Tuesday, 18 April 2017

Bahagiamu Bahagiaku

Aku mencintaimu ….


Itulah yang kurasakan sekarang. Bukan hanya cinta sebagai seorang sahabat, tetapi mencintaimu sebagai lelaki yang akan menemani hidupku kelak.

Salahkah perasaanku ini? Salahkah aku diam diam mencintaimu?
Walaupun kau ini adalah teman masa kecilku.

Temanku pernah berkata, “Lelaki dan perempuan jika bersahabat, pasti ada rasa cinta di antara salah satu dari mereka. Tetapi ending yang sering terjadi adalah cinta itu selalu bertepuk sebelah tangan.” Aku tidak berfikir jika ini 100% benar tetapi inilah yang kurasakan sekarang.

Damian, sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara sendiri. Dari kecil kami selalu bermain bersama karena ibu kami yang bersahabat. Damian sering kali mengejek ku ‘Delon (Adel Balon)’ karena pipiku yang tembem. Awal pertemuan kami bisa dibilang sangat unik.

**

Saat itu tahun 2004, aku baru saja akan masuk sekolah untuk pertama kalinya. Dengan tas Strawberry Shortcake berwarna pink menggemblok di bahuku. Tidak lupa ‘sepatu nyala’ yang akan mengeluarkan cahaya warna warni jika diinjakan ke lantai.

“Wah anak ibu sudah sudah cantik, siapkan untuk sekolah?,” Tanya ibuku dengan senyuman khasnya.

“ Siap banget bu!,” ujar ku antusias. Dari semalam aku memang tidak bisa tidur memikirkan bagaimana hari pertamaku di sekolah.

Ibu langsung mengeluarkan motor dari garasi, dan membantuku untuk naik ke atas motor karena kakiku yang belum sampai di pedal. Dengan berhati hati ibu membawa motor dan mengantarkanku sampai ke sekolah.
 
Hatiku semakin deg degan saat ban motor sudah berada dalam parkiran sekolah. Aku menerka nerka bagaimana ya teman sekelasku nanti? Apa mereka mau bermain bersamaku?

Saat itu aku dan ibu sudah sampai di depan ruangan kelas, terlihat banyak sekali anak seumuranku juga ditemani orangtuanya. “apa itu teman kelasku nanti ya?,” pikirku dalam hati.

‘RING!!!!’

Bel masuk pun berbunyi, aku langsung berpamitan pada ibu dan masuk ke dalam kelas. Ku lihat semua kursi sudah ada yang menempati. Lalu aku menemukan 1 meja yang kosong, belum ada yang menduduki. Aku pun langsung duduk disitu, sendirian.
 
Sebenarnya aku paling benci yang namanya sendirian, tidak ada teman ngobrol dan bercanda. Huh! rasanya pasti bosan sekali.
Sebelum pelajaran mulai bu guru meminta kita untuk perkenalan diri. Karena tempat dudukku yang di belakang, aku jadi mendapat kesempatan terakhir memperkenalkan diri.
 
“Halo nama aku Vanya Adriana Larasati, kalian boleh memanggilku Vanya. Semoga kita bisa berteman ya,” ujar murid perempuan dengan bando berwarna pink menghiasi rambutnya.

Wah dia sangat cantik, kulitnya putih dan matanya besar. Aku ingin sekali berteman dengannya. Setelah sekitar 15 menit, akhirnya tinggal 1 orang lagi sampai giliranku. Aku sudah mempersiapkan kata apa saja yang akan kuucapkan saat perkenalan nanti.

“Ya, sekarang giliran kamu,” Ibu guru menunjukku untuk segera memperkenalkan diri. Aku langsung bangkit dari kursi dan bersiap siap.

“ Halo semuanya! Namaku--,”
 
“Permisi.” Belum sempat aku menyebutkan nama, seorang wanita masuk ke dalam kelas dan memotong perkenalanku.
 
“Maaf telat bu, saya tadi ada keperluan mendadak dan baru sempat mengantarkan anak saya ke sekolah,” Jelas wanita itu. Oh ternyata ia adalah ibu dari salah satu teman sekelasku yang baru saja datang.
Aku melihat wajahnya yang memerah bagaikan tomat, ‘mungkin dia malu ya di tatap oleh teman sekelas?’ pikirku dalam hati.

Teman baruku yang telat itu berjenis kelamin laki laki. Ia sedikit lebih pendek dariku dan memiliki rambut yang sedikit ikal. 

“Terimakasih bu, saya permisi ya.” Ibu dari anak lelaki itu langsung pergi meninggalkan kelas dan menitipkan anaknya pada ibu guru.
 
“Nah ini adalah teman baru kalian, coba tolong kenalkan dirimu.”
 
Anak itu lalu merapihkan bajunya yang sedikit berantakan. “ Nama ku Damian Rizky Anugrah kalian bisa memanggilku Damian.” Sudah, hanya itu saja yang ia ucapkan. Ibu guru lalu menyuruhnya duduk … disebelahku! Karena memang tidak ada lagi bangku yang kosong.

“Hai, namaku--,”
 
“Oh iya tadi kamu belum memperkenalkan diri kan? Yasudah ayo sekarang giliranmu.” Padahal tadi aku mau memperkenalkan diriku pada Damian, tapi bu guru memintaku mengulang perkenalan yang tadi sempat tertunda.
Aku kembali berdiri dari bangku. “ Halo teman teman! Namaku Adelia Sukmawati, kalian bisa memanggilku Adel, Ayo mari berteman semuanya,” ujarku dengan riang gembira. Aku mencoba seceria mungkin agar cepat mendapatkan teman.
 
“Wati kali tuh namanya, hahahaha.” Ledek salah satu anak lelaki di kelas yang langsung diikuti semuanya.
 
Dari kecil aku memang kurang suka dengan nama belakangku. Seringkali aku diejek dengan ‘Wati wati’ padahal namaku kan Adel. Dan sekarang mereka mengejekku lagi, rasanya aku ingin menangis saja.
 
“HAHAHAHA WATI WATI.” Satu kelas mengejek dan menertawaiku bersamaan. Tanpa sadar cairan bening keluar dari mataku. Aku menangis!
 
“Yah nangis, cengeng cengeng,” Ledek anak lelaki yang lain.
 
“Hiks … hiks ….” Tangisanku semakin menjadi jadi, kini semua teman sekelas menertawai dan mengejekku cengeng.
 
“Heh Aldo dan kalian semua, tidak boleh begitu sama teman sendiri.” Bu guru membelaku dan berusaha membuatku berhenti menangis.
 
“Dia cengeng sekali sih bu, masa di katain begitu saja nangis, dasar Wati! hahaha!” Kini anak lelaki itu semakin mengejekku membuat teman sekelas yang lain ikutan tertawa.
Tiba tiba terdengar bunyi decitan kursi, anak lelaki di sebelahku berdiri dari tempat duduknya. “ Hei kamu jangan mengejeknya seperti itu dong! Memang kenapa kalau namanya Wati? Adakah yang salah dari nama itu?. Ibuku bilang, semua nama pasti ada arti dan harapan dari orangtua yang memberikannya jadi kamu jangan mengejeknya lagi.” Anak bernama Damian itu duduk kembali ke kursinya.
Suasana kelas berubah menjadi sunyi. Seluruh mata kini memandang Damian yang baru saja ‘mungkin’ membelaku. Awalnya aku sempat terkejut karena menurutku Damian anak yang pendiam dan ia satu satunya yang tidak ikut ikutan mengejekku tadi.
 
“Ya sudah anak-anak kalian jangan seperti itu lagi, kita ini semuanya keluarga.” Ibu guru mencoba memberi nasihat kepada kelas yang tadi sempat gaduh.
Aku menatap Damian dalam dalam, masih tidak menyangka ia adalah anak yang seberani itu. “ Kenapa kamu liatin aku?,” Tanyanya. Aku langsung mengalingkan wajah ke bawah.
 
“Damian, terimakasih ya tadi sudah membelaku.”

“Aku tidak membelamu kok, hanya saja anak lelaki itu terlalu berisik,” Ujarnya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya, menggambar.

“Wah kamu suka gambar ya, aku juga suka! Kita gambar bareng yuk!.” 

Sejak saat itu hubungan kami semakin dekat, kami sering sekali menghabiskan waktu istirahat untuk menggambar bersama. Ditambah lagi Ibu kami yang sudah bersahabat, membuat persahabatan kami semakin langgeng … hingga sekarang.
 
**

“Del!! Lo liat topi gua gak? Kok gaada sih di rumah.”
Belum sempat berkata ‘halo’ suara di seberang telfon sudah memekakan telinga Adel.
 
“Apaan sih Dam teriak teriak gitu, santai aja kali”
 
“Gua panik! Topi gua tiba tiba ilang, besok kan dipake buat upacara hari pertama!.”
 
“Coba lo liat di dalem tas, seinget gue tadi lo naroh disitu.”
 
“Gaada Del! Gua yakin ga naroh di tas!”

“Liat dulu aja kenapa sih! Susah banget dibilangin.”
 
“ Ehehehe iya ada Del, wah lo emang paling tau deh tentang gua!.” Ujar Damian dengan sedikit menahan tawa.

‘DEG!’
 
Apa ini? Kenapa Adel merasakan hatinya bergetar? Entah kenapa hatinya menjadi berbunga bunga saat Damian berkata seperti itu. Sebelumnya tidak pernah ada rasa seperti ini terhadap Damian. Adel hanya menganggap lelaki itu sebagai sahabat yang seperti saudaranya sendiri. Tapi kali ini kenapa perasaan aneh itu muncul? Adel tau bahkan sangat mengetahui jika perasaan aneh yang kerap muncul akhir akhir ini bukanlah sesuatu yang baik.
 
“Woy Del diem aja lo macem onta sakit gigi.” Suara Damian membuat Adel tersadar dari lamunannya.
 
“Apaan sih lu, garing.” Sahabatnya itu memang gemar sekali membuat lelucon leluon yang sama sekali tidak lucu bagi Adel.

“Ye lagian lo diem aja diajak ngomong juga.”
 
“Haha, tadi gue lagi mikirin sesuatu.”
 
“Mikir apaan lu? Mikirin gua yah haha.” Jackpot! kok Damian bisa tau sih Adel lagi mikirin dia?
 
“Apaan sih lo, pede banget.” Seulas senyum terpampang di bibir Adel yang tipis, menahan malu dan senang yang membara di hatinya. Mendengar suara sahabatnya itu saja sudah sangat membuatnya senang. Ada apa sih dengan Adel?
 
“Haha, yaudah ya Del gua udah diteriakin Bunda suruh nganterin belanja.” Damian langsung menutup panggilan teleponnya.
Seulas senyum kembali terpampang di bibir Adel, ia merasa bagikan ada kupu kupu yang berterbangan di perutnya. Kata orang, jika merasakan hal seperti itu tandanya sedang jatuh cinta. Tapi apa iya Adel sedang jatuh cinta? Sama Damian?
 
“Nggak , Nggak mungkin. Dia udah gue anggap seperti saudara sendiri mana mungkin gue jatuh cinta sama dia.” Mulut memang bisa saja berbohong, tetapi hati selalu menyatakan kejujuran. Biarpun Adel mengelak sudah jatuh cinta dengan Damian, tetapi hatinya tidak bisa berbohong.
--
Hari yang ditunggu tunggu pun datang, kini Adel dan Damian sudah resmi menjadi mahasiswa/I . Mereka memutuskan untuk masuk di kampus yang sama. Dari SD hingga sekarang, mereka berdua tidak pernah terpisahkan. Bahkan tidak sedikit temannya saat SMA mengira mereka berpacaran.
 
Walaupun mereka berbeda jurusan , tetapi beruntungnya jam kuliah mereka sama . Jadi saat ada waktu mereka pasti akan menghabiskannya berdua.

Hari hari di kampus mereka lewati dengan baik. Damian yang pecinta olahraga memilih UKM basket untuk mengisi waktu luangnya, dan Adel lebih memilih UKM jurnalistik karena ia memiliki impian menjadi seorang reporter harian. Tidak jarang Adel menunggu tim basket sampai selesai latihan karena menunggu Damian yang selalu mengantarnya pulang.
 
“Eh kalian pacaran ya?,” Tanya Dipto, salah satu anggota klub basket yang sering Adel lihat latihan bersama Damian.
 
“Hah? Apaan sih kita Cuma temenan doang,” jawab Adel dengan muka malu malu. Sebenarnya ia merasa senang jika ada yang menganggapnya dengan Damian berpacaran.
 
“Temenan doang kok tiap hari bareng? Udahlah ngaku aja.” Kok Dipto jadi sok kepo gini?
 
“Serius, duarius malah gue sama Damian Cuma temen doang. Kita udah temenan dari kecil makanya keliatan deket banget.” Dipto hanya manggut manggut, wajahnya menunjukan percaya tidak percaya.
 
“Gua kasih tau ya, biasanya kalo cewek sama cowok udah temenan lama pasti ada rasa suka.” Pernyataan Dipto membuat Adel merasa tertohok. 

“Kok gitu?.”
 
“Ya gua Cuma berbicara dari pengalaman aja, tapi kaya gitu sih ga semuanya bener. Bisa aja kan karena udah temenan lama lo malah anggap dia saudara sendiri ketimbang gebetan.” Kata kata Dipto emang ada benernya juga. Karena sudah sangat mengenal sahabatnya itu, Adel merasa hanya dirinya yang bisa mengerti dan ‘mungkin’ mencintai Damian apa adanya.
 
“Woy Dip jangan gangguin Adel, sini latihan lagi.” Teriakan Damian membuat Dipto kembali lagi ke lapangan untuk latihan. Tanpa sadar seulas senyum merekah di bibir Adel.  Sekitar 2 minggu lagi mereka akan mengikuti lomba olahraga tingkat kota. Karena itu mereka tidak melewatkan satu hari pun untuk berlatih.
1 jam kemudian mereka pun memutuskan untuk menyudahi sesi latihan hari ini karena waktu yang sudah semakin sore. “ Sorry Del jadi nunggu lama.” Setelah ganti baju, Damian langsung menghampiri Adel yang sedari tadi duduk di bangku penonton.
”Yaelah Dam sama gue ini santai aja.” Mereka berdua lalu memutuskan untuk segera pulang.
--
“Del kayanya gua suka sama seseorang,” ujar Damian tiba tiba saat mereka bertemu di kantin.
 
Adel sudah merasa geer duluan padahal Damian belum menyebutkan orang yang ia sukai. “ Siapa? Kasih tau gue dong.”
 
“Tapi gua fikir bukan suatu hal yang tepat untuk suka sama dia dan mungkin kemungkinan besar dia gak suka gua.” Jawaban Damian makin membuat Adel penasaran dan geer duluan.
 
‘Apa Damian bilang gitu karena dia suka sama gue? Kan gue sahabatnya dari kecil, mungkin dia merasa persahabatan kita akan retak kalau ada perasaan lebih dari sekedar teman?,’ batinnya. Apa yang ditonton Adel dalam sebuah film sangat mirip dengan situasinya sekarang.
 
“Yah sama aja itu kayak lo menyerah sebelum perang. Coba deh nyatain perasaan lo sama dia, siapa tau dia juga suka kan sama lo. Pengalaman gue sih, cewek tuh kadang langsung suka sama orang yang nyatain perasaannya.” Di dalam hati Adel berharap segera menyatakan perasaan kepada dirinya. Ia sudah yakin betul cewek yang dimaksud Damian adalah dirinya.
 
“Serius lo Del? Oke kalo gitu ntar malem temenin gua di tempat biasa ya.” Damian langsung pergi meninggalkan kantin saat temannya menelfon untuk segera latihan basket.
Senyum besar bertengger di bibir Adel, rasanya ia tidak sabar menunggu malam datang. Akhirnya status jomblonya akan segera berubah!
-    Malam Hari    -
Waktu yang sudah Adel tunggu tunggu akhirnya tiba, Damian mengajaknya untuk bertemu di sebuah kafe tempat biasa mereka nongkrong.
 
“Woy Del sorry nunggu lama.” Damian berjalan menuju meja tempat Adel duduk. Ia mengenakan kemeja kotak kotak berwarna hijau dengan ripped jeans hitam. Tidak lupa memakai bracelet hitam kesukaannya.
 
“Enggak kok Dam.” Adel berdandan sangat cantik hari ini. Ia mengenakan setelan dress abu abu yang senada dengan choker di lehernya. Tidak lupa merias wajahnya sebaik mungkin, padahal style ini bukan gaya Adel banget!
 
“Wah si Delon bisa cantik juga lu.” Ejekan Damian malah membuat kupu kupu di perut Adel kembali terbang. Ia hanya diam tersipu dengan wajah semerah tomat.
 
‘Tring ‘
 
Pintu kafe terbuka, memperlihatkan perempuan dengan tinggi semampai masuk ke dalam kafe. Rambut panjang hitamnya ia biarkan terurai membuatnya terlihat semakin cantik. Perempuan itu menghampiri meja yang di duduki Damian dan Adel.
 
“Hai, maaf ya telat,” ujar perempuan itu yang langsung duduk di sebelah Damian. Raut wajah Adel berubah bingung. Siapa dia? Kenapa tiba-tiba duduk di meja mereka?
 
“Del ini cewek yang tadi di kantin gue ceritain sama lo.”
 
DEG!
 
Cewek yang diceritain di kantin? Kalau begitu itu cewek yang Damian suka dong?
 
“Ih lo cerita apaan tentang gue. ” Perempuan itu memukul bahu Damian pelan, lelaki itu hanya mengeluarkan senyuman yang lebar. Terlihat sekali ia sedang bahagia.
 
“Maksudnya apa ya Dam?.” Adel masih belum mencerna situasi di depannya sekarang. Damian bukan suka sama dia melainkan perempuan di hadapannya ini?

“Ehem ….”
 
“Kak … mungkin bisa dibilang ini waktu yang singkat untuk kita saling mengenal. Tapi, cinta itu kadang datang secara tiba tiba tanpa kenal waktu. Sejak kenal kakak, gua sadar bahkan sangat menyadari apa itu rasa cinta dan kasih sayang. Mungkin ini sedikit berlebihan , tapi memang begini yang gua rasain. Gua Cuma pengen ngomong kalau gua suka kakak dan ya … mau kakak jadi lebih dari sekedar temen.”
 
Pernyataan Damian sangat amat membuat Adel terkejut. Pernyataan cinta yang ia pikir akan ditujukan untuk dirinya malah berubah untuk perempuan yang bahkan Adel tidak mengenal siapa dia. Hatinya kini bagaikan tersambar petir di siang bolong. Ingin rasanya ia menangis saat itu juga tapi keadaan tidak memungkinkan.
 
Perempuan itu lalu memeluk Damian erat. Terlihat jelas maniknya mengeluarkan air mata bahagia. “ Gue juga suka lo Yan, makasih udah ngomong ini ke gue.” Damian kini membalas pelukan perempuan itu. Pernyataan cintanya diterima!
 
Adel hanya bisa terperangah melihat kejadian tidak terduga yang baru saja terjadi di depan matanya. Rasanya ia ingin segera melarikan diri dan menangis sekeras yang ia bisa.
 
Mereka akhirnya melepas pelukannya. “ Del thanks banget lo udah kasih saran bagus, lo bener bener temen terbaik gua deh.” Damian lalu mengelus rambut Adel lembut.
 
“Dan ini kenalin, kak Citra yang gua ceritain kemaren. Dia senior gua di fakultas. Sorry gua ga pernah bilang sebelumnya, lo pasti kaget ya tiba tiba gua begini. Tapi lo jangan cemburu ya sekarang sahabat lo udah gak jomblo lagi.” Tawa bahagia Damian pecah memenuhi ruangan kafe yang ramai. Adel hanya diam mematung, masih syok dengan kejadian tadi.
 
“Damian sering banget cerita tentang lo Del, kalian udah temenan dari kecil ya? Wah pasti udah saling tahu luar dalemnya dong,” ujar Citra mencoba lebih dekat dengan sahabat pacarnya.
 
“Haha gitu lah kak, pas SMA dulu kita sering banget dibilang pacaran soalnya kemana mana bareng,” jawab Damian sambil  mengingat ingat kejadian saat SMA.
 
“Wah serius tuh? Lah kalian kenapa gak pacaran? Kan udah kenal satu sama lain pasti cocok.” 

“Gak mungkin lah kak, Adel udah gua anggap kayak saudara sendiri. Saking gua tau luar dalemnya dia udah berasa adek yang harus selalu dilindungi karena pas SD Adel sering banget di bully.” Hati Adel kini kian remuk mendengar perkataan Damian.
 
“Yee ogah banget punya kakak macem lu.” Dengan sekuat tenaga Adel berusaha mencairkan suasana. Ia tidak mau membuat persahabatannya hancur hanya karena rasa cinta.
 
Bukan hal yang mudah untuk menahan ini semua, tetapi Adel tidak mau merusak kebahagiaan yang baru saja sahabatnya dapatkan. “ Eh Dam tadi ibu nyuruh gue pulang, ada urusan penting katanya. Gue pulang duluan ya, jangan macem2 ya kalian gue tinggal.”
 
Sudah cukup Adel menahan rasa hancur dan sakit hati, ia memilih untuk cepat cepat menghindar dari situasi terburuknya ini. Ia langsung bangkit dari kursi dan berlari keluar meninggalkan kafe. Tak dihiraukan suara Damian yang memanggil namanya berulang kali, ia sudah tak sanggup merasakan hal ini.
 
Tiba tiba hujan turun, seakan tau kesedihan yang dirasakan Adel. Gadis itu tidak mempedulikan baju dan tubuhnya yang sudah basah terguyur hujan. Dengan begitu ia bisa menangis tanpa dilihat orang. Trotoar jalan terlihat sepi karena hujan yang turun kian deras.
 
“Gue emang bodoh! Kenapa juga gue bisa suka sama lo Dam? Kenapa dari sekian banyaknya cowok di dunia ini harus lo yang gue suka? Kenapa?! Kenapa!.” Tangisannya semakin pecah kala sang hujan mengguyur semakin deras.
 
Riasan di wajah Adel perlahan mulai luntur. Bajunya sudah basah karena air hujan, ia bagaikan mayat hidup sekarang.
 
“BRENGSEK!! DUNIA INI EMANG BRENGSEK! DAMIAN LO BENER BENER BRENGSEK! GUE BENCI SAMA LO!!.” Adel berharap perasaannya untuk Damian segera luntur di terpa hujan. Ia tidak akan bisa melihat sahabatnya itu menjadi milik orang lain. Terlalu berat untuknya menerima kenyataan menyakitkan ini.
 
**
_ 4 tahun kemudian _
 
Suasana bahagia terpancar dari wajah setiap orang yang datang. Ada yang mengenakan kebaya, batik , dan gaun. Mereka semua berkumpul dalam satu gedung, menghadiri resepsi pernikahan yang di gelar oleh Damian Rizky Anugrah dan Citra Aneke Putrinindya. Ya, Damian dan Citra memutuskan untuk menikah setelah 4 tahun lebih mereka menjalin hubungan sebagai pasangan kekasih.
 
“Damian, kak Citra selamat ya. Akhirnya sahabat gue nikah juga! Walaupun udah nikah jangan sampe lupain gue ya awas aja lo. “ Hanya ucapan dan doa yang dapat Adel berikan atas pernikahan dari sahabatanya itu. Walau hatinya masih belum bisa menerima tetapi ia senang Damian menemukan kebahagiaannya sekarang. Bukan lagi pacar, mereka adalah pasangan suami istri.
 
“DELON! Ga mungkin gua lupain lo serius deh. Makasih udah jadi sahabat terbaik gua. “ Damian langsung memeluk Adel erat yang langsung dibalas oleh sahabatnya itu. Citra hanya tersenyum melihat momen mengharukan itu. Ia sadar betul persahabatan yang terjalin diantara mereka berdua bukan sekedar persahabatan biasa.
 
“Kak Cit jagain Damian ya, semoga lo sanggup tinggal serumah sama ini tokek.”
 
“Ah dasar lo Del, baru aja peluk pelukan udah ngeselin lagi. “ Mereka bertiga hanya tertawa bersama. Sambil mengingat ingat kembali memori lama yang sudah mereka jalani.
 
Perasaan Adel terhadap Damian memang belum sepenuhnya hilang. Hatinya begitu hancur saat Damian mengumumkan akan menikah. Tetapi, melihat senyum bahagia yang terpancar di wajah sahabatnya itu membuat Adel menyadari satu hal ….

Kebahagiannya adalah saat melihat Damian bahagia.

_END_

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Vonsa sebagai pemenang.

Vonsa Yonar D K
 
Seorang remaja beranjak dewasa yang gemar menulis cerita fiktif.

0 comments:

Post a Comment