Wednesday, 12 April 2017

Bolang dan Mesir

Kehidupanku di Mesir yang kini menginjak umur ke 3 membuatku semakin mengerti bagaimana karakter setiap individu. Disini, kesukaan mereka, gaya hidup mereka, bahkan cara berantem mereka. Ada banyak hal menarik yang ingin ku tahu. Dan setahun belakangan ini hobiku yang hanya membaca novel bertambah menjadi membaca novel dan mencari inspirasi baru dengan menjelajahi setiap inci kehidupan di Mesir, kota Kairo khususnya.

tipsciamik.com
Kairo yang menjadi Ibukota negara Mesir memiliki banyak sekali tempat dan hal yang menarik untuk dikunjungi. Dan jiwa petualangku yang sudah sedari kecil telah lahir semakin tajam dengan didukung keberadaanku disini. Penduduk Mesir tak pernah gengsi untuk naik kendaraan umum, dan karena itu pula ada banyak transportasi penunjang para penduduk lokal. Ada bus kecil, bus besar, tremco (sejenis angkutan kecil), tuk-tuk, juga metro (kereta bawah tanah). Dan yang menyenangkannya itu karena biaya transportasi disini cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa sepertiku. Dahulu sebelum dollar naik dan pound Mesir melemah, untuk sekali naik bus itu hanya sekitar 2 pound atau sekitar 2000 rupiah. Kini semenjak dollar naik, ugroh (ongkos) bus menjadi 2,5 atau 3 pound sekitar 3000 rupiah. Tapi Alhamdulillah masih murah aja ya. Bus yang beroperasi juga memiliki rute yang jauh. Entah di Indonesia seperti itu atau tidak namun yang pasti bus disini lebih terjaga dibandingkan di Indonesia menurutku. 

Aku yang suka sekali ngebolang, memulai petualangan dengan menaiki random bus, asalkan kosong, kemudian tujuan yang tertera di bus tersebut menarik perhatianku akan ku naiki begitu saja. Mungkin ini bisa dibilang hal yang nekat, mengingat aku perempuan, kemudian statusku foreign hanya sebagai pelajar, naik bus yang tidak tau arah tujuan ingin kemana. Bagiku cukup membaca basmalah dan ayat kursi aku sudah cukup tenang. 

Kalaupun aku tidak tau dimana, aku bisa bertanya pada penduduk setempat, atau langsung menaiki bus yang sama untuk kembali pulang, atau dengan membuka aplikasi google maps. Meskipun terkadang untuk sampai di tujuan terakhir bisa memakan waktu 2 jam, tapi entah kenapa aku merasa senang saja. Kemacetan di jalan, pemandangan gedung-gedung tua, ramainya orang yang berlalu-lalang menurutku menjadi daya tarik sendiri bagi orang asing sepertiku.

Dan ketika sampai di akhir mahattoh (terminal) hal yang ku lakukan hanyalah berjalan-jalan, melihat sekeliling, kemudian beli makanan, seperti togin, shaweerma, kuftah, ataupun ashir. Hanya itu saja. Setelah melihat sekeliling, yang ku lakukan ialah kembali ke mahattoh dan naik bus ke tujuan rumahku, dengan angka bus yang sama. 

Dan sejujurnya aku tak suka merepotkan orang lain. Yang namanya ngebolang itu harus siap dengan segala resiko, baik itu harus nunggu lama di bus karena macet, kemudian tempat random karena tidak tau ada apa disana, dan jalan jauh karena kan ya tujuannya biar tau disana ada apa. 

Ada beberapa kejadian menarik saat aku ngebolang. Aku sempat ditawarin untuk nge shayy (teh) sama seorang kakek karena dia ngeliat aku kayak orang kebingungan gak ada tujuan mau kemana. Orang Mesir suka banget nge shayy  bahkan di musim panas sekalipun mereka tetap memesan teh panas, berbeda dengan orang Indonesia yang lebih memilih es teh manis. Padahal suhu udara di Mesir saat summer bisa mencapai 38 derajat. 

Atau pernah sekali aku ditanya oleh orang Mesir ”enty min Andunisy ya ‘asal?” (kamu dari Indonesia, nak?) ini sebenernya arti ‘asal itu madu, mereka suka manggil perempuan seusiaku dengan kalimat ini. “ayyuwa, ana min Andunisy” (iya, saya dari Indonesia). Percakapan ini terjadi sesaat setelah aku mengambil foto nama jalanan di daerah Imbaba yang bertuliskan “Syari’ Ahmed Sukarno” dalam Bahasa Arab. Menurut sejarah, dahulu Presiden pertama Indonesia yaitu Ir.Soekarno pernah berkunjung ke Mesir dan membawa beberapa bibit pohon. Dan karena hubungan antar Negara yang baik akhirnya nama beliau dijadikan salah satu nama jalanan di Kairo. Dan, masih banyak lagi cerita mengenai ngebolang lainnya. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Faizah Dewi Setyawati sebagai pemenang.

Faizah Dewi Setyawati yang akrab disapa Faizah, lahir di Jakarta, 22 Juli 1996. Sekarang kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo. Jurusan Syariah Islamiyyah. Hobinya nulis cita-cita di buku yang dibeli karena senpai ask.fm yang punya online shopnya, di shalawatin dan Alhamdullilah sedikit demi sedikit tercapai.

0 comments:

Post a Comment