Sunday, 9 April 2017

Dengan Ikhlas, Hidup Menjadi Tenang

Belajar ikhlas memang sulit yah teman? Aku sendiri mengakuinya, aku pun terkadang sulit untuk bersikap ikhlas. Terkadang hati merasa terbebani. Tapi, teman tahu tidak akibat dari tidak ikhlas itu apa?

rudylim.com
Suatu pekerjaan akan bernilai nol apabila tidak ada keikhlasan di dalamnya, sebaik apapun itu hasilnya. It’s oke hasilnya baik, bahkan terbaik, tapi percuma saja, isinya saja kosong, alias tidak ada kualitasnya. Contohnya saja saat kita bersekolah, pernah tidak teman-teman diajar oleh guru yang teramat membosankan, menyebalkan, dan tidak teman-teman suka. Saat mengikuti pelajarannya, hati pasti merasa terbebani, terpaksa, dan kita berangkat hanya untuk setor absen saja. Benar tidak? Akibatnya apa, pelajarannya kita tidak paham, nilainya mungkin bagus, tapi yang di dalam otak kita, nol besar.

Dulu waktu di SMP, aku pernah diajar oleh guru yang sangat aku tidak sukai. Dia itu guru baru, tapi peraturan-peraturannya sangat menjengkelkan. Apabila ada siswanya yang berbuat salah, dia itu bukannya menasehati, tetapi malah menyindirnya di kelas. Super duper displin. Tidak mengumpulkan tugas, dilaporkan langsung ke wali kelas. Ada siswi yang tidak taat aturan sekolah, langsung ia menyindirnya. Pernah kali pertama beliau mengajar di kelasku, beliau sampai menangis. Kelasku memang terbiasa dengan yang namanya keributan, dasar kelas ku memang nakal, beliau kalah galak dengan anak-anak kelasku. Akibat dari semua itu, kami dimarahi oleh Waka kurikulum di SMP kami, dan jujur, nilai pelajarannya pun kami merah semua. 

Setiap pelajaran, hatiku tidak ikhlas mengikutinya, ada rasa terbebani, pikiranku hanya satu, takut tidak lulus. Berangkat hanya setor muka, saat beliau mengajar, aku pun tinggal beliau bercerita dengan teman-temanku. Dan akibatnya, aku tidak pernah paham pelajaran yang beliau ampu. Nilainya pun sangat mengecewakan. Jujur, aku merasa menyesal bila mengingat hal itu. Tapi ini hanya contoh yah teman, jangan pernah ditiru, karena guru adalah yang memberi kita ilmu. Ibarat kita berjalan di padang pasir, gurulah yang memberi kita seteguk air.

Mungkin teman-teman sering mendengar orang berbicara, “iya, aku ikhlas kok.“, atau “Aku akan ikhlas menerima semua ini.”. Tetapi, khlasnya hati itu berbeda yah teman, dengan ikhlas yang dari mulut. Mungkin mulutnya mengucapkan ikhlas, tetapi, hatinya siapa sih yang tau. Tapi jangan dengan ini, membuat teman-teman menaruh prasangka buruk atau kecurigaan terhadap orang lain yah. Ini hanya untuk melatih diri, agar kita tidak mengaku ikhlas, padahal hatinya terpaksa melakukan.

Mencintai atau menyayanngi seseorang pun harus ada rasa ikhlas. Mungkin kita sering menyebutnya dengan ketulusan. Menerima kekurangan dan kelebihannya, itu baru yang namanya ikhlas. Coba saja bila kita mencintai seseorang tidak dengan ketulusan, Misalnya hanya karena dia berharta atau ketampanan/kecantikan wajahnya, sehingga kita mau menerimanya, yah paling satu atau dua bulan saja, akan selesai hubungannya. Bila langgeng pun hanya akan ada keributan di dalamnya. Diri pun akan cepat bosan karenanya. Oleh karena itu, carilah pasangan yang tulus ikhlas mencintai dan menyayangi kita, supaya kedepannya ketenangan dan kenyamananlah yang kita dapatkan.

Keterpaksaan memang tidak akan pernah berdampak baik, segalanya pasti akan berakhir kacau balau. Melatih diri untuk ikhlas itu penting sekali, dimulai sejak saat ini juga tentunya. Caranya, cukup niatkan ikhlas dalam hati, jangan dan jangan pernah mengharapkan sesuatu apapun terhadap kebaikan atau pekerjaan yang kita lakukan. Misalnya saja, saat kita bersekolah, niatkanlah ikhlas dari dalam hati, mau belajar, menuntut ilmu, menambah pengetahuan baru, dan jangan hanya niatkan karena absen atau mendapat  nilai saja. Berbagi juga salah satu cara yang baik untuk melatih diri supaya ikhlas. Berbagi makanan, berbagi rejeki, dan berbagi ilmu. Masih banyak cara lagi yang lain untuk melatih diri supaya ikhlas.

Dan ingat, ikhlas dan niat itu sangat berkaitan erat. Karena sumbernya yah sama, satu, yaitu dari dalam hati. Suatu pekerjaan akan menjadi bernilai, apabila diniatkan dengan ikhlas. Suatu pekerjaan pula yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan berdampak baik, terutama untuk diri kita sendiri. Perlu bukti? Coba latihlah diri untuk ikhlas, jangan ada rasa keterpaksaan sedikitpun di dalam hati. Dengan begitu, ketenangan pun pasti akan ada di dalam hati kita. Dan Tuhan pun pasti akan ada di setiap langkah kita.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uswah Al - Chasani sebagai pemenang.

Uswah Al - Chasani

Kelahiran Banyumas, 29 November 1999. Hobi 3M (Membaca, Menulis dan Merenung). Sedang menempuh pendidikan di SMK Teknik Komputer MBM Rawalo Banyumas. 
"Belajar untuk hidup dan hidup untuk belajar. So simple so happy"

0 comments:

Post a Comment