Wednesday, 26 April 2017

Cara Melambatkan Waktu

“Ketika rajutan kata tidak lagi mampu menjadi jembatan untuk saling mengerti, semesta akan selalu membentuk ruang dan waktu untuk mencipta momen agar kita berkontemplasi. Singkat kata, mereka mengerti.”


Apa itu bersyukur? Lagi-lagi saya membicarakan tentang rasa bersyukur yang sering menjadi momok terlupakan oleh banyak manusia di dunia, termasuk saya sebenarnya. Waktu sendiri adalah hal yang terus berjalan dan tidak dapat kembali. Ada pepatah berkata bahwa cintailah orang yang dengan ikhlas memberikan waktunya untukmu, karena waktu tidak dapat digantikan dengan apapun di dunia ini. Benar juga kan? Berbicara masalah waktu, saya memiliki seorang teman yang sangat senang dengan teori relativitas. Saat kami sedang bersama, obrolan-obrolan baik dari ilmiah, bukan ilmiah, hingga ilmiah yang disangkut pautkan sering terjadi. Sore itu, sembari menyalakan televise di kamar, secangkir kopi menemani kami berdua dan jam tangannya yang sudah lama itu berada di tangan kirinya. Setelah membicarakan banyak hal, akhirnya ia pun mengeluarkan percakapan yang membuat saya langsung ingin mempraktekkannya.

“Ya sudah, aku pulang jam 11.00 ya. Ini 10.45, masih ada 15 menit lagi,” ujarnya hangat sembari melihat jam di tangannya. Kami pun melanjutkan sedikit diskusi kecil tentang apa saja yang terjadi hari ini di kampus. Berkali-kali ia melihat jam tangannya, kurang lebih 3-4 menit sekali. Saya pun heran dan bertanya kepadanya. “Kenapa kamu lihat jam tangan terus?” ujar saya penuh tanya. Bagi saya pribadi, sedikit risih dan menimbulkan spekulasi yang tidak-tidak bila melihat kondisi kami sedang berada dalam satu ruang obrolan tapi ia terus menerus melihat jam. Seolah-olah ia khawatir dan ingin segera menyudahi percakapan ini. Padahal asumsi ini juga belum tentu benar, ya manusia sangat gemar hidup dengan berasumsi. 

“Hah? Gapapa sih biar terasa lama waktunya,” katanya santai. Saya pun semakin tidak mengerti dengan apa yang dimaksudnya. “Serius? Memangnya bisa ya melambatkan waktu, Mas?”

“Loh kamu baru sadar ya? Adek pernah merasa tidak memperhatikan hal ini? Jadi kalau kita menanti sesuatu dengan sadar, itu akan terasa lebih lambat daripada kita menjalaninya tanpa sadar. Contohnya seperti pulang sekolah, kita lihat saat itu jam di dinding menunjukkan pukul 10.30 dan kita akan pulang pukul 11.00, pasti akan lambat sekali jarum jam sampai ke 11.00. Pernah tidak merasa seperti itu? Menurutku hal ini bisa terjadi karena kita melihat kea rah jam it uterus menerus dan melakukan kegiatan itu dengan sadar.” 

“Lha memang iya ya? Kalau yang perumpamaan itu benar, saya juga merasakannya semasa kuliah ataupun di bangku SMA. Tapi kalau memperlambat waktu dengan cara yang seperti ini, baru tahu hari ini.” Rasa heranku pun mulai sedikit terjawab. “Kamu coba sendiri deh, Dek.”

Selang beberapa hari, saya mencobanya teori yang dia ajarkan kepada saya dan benar. Ketika saya ingin merasa waktu sedikit lebih lambat dari biasanya, perhatikanlah jam yang terus berjalan.  Mungkin bagi teman-teman yang belum pernah mencobanya, bisa ikut merasakan bagaimana rasanya ‘melambatkan’ waktu sejenak, terutama ketika bersama orang yang disayangi. 

Semenjak saat itu, ketika kami sedang melakukan hal yang menyenangkan, tidak jarang ia melihat jam, baik yang berada di tangannya maupun yang sedang terpajang di dekatnya. Alasannya selalu sama, “Saya ingn merasa lebih lama saja, karena kan lagi sama kamu.” Sebenarnya, di balik keberhasilannya untuk mengajarkan teori melambatkan waktu, ada saja hal-hal yang membuat kami selalu bersyukur untuk bisa memaknai waktu. 

Kami berdua adalah sosok yang suka berjalan-jalan, membunuh waktu bersama langit dan angin yang dingin. Untuk bisa bersama saya, ada saja hal yang ia lakukan selain terus menerus melihat jam, salah satunya adalah memperpanjang jarak tempuh. Misalnya saja, rumah saya sebenarnya sudah sampai di tikungan pertama, tapi ia memilih untuk melewati tikungan kedua. Bila ditanya alasannya, sangatlah sederhana seperti jawaban anak-anak SMP yang baru jatuh cinta. “Biar bisa sedikit lebih lama saja sih sama kamunya, Dek.” Pasti teman-teman pun pernah kan berada dalam posisi yang sama, ketika bersamanya rasanya tidak ingin pulang. Diajak berputar-putar, nyasar pun kadang bukan jadi masalah yang besar.

Karena Tuhan itu Maha Adil, ketika kita sangat menikmati sesuatu, maka waktu akan terasa begitu cepat. Bila ingin terasa sedikit lebih lambat, mungkin bisa dicoba teori yang tadi saya ceritakan.”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Marisa sebagai pemenang.

Marisa Sugangga 

25 tahun, Mahasiswi Urban Design, Bandung. Selain gemar merencanakan dan merancang sebuah kota beserta mempelajari manusia di dalamnya, Marisa sangat senang menulis dan berbagi kebahagiaan dengan lingkungannya. Hal yang tidak bisa ia tinggalkan adalah mendengarkan musik-musik yang membuatnya bersemangat menjalani hari-harinya. Sedang tinggal di Bandung dan berusaha mewujudkan mimpinya yang beriringan bersama mimpi kedua orang tuanya. Cita-cita terbesar: Hidup bersama orang yang disebutnya ‘teman hidup’.

0 comments:

Post a Comment