Tuesday, 25 April 2017

Bintang Abadi

Perkenalkan aku adalah seorang mahasiswi kedokteran tingkat akhir di sebuah universitas ternama di ibukota. Biar kuceritakan padamu tentang betapa mahsyurnya kampus ini, betapa diidamkannya profesi dokter di negeri ini, betapa ketat persaingan yang dibutuhkan untuk menyingkirkan ribuan siswa, betapa mahalnya biaya kuliah bagi mahasiswa nonbeasiswa, serta betapa bangganya orangtua yang berhasil menyekolahkan anaknya di kampus ini. Dan aku adalah segelintir orang yang beruntung mendapatkan beasiswa untuk mengenyam pendidikan di sini.


Aku sudah kenyang dengan pujian. Setiap kali datang ke acara keluarga, aku akan menjadi sang primadona. Calon dokter yang pintar, cantik, dan bermasa depan cerah. Mereka seolah telah mampu meramal apa yang akan terjadi pada masa depanku, satu hal yang bagiku sendiri masih gelap. Ah, pujian-pujian itu awalnya memang menyenangkan bak buaian lembut yang menuntunku untuk terlelap di dalamnya. Namun seiring berjalannya waktu, segalanya berubah. Berubah 180⁰ menjadi lebih buruk.

Entah aku yang tahu bagaimana caranya bersyukur atau apalah, yang pasti aku mulai merasa bosan. Aku muak dengan semua pujian dan ramalan yang tak lagi tampak benar. Perlahan tapi pasti aku mulai berpaling. Minatku tak lagi sama, sudut pandang telah berubah seolah memang aku melakukan cangkok dengan mata orang lain. Sejujurnya, dua tahun terakhir ini, aku tak lagi ingin menjadi seorang dokter.

Ssst…jangan bilang siapa-siapa ya. Untuk satu hal ini, hanya Tuhan dan aku yang tahu. Tak seorang pun di luar sana akan tahu karena aku yakin tak seorang pun pula akan mengerti. Termasuk keluarga, bahkan sahabat terbaik. Sesungguhnya impian yang berubah ini adalah aib besar bagi diriku yang selama ini dikenal sebagai orang yang perfeksionis. Apa yang terjadi padaku? Apa yang ada di pikiranku? Apa aku sudah gila? Apa ini hanya kelabilan sementara? Pasti kalimat-kalimat tanya itulah yang akan terlontar dari bibir manis mereka yang selama ini senantiasa dihiasi pujian.

Bahkan seringkali pertanyaan-pertanyaan itu hadir silih berganti dalam pikiranku sendiri. Tampaknya aku tak lagi percaya pada diriku sendiri. aku tak lagi mampu membedakan mana hawa nafsu dan mana hati nurani. Bukankah ini adalah tanda sebahaya-bahayanya manusia?

Aku tak mungkin lupa dengan perjuanganku untuk tiba di kampus kedokteran ini. Seberapa banyak keringat dan air mata yang kucurahkan untuk profesi ini. Seberapa sering doa kupanjatkan. Tidakkah aku malu pada Tuhan jika tiba-tiba aku berputar haluan? Dahulu, ada satu bintang yang menuntun langkahku, yaitu impian untuk menjadi seorang dokter. Aku pun tak habis pikir bahwa kini bintang yang kupikir akan abadi itu telah berganti.

Ada satu hal yang kini selalu menguras habis pikiranku. Aku ingin berkecimpung dalam industry hiburan. Aku ingin membangkitkan industri hiburan yang mati suri di negeri ini. Aku ingin menjadi seorang aktris maupun sutradara. Suatu impian yang sesungguhnya telah kumiliki sejak Taman Kanak-Kanak. Impian yang selama ini kuanggap sebagai hobi sampingan. Kegiatan yang selama ini kunikmati, namun tak banyak diakui. Profesi yang mungkin hanya membanggakan bagiku, namun tidak bagi orang lain yang memandangnya. Setidaknya tidak lebih terhormat daripada seorang dokter. Tapi kenapa? Kenapa tidak?

Bukankah mengobati dan menghibur orang lain adalah kegiatan yang sama-sama mulia?

Ingin sekali rasanya banting setir menuju profesi yang lain. Ada banyak kesempatan di luar sana. Ada banyak jalan bahkan hingga ke negeri nun jauh di sana. Sayangnya, ada satu kelemahan yang menjadi hambatan terbesarku. Usia. Rupanya aku terlambat menyadari bahwa apa yang kuanggap hobi selama ini, suatu ketika akan berubah menjadi sebuah impian pula.

‘Tidak ada kata terlambat.’

‘Ketika ada kemauan di situ ada jalan.’

Kata-kata itu adalah dua kata yang menjadi pennyemangatku saat ini. Ya, aku masih rajin melakukan rutinitasku sebagai seorang mahasiswa kedokteran di sini. Dan tanpa seorang pun tahu, aku mulai melatih dan mempersiapkan diri untuk berkecimpung ke dalam gemerlapnya dunia hiburan, menggapai satu bintang baru dalam hidupku. Hanya Tuhan dan aku di antara jutaan umat manusia di muka bumi.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Desy sebagai pemenang.

Desy Tri

Seorang mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di ibukota. Di samping kesibukan kuliah, penulis juga aktif menulis novel, menjadi contentwriter, serta deesainer.

0 comments:

Post a Comment