Sunday, 16 April 2017

Bukan Masalah Cangkir Teh Saya Atau Bukan Cangkir Teh Saya

Kebanyakan dari kita mungkin akrab sama pribahasa Inggris yang berbunyi you are just not my cup of tea atau Bahasa Indonesia berarti lo bukan tipe gue. Pribahasa ini banyak dipakai cewek-cewek sebagai alasan terhalus untuk menolak cowok.
 

 
Setiap cewek pasti punya standar cowok idealnya atau tipe masing-masing. Contohnya salah satu teman saya yang demen banget sama cowok yang centil. Entah secara sadar atau tidak atau memang auranya yang mengundang cowok-cowok centil itu sehingga tiga di antara tiga cowok yang pernah dia pacarin adalah cowok yang terkenal kegatelan sama cewek. Yang mana semuanya putus karena cowok-cowok tadi mau jadian sama cewek lain, hal ini ditinjau dari kecepatan mereka mendapatkan cewek baru. Teman saya yang satunya sukanya sama cowok-cowok yang hitam manis, walau pun ujung-ujungnya dibikin nangis. Ada juga yang sukanya selalu sama cowok pintar yang akhirnya ngebodohin dia. Teman-teman saya yang lain ada yang sukanya selalu sama cowok alim, dan yang paling kasihan ada temen saya yang sukanya sama selalu sama cowok yang gak suka sama dia yang berakhir dengan kejombloan dari pendaftaran SMA sampe hari terakhir ujian kemarin (re: 13 April 2017).
 
Ya, itu lah cewek dengan segala keunikannya. Memangnya cuma pria yang punya selera, kita-kita juga dong *kibas rambut*.
 
By the way, saya adalah salah satu orang yang sering menggunakan jawaban lo bukan tipe gue, ke cowok-cowok yang mendekati saya –ini asli saya sok kecantikan sekali hehe. Kebanyakan dari mereka tidak saya biarkan berkeliaran di sekitar saya kurang dari empat hari sebelum akhirnya dengan senang hati saya abaikan baik pesan atau kunjungannya ke rumah.
 
Untuk memberi gambaran singkat tentang diri saya, kalian harus tahu kalau selama kurang lebih tujuh belas tahun delapan bulan saya ini hanya ada dua tipe cowok yang pernah mendekati saya. Bukan, mereka bukan cowok brengsek atau cowok homo. Tapi cowok yang akan mengundang nasihat "jangan lah, nanti lo dibikin nangis sama tu cowok." atau "jangan lah, kasihan cowoknya kalo sama lo." Kesimpulannya dua tipe cowok tadi adalah cowok yang brengsek banget atau baik banget. Sedangkan saya pun bukan tipe cewek strong atau tipe cewek manis nan super setia, sehingga saya menjadi jomblo yang sangat pandai membahagiakan diri sendiri.
 
Kembali ke pribahasa you are just not my cup of tea, jadi beberapa waktu lalu ada seorang cowok yang mencoba PDKT ke saya. Secara fisik cowok itu bisa dikasih nilai 80. Dengan tinggi badan di atas rata-rata gebetan-gebetan saya yang dulu, punya alis tebal dan kulit yang putihnya melebihi kulit saya, cowok tadi bisa dibilang terlalu ganteng buat saya yang tingginya kaya anak SMP ini. Bukan cuma fisik yang oke, kepribadian dia pun bagus. Bahasanya sopan dan caranya ngajakin saya ngobrol kelihatan tidak mau membuat saya merasa gak nyaman. Yang lebih membuat melayang adalah pernyatannya kalau dia sudah sering memperhatikan saya sejak saya masih kelas 11 yang artinya sudah lebih dari 1 tahun ini. Lebih lagi saya merasa kalau tahun lalu itu saya nggak ada bagus-bagusnya sama sekali ditambah pada tahun lalu saya lumayan sering berkeliaran dengan cowok, walau sebagian besar dari mereka memang cuma teman.
 
Saya nggak akan bilang dia not my cup of tea atau bukan tipe saya, kesannya sombong aja kalau saya kasih pernyataan seperti itu. Dikasih yang begitu kok nolak toh. Ini bukan masalah dia adalah cangkir teh saya atau bukan cangkir teh saya tapi saya gak minum teh lagi sekarang, saya minumnya kopi. He too good to be true, I know. Kalau cewek-cewek lain di posisi saya mungkin kebanyakan dari mereka bakalan melanjutkan proses percobaan PDKT ini tanpa ragu, tapi buat saya rasanya kaya kamu mau masak sambel tapi di kasih gula. Ya, walau mungkin ada yang melakukan itu, tapi buat apa? Ngapain saya harus menjalani sesuatu dengan seseorang yang saya tahu dia bukan orang yang saya cari? Orang-orang bisa bilang, jalanin aja dulu. Tapi bukannya jahat kalau saya menahan dia cuma untuk jalanin aja dulu sedangkan dia bukan kopi yang saya mau?
 
Yang membuat saya heran teman-teman saya bukan kasih tanggapan "jangan lah, kasihan cowoknya kalo sama lo." seperti biasa, mereka malah bilang “Gak usah bukan tipe lo kan? Dia kan bukan bad boy.”
 
Ya, tipe saya adalah mereka yang jagoan bikin patah hati.
 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menykai Peka Falinov sebagai pemenang.
 
Peka Falinov
 
Makhluk peralihan yang butuh kepastian karena tidak diterima lagi di SMA dan belum bisa kuliah. Akhir-akhir ini lebih sering galau karena urusan sekolah ketimbang gebetan. Sedang butuh hiburan selagi menunggu nilai kelulusan dan doi putus dengan cewek barunya.






0 comments:

Post a Comment