Sunday, 2 April 2017

"Budak” Awalan yang Berbeda, Pendahuluan Dariku Untuk Mereka

Menjelang senja itu aku menanti hadirnya malam, iya kalau aku lebih menyukai malam, dan mereka lebih menyukai senja, itu menurutku. Hahahaa, begitulah mereka, kupanggil dengan sebutan “budak” yang berbeda. Perbedaan membuat indah bukan? Dan karena berbeda, kau akan menemukan pula jenis yang berbeda untuk diungkapkan dengan kata “bebeb” ataupun yang lebih ekstrim, layaknya “mami” bahkan “papi” ataupun “tayang” ciee ciee!! Kalian tahulah maksudnya.  Oh iya, “tayang” yang kumaksud bukan sesuatu yang ditampilkan untuk ditonton orang banyak, tetapi sebutan untuk melambangkan sesuatu yang mengartikan sebuah rasa untuk saling memiliki dan saling mencumbui, dan kukira itu sudah menjadi rahasia umum. Rahasia dan disambung dengan kata umum? Terus untuk apa disebut rahasia kalau disambungkan dengan kata umum? Itulah perbedaan yang membuat indah pada waktunya.


Hmm.. Dari pada rahasia umum, lebih baik lagi sebuah ruangan dengan ukuran 2 x 2 meter. Ruangan yang menjadi titik akhir untuk suatu tujuan yang membuat efek samping yang sangat luar biasa untuk dinikmati, sehingga mencapai ke-fly-an yang sangat sempurna dan diakhiri dengan kata “mas, 5.000 rupiah!” terpaksalah kau merampok sakumu yang terjait dengan sangat rapat untuk mensedekahkan uang sebesar itu demi tercapainya klimaks duniawi, ah sudahlah, terlalu sempit perkataanku, maaf! 

Tulisan ini sebagai pendahuluan bagiku untuk mereka. Bukan untuk meraih uang dari arisan penerbit tulisan di media online ini, dan aku pun tidak tahu cara kerja dari arisan ini, hahaha, maafkan aku yang terlalu lugu. Aku sangat berterima kasih kepada mereka, yang kusebut mimin. maaciw ea.  

Perkenalkan, Aku seorang pemuda yang memiliki tujuan yang berbeda tetapi sederhana, merantau dari daerah yang sederhana, “budak” yang sederhana dan memiliki ketentraman yang sederhana pula. Jadi, kusebut daerah itu dengan sebutan daerah sederhana. Daerah itu sekarang sudah dipimpin oleh pemimpin yang gagah, baik dan dia adalah mantan publik figur. Baiklah, kusebutkan saja daerah sederhana itu sekarang. Namanya Jambi, sungguh sederhana namanya bukan? Itulah yang kumaksud, begitupula dengan “budak-budak” yang ada di daerah itu, mereka sungguh sederhana. Teori apapun yang menjelaskannya, tidak dapat menurutku untuk mendeskripsikan bagaimana aku hidup disana. Oh iya, maaf sebelumnya! bukan maksudku untuk mengatakan kalian semua adalah “budak” atau pesuruh. Di daerah asalku, “budak” itu adalah sebutan untuk memanggil seseorang, baik yang telah dikenal, maupun yang belum dikenal. Jadi, biasakanlah sekarang kalian kusebut dengan kata “budak”. hahahaha.. Sorry! Dan dari sisi baiknya, kalian semua tahu kan, bahwa “budak” itu adalah teman, orang itu, dan lain sebagainya. Perlu kugarisbawahi, bahwa budak yang kumaksud adalah bukan pesuruh.

Aku sekarang hidup di rantau. Memulai dengan euforia dan niat belajar yang setengah. Jujur, mereka berdua itulah cinta pertamaku untuk memulai kehidupan baru di negeri orang. Belajar dengan tujuan meraih status yang menurutku sangat baru untuk kutambahkan di belakang namaku, sambil menjelajahi alam yang baru kutemui dan tidak ada di daerah sederhanaku. Tetapi, lambat laun niatku berubah. Iya, sesuai dengan usia dan jumlah tahun perkuliahanku, maaf, usiaku masih belum sangat tua. Melihat kehidupan baruku, aku menemukan lagi “budak” baru alias teman baru. Yey! Akhirnya aku menemukan tempat dimana aku bisa menyambung makanku, ya begitulah hidup di rantau bukan? Jujur, mereka yang sebagian kupanggil dengan sebutan “budak” merasa sedikit tersinggung dengan kehadiranku. Membawa angin buruk bagi mereka, karena mereka menganggap aku menjadikan mereka seseorang yang berhak aku perintahkan apa saja. Oh kawan, bukan itu yang kumaksud! 

Pertanyaan gelisah pun mulai muncul di dalam hati kecil mereka, mungkin. Sedikit bertanya, apa sih arti “budak” itu? Kujelaskan dan mereka menanggapi dengan nada pertemanan yang sangat akrab, serius itu sangat akrab untuk ku sebagai “newbie” atau “amateur” di suatu negeri. Oh iya, “amateur” yang kumaksud bukanlah dalam bentuk perfilm-an ya! Yang pastinya itu berbeda, iya, sekali lagi berbeda. Menjadi berbeda dari sekian orang yang berbeda adalah sesuatu hal yang menarik bagiku. Memulai dengan yang berbeda, dan berujung dengan hal yang berbeda adalah salah satu tujuan yang ingin kujalankan dan kuinginkan. Berbeda bukanlah hal yang sangat negatif untuk diperbincangkan. Setelah sekian lama aku berteman dan bercumbu dengan lingkungan baruku, aku menemukan beberapa orang yang menurutku sangat menarik, kusebut mereka orang unik, iya unik tingkahnya, unik bahasanya dan yang pasti unik wajahnya. Dan perlu diingat, wajah mereka semua normal kok! Cara pandangku saja yang menyebutkan wajah mereka itu unik. Berbeda bukan? Tetapi sangat indah untuk kuceritakan. Singkat cerita, kujalankan kehidupanku sekian lama, bertahun-tahun, dan mengalami beberapa arti yang sangat dalam, sedalam cintaku padanya, entah siapa dia yang kucinta. Ah.. sudahlah.. mulai baper kan! Bulat tekadku untuk menyelesaikan studi terlebih dahulu, setelah itu baru menemukan sesosok ibu bagi anak-anakku. Nah, lagi-lagi dia yang berbeda, akan mengisi kehidupanku yang berbeda, dengan tujuan awal yang berbeda dan berakhir berbeda pula. 

Berbeda merupakan suatu awalan yang membuat berbagai macam jenis bentuk, fikiran dan hati berkumpul serta diakhiri dengan kata sepakat! Aduh.. sepakat, sepakat dan sepakat.. Sudah dong sepakat, jangan menghantuiku dengan kata-kata kakumu yang berujung pada kegelisahan, layaknya “tembak dalam”. Hmm.. sama? Entahlah! Maksudku tembak dalam itu adalah kata yang kusampaikan sampai mengenai hati yang yang terdalam, ehm. Memiliki sesuatu hal yang baru dan sangat berbeda dengan daerah asalku, menimbulkan beberapa keunikan, aku menemukan mereka yang menurutku baru. Sungguh menakjubkan bukan! Kuharap mereka dan aku yang berbeda, bisa mencapai klimaks yang sama, sedikit melenceng dari kata yang tidak sama. Dan karena perbedaan inilah yang membuatku bertahan dan menikmati perjalanan “ke-rantauan-ku”. Jelas... ini akan kucatat dalam diriku sendiri, bukan dalam diary yang biasanya digunakan untuk berbagai macam jenis curcol, yaa itu adalah curhat colongan, bahasa gaul. Dan karena berbedalah yang membuatku gaul. Banyak sekali keuntungan dari sesuatu yang berbeda bukan?

Akhirnya kuanggap saja “budak” ku menerima kehadiranku, kuharap begitu. Dengan cara pandang yang berbeda juga, aku dan mereka bisa bertahan hingga saat ini, salkan jangan bertahan sampai ke pelaminan! Aku tidak mau ada ungkapan teman makan teman! hahaha... terima kasih karena kalian semua adalah “budak-budak” yang sangat menemaniku dalam kehidupan yang menurutku asing untuk diperbincangkan.

Berbedalah sebelum kau dibedakan, dan jelas, itu tidak baik untuk membeda-bedakan. Cukup rumit bukan? Setidaknya akhir dari itu semua adalah sama. Dan tentunya itu indah, seperti nama dia yang kubayangkan setiap mandi. Iya, karena di kamar mandiku tertulis kata “indah” di dindingnya. Aku tidak tahu apa maksud dan siapa dia, yang jelas dia yang menulis “Indah” itu bukan lah aku, dan aku hanya kebetulan saja melihat kata-kata itu di balik nikmatnya guyuran air membasahi seluruh jiwa dan nafsuku, maaf!! Oh iya, Banyak kata-kata maaf yang muncul, dan itu jujur dari dalam sukmaku. Selamat membeda bedakan! Itu maksudnya baik loh! Dan ingat, sebelum membeda bedakan, diawali dengan kata SELAMAT ya!

***

Alfarabi Magfhirdan

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dari salah satu Universitas Swasta di Indonesia. Memiliki kelainan; bercumbu dengan indahnya malam dan sedang berusaha menyelesaikan studi untuk kepuasan nafsu yang tak berujung, berharap dengan akhiran yang klimaks dan memuaskan, tanpa percepatan ejakulasi untuk menutupi awalan dari orgasme duniawi. Semua dengan harapan ridho Illahi.

0 comments:

Post a Comment