Friday, 14 April 2017

Bang (Koas Racun) Toyib, Kok Tak Pulang-pulang?

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda mendengar peribahasa “Siapa menabur angin akan menuai badai” dan istilah ‘Bang Toyib’?

pinterest.com
Mungkin peribahasa itu mengingatkan Anda dengan soal ulangan Bahasa Indonesia saat Anda masih SD dulunya, dan ‘Bang Toyib’ merupakan judul lagu salah satu band di Indonesia. Dua hal yang berbeda jauh. Namun, apa jadinya jika peribahasa itu punya ‘hubungan spesial’ dengan tokoh Bang Toyib?

Hal ini bermula dari hobi saya mengoleksi novel. Sudah cukup banyak buku yang jadi koleksi bacaan saya, beberapa di antaranya termasuk buku langka karena sudah tidak diterbitkan lagi. Demi menjaga kualitas buku dan estetika, saya rela menaruh semua koleksi itu di rak buku terbagus yang ada di rumah dan mengorbankan buku-buku kuliah saya, sampai suatu kali Mama menceletuk, “Kamu lebih sayang novelmu atau textbookmu yang harganya jutaan rupiah?” .

Salah satu koleksi kesayangan saya adalah seri buku Koas Racun. Terdiri dari 2 jilid, ditulis oleh dr. Andreas Kurniawan dan tim. Pertama kali beli waktu saya kelas 12, buku itu menjadi pemacu semangat saya yang memang mengejar impian masuk ke fakultas kedokteran. Entah sudah berapa kali saya khatam kedua buku itu, bahkan ada yang sampai saya hafal bunyi kalimatnya. 

Suatu hari, teman dekat saya, sebut saja namanya Edina, berkata, “Shar, aku boleh pinjam buku Koas Racunmu, gak?” Mendengar permintaannya, saya teringat kutipan ‘aturan peminjaman’ seperti yang dituliskan di kata pengantar buku tersebut.
 “Kami menetapkan aturan: barang siapa yang membeli buku ini dilarang untuk meminjamkan kepada orang lain dan barang siapa yang sudah keburu meminjam buku ini dilarang untuk mengembalikannya.” –Buku Ajar Koas Racun 1.
Saya hanya tertawa dalam hati. Memang sih, meminjamkan barang akan berisiko kehilangan, sekalipun peminjamnya teman sendiri. Namun, selama ini Edina dan saya sudah sering saling pinjam buku sejak awal masuk kuliah, dan selalu kembali dengan selamat. Harusnya kali ini juga begitu. Melanggar aturan untuk suatu alasan tertentu pastinya diperbolehkan. Iya kan?.
“Oke. Gantian ya, gue pinjam novel screenplay Harry Potter and the Cursed Child punya lu!” Deal. Buku-buku lantas berpindah tangan.

Pada hari yang ditentukan, kami bertemu di sebuah kedai kopi untuk mengembalikan buku masing-masing. “Sorry ya Shar..Buku lu hilang nih, dua-duanya..” begitu katanya dengan wajah pucat dan nada takut. DUAR! Seketika hati saya terasa seperti tersambar petir. Aduh, buku kesayangan saya! 
Edina menjelaskan, “Iya, sehabis baca, buku itu gue taruh di atas meja belajar, lantas dirapikan sama si Mbak. Beberapa hari lalu, si Mbak minggat karena ketahuan curi barang ibu gue. Gue belum sempat tanya buku itu ditaruh dimana. Nanti gue cariin lagi ya waktu gue pulang.”
“Sayang, aku bukanlah Bang Toyib, yang tak pulang-pulang. Yang tak pasti kapan dia datang.”

Aplikasi pemutar musik otomatis ponsel saya secara kebetulan mendendangkan lagu Bang Toyib. Duh, kok suasananya pas banget ya. Buku saya ibarat si Bang Toyib, pergi (dipinjamkan) dan entah kapan kembalinya. Edina pasti butuh waktu untuk mencarinya, kan.
Siapa menabur angin akan menuai badai – berani berbuat, harus terima konsekuensinya. Saya berani meminjamkan buku itu meski ada risiko kehilangan, akhirnya harus rela bukunya hilang betulan. Istri Bang Toyib berani melepas kepergian suaminya mencari nafkah, dan dia harus rela suaminya tak pulang-pulang. Begitulah kira-kira.  

Ya sudahlah, sementara ini saya hanya bisa berharap dan berdoa agar Bang ‘Buku’ Toyib itu ditemukan secepatnya. HiksSetelah penantian selama beberapa hari, akhirnya Edina menelepon untuk melaporkan hasil pencarian si buku. Saya antusias banget mengangkatnya, berharap dia akan bilang, “Eh bukunya udah ketemu lho” atau semacamnya. Tapi, apa jawabannya?
“Aduh Shar, maaf banget. Gue udah cari ke semua tempat dan buku itu tetap gak ketemu. Gue gantiin aja ya uangnya.” Saya lemas seketika. Perasaan sedih, kecewa, bercampur aduk jadi satu. Meskipun begitu, saya tidak bisa marah pada dia. Dia benar-benar tidak sengaja menghilangkan buku itu. Saya menghargai usahanya mengobrak-abrik seisi rumah demi mencari 2 buku kucel itu, juga atas inisiatifnya membayar ganti rugi. Tapi bukan itu masalahnya. Mengganti uangnya sih memang gampang, toh harganya tak seberapa. Tapi bagaimana  dengan ikatan batin antara saya dengan si buku? Apalagi sudah termasuk kategori langka. Di toko-toko buku besar stoknya sudah ludes terjual. Dimana saya bisa mendapat gantinya? Tunggu penerbitnya cetak ulang?

“Ya sudah, ga papa.” Saya mematikan telepon. Mama yang sudah tahu masalah ini mencoba menasihati, “Sudahlah Nak. Sudah terlanjur hilang, mau diapakan lagi. Jangan berantem hanya gara-gara ini. Persahabatan kalian lebih penting daripada 2 buah novel.” Nasihat Mama memang benar, tapi rasa senewennya itu lho. Seolah Mama gak mengerti apa artinya barang kesayangan.
Saya mencoba merelakan hilangnya buku itu. Proses move on pun dimulai. Namun hasilnya malah gagal total. Saya uring-uringan dan insomnia selama seminggu. Mirip gejala orang putus cinta! Teman-teman saya sampai menggoda, “Gila ya, lu kehilangan buku aja, sampai segini pusingnya, apalagi kalau lu kehilangan gebetan ya? Hahahaha!” Huh, koleksi lebih berharga dari gebetan, tau! *eh*.

Saya akhirnya menyerah. Buku yang telah menjadi sumber inspirasi saya semenjak SMA hingga akhirnya jadi mahasiswa semester 6 seperti sekarang, tak sepantasnya hilang begitu saja. Saya harus dapatkan gantinya. Mulailah saya coba kontak ke penerbitnya, bahkan sampai menghubungi penulisnya langsung . Tidak ada respon. Pilihan berikutnya adalah survei ke toko-toko buku kecil di samping kampus. Nihil juga. Opsi terakhir adalah melalui situs jual beli online. Seperti kata pepatah: pucuk dicinta, ulam pun tiba. Suatu ketika saya tanpa sengaja menemukan toko online yang masih menjual buku itu. Saya hubungi sang penjual.

“Halo, Mbak. Buku Koas Racun ini masih ada ya?”
“Oh, masih Mbak. Stok lama, tapi dijamin buku asli. Masih segel.”
Wah, untung benar! Bukunya masih baru! Sayang, ia hanya menjual buku jilid keduanya saja. Tak apalah, yang penting ada. Yang cukup repot adalah mencari buku pertamanya. Entah kenapa, sulit sekali mencari orang yang masih menjualnya. Pada akhirnya, saya menemukan akun seorang penjual yang memasang foto buku itu di linimasanya. Meskipun buku bekas, namun kondisinya terlihat cukup baik. Namun, saya mulai memikirkan scenario terburuk, “Kalau sudah ada orang yang beli, gimana ya? Atau jangan-jangan kondisi bukunya sudah tidak sesuai seperti foto? Sambil berdoa, saya coba hubungi penjualnya.

“Ya, Mbak. Bukunya masih ada. Kondisinya persis di foto, koleksi saya pribadi, Mbak.” Saya riang luar biasa mendengarnya.
“Tolong simpankan untuk saya ya Mas. Saya pesan satu. Besok saya transfer uangnya.” Tepat esok harinya, saya lunasi biaya pembelian. Sepanjang siang itu, saya berdoa sekeras mungkin dalam hati, “Ya Tuhan, Engkau tahu betapa saya ingin buku itu kembali. Semoga bisa sampai dengan selamat, tidak cacat, dan tidak hilang sewaktu dikirim. Amin!” 
“Sabar, Sayang. Sabarlah sebentar. Aku pasti pulang, karena aku bukan, aku bukan Bang Toyib!”. Kembali aplikasi pemutar musik saya melantunkan lagu ‘Bang Toyib’ lagi sore itu, tepat ketika kedua pengantar paket buku Koas Racun saya tiba. HORE! Akhirnya, Bang ‘Buku’ Toyib saya ‘pulang’ juga! Senangnya saya, rasanya seperti baru menang lotre puluhan juta! Mungkin hal yang sama akan dirasakan istri Bang Toyib seandainya suaminya pulang ke rumah. Siapa tahu.

Kondisi buku yang saya beli itu masih sangat bagus, meski kertasnya agak menguning dimakan usia dan salah satu pembatas bukunya hilang. Namun, dengan harga beli cuma 15 ribu per bukunya, apa lagi yang bisa saya harapkan? Saya mendekap kedua buku itu di dada, menyampulnya dengan mika bening dan meletakkannya kembali di slotnya dalam rak buku. 

Sejak kejadian itu, saya jadi parnoan soal pinjam meminjam barang. Saya tak sembarangan lagi meminjamkan buku, terutama buku-buku yang memang ada kenangan khusus mengenainya. Pelajaran ‘meminjamkan harus rela tak kembali’ membuat saya teringat kutipan slogan lawas suatu program berita “WASPADALAH! WASPADALAH!”
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Sharon Christanto sebagai pemenang.

Sharon Christanto
Future Author, Medico -soon to be-




0 comments:

Post a Comment