Tuesday, 11 April 2017

Catatan Tengah Malam

Pernah ga sih kalian tiba-tiba keingat peristiwa yang udah lampau? Yang baiknya cukup jadi masa lalu dan di tinggalkan jauh di belakang sana? 


pinterest.com
Aku sering. Bahkan jadi rutinitas sebelum tidur. Nista banget ya sebelum tidur bukannya doa gitu malah ngayal yang dulu-dulu. But, gimana caranya mengatasi sebuah kebiasaan yang udah jadi candu sih? Sama seperti malam-malam sebelumnya, mau dua hari yang lalu, mau semingu yang lalu atau 10 tahun yang lalu pasti deh sebelum tidur bakalan nostalgia. Ada aja bahan buat jadi khayalan yang ga ada habisnya. Biasanya sih ujung-ujungnya malah gagal tidur dan bengong doang di atas kasur.

Malam ini, topik hangat yang jadi bahan nostalgia sebelum tidur adalah dia. Iya dia. Karena tadi ga sengaja lihat postingan dia. Beneran ga sengaja.

Dia yang sekarang ada di sudut belahan dunia yang lain, yang mungkin aja udah tidur. Karena saat aku ngetik cerita absurd ini waktu menunjukkan sudah tengah malam banget. Berasa jadi orang paling ‘free’ jam segini belum tidur padahal paginya ada kuliah.

Jadi tiba-tiba malam ini keinget lagi sama masa putih abu yang weird. Ya buat aku cukup aneh. Kata orang nih ya, masa SMA itu masa yang paling indah. Tapi apa yang kata orang itu ga berlaku buatku. Bagiku masa SMA ku biasa aja, nothing special. Setidaknya sampai aku menginjakkan kaki di kelas 12. Ya, baru kerasa banget indahnya masa-masa putih abu ketika aku sudah duduk di tahun terakhir sekolah. Miris memang.

Kenapa sadarnya ketika kelas 12? Ya karena kelas 10 dan 11 masih belum sadar. Haha. Belum sadar kalau ternyata suka sama dia itu banyak warnanya, seperti pelangi. Geli banget coba ngetiknya. Jadi, aku sama dia itu pernah sekelas. Kelas 10. Waktu itu masih biasa aja, ga ada tuh yang namanya debar-debar asing di dalam dada. Ga ada tuh yang namanya tatapan penuh cinta dan menghanyutkan ala-ala sinet indo. Semuanya berjalan biasa aja. We are just friends. Awalnya sih aku ga suka sama dia, tapi sama teman sebangku dia. Ups!

Akhirnya aku ajak ngomong dia, kita bercanda-bercanda ya sewajarnya anak SMA kalo bercanda itu gimana ya begitulah aku sama dia. Semua itu demi bisa ngorek informasi lebih dalam lagi tentang teman sebangku dia yang aku suka. But, karma itu ada guys. Semuanya berbalik ketika kita sudah mulai renggang karena satu dan dua hal, kita ga sedekat dulu lagi, kita ga seakrab dulu lagi yang kalau ketemu pasti ngomong ngalor-ngidul tanpa batas, tanpa sekat. Ya, aku suka sama dia ketika keadaan kita sudah ga memungkinkan untuk dekat lagi. Jujur aja ngetik bagian ini agak perih ya. Haha.

Kadang ngerasa bego banget dah dulu kenapa telat banget menyadarainya, kalau sudah begini kejadiannya ya cuma bisa nyesel dan nyanyi cinta datang terlambat dari Maudy. Lagu itu penggambaran yang pas banget, beneran. Pertama kali dengar lagunya langsung keluar deh jiwa melankolis ini. Sedih mulu bawaannya. 

Dikelas 11, semuanya ga lebih baik. Apalagi ketika kita sudah beda kelas. Aku di kelas IPS sekian dan dia di kelas IPS sekian. Ya kita sama-sama anak IPS, dan mungkin satu dari sekian hal yang sama diantara kita berdua adalah we are proud to be a part of Social Science!

Awalnya (lagi) aku pikir akan lebih baik kalau kita beda kelas karena momen untuk melihat dia akan semakin berkurang dan jelas aku terhindar dari kecanggungan. Iya, canggung. Semenjak suka sama dia itu aku jadi suka salting, suka canggung, suka ga tahu harus apa kalau lagi didekat dia. Padahal juga dia ga tau kalau aku nyimpan rasa yang lebih. Tapi yakin deh kalian yang suka sama orang secara diam-diam pasti pernah kan punya perasaan insecure meskipun cuma setitik? Pasti jadi lebih parno-an, takut ketahuan dan ketakutan-ketakutan ga penting lainnya yang baru aku sadari sekarang kalau ternyata semua itu memang ga penting! Ya tapi gimana, namanya remaja labil.

Awalnya lega mengetahui fakta bahwa kita ga sekelas tapi ternyata itu cuma bertahan dalam waktu seminggu doang. Karena seminggu setelahnya jadi rindu banget sama ketawanya dia di kelas. Jadi rindu banget sama hobi tidurnya dia ketika guru yang masuk cuma ngomong tentang sejarah ini dan itu, jadi rindu banget sama keusilan-keusilan dia, rindu sekelompok bareng dia. Rasanya itu, unpredictable!

Selama kelas 11 itu aku cuma ngabisin hari dengan bergalau ria (ini jangan di contoh). Melihat dia gonta-ganti pacar sama adik kelas, melihat dia petentang-petenteng di depan kelas dengan santai tanpa tahu kalau aku hampir histeris tiap lihat dia senyum dan ketawa riang. Keadaan kayak begini itu juga tetap berlanjut sampai aku kelas 12. Menyedihkan banget ga sih? Bahkan ketika di tahun-tahun terakhir kita jadi anak sekolahan aku tetap ga bisa memperbaiki keadaan kita yang keburu ‘retak’ ditahun sebelumnya. 

Tapi setidaknya di kelas 12 aku jadi paham sama semua hal yang pantas untuk di perjuangkan. Mimpi, hidup, cita-cita, keluarga, pendidikan juga dia. Iya dia. Dia itu membuat aku semangat latihan bimbel tiap hari dari pulang sekolah sampai sore, sampai kucel. Pengorbanan seremeh itu buat ukuran anak manja dan cengeng seperti aku dulu sudah berasa berat banget. Dia itu membuat aku jadi orang paling panik seantero sekolahan. Karena setiap dia ada dalam radius jarak yang dekat,  bawaanya ga pernah tenang, maunya kabur aja. Takut khilaf jatuh lagi makin dalam. Tapi sekarang Oh My God!, perasaan-perasaan kayak gitu yang aku rindukan setengah mati, perasaan yang ingin aku rasakan kembali.

Aku memang ga menjabarkan hal-hal detail semacam kenapa kami bisa saling menjauh, kenapa kami seperti stranger setiap kali ketemu di sekolah. Aku pikir aku masih suka menyimpan hal-hal itu untuk diriku sendiri juga orang-orang terdekat yang rela jadi tong sampah curhatanku tiap malam, aku pikir itu cukup jadi rahasia yang ga perlu di sebar luaskan di dunia ini karena ga akan berpengaruh apapun pada perubahan dunia yang semakin parah akibat global warming nya. So, aku ga akan menjelaskan tentang bagaimana  hubungan yang kami jalani dulu ataupun sekarang disini. Mungkin untuk sahabat yang sudah deket sejak SMA, yang tahu seluk-beluk kisah ini pasti telah mencapai taraf –bosan hampir mati- setiap aku ngebahas tentang ini. 

Sampai sekarang juga kalau masih di kasih kesempatan sama Yang Kuasa buat memperbaiki. I’ll try to fixed it. Tapi, ya udahlah. Ga baik ngenang-ngenang apa yang sudah terlewati kan? Namanya juga masa lalu, sudah berlalu dan tempatnya di belakang. Semenyesal apapun juga ga akan baik kalau di bawa-bawa sampai hari ini. So, sebenarnya tulisan ini bukan cuma sekedar apa yang ingin aku sampaikan di tengah kegabutan malam ini, atau sekedar ngisi waktu sampai mata mau diajak tidur. Tapi tulisan ini juga sebuah upaya untuk berdamai. Berdamai dengan apa-apa yang sudah lewat, berdamai dengan semua penyesalan dan semua kebodohan masa lalu. Karena sebenarnya sampai detik tulisan ini di buat pun aku masih berandai-andai kalau aja waktu bisa di putar kembali, kalau aja aku ga salah mengambil keputusan maka akan banyak hal yang bisa aku ubah. Dulu.

Ah, sudahlah. Life must go on kalau kata mbak Celine Dion. Mungkin di kehidupan selanjutnya bakalan ada momen paling baik buatku memperbaiki segala hal yang sudah terjadi. Memperbaiki kisah ini, memperbaiki kandang kelinci yang hampir roboh di samping rumah, memperbaiki motor yang rusak berat gara-gara aku bawa jatuh, memperbaiki pertemanan yang rusak gara-gara salah paham, memperbaiki handle pintu yang macet gara-gara sering di gelantungin sama adik aku yang paling kecil dirumah, dan tentu saja memperbaiki IPK yang semester ini terjun dengan sangat bebasnya.

Sepertinya kali ini mata ga bisa diajak kompromi lagi karena aku sudah mulai ga ngerti apa lagi yang harus di ketik selain kata-kata aneh yang tiba-tiba muncul di kepala. Ini artinya sudah waktunya otak buat istirahat sejenak dari pikiran-pikiran tabu, sudah saatnya mata untuk kembali ke peraduannya, sudah saatnya aku masuk ke dalam mimpi dan sudah saatnya tulisan ini aku save. Time to sleep!
Selamat malam untukku. Untuk dia juga, deh. Bye, you.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Oktavia Prahesti sebagai pemenang.


Oktavia Prahesti

Lahir di Kalimantan 19 tahun yang lalu. Mahasiswi Pariwisata di Yogyakarta, anak rantau yang tiap harinya selalu homesick. Kalau sudah stress sering banget susah tidur dan alhasil cuma bisa bengong di kamar kos semalaman. Punya keinginan suatu hari nanti bakalan menginjakkan kaki di Eropa dan jadi owner untuk sebuah Bakery terkenal yang punya cabang dimana-mana. Amin.






0 comments:

Post a Comment