Saturday, 22 April 2017

Bukan Aku

Awan tebal menutupi sebagian sinar mentari, langit biru cerah di hiasi burung mengejar mata angin. Daun kering terlepas dari rantingnya. Mengayun lembut sebelum jatuh tertarik oleh gravitasi bumi. Debu jalanan beterbangan bergerak mengikuti deru kendaraan yang tak surut sepi. Setiap waktu terus berubah. Seperti jalan raya yang berubah dilalui berbagai kendaraan. Tak pernah sama. Bahkan jika manusia tak berubah, masa selalu berubah.

palembang.tribunnews.com
Di pinggir jalan sedikit orang berlalu lalang. Gerobak berjajar mulai menepi di samping Mesjid Raya Agung bandung. Beraneka makanan yang dijajakan dari gorengan cilok, cireng hingga minuman dingin. Terdengar samar lagu Mahadewi mengalun lembut menyebar bekerja sama dengan udara menembus ke setiap dinding, toko-toko di sekitarnya. Aku bergumam pelan mengikuti alunan halus. Berdiri bertopang dagu diatas kaca etalase.

Menunggu adalah hal yang membosankan, terlebih pagi ini sepi. Selalu sepi. Bekerja menjualkan barang selalu sepi jika di pagi hari. Aku bekerja hampir 5 bulan. Ini pertama kalinya aku bekerja di toko perhiasan perak. Memang tak seberapa gajinya. Bisa dibilang tak mencukupi keperluanku. Terkadang aku berjalan kaki dari rumah sampai kepatihan. Begitu pun ketika pulang kerja. Tapi tak mengapa. Karena di sekolah pun aku selalu berjalan kaki.
"Sepi banget ya ret." kata Teh Atik, aku hanya mengangguk tanda setuju.
"Nanti mau makan apa?" tanyanya.
"Ngga tahu Teh, paling biasa. Beli nasi rames." jawabku sekenanya. 

Kami pun  mengobrol ringan. Pertama kali aku bertemu dengannya merasa Teh Atik orangnya jutek. Ternyata penilaianku salah. Teh Atik dengan sabar mengajariku stock of name. Hingga melayani pembeli. Ia sama denganku seorang sales promotion girl. Ia sudah menikah. Mulanya aku kaget melihat suaminya bermata sipit dan berkulit putih kemerahan seperti orang china. Dan benarlah aku, Teh Atik menikah dengan seorang keturunan china campuran. Ia pun mengikuti agama suaminya. Terkadang aku merasa kasihan. Bukanlah hal mudah menggadaikan agama yang selama kita anut. Terlebih suaminya belum mempunyai pekerjaan. Bagaimana pendidikan anaknya nanti pun aku tak tahu. Tak ingin mencampuri urusannya.

Masih sepi. Bosan melihat jalanan di depan dan tak tahu apa yang mesti kulakukan. Selang beberapa menit kurasakan hawa ganjil yang tak kupahami. Sepi adalah hal biasa tapi ini berbeda. Tiba-tiba saja rasa kantukku mulai terasa. Lebih berat dari biasanya. Perasaan aneh kembali menghinggapiku. Kucoba menggosok kedua mataku, tetap saja kantukku tak hilang.

"Hooaammmm.. Ngantuk ya ret, tidur yuk. Mumpung sepi." ajak Teh Atik yang kulihat matanya mulai memerah.
"Kalau ada yang beli gimana, masa kita tidur Teh?" tanyaku meski aku pun tak kuat menahan serangan kantuk ini.
"Ya tinggal bangun, lagian jam segini masih sepi."  tanpa pikir panjang aku pun menyetujuinya. Toko perak biasanya ramai ketika sore, sedangkan siang hari bisa di hitung dengan jari. Kurebahkan kepalaku di meja samping etalase. Teh atik ikut tertidur di sebelahku.

Entah berapa lama aku tertidur, begitu bangun kulirik jam dinding. Tertegun. Berpikir. Kulirik jam dinding lagi. Jam setengah sebelas?! Heran dan bingung. Aneh. Aku merasa tidur berjam-jam lamanya. Sangat lelap. Benar-benar sangat lelap. Seolah aku tak pernah tertidur sebelumnya. Tapi kenapa jam dinding itu seolah berkata bahwa aku tertidur hanya sekejap saja? Perasaan tak nyaman menghinggapiku lagi. Ada sesuatu yang tak bisa kupahami. Tapi entah apa. Perasaan apa ini? Batinku bertanya-tanya. Hari ini tak terlalu ramai. Sore pun hanya satu dua orang yang membeli. Sungguh membosankan. Menjelang malam  tetap sepi. Membunuh rasa bosan kulakukan stock of name. Biasanya kami lakukan sebelum tutup toko. Tapi kali ini aku merasa perlu melakukannya. Setelah puas barang dan datanya sama aku merasa lega dan bisa bersantai kembali.

"Ya ampun... Masa sih?" pekik Teh Atik. Aku menoleh padanya dengan heran. Kudekati dan berdiri di samping kanannya. Ia mencocokkan data dengan barang yang di etalase.
"Ada yang hilang Ret..." sontak aku kaget.
"Coba Teteh check ulang?" tanyaku yang mulai pucat pasi. Masih terkejut.
"Udah.. Ini yang ketiga kalinya Teteh check. Hasilnya sama!!" cemasnya membuat aku pun ikut cemas.
"Apa yang hilang Teh?" tanyaku
"Coba deh Retno check sendiri, siapa tahu Teteh yang salah." 

Mau tak mau aku pun melakukannya. Dengan seksama kuteliti. Benar saja. Gelang seberat 125 gram hilang! Panik, kuulangi sekali lagi. Hasilnya sama. Gelang itu hilang. Pandanganku kosong. aku harus menggantinya? Mengganti sesuatu yang tak ku lakukan? Tubuhku lemas. Tak ku gubris kepanikan Teh Atik. Otakku berpikir. Perasaan aneh itu. Perasaan ganjil itu berkelebat dipikiranku. Bingung. Ada yang mencuri di saat kami lengah atau orang itu adalah Teh Atik sendiri? Bergidik aku memikirkannya. Entah mengapa situasi ini membuatku tak nyaman. Aku merasa Teh Atik mengambilnya. 

Tapi di sisi lain, ahh.. Kegundahanku tak berujung. Yang hilang tak kembali. Meski diganti tak bisa di pungkiri semua berubah. Berubah saling mencurigai. Apakah manusia begitu cepat berubah? Apakah manusia melupakan fitrah diri? Entah kenapa kepercayaan yang dibangun seperdetik memudar. Sepudarnya aku yang mencoba memahami. memahami perubahan diri. Perlukah kecurigaan hadir? Sungguh, bukan aku pelakunya.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Lita sebagai pemenang.

Lita Wasiati
Semula tinggal di Bandung. Baru 2 tahun ini mulai menetap di Jawa Tengah. Mulai menulis di catatan Facebook dan tertarik dengan teman yang mengikuti lomba cerpen. Aku pun mencoba mulai mengikutinya. Hatur Nuwun




0 comments:

Post a Comment