Wednesday, 5 April 2017

Cintaku Padamu adalah Cintaku Padanya

Aku  adalah wanita dalam topeng buatan sendiri, sebab aku adalah bocah yang malu pada realitas yang menghantui. Ibuku cuma gadis kampung yang dinikahi oleh lelaki yang sesungguhnya mencintai adik dari ibuku, tetapi sang adik sudah terlebih dulu dinikahi oleh kepala desa tempat tinggalku. Sementara ayahku adalah seorang yang taat dan keras dalam segala hal. Bagiku ayah adalah monster dengan wajah paling mengerikan di muka bumi. Ayahku membuatkan ruang berjeruji besi di samping rumah, beliau sangat gemar mengurungku di sana berhari-hari ketika ibuku sedang pergi bekerja. Begitulah hari-hariku, terdampar di ruang jeruji dan hanya bisa menangis terisak sampai kelu kurasakan di tenggorokan.

m.tempo.co
Sampai hingga umurku 20 tahun disaat ayahku sudah meninggal dan seorang gadis menyelamatku dari rumah sialan ini. Dia bernama Elsa. Dialah pahlawan bagiku. Diam-diam pada suatu malam yang gelap dia membawa obor dan membuka kunci ruang sialan ini. Dia menopang tubuh lemas tak berdayaku. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, aku berkali-kali mengucapkan terimakasih padanya. Saat itu, Aku menganggapnya sebagai pahlawan yang tak kenal gentar menyelamatkanku dari sekapan. Sampailah kami di sebuah rumah bak istana. Besar dan megah.

“Ini rumahmu?” kataku padanya.

“Ya. Inilah rumahku. Kau bisa menjalani hidup barumu disini.” katanya singkat.

Aku tak berkata-kata lagi. Aku terlanjur kagum dengan rumahnya. Hingga kami masuk kerumah istananya. Menawan sekali di dalamnya. Kami disambut oleh sepasang suami  istri dengan wajah yang khawatir tercermin jelas dikeduanya.

“Kalian tidak kenapa-kenapa, kan?.” kata si wanita.

“Kami tak apa-apa,Ibu.” kata Elsa kepada wanita itu.

Ibu?

Jadi ini adalah keluarga Elsa. Sangatlah hangat dan penuh kasih sayang, hal yang tak pernah ku rasakan selama 20 tahun hidupku ini.

“Kau Elina?.” kata si pria.

“Iya pak.” 

“Elsa banyak cerita mengenai kau, nak. Pertama melihatmu di rumah itu dia sangat ini berteman denganmu.” Kata si wanita.

“Anak kami adalah anak tunggal. Dia sangat kesepian sampai sekarang. Dia sangat senang saat dia melihatmu di rumah itu. Bahkan dia memohon pada kami agar mengeluarkanmu dari rumah itu.”kata si pria.

“Tapi kami tak bisa mengeluarkanmu sembarangan karena kunci ruanganmu ada di Pamanmu ketika kedua orang tuamu meninggal. Tapi Elsa tetap bersikeras menolongmu. Hingga seperti inilah jadinya.”kata si wanita lagi.

“Terimakasih telah peduli dan mau menyelamatku.” kataku.

“Saat ini statusmu adalah anak yatim piatu. Apakah kamu bersedia untuk menjadi adik dari anakku Elsa? Kami ingin dia tak kesepian lagi. Kami ingin dia bisa tersenyum seperti anak-anak lainnya.” kata si wanita.

“Aku bersedia.” kataku tanpa berfikir panjang. 

Aku langsung mengiyakan permintaaan kedua suami istri itu. Tanpa berpikir panjang. Apalagi yang harus kupikirkan dimana anak mereka rela menyelamatkanku dari ruang sialan itu. Saat ini aku adalah adik dari Elsa Mayor. Namaku Elina Mayor. Kedua sepasang suami istri yang hangat dan penuh kasih sayang saat ini telah menjadi ayah dan ibuku. Rumah megah bak istana ini adalah rumahku. Dan saat ini aku dapat mengeyam pendidikan yang selama ini aku idam-idamkan. Aku sangat mencintai keluarga ini. Aku sangat mencintaimu kakakku, Elsa.

Hingga pada suatu hari, aku mampu kuliah di tempat Elsa mengeyam pendidikan. Universitas Midewort, bedanya saat ini aku masih duduk di semester 1 dan  Elsa di semester 7. Hari pertama kuliahku sangatlah menyenangkan. Sampai tiba seorang lelaki bernama Hansen mengajakku berkenalan. Dia adalah kakak tingkatku. Tak lama kami melalui tahap pendekatan akhirnya Hansen menyatakan perasaannya padaku. Aku menerimanya dan aku mencintainya.

Aku selalu bercerita segala hal tentang hidupku apa yang ku alami dengan kakakku, Elsa. Aku menceritakan kepadanya bahwa aku sudah memiliki kekasih. Elsa sangat senang mendengarnya. Dia bahkan meledekku “Adikku sudah dewasa ternyata”. Dia sangat sayang padaku. Akupun begitu. Hingga suatu saat Elsa merasa penasaran dengan kekasihku.

“Kapan kamu mengenalkan kekasihmu padaku, Elina?” Kata Elsa. Matanya masih menatap lekat majalah yang dibukanya. Mataku juga masih terpaku pada majalah di depanku. 

“Kalau kakak tersayangku sudah memiliki pasangan, baru akan ku kenalkan kekasihmu padamu. Lebih baik kakak mencari dulu pria yang tepat.”

Lagi-lagi Elsa membahas masalah itu. Sudah ku katakan berkali-kali bahwa aku akan menunggunya sampai Elsa memiliki kekasih yang mencintainya. Aku memang sudah memiliki kekasih namun tidak akan ku kenalkan terlebih dulu sebelum dia memiliki kekasih juga. Aku tak ingin membuatnya merasa minder.

“Lebih baik kakak cepat mencari kekasih agar kita bisa kencan bersama.” Kataku.

“Sebenarnya ada salah satu teman kuliahku yang aku suka.” Pipi Elsa memerah saat ia bercerita tentang temannya ini.

“Apakah dia sudah punya pacar, kak?.” Kataku.

“Aku kurang tau masalah itu. Aku hanya sering melihatnya saat dikelas.” Kata Elsa.

“Mengapa tak kau dekati saja, kak.”

“Aku sangat malu bertingkah seperti itu, Elina.” Kata Elsa.

“Apakah kau punya fotonya, Elsa. Aku jadi penasaran dengan pria idamanmu.”

“Sebentar Elina.” Elsa bangkit dari tidurnya dan mengambil Hp dari dalam tasnya. Kemudian menyodorkan sebuah foto di galerinya.

Mataku terbelalak. Aku tercengang. Aku kenal pria ini. Sangat mengenalnya. Keesokan harinya saat aku pergi bersama Hansen. Dia tiba-tiba bertanya,”Kapan kau akan mengenalkanku pada kakakmu?” Ya, dialah Hansen lelaki yang mampu mengajarkanku apa artinya mencintai lawan jenis. Lelaki berwajah tirus keturunan Belanda dengan rambut yang ditata rapi oleh stylist pribadi.

“Kamu sudah mengetahui orangnya, Hansen.” Kataku.

Aku mengeluarkan Hp dari sakuku dan ku buka galeri Hp. Kutunjukan foto kakak tercintaku. Elsa. Matanya berbinar.”Ini Elsa teman kuliahku. Dia kakakmu? Dia mahasiswi terpintar di kelasku. Tak heran adiknya mampu membuat hatiku terpaku hanya pada satu orang.” Kata Hansen.

“Dia kakakku. Kakak terbaikku. Yang ingin aku kenalkan kepadamu setelah dia juga mendapatkan kekasih. Saat ini dia sedang menyukai seseorang.” Kataku. 

“Lalu?”

“Dia menyukaimu. Kemarin dia menceritakan semuanya padaku. Semenjak masuk kuliah dia jatuh cinta padamu. Dia selalu mengawasimu. Dia selalu memperhatikanmu. Dia mencintaimu.” Kataku.

“Tapi aku kekasihmu.” Kata Hansen.

“Maka dari itu. Aku harus memilih salah satu.”

“Maksudmu?”

“Aku ingin mengakhiri hubungan ini denganmu. Elsa sangat mencintaimu. Aku tidak bisa menghalanginya merengkuh cintanya.” Kataku.

“Tapi aku mencintaimu, Elina.”Kata Hansen.

“Iya. Aku tahu. Tapi aku tidak bisa membuatnya bersedih. Aku ingin mengakhiri hubungan ini, Hansen. Mengertilah aku.” Kataku.

“Aku tak mengerti dengan jalan pikiranmu. Aku yakin Elsa akan mengerti semuanya.”

“Aku lebih tahu Elsa. Aku tidak ingin merusak persaudaraanku dengannya. Kau tahu, dia yang sudah menyelamatkanku dari lubang hitam di masa lalu. Aku sangat mencintai Elsa, sama seperti aku mencintaimu. Cintaku untuk Elsa sama seperti cintaku untukmu. Aku ingin kalian berdua bahagia. Aku tidak ingin melihat Elsa menangis karena aku mencintaimu. Terserah kamu akan berpikir aku ini cewek ‘sakit’ atau apalah. Tapi jujur, aku ingin melihat kalian berdua bahagia.”

“K-k-kamu Lesbian?” kata Hansen.

“Terserah kau mau menganggapku apa, Hansen. Yang jelas aku sudah jujur padamu. Aku mencintaimu dan aku juga mencintai Elsa.”kataku.

“Tapi cintaku hanya untukmu bukan Elsa.”

“Cobalah untuk memahamiku. Cobalah mencintai Elsa. Aku yakin kalian akan bahagia. Aku mencintai Elsa sedalam hatiku, aku tak ingin dia merasakan sakit hati. Maafkan aku melukaimu, Hansen.” Kataku,

Aku pergi meninggalkannya di taman kota. Dia hanya menatapku dan diam menunduk. Sesekali dia meneteskan air matanya. Aku tahu betapa hancurnya dia. Namun, aku lebih tak tega melihat Elsa yang mengalaminya. Terima kasih Hansen sudah memperkenalkan kepadaku cinta kepada lawan jenis. Aku mencintaimu.

***

Tulisan ini ikut Arisan Godok Bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Eka Indrawati sebagai pemenang.

Eka Indrawati

Lahir di Banyumas, 30 Maret 1996. Sedang berkuliah di Universitas Gadjah Mada program studi D4 Kebidanan. Suka Menulis dan Menari 

0 comments:

Post a Comment