Tuesday, 25 April 2017

Bidadari Pagi

Pagi yang cerah dan masih terasa dingin karena semalam hujan lebat di daerah rumahku. Saat ku buka jendela rumahku, tak sengaja ku melihat sesosok wanita sedang berdiri tegak di teras rumahku. Aku tak tau dia siapa, namun yang ku tau dia begitu mempesona. Uraian rambutnya yang panjang terlihat elok. Walaupun ku memandangnya dari arah samping, namun wajahnya yang rupawan membuatku mengigau seakan-akan aku berada di surga.


“Ah sudahlah. Lagi pula aku nggak tau siapa dia, dan dimana rumahnya.” batinku dalam hati.

Terdengar teriakan dari luar rumah dan itu ternyata suara ibuku mencoba membangunkanku.

“Rama, ayo bangun nak sudah pagi ini. Segera bangun dan siap-siap berangkat ke sekolah.”

“Iya bu sudah bangun kok.” sahutku.

Aku bergegas keluar kamar untuk bersiap-siap pergi ke kampus. 20 menit kemudian aku sampai di kampus. Ku lihat banyak mahasiswa baru berdatangan kemari. Dengan berpakaian hitam putih, mereka terlihat rapi.

“hai ram, baru dateng loe?”

“Eh kamu ton, iya nih baru dateng.”

“Tuh lihat banyak mahasiswa baru yang cakep-cakep. Sana gih kamu milih.” anton mulai monggodaku.

“Apa’an sih loe, loe aja sana yang milih-milih. Aku lagi nggak minat kayak gituan.”

“Tumben banget loe kayak gini. Biasanya lihat cewek cakep matanya langsung ijo tuh hahaha.”

“Nggak ah lagi bad mood aja.”

Aku dan Anton berjalan menuju kelas. Disepanjang jalan kampus kulihat banyak mahasiswa baru dengan wajah polosnya bercanda tawa dengan teman baru yang baru saja ia kenal.

Saat sampai di depan kelas, tiba-tiba ada teriakan dari arah belakangku memanggil-manggil namaku. Ternyata teriakan itu adalah suara Ratna yang memberitahuku bahwasannya aku dan kawan-kawan lainnya disuruh untuk menghandle OSPEKnya mahasiswa baru. Beruntung saja aku dapat tugas dari pihak kampus, karena hari ini aku bad mood untuk mengikuti pelajaran.

“Ram, kamu disuruh pak Ansori menghandle OSPEknya anak maba. Ajak juga teman-temenmu.”

“Emang disuruh ngapain?”

“Pokoknya kamu disuruh membuka acara OSPEK dan memberi sedikit penjelasan tentang kampus dan juga suruh kasih permainan apa gitu biar dia nggak bosen.”

“Oh begitu, oke siap. Makasih ya rat udah disampek’in ke aku jadi aku nggak perlu capek-capek ke ruang dosen.”

“Iya sama-sama. Lagian tadi kebetulan lewat depan kantos dosen terus pak Ansori memanggilku untuk dimintai tolong menyampaikan pesan kepadamu.”

“Oh iya, sekali lagi terima kasih.”

“Iya sama-sama.”

Segera kupanggil teman-teman untuk menjalankan tugas dari pak Ansori untuk menghandle OSPEK. Saat semua sudah terkumpul,  aku memutuskan untuk memulai OSPEK.

Semua anak baru terlihat begitu polos. Dengan terik matahari yang menemaninya, dia tetap berdiri tegak dibawahnya.  Apapun yang kami suruh, dia tetap mengikutinya. Hahaha sungguh lucu sekali. Kayaknya aku dulu juga seperti itu.

“Hei dek, sini sebentar.”

“Iya kak.”

“Kamu lulusan dari sekolah mana kok wajahmu polos banget gitu?”

“Aku lulusan dari madrasah aliyah kak.”

“Ah pantesan polos banget. Iya sudah kembali ke tempatmu.”

“Iya kak.”

Semua materi tentang kampus sudah disampaikan oleh Radit. Melihat wajah-wajah peserta OSPEK yang terlihat bosen, akhirnya aku dan teman-teman memutuskan untuk mengisi acara ini dengan permainan. Kami akan berunding dulu untuk menentukan permainan apa yang cocok dan menghibur.

“Eh bro enaknya permainan apa’an iya? Soalnya lihat wajah-wajah mereka kayaknya bosen banget dikasih materi terus.”

“Iya juga sih. Enaknya apa iya?”

“Gimana kalau memindahkan bola dari tempat satu ke tempat lain. Tapi nggak boleh tersentuh tangan. Memindahkan bolanya dengan 4 utas tali ravia. Bagaimanapun caranya bola itu harus pindah dan nggak boleh tersentuh tangan. Kalaupun tersentuh harus mengulang dari garis start. Permainan itu juga butuh kekompakan buat memindahkan bola tersebut. Gimana setuju nggak?”

“Wah ide bagus tuh. Berarti harus dibagi kelompok dulu iya bro?”

“Iya jelas la bro. Masak main sendiri-sendiri. Anak segini banyaknya mau main sendiri-sendiri, kapan selesainya cobak. Ah loe ada-ada aja dit.” jawabku nyolot.

“Hehehe iya sorry-sorry. Kan gue bercanda bro biar nggak serius-seirus amat la.”

“Iya udah ayo dibagi dulu kelompoknya, habis itu langsung permainan.”

“Oke siap laksanakan.”

Musyawarah tentang permainan yang kan dimainkanpun telah usai. Aku dan kawan-kawan kembali ke lapangan lagi untuk membagi kelompok agar permainannya lebih efektif dan seru. Setelah membagi kelompok, permainan pun dimulai. Dengan alat bola dan tali ravia, permainan pun berjalan lancar dan sangat menghibur peserta.

“Kelompok yang sudah bermain istirahat dulu di tepi, yang belum silahkan maju kedepan.”

“Berapa-berapa kak mainnya?”

“5 kelompok aja dulu. Nanti gantian alatnya.”

“Oke kak.”

Permainanpun berlangsung ramai. Saat ingin ke kamar mandi, tiba-tiba aku tak sengaja menabrak salah satu peserta OSPEK. Dan ternyata dia adalah bidadari yang pagi-pagi berdiri di teras rumahku. Oh beruntungnya diriku bertemu sang pujaan hati.

“Eh maaf dek, kakak nggak sengaja nabrak soalnya lagi buru-buru nih.” dengan nada gemetar.

“Iya kak nggak papa kok.”

Aku meneruskan perjalananku menuju kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, ada bidadari di depan kamar mandi. Tanpa basa-basi aku langsung menanyakan identitas dirinya.

“Eh kamu lagi. Ngomong-ngomong siapa dek namamu?”

“Aku Dinda kak. Kakak siapa?”

“Aku Rama. Kamu disini ambil prodi apa?”

“Ekonomi management kak.”

“Eh sama dong kayak aku.” hatiku mulai berdebar kencang.

“Kakak semester berapa?”

“Aku masih semester 6 dek. Udah ayo cepat kembali ke lapangan. Nanti dicari’in sama kakak-kakak yang lain lo.”

“Iya kak ayo.”

Sebenarnya aku paling males kalau bangun pagi. Namun semenjak ada Dinda sang bidadari yang setiap pagi mengantar pesenan kue ke ibuku, dari situlah aku jadi giat banget untuk bangun pagi.

Ketika mendung menyelimuti diriku
Petir  menyambar menyayat hatiku
Asa pun hadir dalam jalan gelapku
Pikiran seakan-akan kosong tak berpenghuni
Saat langit meneteskan air matanya
Tuhan datang dengan keajaiban-Nya
Membawa bidadari yang indah nan rupawan
Serta pelangi yang sejuk dipandang
Oh Tuhan....
Keajaiban cinta-Mu sungguh tak terbayang
Makhluk-mu pun tak mencapai angannya
Untuk menafsirkan Maha Cinta-Mu kepadanya
Yang tak dapat dimiliki oleh siapapun
keculai engkau Ya Allah.....

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uswatun sebagai pemenang.

Uswatun Nurul Muthoharoh

Saat ini aku kuliah di Universitas Sunan Giri Surabaya. Sebenarnya dulu nggak suka menulis. Tapi semenjak SMA, sering banget patah hati dan nggak mau ada orang yang tau akhirnya kutuangkan isi hatiku lewat tulisan. Dari situlah aku suka menulis. Impianku adalah ingin menjadi desainer busana yang terkenal. Tapi juga ingin jadi guru. Minimal jadi guru bagi anak-anakku kelak lah hehehe.
Motto hidup: bisa karena terbiasa.

0 comments:

Post a Comment