebih dulu ucapku dalam hati.

"Fa kapan kamu ujiannya, Nak?". "Satu minggu lagi, Yah" jawabku dengan dahi sedikit mengerut. Padahal aku sudah menceritakannya beberapa hari yang lalu sambil memohon doa agar ujianku dimudahkan oleh Sang Kuasa. "Mungkin, Ayah lupa" ucapku dalam hati. Hening kemudian terjadi beberapa saat diantara kami. "Fa" Ayah mulai membuka kembali percakapan kami. Tapi, aku merasa ada sebuah ketegangan dalam pertanyaan Ayah. "Semoga semuanya baik-baik saja" ucapku dalam hati. “Ya, Yah" jawabku. "Kamu jadi mau melanjutkan kuliah ke luar daerah?" tanya Ayah kemudian. "Insyaallah Yah" jawabku sambil meletakkan tas yang dari tadi berada di bahuku. "Kalau disini saja bagaimana" tanya Ayah lagi. Tapi, kali ini  nada suara ayah lebih hati-hati. "Kan Syifa sudah bilang sama Ayah, Syifa mau lanjutinnya ke luar daerah." 

"Iya.." sahut Ayah diseberang sana dengan nada yang sangat lembut tak seperti biasanya. "Maksud Ayah disini aja lanjutin kuliahnya, biar kamu bisa sering-sering pulang atau Ayah sama Ibu yang jenguk kamu ke sana". "Syifa sudah besar kan Yah" jawabku dengan nada mulai meninggi. "Jadi, gak perlu sering-sering di jenguk, dan sekarang alat komunikasi sudah canggih." jawabku dengan nada mulai gak kesal. "Yah, Syifa sholat dulu ya, sudah adzan" ucapku dengan nada ketus. Ayah yang paham dengan karakterku pun tak lantas melanjutkan perbincangan kami. "Ya sudah". Aku langsung menutup telpon dengan diiringi salam.

Aku termasuk anak yang berwatak keras kepalanya diantara dua saudara laki-lakiku. Dan dikarenakan aku anak terakhir plus perempuan satu-satunya, mungkin karena itu aku cukup dimanja oleh kedua orangtuaku. Aku mempunyai dua saudara laki-laki yang keduanya sudah menikah. Yang pertama kakakku Faisal, nama lengkapnya Muhammad Faisal Firdaus. Kak Faisal sudah menikah empat tahun yang lalu. Sedangkan  yang kedua kak Fakhri, Muhammad Fakhri Akbar nama lengkapnya, baru setengah tahun yang lalu menikah. Diantara kedua kakakku, aku lebih dekat dengan kakak pertamaku. Mungkin, karena kedua kakakku laki-laki karenanya kelakuanku sedikit terlihat  seperti laki-laki.

Aku tinggal di sebuah perkampungan di daerah Kotabaru, desa Tarju namanya. Sebuah desa kecil yang terletak di seberang laut di Kotabaru. Sejak selesai pendidikan sekolah dasar aku sudah merantau melanjutkan pendidikanku ke kota Banjarmasin. Dan sejak aku berdiam dan menimba ilmu yang jauh dari tempat tinggalku, aku merasa mempunyai rumah keduaku. 

Sebenarnya adzan belum terdengar di tempat aku tinggal. Kulihat jam tanganku "masih dua puluh menit lagi" ucapku dalam hati sembari merebahkan diriku diatas kasur. Tiba-tiba aku teringat dengan percakapan yang baru saja terjadi antara ku dan Ayah. Ya, aku memang tak terlalu dekat dengan Ayah. Tapi, ketika aku ingin mengerjakan sesuatu yang penting aku selalu bertanya kepada Ayah dan memohon izin. Dan biasanya Ayah selalu mengizinkanku. "Kenapa Ayah bertanya seperti itu ya" ucapku dalam hati. Dan tanpa sadar akhirnya mataku pun mulai tertutup seiring dengan perkataan ayah yang membuatku bertanya-tanya. 

"Fa…Fa" panggil Dina seraya menggoyang-goyangkan badanku. "Hmmm" sahutku sambil berusaha membuka mataku yang sangat sulit diajak kompromi. "Fa sudah sore, Fa, bangun" ucap Dina sambil mengangkat tanganku mencoba membantu mengembalikan kesadaranku. Kesadaranku belum sepenuhnya kembali. Sambil duduk di atas kasur aku mencoba mengatur pernafasanku yang dari tak beraturan. Aku mencoba berdiri melangkah menuju kamar mandi. Nadia, Silvia, Dina yang asyik  duduk di ruang tengah sedang asyik menyaksikan acara di tv, aku yang melihatnya hanya tersenyum sambil berlalu.

Tak terasa seminggu telah berlalu, aku sibuk mempersiapkan ujianku sejak seminggu yang lalu sehingga aku pun lupa dengan perkataan Ayah seminggu yang lalu. "Din, ayo nanti telat" teriak Nadia dengan muka kesal beteriak dari depan asrama. "Iya, iya " jawab Dina dengan langkah tergesa-gesa sambil mententeng sepatunya. "Sabar dulu kek"ucap Dina seraya memasang kedua sepatunya. “Ayo" ucap Dina dengan aksinya yang meloncat dari teras ke tanah.

Hari ini, hari pertamaku berperang di atas kertas putih dengan tinta-tinta hitamku. Aku dan ketiga temanku berbeda ruangan. Aku di ruangan tiga, Dina dan Silvia di ruangan satu, sedangkan Nadia di ruangan lima. Bel sudah berbunyi pertanda ujian akan segera di mulai. Penguji belum masuk ke ruanganku. Aku mencoba memanfaatkan waktu sebisaku. Jujur rasa gugup mulai datang menghampiriku. Sehari, dua hari, sampai pada akhirnya ujian pun selesai. Aku membereskan perlengkapan sekolahku. "Alhamdulillah" ucapku dengan sedikit berbisik, "Fa, duluan" ucap Fira teman satu lokal ujianku seraya melangkah menuju pintu kelas. “Ya" sahutku masih dengan pekerjaan yang sama. Aku melangkah menuju pintu kelas sesekali kulihat teman-teman di lokalku. Masih ada tersisa beberapa orang di dalam lokal.

Aku berdiri di depan jendela kamarku. Entah apa yang aku pandang, aku pun tak tau. Beberapa temanku sudah kembali ke rumahnya masing-masing, hanya tersisa aku dan Nadia. Rumah Dina dan Silvia bisa kubilang dekat dari sini. Sedangkan rumahku dan Nadia lumayan lah. Aku masih tenggelam dengan pikiran-pikiran yang tak jelas. Tiba-tiba ponselku berbunyi dengan nada dering Haris J yang ku pasang. "Fa, ponselmu bunyi" suara Nadia belum membuyarkan lamunanku. Ketika kedua kalinya intonasi suara Nadia cukup membuatku terkejut. "Kenapa Nad" sahutku masih dengan keterkejutanku. "Coba di dengar suara apa itu" jawab Nadia sambil memunculkan kepalanya dari arah pintu. "Ooh, makasih Nad". Aku melangkah menuju asal suara.

Aku melihat nama yang tertera di layar ponselku, Kak Faisal "Gak biasanya Kak Faisal menelponku" ucapku dalam hati. "Assalamualaikum Kak" jawabku. Untuk sesaat belum ada jawaban dari Kak Faisal. "Fa" suara Kak Faisal masih sama dengan biasanya. Tapi, ketika kalimat selanjutnya keluar suara Kak Faisal tak begitu jelas terdengar. Ku pikir Kak Faisal ada masalah dengan istrinya "Apakah masalahnya sangat hebat?" tanyaku dalam hati. "Fa, Ayah Fa" pertanyaan yang sedari tadi muncul semakin menjadi-jadi."Ayah kenapa, Kak?" Dengan hati cemas. "Fa kamu sudah selesai ujian kan?" Tanya Kakak. "Ya kak". "Pulang ya sayang" dengan suara yang mulai terdengar normal. "Ayah kenapa?" tanyaku. Suara tangisan Kak Faisal sudah tak terdengar lagi hanya suara Kakak saja yang terdengar masih berat. "Ayah menunggumu" ucap Kakak "langsung pulang ya, Fa hari ini juga". "Hmmm" hanya itu jawabanku kepada kakak.

Perjalananku menuju rumah bisa dibilang kurang lebih tiga jam setengah. Sejak aku pergi menuju terminal hatiku merasa tak tenang, gelisah tiba-tiba tak mau berhenti hinggap dari perasaanku. Tiba-tiba wajah Ayah muncul dalam pikiranku, teringat pertengkaranku dengan Ayah seminggu menjelang ujianku. "Semoga ayah baik-baik saja" lirihku diiringi dengan nafas beratku. Ku lirik jam tanganku menunjukkan jam satu lewat tiga puluh menit. Dua jam telah berlalu tapi mataku tak kunjung terpejam. Ku coba mengalihkan pikiranku dengan melihat pemandangan di sepanjang jalan. Dan lagi-lagi wajah Ayah yang muncul.

Tinggal beberapa menit lagi aku tiba ditempat pemberhentianku. Ku keluarkan ponselku dari dalam tasku. Aku menghubungi Kak Faisal berniat untuk memberitahunya bahwa sebentar lagi aku tiba di terminal. Akhirnya aku pun sampai. Sejak turun dari taksi aku mencari-cari keberadaan kakak "belum datang" ucapku, aku pun mencari tempat untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan Kak Faisal.

"Fa" tiba-tiba seseorang memanggilku "Kak Faisal" sahutku. "Sudah lama nungguinnya?" Tanya Kak Faisal. "Enggak" jawabku, "Ayah kenapa?" tanyaku pada Kak Faisal. KaK Faisal tak lantas menjawab pertanyaanku, untuk sejenak tiba-tiba Kak Faisal terdiam "Ayo pulang, Ibu sudah nunggu kamu dari tadi" aku hanya terdiam mendengar perkataan Kakak yang tidak menjawab pertanyaanku. 

Ketika kami di perjalanan, aku teringat masa-masa kecilku. Masa-masa dimana aku berlarian di sawah, bermain air di sungai bersama kedua kakakku dan tanpa sadar sebuah senyum terbentuk dari kedua bibirku. "Kak, ada acara ya dirumah?" tanyaku dengan sedikit berteriak. "Hmmm" hanya itu yang Kak Faisal jawab.

Akhirnya aku ampai di rumah. Sudah banyak orang didalam rumah silih berganti membacakan Al-Qur’an, tiba-tiba aku terdiam Kak Faisal pun tak lantas memberitahu ku apa yang terjadi sebenarnya. Aku pun berhenti dari keterdiamanku. Ku  perhatikan dengan seksama sekelilingku, tas ditanganku tiba-tiba terjatuh, badanku tiba-tiba melemah ketika ku lihat bendera kuning berada di depan rumahku. Seketika itu pula aku langsung menyadari semuanya.

Aku langsung berlari diiringi teriakanku memanggil nama Ayah. Kakiku membeku ketika aku sampai di depan pintu rumah. Aku semakin tak berdaya ketika sebuah jenazah ada di dalam rumahku. Tanpa ku sadari seseorang tiba-tiba menghambur ke dalam pelukanku, hanya tangisan pasrah Ibu yang ku dengar. Dengan lunglai sedikit demi sedikit aku melangkah menuju jenazah Ayah. Tiba-tiba air mataku jatuh dengan derasnya, aku hanya bisa berteriak memanggil nama Ayah. "Yah, Syifa janji akan turuti semua keinginan Ayah, Syifa gak akan ngambek lagi sama Ayah, Syifa janji" sambil menggoyang-goyangkan badan Ayah yang tak berdaya lagi.

Ibu kembali memelukku mencoba menenangkanku "Bu, Syifa janji gak akan ngelawan Ayah lagi" ucapku sambil memandang ke wajah Ibu dengan pasrah. Ibu hanya menganggukkan kepalanya diiringi tangisan yang tak sebesar dengan tangisanku. Ayah baru saja selesai di sholatkan dan dari tadi air mataku tak kunjung reda, tapi kali ini airmataku tak diiringi dengan teriakanku yang sangat histeris. "Bu, kenapa Ayah pergi?" tanyaku yang masih berada di pelukan ibu. Ibu hanya diam mendengar pertanyaanku.

"Bu, ini langsung diangkat ke pemakaman?" Tanya salah seorang penduduk di desaku. Ibu hanya mengangguk dan air mata Ibu tiba-tiba terjauh lagi. Aku menggiring di belakang bersama Ibu, sedangkan kedua kakakku membantu warga mengangkat jenazah Ayah. Suara tahlil menggema dengan kerasnya, seakan dunia pun ikut mengantar keperian Ayah ke peristirahatan terakhirnya.

Sejam telah berlalu pemakaman Ayah telah usai. Aku masih menangis sambil mengaminkan doa yang dibacakan salah seorang ustadz di desaku. Satu persatu warga desa pergi meninggalkan pemakaman Ayah. Sedangkan aku dan keluargaku masih terdiam memandang jenazah Ayah. 

"Bu, kita pulang yuk" ajak Kak Fakhri kepada Ibu. "Tak baik terlalu bersedih" ucap Kak Faisal melanjutkan. Dan sore itu pun berlalu. Aku masih terdiam dengan sejuta bayangan tentang Ayah. Lagi-lagi air mataku jatuh, "Fa, makan yuk" Ibu datang menghampiriku. "Syifa belum lapar" jawabku lesu kepada Ibu. "Fa, gak baik terus larut dalam kesedihan" ucap Ibu sambil memelukku. Dan akupun menangis sejadi-jadinya di pelukkan. Ibu terus memberikanku kata indah tentang Ayah yang tanpa ku sadari Ibu juga ikut menangis.

Dan sore ini hujan seiring dengan duka yang ku rasakan atas kepergian Ayah, seolah langit mengungkapkan kesedihannya atas kepergian Ayah. Ibu sudah pergi beberapa saat yang lalu namun, aku masih terduduk membisu menatap derasnya hujan yang turun. Aku kembali teringat kenangan-kenanganku bersama Ayah. Dan pertengakaran saat itu kembali muncul dalam khayalanku. Aku kembali menyesal menyalahkan diriku sendiri. Dan tanpa sadar mataku sedikit demi sedikit mulai terpejam di sela-sela isak tangisku. 
***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silahkan dibagikan jika menyukai Selviana Agustine sebagai pemenang.


Selviana Agustine 
Asal Banjar Baru, Kalimantan Selatan. Seorang Mahasiswa. Penulis Mentah yang sedang mengharapkan kritik dan saran demi hobi baru yakni menulis. 

0 comments:

Post a Comment