Tuesday, 4 April 2017

Buruh Bergaji Menteri

Sudah hampir dua tahun Aku dan suami bergelimang harta di Negeri Kangguru. Menikmati indahnya vitamin D ($) yang merasuk ke kantong hari demi hari. Keindahan itu kami dapatkan tepatnya di Australia bagian selatan yang merupakan kota terbesar kelima bernama Adelaide. Namun sebelum itu Aku ingin sedikit bercerita tentang masa laluku yang gemilang. 

manuntunsitinjak.blogspot.com

Al kisah, sebelum menikah Aku masih bergelar perawan ting ting alias belum laku-laku. Ya iyalah. Aku yang kala itu sedang dalam taraf penyusunan skripsi memutuskan untuk mendaftar sebagai tenaga pengajar di salah satu kota besar di sebuah sekolah bertaraf internasional. Awalnya cuma iseng doang karena keseringan dapat kuliah umum dari orang tua. Eh, nggak tahunya malah keterima beneran, mana tenses ku kala itu masih sering kocar kacir lagi. Tapi demi eksistensi pasti diambil dong. 


Sebagai Mahasiswa semester akhir yang sudah semakin karatan. Waktu itu Aku rajin mendengarkan ceramah live pagi dan petang dari Mama dan Papa melalui Line (Media sosial) untuk membangkitkan semangat juangku menyelesaikan study yang tak kunjung datang. Eh, bukannya termotivasi Aku malah mengidap Ocular Migraines yakni pusing yang mempengaruhi penglihatan setelah berkunjung ke dokter. Mungkin karena sudah kelewat overdosis dengar ceramah singkat dari orang tua. 



Telinga yang mulai panas dan tanpa berpikir panjang. Membuat jari-jemariku langsung menarik laptop dan menari-nari diatas keyboard. Aku seperti kerasukan arwah leluhur para cendekiawan. Isi kepalaku jelas saja dipenuhi kata-kata lamaran dan kurang dari sejam surat lamaran telah jadi dan siap dicetak guys. Dengan aroma tubuh yang semerbak karena tak pernah mandi selama tiga hari. Aku menarik jaket di balik pintu kamar dan langsung beraksi bersama bentor andalanku yang selalu nongkrong di depan kos. Aku membawa lembaran kertas lamaran dengan foto seadanya ke kantor pusat di tengah ganasnya matahari dan banyaknya asap rokok serta nyanyian knalpot para pengendara motor. 



Seminggu berselang, saat asik-asiknya duduk menatap genangan bakso yang tak kunjung habis. Aku mendapat panggilan interview dan test mengajar. Sontak Aku kegirangan dan semua pandangan menatap aneh ke arahku. Namun Aku jelas cuek aja. Secara senang luar biasa bisa keterima sebagai teacher skala international guys. Keren kan. Apalagi cuman Aku yang dinyatakan lolos dari kalangan Mahasiswa. Kalau yang lain jangan ditanya. Mereka sudah banyak makan garam alias banyak pengalaman Bro. Secara lulusan pascasarjana dan Aku? Ijazah aja masih diraba-raba. Hiks hiks.



Keesokan harinya, saat ayam tetangga berkokok dan dilanjutkan dengan bunyi pesan singkat yang masuk dari salah seorang teman. Mataku melolot teriak kegirangan saat membaca pesan masuk. “Selamat Nur, kamu terpilih mewakili kampus untuk study banding di lima Universitas di Lima kota di Jawa, Besok ingat bawa KTP yah. Saiful.”. Senang namun tiba-tiba hening karena bingung saat mengingat Aku harus mengajar. Ya. Aku mengajar dari hari Senin sampai Sabtu guys. Malah lembaran kontrak materai Rp. 6000 sudah Aku tanda tangani kemarin. 



Sebagai anak yang penuh dengan talenta luar binasa (biasa). Seketika naluri keartisanku keluar. Dengan nada sendu yang dibuat-buat Aku menelpon salah satu staf agar bisa diberi izin kerja. Bukannya dikasi. Aku malah diberi kuliah singkat. Katanya kalau Aku nekat pergi. Aku harus ganti rugi yang jumlahnya lumayan bisa buat beli satu buah sepeda motor guys. Sayangkan, padahal cuman izin 5 hari kerja. Baru aja menghayal bisa shopping (belanja) pakai gaji pertama. Malah terhalang oleh enam buah kertas materai. Singkat cerita Aku tak jadi ikut rombongan kampus ke pulau jawa. Sakitnya tuh disini.



Pasrah dengan keadaan. Aku memutuskan melanjutkan kontrak dengan tetap mengajar. Pergi pagi pulang malam. Lumayan membuat tulangku remuk untuk bisa diolah menjadi coto Makassar. Apa? Beruntungnya Aku masih waras untuk menyelesaikan study sehingga bisa mencuri waktu dua jam sebelum masuk mengajar. 



Lama tak bersua di kampus. Aku bertemu dengan banyak kawan termasuk Anda. Ya. Anda adalah nama suamiku (fakta). Aneh kan. Gedung kampus yang angkuh terkalahkan oleh senyumnya yang penuh arti padaku kala itu cieee. Singkat cerita setelah saling lempar senyum. Bukan sandal atau golok yah. Dia lalu bahas ini itu, datang ke rumah kemudian meminang dan dalam waktu sebulan Aku telah bergelar istri Anda. Masya Allah.



Cuaca yang mendung dan angin kencang mengantar kepergian kami ke Australia. Sempat menangis karena bingung harus berbuat apa dengan lelaki asing yang baru saja meminangku. Secara sebagai mahasiswa baru, suamiku sibuk terus dengan deadline tugas dari kampus. Sebagai istri yang penuh inovasi. Aku menyibukkan diri dengan komunitas tukang jahit yang pesertanya sudah pada renta. Lumayan lah buat belajar listening untuk persiapan beasiswa Master sekaligus dapat bakat jadi tukang jahit kalau semisal jadi pengangguran kalau pulang nanti. 



Keseringan bergaul dengan komunitas ini membuatku mendapatkan pencerahan akan kehidupan yang lebih cerah. Setelah membuka forum singkat bersama suami. Aku melamar kerja sebagai buruh petik jamur disalah satu perusahaan. Duh, kasian sekolah tinggi-tinggi dan status sebagai guru international ambruk setelah berstatus buruh di negeri orang guys. Ekspektasi (harapan) yang sangat diluar dugaan. Tapi Aku masih mending dibanding para spouse (pasangan) lain yang di Indonesia malah ada yang berprofesi Dokter dan Dosen. Pertanyaannya adalah mengapa kami tetap bertahan? Sebagai contoh gaji sebagai Guru dalam sebulan bisa kudapatkan dalam 3 hari kerja disini. Secara $ guys. Tukang cleaning disini aja yang kerjanya cuma lap-lap mobil bisa dapat Rp.900 ribu dalam semalam. Maka nikmat Allah yang manakah yang kau dustakan?



Inilah yang kunamakan buruh bergaji Menteri. Meski Aku harus mendorong, menaiki, dan mencuci trolley (gerobak) besi, serta harus berangkat pukul 06.00 subuh dan terkadang pulang malam. Tapi semua itu terbayarkan dengan angka-angka yang berderet naik di rekening hahaha. Secara sebulan bisa dapat sampai Rp.50.000.000 guys. Keren kan. Ini ceritaku. Apa ceritamu?

***
Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silahkan dibagikan jika menyukai Nur Khofifah Bahru sebagai pemenang.

Nur Khofifah Bahru

Lahir di Watampone, 08 Februari 1993. Alumni terbaik Pendidikan Bahasa Inggris Univrsitas Negeri Makassar, pendiri Komunitas Gubuk Ceria di Makassar. Sekarang menetap di Adelaide, Australia.

0 comments:

Post a Comment