Tuesday, 18 April 2017

Dari Mana Datangnya Hujan?

Katakanlah aku lagi bosan. Dari tadi cuma guling-guling di atas ranjang sambil main Hp. Di luar terik, lagi kemarau sudah sejak tiga bulan lalu. Hawa panasnya bikin malas keluar rumah. Pas mata udah mau menutup sebab mengantuk, tiba-tiba ada yang teriak gini:


“Lupiiiiiiinnnn”

Aku bangkit dan lihat ke jendela kamar, kulihat ada dua bocah resek yang amat sangat ku kenal. Namanya Didis dan Agam.

“Paan?” tanyaku sambil menguap lebar.
“Ada misi!” teriak Didis.

“Misi paan?”

“Jangan banyak cing cong. Cabut” kata Disis lagi sambil lari. Sebetulnya malas, takut gosong kalau keluar rumah. Tetapi, ya, kupikir boleh juga, siapa tahu asyik. Aku langsung lari keluar rumah ikutin Didis dan Agam.

“Ngapain kesini?” tanyaku bingung pas sampai di sebuah kebun yang banyak pohon pisangnya. Itu kebun kepunyaan bapaknya Didis. Didis ajak aku dan Agam lihat sebuah pohon kecil yang tingginya baru sekitar delapan centimeter. Aku dan Agam saling tatap bingung.

“Waktu itu, gue makan mangga dari pohon depan rumah pak Kamil. Gue buang bijinya disini, eh, tumbuh, bro! Gue seneng banget” ujar Didis semangat.

“Lu nyolong mangganya pak Kamil?” tanyaku.

“Ya, enggak, lah! Cuma mungut yang udah jatuh!”

“Tapi gak ijin dulu, kan?”
Didis mengangguk pelan.

“Berarti nyolong!” kataku setengah teriak.

“Eh! Iya, iya. Entar gue minta maaf sama pak Kamil. Tapi, gini, ada yang harus kalian berdua tau..” raut muka Didis serius banget, bikin aku dan Agam jadi penasaran.

“Lu bayangin, kalo pohon ini tumbuh terus berbuah, gue jadi punya pohon mangga dan gue janji, lu berdua boleh ambil buahnya sesuka hati. Tapi, ada syaratnya” sambung Didis.

Aku dan Agam agak aneh juga, sejak kapan Didis jadi berminat sama soal tanam-menanam. Aku dan didis berjanji akan menyanggupi syarat yang di ajukan Didis, soalnya, kalau boleh jujur, aku juga pengen banget makan buah mangga kepunyaan pak Kamil yang terkenal manis banget itu, tetapi, pak Kamil pelitnya setengah mampus, makanya susah kalau harus minta, mustahil di kasih.

“Kan, sekarang lagi kemarau. Gue khawatir pohon nya mati, makanya, lo berdua harus bantu gue jalanin misi buat manggil hujan” jelas si Didis.

“Caranya gimana?” tanya Agam.

Didis nyengir, memamerkan giginya yang agak kuning sebab jarang di gosok itu. Didis bilang, dirinya sudah menemukan cara buat bisa manggil hujan dari internet. Aku, Didis dan Agam langsung menjalankan misi.

Rencana pertama yang aku, Didis dan Agam lakukan adalah metode air dan garam. Cara melakukannya adalah dengan menyediakan baskom yang di isi air dan di campur garam, terus di simpan di luar rumah. Aku sempat tanya, memang ada hubungaannya nyimpen air garam di baskom sama hujan? Didis bilang gini :

“Air yang kita simpen di baskom bakal menguap karena udara panas, penguapan paling bagus itu antara jam sebelas sampe jam satu siang. Dengan makin banyaknya uap air di udara, akan semakin mempercepat proses kondensasi menjadi butir air pada suhu yang semakin dingin di udara, nah, dengan gitu, hujan bakal turun” kata Didids menjelaskan panjang lebar sok jenius.

Aku dan Agam cuma melongo, tidak paham sama apa yang Didis ucapkan. Masa bodo saja lah. siapa tahu manjur.

Berjam-jam aku Didis dan Agam menunggui air di baskom itu menguap seluruhnya, tetapi, pas udah mau magrib, langit sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda bakal hujan. Sudah di pastikan, rencana pertama gagal. Berhubung sudah mau malam, hari itu ku putuskan buat menyudahi misi dan balik ke rumah masing-masing soalnya bisa di marahin emak kalau telat pulang.

Sampai pada hari kedua, sepulang sekolah, Didis sudah menunggu di depan rumahku. Dia bilang, dia punya rencana yang dijamin bakal ampuh. Katanya, metode yang kedua ini berasal dari luar negeri, jadi pasti mujarab buat manggil hujan. Nama metodenya adalah :

“Teru-teru bozu!” teriak Didis bergairah.

“Apaan tuh?” tanya Agam.

“Metode manggil hujan dari Jepang. Keren, kan gue!?”

Didis membusungkan dadanya sombong. Aku, sih, malas memuji, nanti dia besar kepala. Yang pasti, aku dan Agam cuma nurut sama si Didis, kita membuat boneka teru-teru bozu itu pakai tisu yang bagian atasnya di ikat oleh benang terus di kasih gambar wajah, sekilas pengen ketawa, mirip pocong. Habis itu, Didis menggantung boneka itu di jendela kamar.

“Udah. Tinggal tunggu hujan turun” kata Didis enteng.

Setelahnya, mereka berdua malah ketiduran di kamarku, mana ngiler lagi, kan aku jadi jengkel. Hari makin sore, sudah jam lima lewat dua belas minit. Pas Didis bangun, dia bingung, kok, belum hujan juga. Dia agak gelisah, habis itu dia buka internet dan ternyata..

“Astaga. Gue lupa..”

“Paan?” tanya Agam yang juga baru bangun.

“Kita gantung teru-teru bozu nya salah. Harusnya kepalanya di bawah kalo mau manggil hujan. Kalo kepalanya di atas malah menangkal hujan”

“Hah!?” kataku dan Agam hampir bersamaan.

“Tidaaaaaaaaaaaak!” Histeris  Didis. Terpaksa, hari ini juga cuma menghasilkan kecewa. Sama sekali tidak hujan.

Esoknya, kubilang kalau aku punya metode yang di dapat dari si embah yang sudah meninggal lima tahun lalu. Aku baru ingat, waktu itu, si embah bilang kalau orang zaman dulu mau manggil hujan harus mandiin kucing. Di jamin manjur, katanya. Waktu ku beritahu pada Didis, dia tampak antusias. Habis itu Didis pergi dan pulang sambil bawa kucing belang yang dekil, kutanya :

“Kucing siapa?”

“Gak tau, nemu deket tempat sampah”

Sejujurnya, aku agak takut, sih, harus mandiin kucing. Pasalnya, kucing kan terkenal susah kena air. Agak kasian juga, tetapi, Agam bilang malah bagus kucingnya kita mandiin biar sehat, soalnya kucingnya benar-benar dekil dan bau, maklum tinggalnya di tempat sampah.

Aku sepakat, pas di suruh jadi yang menyirami, soalnya aku takut megang kucing itu. pas air baru kena tubuh si kucing, dia langsung berontak. Sampai menggigit si Agam, Agam meringis sakit dan kucing nya kabur. Didis bengong. Mukanya pasi, sedih, kecewa bersatu dalam batinnya.

“Udah, deh.. Lupain..” kata Didis lemas. “ Selamat tinggal pohon manga..” sambung Didis sambil lari pulang ke rumah, matanya berkaca-kaca. Di sisi lain, Agam juga kesakitan dan berdarah. Kusuruh dia pulang.

Semalaman, aku melamun, mikirin cara buat menghibur si Didis. Baru kali ini aku lihat dia nangis cuma gara-gara sebuah pohon mangga. Sudah kuputuskan, aku harus melakukan sesuatu. Buru-buru ku ambil Hp yang pulsanya cuma tiggal lima ratus lima belas perak, terus ku pake buat SMS Didis, isinya gini :

“Temuin gue di bawah pohon cinta besok sepulang sekolah. Wajib!”

Terkirim. Habis itu aku tidur, nunggu hari esok.

Hari itu semakin terik, udara panas bercampur sama debu-debu dan polutan yang beterbangan di udara, bikin sesak. Sepulang sekolah, aku buru-buru menuju pohon cinta, dari jauh, kulihat Didis sudah menunggu. Pas aku sampai disana, Didis terperanjat, matanya melotot hampir copot.

“Rika..” katanya pelan.

Rika adalah mantan pacar Didis yang sudah putus sekitar dua tahun lalu. Didis belum move on, masih sayang katanya, tetapi Rika sudah punya gandengan baru, malah sudah tiga kali ganti sejak putus sama Didis.

“Kok kamu disini?” tanya Didis heran sambil matanya berkaca-kaca, dikiranya Rika mau ngajak Didis balikan, padahal, sih, bukan.

“Metode terakhir yang bisa gue pikirin, kuncinya cuma ada di Rika” ku bilang.
Didis makin bingung.

“Maksud lu apa? Lu mau nikung gue, pin? Lu deketin Rika?” muka Didis merah padam, nada suaranya mulai tinggi.

“Jangan banyak cing cong. Pilih Rika atau pohon mangga!?” bentakku.

Didis diam. Dia memandangku dan Rika, mukanya lesu. Habis itu duduk tertunduk. Kupikir, waktu itu hatinya berkecamuk. Dia patah hati melihat aku menggandeng tangan Rika. Didis mulai hanyut dalam perasaanya, dia mulai mengenang masa lalunya bersama Rika. Didis teramat ingat, dulu, paling sering jajanin Rika cilok, soalnya dulu Didis masih kere. Coba kalau sekarang Rika mau lagi sama dia, Rika minta di beliin es krim tabur emas aja pasti di beliin, bagaimana tidak, Didis yang sekarang bukanlah Didis yang dulu, Didis yang sekarang sudah kaya karena dapat warisan dari engkongnya yang juragan kontrakan.

Tiba-tiba langit mendung, ada geledek. Riris kaget sampai langsung tersadar dari lamunnya. Tiba-tiba turun hujan.

“Berhasil!” teriak ku girang.

Riris dan Rika memandangku bingung.

“Berhasil apaan? Berhasil bikin gue murka maksudnya!?”

“Bukan! Gue berhasil bikin hujan”
Didis melongo;bingung.

“Ngaku sama gue, gara-gara lu liat Rika disini, lu jadi inget kenangan pas lu pacaran, kan?”
Didis mengangguk samar.

“Semalem, gue liat status ef-bi orang. Katanya hujan itu isyarat rindu, jadi kalau hujan artinya ada yang lagi rindu kenangan. Terus, ada juga yang bilang kalau hujan itu satu persen air sembilan puluh sembilan persen kenangan. Yaudah, gue coba aja bikin lu galau sama rindu, bikin lu kangen sama kenangan, dan... hujan” kataku penuh semangat.

Didis melongo. Kupikir dia bingung. Tetapi, habis itu dia tertawa girang lalu memelukku. Dia mengacuhkan kehadiran Rika, baginya saat itu, yang penting hujan, pohon mangga jadi bisa tumbuh.

Hore! Hujan hari itu berasal dari rindu dan kenangan. Sepatutnya, Didis bilang gini :
 “Terimakasih mantan!”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Imas sebagai pemenang.

Imas Masriah 

Sebentar lagi Insyaallah bakal lulus SMA, doakan saja. Hobi menulis, walau seringnya tidak tahu apa yang ditulis, pokoknya yang penting ada kerjaan. Paling suka makan mi ayam dan melihara seekor kucing di rumah yang dikasih nama omen. Aku pecinta drama korea yang banyak oppa gantengnya. Segitu saja tentangku yang kurang penting ini. Akun facebook ku namanya Imas Masriah, ingat ini, ya, yang foto profilnya pakai kerudung merah.

0 comments:

Post a Comment