Thursday, 6 April 2017

Dari Surat Sampai Tagang Urat

Dalam rangka upaya swasembada pangan, pemerintah secara nasional sangat giat dalam membuat beberapa terobosan, tetapi terobosan tersebut telah mencederai petani, buruh tani. Terobosan yang dilakukan pun mengarah pada daerah setingkat provinsi, Sumatera Barat contohnya, Surat Edaran Gubernur yang diedarkan beberapa bulan ini telah membuahkan protes dari beberapa aliansi petani dan koalisi masyarakat sipil di Sumatera Barat, beberapa protes bukan tanpa alasan yang kuat, permasalahannya adalah kondisi iklim, budaya dan arah surat yang sejatinya telah melemahkan petani. Sebenarnya pemerintah telah mengetahui kelemahan tersebut, tetapi sepertinya telinga gubernur belum begitu peka(k) . 


SE (Surat Edaran) masih belum dicabut, tandanya sakaratul maut masih di kerongkongan petani. Menyekik dan semakin membuat menjerit, mungkin bagi beberapa mahasiswa dan masyarakat ini belum terasa secara menyeluruh, begitu juga pada lahirnya Minangmart dari rahim gubernur, SPj fiktif dari kaki tangan gubernur, tidaklah sebuah kasus benar-benar langsung mengena, tapi polanya seperti virus yang lambat laun mematikan sel-sel kehidupan.

Sebentar lagi, terobosan itu pun bertambah, bak dokter yang mau malpratek, disuntikkanlah semua obat yang dikira manjur, tapi nyatanya tidak memberikan dampak apa-apa, malah semakin menambah sel penyakit. Keinginan pemerintah membuat Badan Usaha Milik Petani atau dikerenin kita sebut corporate farming untuk meningkatkan iklim ekonomi pertanian di pedesaan.

Tetapi apakah ini upaya penyaluran yang tepat sasaran?  Ini adalah upaya yang tidak memberdayakan sumber daya kementerian yang ada, seharusnya beberapa kementerian terkait, misal Kementrian Pertanian (Mentan), Kementerian Koperasi dan UKM, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi belum memiliki platform bersama untuk membangun ekonomi petani, pak presiden yang katanya ngertiin petani, mbok ya ngerti jugalah apa yang dibutuhkan petani.

Dukungan serupa itu tentu memperkenyang perut senayan, senayan yang berperut makan hasil tani dari corporate bersampul kerakyatan yang menyayat.

Seharusnya pembentukan yang menjanjikan untuk membantu ekonomi petani dan buruh tani adalah dengan membuat koperasi bukan corperat. Seharusnya menambah saku rakyat bukan wakil rakyat apalagi pejabat yang bakal duduk jadi Badan Usaha Tani(a)yo kan rakyat.

Manangih Hatta dalam kuburnya, hasil bapikia samalam suntuak, kemudian dia tawarkan kepada bangsa mengenai konsep Koperasi, dan sampai kini dek Koperasi masih bapajang setiap iniversary, malah dianggap sebagai sarok-sarok kuaci. Jika koperasi bukan sebagai solusi, seharusnya kemandulan itu yang dicari obat yang mujarab.

Tan, tan, tanda kacau belah, Indonesia dengan surat-surat, yuk mari lihat Kendeng yang ngecor kaki sampai kehilangan bidadari sejatinya, yuk mari lihat Langkat yang diusir rakyat dari tanahnya sendiri, yuk mari lihat sebelum engkau berkompromi dengan maling berdasi di rumahmu sendiri, saya? Saya sih enggak ya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nurdin sebagai pemenang.

Nurdin Hamzah Hidayat

Anak tiri di negeri sendiri.

0 comments:

Post a Comment