Monday, 10 April 2017

Bolehkah Aku Bertanya? Apa Keahlianku?

Subuh yang ramai, banyak orang yang berlalu lalang berjalan menuju kelas. Dengan sejuknya udara Garut sampai menembus sweaterku ini. Teringat temanku yang bernama Fadhil dengan keahliannya kemarin membawa piala berwarna emas yang tinggi. 


kafeinkode.com
JUARA PERTAMA KALIGRAFI SE-KABUPATEN begitu tulisan di bawah pialanya. Dia juga akan mengikuti lagi perlombaan kaligrafi tingkat provinsi, dan dia juga optimis akan lolos ke tingkat nasional. Andai kata aku mempunyai keahlian seperti itu, mengikuti lomba dan memperoleh juara 1, membuat orang tua bangga kepadaku. Semua itu berputar di kepalaku. Sambil berjalan menuju kelasku aku berpikir tentang semua itu, namun.....

“Oi Al, lu mau kemana kelas ada di belakang lo.” Febri sahabatku, dia berteriak dari belakang. Dia sahabatku, laki-laki yang memiliki tinggi di bawahku dan mempunyai rambut yang bergelombang, dia pintar namun jail, kata-katanya selalu pedas dan dia juga humoris. Dia adalah konsultan hidupku, selalu mendengar apa yang aku curhatkan dan memberi jalan yang terbaik.

Haduhhh hahaha” aku menempelkan tangan di jidatku dan tertawa konyol melihatku yang sedari tadi melamun.

Heh Al kalau lu mau loncat ke kelas 3 lu ga bakal bisa. Lu bukan Cendekiawan Suryaatmadja bocah yang udah kuliah. Nanti lu nilainya kecil-kecil, disini aja lu nilainya udah kecil banget” kata Febri sambil memasang muka mengejek lalu lari kedalam kelas. 

“Awwwass lu Feb” aku mengejarnya kedalam kelas.

Oh ya namaku Zidan Alvarizi. Teman temanku memanggil aku “Al”. Aku baru kelas 2 SMP. Aku bersekolah di sekolah asrama Garut. Dulu aku selalu merengek ingin pulang, namun entah mengapa aku menjadi nyaman sekolah di sini. Yang aku inginkan sekarang bukanlah merengek meminta pulang kepada mamah, namun sekarang aku bertanya-tanya dalam diriku “apa keahlianku?”. Aku berani bayar berapa pun untuk mengetahui apa keahlianku.

Paginya setelah sekolah shubuh aku dan Febri menuju ruang makan. Di dalam ruangan itu banyak siswa yang mengantri untuk mendapatkan jatah makannya. Terdapat 9 meja makan dan kursi panjang di ruangan itu yang dapat memuat semua siswa disana.

“Yap entah berapakali kita sarapan dengan telor ceplok, rasanya bosan makan di sini” celetuk ku sambil menaruh makanan itu di atas meja makan.

“Woi lu harus bersyukur. Lu enak di kasih makan tanpa bekerja. Lah orang yang ada di luar sana yang bekerja keras untuk mendapatkan makan pun tidak mengeluh. Mereka tetap bersyukur walau hanya mendapatkan nasi sedikit saja.” Febri menimpali.

“Yah kalau lu mau jadi makhluk yang nggak makan, ya udah jadi malaikat aja. Tapi lu ga cocok jadi malaikat, lu cocok jadi kakek lampir hahaha” tawa lebar Febri keluar dari mukanya.

“Woi yang ada nenek lampir, bukan kakek lampir” kataku dengan kesal dan tidak menerima apa yang di katakan oleh Febri.

“Oh iya AL lu jangan makan banyak-banyak” kata Febri.

Emang napa, Feb?” aku bertanya.

“Buat apa makan banyak-banyak, nanti juga laper lagi” kata Febri sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk.

Belum sedikit pun aku mencicipi sarapan pagiku. Temanku Rifki, dia laki-laki yang tingginya sepantaran denganku, mempunyai rambut ikal, dan dia adalah keturunan Arab sedang membawa Nasi Goreng Sea Food di tangannya.

Oi yang mau Nasi Goreng Sea Food buatanku sini!! Cicipin semau kalian!” Rifki berteriak di tengah ruang makan. Spontan para siswa pun meliriknya dan berlarian ke arahnya untuk mencicipi masakannya. Aku dan Febri hanya duduk terdiam.

“Eh Feb, Al, lu mau Nasi Goreng Buatan gua ga?” Rifki berteriak menawarkan, mungkin karena dia melihatku dan Febri duduk terdiam saja, tidak seantusias seperti siswa yang lain. Belum sempat menjawab Rifki menghampiriku.

Nih cicipin, jangan lupa kasih komentar!” kata Rifki sambil mengasongkan nasi gorengnya. Febri duluan mencicipinya “Hmmm... enak banget nih lu nambahin apa di nasi gorengnya? Kalau boleh jujur ini rasanya udah kaya restoran bintang lima.” kata Febri sambil mengacungkan jempolnya. Lalu aku pun mencicipi nasi gorengnya. Hmm... Memang benar kata Febri. Ini sudah seperi maskan buatan koki profesional.

Ohh terima kasih Feb komentarnya” kata Rifki sambil tersenyum.

“Alaahh gua juga bisa bikin nasi goreng kaya gini.” Kataku bernada sombong.

“apa sekali lagi!.” Kata Febri sambil memegang kupingnya dan mendekatkannya kepadaku.

“Ya gua juga bisa bikin nasi goreng kayak gini” kataku.

“Hahahaha lucu lu, lu pernah bikin nasi goreng di dapur. Pas gua rasain, rasanya apa coba. Pangsettt!! Asiinn banget.”

Ya aku mengakui memang memasak bukan keahlianku. Rifki lah yang ahli dalam hal memasak. Mendengar ucapan Febri aku langsung menghabiskan sarapanku dan pergi meninggalkan Febri dan Rifki di ruang makan.

Akhirnya aku tiba di asramaku. Terdapat enam ranjang tingkat di ruangan itu. Ruangan ini cukup untuk 12 siswa. Aku berjalan menuju salah satu ranjang 2 tingkat itu, yang diatasnya ada seseorang yang sedang tertidur lelap. Di depan ranjangku terdapat lemari yang berukuran seleherku. Yap itu adalah lemariku. Dengan terdapat dua pintu di lemari itu, aku membuka salah satu pintu itu, lalu mengambil catatan harianku. Banyak orang bilang catatan harian sama dengan diary, namun aku tak suka menyebutnya dengan diary, menurutku itu lebay. Ku tulis semua yang terjadi dari tadi subuh kedalam catatan harianku.

“Al”suara Febri mengagetkanku.

“Al sorry yaaa, jangan baed jangan pundung jangan marah gua cuma bercanda.” Kata Febri memasang muka memelas. Aku tidak menjawabnya.

“Wah itu diary lu? Liat dong.” Tangan Febri ingin merebut catatan harianku.

Wiss ini tuh bukan diary, jangan bilang begitu, ini catatan harian. Sifatnya pribadi, jadi cuma gua yang tau.” Kataku.

“Dimana-mana catatan harian itu diary juga kaliii.” Kata Febri.

BRUK BRUK suara ranjang terdengar, suara orang yang baru bangun dari tidurnya. Mungkin gara-gara obrolan ku dengan Febri membuatnya terbangun. Namanya Aji dia sukanya tidur namun punya keahlian bermain sepak bola. Dia paling semangat saat pelajaran olahraga. Orangnya tinggi, berambut rapi matanya sipit karena sering tidur.

Huaaahhh, Oii sekarang pelajaran olahraga ya?” kata Aji sambil mengusap matanya. Dia paling antusias saat pelajaran olahraga.

“Ya” jawabku.

“Ayo jangan terlambat kita main bola, Feb.” Kata Aji sambil turun dari ranjangnya.

“Ya udah gua mau siap-siap juga.” 

Kataku sambil mengambil baju olahraga ku, menyimpan catatan harian ku di atas lemari dan pergi meninggalkan Febri dan Aji.

Jam menunjukkan pukul 07.15 bel berbunyi, itu tanda jam pelajaran akan segera dimulai. Aku bergegas menuju lapangan. Karena sekarang adalah pelajaran olahraga, aku ingin mencoba bermain sepak bola, mungkin saja sepak bola adalah keahlianku. Saat menuju lapangan aku bertemu dengan temanku. Dia bernama Aldo, dia ahli dalam hal memotret, bisa dilihat dalam tampilannya. Dia tinggi, rambutnya sangat rapi, selalu memakai kemeja lengan panjang, dan tidak lupa kamera Canonnya yang selalu dibawanya kemana-mana. Dia laki-laki yang mempunyai banyak fans cewek.

“Eh, Do” kataku menyapa.

“Do bawa kamera lagi, buat apa? Bukannya sekarang olahraga, loh kok bawa kamera?”

Eh Al, ah ini biasa buat dokumentasi olahraga angkatan kita.” Kata Aldo menjawab.

“Bolehkan gua liat foto-foto hasil jepretan lo!” kataku dengan maksud meminjam.

Aldo mengangguk dan memberikan kameranya kepadaku. Saat ku lihat foto-fotonya itu bagus-bagus seperti fotografer profesional. Ah, aku langsung ingin menjadi fotografer.

“Do ajarin gua dong, biar motret bagus gimana caranya?”

“Oh bisa, tapi lu harus punya kamera sendiri” jawab Aldo bersedia.

“Emang kamera itu berapaan?” tanyaku.

“7.250.000an kalau kamera ini” jawab Aldo.

Gillaaaa saat aku mendengar angka jutaan rasanya mau pingsan. Hp aja belum kebeli apalagi kalau beli kamera yang harganya segitu.

Waduuhh gua gak punya uang segitu.” Kataku kurang semangat.

“Tapi boleh ya gua nyobain ini kamera!” kataku. Aldo mengangguk mantap.

Ku pilih orang yang sedang bermain bola sebagai latarnya, ku tekan shutter kamera. Saat aku melihat hasilnya. Weyyy kenapa tidak sebagus Aldo. Fotonya blurr semua. Ya mungkin aku tidak ahli dalam hal fotografer.

“Al” Febri menepuk pundakku, spontan aku kaget.

“Ehh kameranya si Aldo. Coba pinjem!” kata Febri langsung merebut kamera yang ada di tanganku.

Loh ini hasil foto lu Do?” tanya Febri.

“Bukan itu hasilnya si Al” kata Aldo sambil menunjuk ke arahku.

“Pantesann, fotonya blurr hancurrr, anak lebay medsos sama tukang kopi di warung kopi juga bisa foto yang kaya gini mah.” Kata Febri dengan suara meledek.

Ya memang benar aku tidak bisa memotret sebagus Aldo. Lalu aku beranjak pergi meninggalkan Aldo dan Febri menuju lapangan.

“Eh, Al mau kemana?” sahut Febri. Aku tidak menjawab. Terlihat di lapang Aji dengan kostum kesayangannya berwarna merah biru lihai membawa bola mengocek beberapa orang di depannya. Ya dia ahli dalam bermain sepak bola. Terlihat di papan skor 2:0 Aji lah yang mencetak gol itu semua. Aku ingin mecoba bermain sepak bola, mungkin sepak bolalah keahlianku.

“Gue ikutan!” kataku berteriak. Ajipun melihat ke arahku. 

“Lo harus cari satu orang lagi” kata Aji menyuruhku mencari kawan untuk mengikuti pertandingan.

“Gue! Gue ikutan” kata Febri sembari mengancungkan tangannya.

Okeyy suit dulu gih! Yang menang ke tim aku” suruh Aji. Lalu aku suit dengan Febri untuk menentukan di tim mana kita bermain. Aku pun menang. Aku setim dengan Aji. Sementara Febri menjadi lawan, Febri memilih menjadi keeper dan aku memilih untuk menjadi striker bersama Aji.

Kick off pun dimulai dengan lihai Aji membawa bola dan mengocek beberapa pemain.

“Al majuu!” Aji menyuruhku maju. Lalu aku pun maju mendekati lawan gawang. Saat Aji sudah dekat dengan gawang. Aji pun mengopernya kepada ku.

“Al tendang!” kata Aji. Aku pun menendangnya, namun bolanya melesat jauh. Aku tidak menendang apa pun. Akhirnya aku pun terjatuh hingga kakiku terluka. Spontan semua siswa tertawa.

“Eh, Al, lu lestur ya leles tuur lemah lutut lu hahahaha” kata Febri tepat di depanku sambil memegang perutnya karena geli. Aku pun bangun lalu duduk di pinggir lapangan. Merenung. Sepak bola pun bukan keahlianku.

Jam 08.45 bel pun berbunyi kembali. Tanda pergantian jam pelajaran. Aku kembali ke asrama duduk di kasur ku lalu mengobati kakiku yang terluka. Ku cari catatan harianku di atas lemari. Hahh nggak ada, lalu aku mencarinya di dalam lemariku, hasilnya pun nihil nggak ada. Ku tanyakan kepada teman-teman se-asramaku. Namun tidak ada yang tahu. Aku terus mencari mencari dan mencarinya lagi namun tetap tidak ada. Aku frustasi. Aku putus asa mencarinya. Mungkin lebih baik aku berangkat sekolah dulu lalu mencarinya setelah pulang sekolah. Kulihat jadwal hari ini. Ya kaligrafi. Ku bawa peralatan kaligrafi lalu berangkat menuju kelas.

Aku duduk di kursi dekat guru. Sebangku dengan Fadhil. Saat aku melihat Fadhil aku teringat, apakah kaligrafi adalah keahlianku. Lalu aku mencoba membuat kaligrafi, namun hasilnya lebih parah dari Fadhil. Aku merenung kesekian kalinya kaligrafi pun bukan keahlianku lalu apa!!.

“Aduh ini kaligrafi apa, tulisannya kaya ceker ayam” ya itu Febri dari arah belakang dengan suara mengejek, entah mengapa dia bisa menjadi sahabatku.

“Tuh liat kaligrafi buatan Fadhil indah banget! Lu kenapa bisa bikin kaligrafi indah, Dil” kata Febri sambil menunjuk Fadhil.

“Gua sebenarnya dulu gak bisa ngegambar, nah pas gua ke sekolah ini gua mau banget bisa bikin kaligrafi indah, lalu aku pun belajar dengan giat. Lalu setelah itu aku suka sekali ke yang berbau seni. Disitu aku tau tentang seni. Seni adalah media untuk mengekspresikan apa-apa yang sedang aku alami.” Jawab Fadhil menjelaskan dengan mantap.

“Wah gua kira seni adalah ledakan” kata Febri bergurau.

“Itu mah kata-katanya Deidara, Feb”. Kata Fadhil.

Jam 09.45 bel berbunyi kembali, tandanya istirahat. Aku pulang ke asrama. Merenung semua yang telah terjadi. Lalu aku mencari lagi catatan harian ku. Aku pun teringat. Saat aku menaruh catatanku itu, Febri dan Aji ada disini. Mungkin yang membawanya adalah Febri karena dia yang selalu ingin tau isi catatan harianku. Panjang umur Febri saat aku memikirkannya diapun datang ke arahku.

“Al gimana....” belum selesai Febri ngomong dia langsung ku bawa ke sudut ranjangku. Ku angkat kerah seragamnya. 

“Mana catatan harianku ” suaraku membentak.

“Al, denger dulu gue kesini juga mau nanyain gimana udah ketemu belum catatan harian lo” Febri balas membentak.

“Eh udah-udah catatan harian lo ada di gue. Aman. Berani sumpah nggak pernah dibuka. Gua simpen dilemari biar ga ada yang baca” kata Aji dari belakang langsung meleraikan.

Nih” Aji memberikan catatan harianku kepadaku.

Emang kenapa lo sampai kayak gini. Curhat ke gue dong jangan ke catatan harian lu itu, mungkin gue bisa mencari jalan yang terbaik.” Kata Febri.

“Ya sebenarnya aku sedang bingung. Apa keahlian ku. Aku sedang mencari keahlianku. Memasak bukan keahlianku, fotografer juga bukan, apalagi sepak bola, terus kaligrafi juga bukan keahlianku. Gua kayak ga ada tujuan hidup.” Kataku menjelaskan.

Aku pun duduk di kasur, Febri duduk dekatku, dan Aji duduk di lantai dan menyender di lemariku.

Heyy buka mata lo jangan sipit kaya Aji” kata Febri, lalu Aji melotot ke arah Febri.

“Lihat dulu sekeliling lu jangan dulu liat dunia luas. Lu emang gak bisa masak, fotografer, sepak bola, atau kaligrafi. Lihat dulu diri lu, lu bisa merangkai kata-kata lu bisa membuat kata-kata sederhana menjadi lebih indah. Catatan harian itu buktinya. Bukti bahwa lu punya keahlian. Jangan ingin seperti orang lain. Tuhan menciptakan kita berbeda-beda dengan keunikan yang berbeda-beda. Semboyan negara kita aja Bhineka Tunggal Ika. Coba bayangin kalau kita semua sama. Yang ada bosen hidup lo di dunia. Pendapat orang-orang pun berbeda-beda jadi jangan mau kaya k orang lain mending jadi diri sendiri. Lo adalah tokoh utama dalam hidup lo” kata Febri. Kata-kata Febri itu menyentuh hati. Mungkin ini mengapa dia menjadi sahabatku. Dia ahli dalam bidang konsultasi.

“Ada satu hal lagi di hidup lo” kata Febri sambil mengacungkan telunjuknya.

“Apa itu?” tanyaku.

Idup lo itu udah susah jadi jangan menambah kesusahan di idup lo kaya lo ngupil pake garpu” kata febri bergurau. Aku dan Febri tertawa terbahak bahak. Lalu aku mencoba ngebayangin kalau gua ngupil pake garpu.

“Oh iya Ji, gua juga terima kasih udah...” belum selesai ucapanku. Aku melihat Aji yang tertidur lelap di lantai.

“Dasar penidur. Feb jailin.” Suruhku.

Woi woi bangun pelajaran olahraga nih” kata Febri berteriak. Aji pun terbangun antusias membawa sepatu futsalnya dan pergi keluar asrama. Aku dan Febri pun tertawa. Kembali lagi Aji ke asrama dengan muka merahnya.

“Pelajaran olahraga udah tadi. Kamprettt sini lu gua cabokk” kata Aji marah. Terjadilah kejar-kejaran antara Aji dan sahabatku Febri.

Benar kata Febri. Gua seharusnya melihat dulu sekelilingku lalu melihat dunia luas. Padahal aku sudah mempunyai keahlian. Tuhan pun menciptakan kita berbeda-beda, jadi buat apa menjadi orang lain. Inilah perjalanan remajaku, mencari jati diri untuk masa depan.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Haikal Zidan Alvarizi sebagai pemenang.


Haikal Zidan Alvarizi


Turun ke dunia sejak 02 Maret 2003. Sekarang bersekolah di Ponpes Ma'had Darul Arqam Muhammadiyah daerah Garut. Sedang mencari jati diri sebagai remaja berprestasi. Hobi? Cita - cita? Boleh nanya di akun instagram "@haikalzidan_2".








0 comments:

Post a Comment