Monday, 24 April 2017

Cinta Tak Bernama (Unnamed Love)

2014/02/17          

Di sebuah toko buku di daerah Ibukota Jakarta, diadakan sebuah “meet and greet” dan launching buku yang dihadiri oleh puluhan penikmat buku – buku novel serta wartawan sebuah surat kabar yang merasa penasaran oleh sebuah karya buku yang konon kabarnya kelak akan meraup keuntungan yang besar.



Dalam meet and greet waktu itu diadakan sesi wawancara oleh kedua belah pihak dari pihak pembaca atau wartawan dan juga dari pihak penulis dan penerbit buku.

“Dari mana awal pemikiran anda menulis buku cerita ini kak?” tanya seorang wartawan.

“Kalo boleh jujur, cerita ini adalah pengalaman pribadi saya satu tahun lalu. Begitu berartinya masa – masa itu hingga akhirnya saya memutuskan untuk membukukan pengalaman saya tersebut” jawab sang penulis.

“Kalo boleh tau siapa tokoh wanita yang tak disebutkan namanya dalam buku anda ini, dan mengapa anda merahasiakan nama tokoh wanita tersebut?’’ tanya salah satu pembaca yang hadir.

“Bukan merahasiakan. Tapi, sebenarnya saya sendiri juga tidak tahu nama wanita yang ada dalam buku saya ini, dan saya juga tidak tahu dimana sekarang dia berada... (semua orang yang berada disana-pun terkejut).

“Tapi yang pasti sampai saat ini saya masih memikirkannya dan selalu mengingat wajahnya. Meskipun kita sudah setahun berpisah” ujar sang penulis meneruskan jawabannya.

(Kenangan satu tahun itupun akhirnya muncul kembali dan mengingatkan seorang laki – laki itu pada sosok wanita yang dia cintai pada waktu itu. Di Bali...)

2013/02/17

Hari itu dia akan berlibur ke Pulau Dewata, Bali ke rumah salah satu kerabat. Dengan harapan agar bisa kembali menyegarkan pikirannya yang baru saja menyelesaikan pendidikan 4 tahun ini. Saat sedang menunggu keberangkatan pesawat, saat itu juga dia melihat seorang gadis yang sangat repot membawa barang bawaanya yang sangat banyak. Gadis itupun duduk di sebelahnya, tanpa menyapa dia mengeluarkan telfon genggamnya dan marah – marah  tak jelas sambil menelpon seseorang.

“Apa kau gila... aku harus bawa barang sebanyak ini dalam pesawat, kalo ntar pesawatnya keberatan trus jatuh di laut trus semua penumpangnya di makan hiu apa kau mau tanggung jawab haaa....” gadis itu terlihat sangat emosi.

Dengan diam dan merasa kaget dia hanya bisa melihat keganasan gadis itu yang terus saja marah – marah sambil telfon. Setelah gadis itu menutup telfon dia mencoba untuk mengajak bicara gadis galak itu.

“Ma ma u berlibur ya mbak, kok bawaannya banyak banget?”Tanyanya agak takut

(dengan hanya menatap tajam dan sinis gadis itu tidak menjawab pertanyaannya dan berlalu pergi menuju ke pesawat)

Ternyata gadis itu juga memiliki tujuan yang sama dengannya yaitu ke Bali, merekapun satu pesawat bahkan ternyata bersebelahan kursi.

Dengan tidak saling bertanya mereka hanya saling menatap dan sedikit tersenyum malu. Agak lama mereka saling diam, akhirnya dia mencoba mengajak bicara gadis yang galak di bandara tadi.

“Mau berlibur ke Bali juga ya mbak???” tanyanya.

“Ahhh enggak, saya ke Bali pulang kampung mas” Jawab gadis itu.

“Owh.. Mbak orang Bali ya? Kalo saya sih mau berlibur ke Bali sambil ke rumah kerabat uda lama gak main – main ke Bali” Jawabnya

Tiba – tiba pembicaraan terhenti sejenak, gadis itu tidak menjawab lagi pembicaraannya, ternyata gadis itu sudah tertidur sambil mendengarkan music playernya.

“Kalo uda kenal gua jitak juga nih orang”( Katanya dalam hati jengkel)

Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka sampai juga di pulau dewata Bali. Sesampainya di Bandara Ngurah rai, dia dijemput oleh kerabatnya dari Bali, sedang wanita itu oleh kedua orang tuanya. Merekapun berpisah disana...

Dalam perjalanan menuju rumah.

“Bagaimana kuliahmu di Jakarta nak?” Tanya ayah gadis itu.

“Ah, Lancar yah. Sekarang tinggal mendalami tentang ilmu seni aja” Jawabnya.

“Kalo soal ilmu seni aja ayahmu bisa masukin kamu di sanggar seni milik sahabatnya disini nak, bagaimana?” Lanjut sang ibu.

“Ah, soal itu nanti aja mah, aku pengen santaiin pikiran dulu biar fresh lagi.hehe” Jawab gadis itu.

Dalam perjalanan menuju rumah kerabat.

“Bli, gimana kuliahnya?” Tanya kerabat laki – lakinya.

“Aku uda lulus kok, tinggal mendalami kembali ilmu menulisku. Rencananya sih pengen buat buku atau novel gitu” Jawabnya.

“Owww.. gimana bli masih jomblo kah?

“Iya, masih belum minat buat cari – cari gituan”

“Ikutan aja sosial media buat cari pasangan bli..”

“Ahh, apaan itu? Gak pernah dengar aku”

“Nanti sampai rumah aku kasih tau bli”

Sesampainya di rumah, dia diberitahu dan dijelaskan tentang sosial media yang dibicarakan kerabatnya di perjalanan tadi.

Setelah dijelaskan oleh kerabatnya, akhirnya dia memutuskan mencoba membuat akun dan bergabung di sosial media itu. Dengan memakai nama “Mr.Miracle” dia mencari akun yang membuatnya merasa tertarik. Di sosial media itu ,memang di haruskan pembuat akun memakai nama samaran dan tanpa foto asli untuk menarik perhatian pemakai akun lain sebelum mereka bertemu.

Dan dia tertarik dengan sebuah akun yang bernama “Pink Devil”. Dan dia pun mencoba mengirim pesan ke akun Pink Devil itu.

Mr.Miracle: #Pink Devil, apa yang membuatmu disebut devil?

Pink Devil: #Mr.Miracle, ingin mengubah image nama devil yang identik dengan keburukan atau setan menjadi sebaliknya.

Diapun semakin jadi penasaran dengan pemilik akun Pink Devil. Setelah bertanya dan mengetahui bahwa pemilik akun itu juga berada di Bali akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di pantai kuta keesokan harinya.

Keesokan harinya...

Mereka sepakat untuk bertemu di dekat perahu di bawah pohon kelapa pantai kuta pukul 09.00 WITA. Sesampainya di pantai dia bertemu dengan gadis yang bersamanya di bandara dan pesawat waktu itu.

“Ah mbak kan yang waktu itu... lagi nunggu seseorang ya?” Tanyanya.

“Owhh iya mas” Jawab gadis itu singkat.

Cukup lama mereka saling menunggu seseorang disana akhirnya merekapun mengirim pesan kembali pada pemilik akun kemarin.

Pink Devil: #Mr.Miracle aku sudah berada di tempat perjanjian kita, jangan membuatku kecewa di pertemuan pertama.

Mr.Miracle: #Pink Devil jangan lupa dengan janji kita hari ini, aku sudah disini.

Tak lama mereka saling membuka pesan. Merekapun saling menatap dengan tidak percaya, ternyata mereka berdualah yang telah membuat janji di sosial media itu.

Setelah saling tau satu sama lain, mereka berjalan – jalan di dekat pantai kuta sambil berbincang – bincang dan bercanda layaknya orang yang sudah saling kenal sejak lama.

“Gimana rasanya di Bali mas?’ Tanya gadis itu

“Luar biasa,Bali emang tempat ternyaman buat berwisata, sampe gak mau pulang rasanya.hehehe” Jawabnya.

“Aku juga, kangen banget sama tempat ini. Waktu kecil dulu aku selalu main – main disini” Jawab gadis itu.

“owh iya namanya siapa mbak? Aku....

“eits jangan ngasih tau nama kita masing – masing dulu, menurut permainan sosial media ini kita belum boleh memberitahu nama masing – masing sebelum satu minggu kita bersama... jelas gadis itu.

“Owh baiklah, tapi aku akan memanggilmu nona devil, karena aku ingin melihat apa kamu bisa mengubah image devil itu” Jelasnya.

“Boleh... Kalo aku akan memanggilmu tuan miracle, karena kau pantas di panggil seperti itu” Jawab gadis itu sambil sedikit tersenyum.

Haripun berlalu dengan cepat, senjapun menyapa dan akhirnya merekapun berpisah dan pulang ke rumah masing – masing.

(Gadis yang menyenangkan, semoga kau tetap menyenangkan sampai satu minggu ke depan) Dalam hatinya.

(Pria yang lucu, semoga kau tetap lucu satu minggu ke depan) Kata hati gadis itu. 

Hari kedua...

Pagi hari di hari kedua, mereka bersepada bersama.

“Hey tuan miracle, apa kau tidak ingin pindah di Bali saja?”

“Aku terlalu cinta Jakarta... jadi berat untuk meninggalkan kota kelahiranku itu.”

“Terkadang apabila kita mencintai suatu hal, kita pasti susah bahkan tak akan dapat meninggalkannya” Ujarnya itu.

“Tapi terkadang hidup juga harus menempuh sebuah resiko agar kita bisa menjadi lebih baik” Jawab gadis itu.

“Hey nona... Mengapa semua wanita itu sangat cerewet?”

“Mereka bukan cerewet, tapi hanya sedikit memiliki perhatian yang lebih dari semua laki –laki”

Dia hanya terdiam dan memikirkan kata – kata gadis itu.

“Hey nona, apa aku sudah boleh menebak namamu... namamu pasti “Ida Ayu” ya kan?” tebak laki – laki itu sambil tersenyum.

“gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya”

Hari ketiga...

Hari ketiga mereka lewati dengan pergi ke sebuah pameran budaya yang diadakan malam itu.

Layaknya seorang pasangan mereka membeli sebuah barang yang sama persis. Dalam perjalanan pulang...

“Hey tuan keajaiban, apa kau juga lulus kuliah tahun ini?”

“Benar, aku sudah lulus tahun ini... kalo kamu gimana nona?”

“Aku juga sudah lulus, aku mengambil ilmu seni saat kuliah dulu dan akan mendalami ilmu tentang seni...

“Iya, berarti kelak kau akan menetap di sini lagi ya?”

“Aku juga belum tau, bagaimana nanti...”

“Setidaknya jika nanti kita berpisah disini, beri tahu aku siapa namamu nona”

Gadis itu lagi lagi tak menjawab, tapi hanya tersenyum padanya...

Hari keempat...

Sambil meminum sebatok es kelapa muda, mereka saling menatap dan tersenyum satu sama lain. Tumbuhlah rasa yang baru dari masing – masing individu itu di hari keempat...

“Hey nona, jika aku menyerah di permainan ini apa kau akan memberitahu namamu. Sebenernya siapa sih namamu?”

“Sesuai peraturan permainan ini aku tidak akan memberitahumu” jawab gadis itu tersenyum.

“Baiklah apa ada hal yang dapat kulakukan agar aku dapat mengetahui namamu?”

“Tebak lagi saja...” Jawab gadis itu

(Sambil berpikir dia mencoba menebak nama gadis itu untuk ke sekian kalinya)

“Ehmmm, kalo bukan Ida Ayu, mungkin namamu adalah... Srikandi?” Tebaknya.

“Mengapa Srikandi” Tanya gadis itu sambil tersenyum kecil

“Karena saat pertama bertemu, kau tidak seperti seorang wanita. Kau sama seperti Srikandi yang berpenampilan wanita tapi bersifat pria.hehehe” Jawabnya sambil tertawa.

(Dengan menatap sinis) “aku sangat kecewa dengan tebakanmu(sambil melempar senyum kecil)

“Hey hey nona, aku hanya bercanda... aku paling tidak suka jika harus menebak seperti ini”

“Baiklah, berarti kau harus menunggu sampai hari ke tujuh nanti tuan keajaiban” Jawab gadis itu. 

Hari Kelima...

Bermain di pantai, saling melempar perhatian, saling menjaga satu sama lain sepertinya mereka saling menyukai bahkan saling mencintai. Permainan itu sepertinya berhasil untuk menyatukan hati mereka berdua.

Hari keenam...

Mereka berdua terduduk di atas perahu dekat pantai.

“Hari keenam, besok ya?” Tanyanya.

“Iya, kita akan memberi tahu nama kita besok” Jawab gadis itu.

“Hey nona, sepertinya kau sudah berhasil”

“Berhasil apa?” Jawab sang gadis

“Iya, seperti katamu... kau sudah berhasil mengubah image devil menjadi image yang baru” Jawabnya sambil tersenyum pada gadis itu.

(Perbicangan sedikit terhenti)

“Apa kau menyukaiku?” Tanya gadis itu.

“Ah... iya aku menyukaimu nona”

(Gadis itu menatapnya)

“Apa kau mencintaiku?” Tanya gadis itu lagi.
“Aku masih belum bisa memastikan itu, kita masih seminggu bersama... Jawabnya

(Perbincangan kembali terhenti sejenak)

“Ah iya, aku sudah memutuskannya”

“Memutuskan apa nona?” Tanyanya.

“Aku tidak akan kembali lagi ke Jakarta, aku akan tinggal di sini bersama orang tuaku dan mendalami ilmu seni disini” Jawab gadis itu.

(Dengan menatap terkejut) Mengapa kau memutuskannya dengan tiba – tiba?

“Sekarang atau nanti sama saja. Karna, kelak kita juga akan berpisah, ini hanyalah sebuah permainan rahasia nama dan romansa tujuh hari, yang dimana apabila ada saling kecocokan maka akan diteruskan tapi kalo tidak maka ini akan berhenti begitu saja” Ujar gadis itu.

“Apa yang kau katakan itu berarti kita akan benar – benar berpisah, aku belum menentukan pilihanku untuk pulang ataupun untuk tetap berada disini. Tapi seakan – akan kau sudah memutuskan bahwa kita akan berpisah dan berakhir sampai disini saja. Apa itu maksudmu?”

“Maksudku adalah kita sudah membuang waktu selama ini” Jawab gadis itu dengan mata yang mulai berkaca dengan air mata.

“Baiklah... Baiklah kalo begitu, kita akhiri disini saja. Ini hanya sebuah pembodohan, tapi setidaknya beri tau aku dulu siapa namamu? Agar kelak aku bias mencarimu lagi” Jawabnya.

“Jangan memaksaku, kita akhiri ini sampai disini” Gadis itu akhirnya pergi meninggalkannya.

Dia hanya terdiam seperti patung dan tak bisa berkata apapun bahkan hanya untuk tidak membiarkan gadis itu pergi.

Di dalam kamarnya, gadis itu menangis sejadinya mengingat beberapa hari ini saat dia bersama seorang laki – laki yang membuatnya bahagia. Akhirnya, diapun menutup akun sosial medianya itu dengan tujuan agar tak dapat di hubungi lagi oleh laki – laki itu lagi.

Berbeda dengan gadis itu, dia terus mencoba untuk menghubungi gadis itu berkali – kali meskipun pesannya tak terkirim lagi. Dalam putus asa diapun akhirnya memutuskan untuk pulang ke Jakarta keesokan harinya.

Hari ketujuh...

Seharusnya hari ini mereka saling menentukan keputusan hati mereka dan saling memberi tahu nama mereka. Namun semua itu tak terjadi pada hari ketujuh ini.

Dia memutuskan hari ini berkemas dan kembali lagi ke Jakarta, dengan di hantarkan oleh kerabatnya iapun berangkat ke bandara. Sebelum meninggalkan Bali dia mencoba pergi ke tempat – tempat yang satu minggu ini mereka kunjungi bersama.

“Aku tak akan melupakanmu, aku mencintaimu meski tak mengenalmu” ujarnya dalam hati.

Setelah selesai dengan kunjungannya dia pun berangkat ke bandara untuk segera terbang ke Jakarta.

Di bandara dia terus menatap haru bahagia foto gadis itu yang diam – diam sudah di ambilnya dulu. Dia tak mengetahui dimana gadis itu tinggal di Bali bahkan namanya saja dia belum sempat mengetahuinya. Komunikasi mereka terputus saat itu juga, tapi satu hari nanti dia berjanji pada dirinya untuk mencarinya kelak jika dia telah sukses di Jakarta.

Tak berselang lama dia akhirnya terbang pulang ke Jakarta. Melihat pesawat yang terbang, gadis itu yakin bahwa itu pesawat yang dinaiki oleh laki laki itu.

“Semoga kau tak melupakanku...” ucap gadis itu dalam hati.

Sejak saat itu mereka berpisah meninggalkan kenangan manis di Bali, meninggalkan perjanjian tentang permainan itu, dan meninggalkan rasa yang terselip di atas indahnya putih pasir di Bali... juga meninggalkan sebuah kisah “cinta tak bernama”.

Selesai Meet and Greet dan sesi tanda tangan penulis. Diapun menuju mobil bersama managernya untuk melanjutkan sesi promo buku tersebut ke toko buku lainnya.

Saat menuju mobil terdengar suara seorang gadis dari belakangnya yang mengucapkan sebuah kata untukknya.

“Buku yang sangat bagus..” Ucap seorang gadis.

Suara yang tak asing baginya, suara lembut tapi tegas itu sangat tak asing lagi baginya. Diapun segera menolehkan badannya. Namun, ternyata disana hanya seorang gadis asing berkacamata dan memakai topi yang memiliki suara yang sama dengan seorang gadis satu tahun yang lalu. Ternyata dia hanya gadis yang baru saja membeli bukunya.

Diapun sedikit kecewa dan kembali menuju mobilnya.

“Apa kau tak merindukanku” Suara yang sama terucap kembali.

Dia terhenti dan untuk yang kedua kalinya dia menoleh ke belakang. Tak disangka, benar saja gadis asing tadi berubah menjadi gadis satu tahun yang lalu, setelah ia melepas kacamata dan topi yang dipakainya tadi. Gadis yang dia tau, gadis yang dia cintai meski tak mengenalnya di Bali.

“Aku merindukanmu” Ucap gadis itu mengulangi perkataanya lagi.

Dengan haru dan tidak percaya, lagi terdiam. Dia menatap terus gadis itu tak percaya kalau gadis yang satu tahun lalu membuatnya jatuh hati sekarang berada di depannya.

Dia langsung berlari menuju gadis itu dan memeluknya.

“Aku merindukanmu, sangat merindukanmu...” Ujarnya sambil memeluk gadis itu.

Saat dia melepaskan pelukannya dan menatap gadis itu, gadis itu berkata

“Jadi siapa nama gadis dalam buku ini?” Tanya gadis itu.

“Jadi sekarang bolehkah aku tau namamu? Kita sudah berhasil melewati peraturan permainan itu. Jadi sekarang beri tahu aku siapa namamu”Tanyanya pada gadis itu.

“Baiklah. Namaku An...”

Cinta terselip karena kenyamanan yang telah terjalin. Selama rasa nyaman telah berbunga pada mereka yang menjalin kedekatan meskipun dalam waktu yang terlihat singkat, tak kan berlaku jika kita percaya. Bahwa cinta itu besar kekuatannya. 

^^THE END^^

Thanks for reading...

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Enggar sebagai pemenang.


Enggar Dicky Yonanda

Bernama lahir Enggar Dicky Yonanda, dan lahir di Tulungagung,17 Februari 1996. sulung dari tiga bersaudara ini sangat suka menulis karangan seperti puisi ataupun cerpen. setiap apapun yang dirasanya pasti dia tuangkan dalam bentuk karya tulis, karna baginya menulis adalah caranya untuk meluapkan semua rasa dalam kehidupannya. uda ahh nulis data dirinya, orang ga ada yang kepo juga... oke sekian guys!

0 comments:

Post a Comment