Monday, 10 April 2017

Diar(e)y Irfan

3th, Nov 1999

Sejarah bermula saat gue lahir, kelahiran gue disambut dengan duka cita. Semua menangis karena tahu muka anak dari nyokap dan bokap gue kayak Tapir mata satu. Gue selalu bertanya kepada bokap bagaimana proses gue lahir, tapi bokap selalu bilang “anak kecil gak boleh tau“. Gue cek di internet, gue nanya sama nenek tapi jawaban mereka sama, anak kecil gak boleh tau. Gue lahir di rumah sakit. Tapi gue gak percaya, sehingga gue cek kembali untuk memastikannya dan ternyata gue lahir di bidan gadungan. Gue gak pernah menyesali bagaimana gue lahir, bagaimana gue tumbuh menjadi manusia jelek, bagaimana gue berkembang kaya kadal. Gak pernah satu waktu pun gue menyesalinya. Pernah sih waktu itu gue bilang sama bokap.....

selipan.com
“Pa, tolong Pa!!! Tolong bunuh saja Irfan, Pa, Irfan gak tahan dengan ejekan mereka tentang muka Irfan pa”. Yaaa itu mungkin salah satunya, tapi yang penting gue masih hidup. Gue memiliki satu orang kakak yang pastinya dia keluar duluan. Kami sempat rebutan siapa yang keluar duluan, dan akhirnya gue kalah. Kenapa? Karena gue gak pernah bisa buat nikung. Kalo sejarah kelahiran Nabi disebut Tahun Gajah. Mungkin tahun kelahiran gue disebut tahun bahu ketek, karena bokap pas gendong gue gak pernah pakai deodorant

Gue dilahirin dari keluarga yang sederhana, gak dari keluarga artis maupun seleberiti. Walaupun begitu, mereka pasti gak percaya, karena muka gue kayak gelandangan. Gue selalu bercita-cita ingin menjadi Dokter, saat ditanya kenapa mau jadi Dokter? Gue selalu ngejawab “biar bisa ketemu sama suster cantik“. Tahun kelahiran adalah sejarah paling penting dalam kehidupan kita. Tanpa tahun kelahiran orang-orang pasti gak bisa ngerayain hari ulang tahun, dan lagu Happy Birthday gak akan pernah ada. Dan berbicara tentang ulang tahun, gue selalu bertanya sama nyokap.

“Ma besok kan hari ulang tahun ku “ dan nyokap selalu bilang...

“Hari ulang tahun kamu? Kan udah tahun kemaren.”

“Iya Ma namanya juga ulang tahun, tiap tahun lah Ma diulang.”

“Iya, iya kamu mau kado apa?”

Dan gue ingin kado yang gue idam-idamkan selama ini.

“Mau istri boleh ma? Yang tentu saja Nyokap gak bakal kasih karena umur gue waktu itu 5 tahun.

Diumur gue sekarang ini, gue pengen banget yang namanya ngebahagiain orang tua gue, semua orang pengen buat bahagia orangtua mereka. Siapa sih yang gak pengen. 3 November 1999 adalah pengalaman terbesar di dalam hidup gue yang gak bakalan pernah gue lupain dalam hidup gue. Terutama waktu gue minta istri ke Nyokap.

25th, Ags2011

Kalian penasaran apa yang terjadi di tanggal dan tahun ini? Ini adalah pengalaman dimana gue pertama kali kenal yang namanya cinta. Ini pertama kalinya gue bilang bahwa cinta itu, asyik. Saat itu gue berumur sekitar 11 tahun. Dengan badan tinggi hampir menyentuh langit-langit, muka jelek bego. Itu lah gue waktu itu, tapi sekarang mungkin gue masih begitu. Duduk di kelas 5 SD dan sudah tau apa itu cewek. Sejenis makhluk hidup yang pengen dibilang kurus. Saat itu gue pengen banget yang namanya punya pacar. Gue pengen gandengan tangan, unyu-unyu cubit-cubitan kaya Trio Macan, tapi masalahnya satu saja. Gak ada yang mau sama gue, saat gue mau nembak pasti mereka bilang. “Kalau lo mau nembak gue, sorry gue masih pengen hidup”. Saat itu lah gue mulai gila yang namanya cinta, apalagi sinetron Indonesia sedang marak-maraknya. Gue juga pernah nembak seseorang di dalam bis, sayangnya dia...., sudah punya anak.  Semuanya menjadi pelajaran buat gue bahwa jangan pernah nembak cewek kalo dia bawa anak.

Gue pernah pacaran, gue pertama kali memiliki pacar saat gue nembak cewek di hadapannya langsung. Namanya Yumi, manis tinggi dan juga pintar, waktu itu gue masih ragu-ragu apakah dia akan nerima gue atau nggak, dari itu gue cuma bisa mengaguminya dari belakang. Dia sedang jalan gue ikutin dari belakang, saat dia lari gue lari juga, saat dia ke WC gue....... ke WC juga cuma di depannya aja. Saat itu tak ada yang tahu bahwa gue suka sama Yumi. Sampai saat itu. Ya saat itu Yumi sedang kehilangan pensilnya, dia terus mencarinya dan semua orang seperti tak menghiraukannya. Dia buka lemari, buka celana orang, buka celana guru semuanya gak ada. Lalu gue ngeberaniin buat ngomong sama dia.

“Masih nyari pensil? Kenapa gak beli yang baru aja?” Tanya gue.

“Pensil itu seperti pensil keberuntungan gue, gue gak pengen yang baru, gue harus dapetin pensil itu”. Jawab Yumi dengan wajah risau. Gue juga punya benda keberuntungan yaitu celana dalam gue, makanya gak pernah gue ganti, kok jadi kesana ya, oke balik kecerita. Jadi gue memutuskan untuk membantu Yumi mencari pensilnya .

“Gue bantuin nyari ya”. Dia hanya mengangguk dengan muka sedih. Hampir satu jam kami putar-balik putar-balik nyari pensil, kami mencarinya di seluruh tempat yang wajar sampai tempat yang gak wajar seperti, di bawah hidung Bagus (Temen Gue). Sampai akhirnya Yumi berteriak.

Yesssss!!!! Akhirnya gue nemuinnya, horee......”. Dia loncat-loncat seperti Kangguru minta kawin.

Weeee dapat dimana pensilnya?” Dengan penuh semangat dan keringat dia pun menjawab.

“Ternyata pensilnya gue taro di kantong celana gue, pantes aja gak ketemu”. Dia berkata begitu dengan santainya, sedangkan gue ngos-ngosan.

Thanks ya Fan udah mau bantuin gue, lo baik banget deh”. Gue panas dingin saat Yumi  bilang kalau gue baik, gue mulai berpikir apakah gue tembak aja ya Yumi sekarang . Dan hal itu akhirnya terjadi juga.

“Yum, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Lo mau gak ngebolehin gue buat jadi cowok lo?”. Yumi hanya diam, gue lihat dari raut wajahnya seperti pengen muntah. Gak berapa lama dia menulis di sebuah kertas dengan pensil keberuntungannya. Setelah itu dia kasih kertasnya sama gue lalu dia bilang :

“Gue pengen lo simpan kertas ini selamanya ya” kemudian gue buka kertasnya dan terdapat tulisan.

“IYA AKU MAU“ Gue langsung loncat kegirangan, ini adalah kali pertama ada cewek yang mau nerima gue. 

25 Agustus 2011. Gue gak bakalan lupa sejarah yang terjadi pada saat Yumi kehilangan pensilnya dan gue akhirnya memutuskan tali kejombloan gue selama berabad-abad. Pertama kalinya gue mengenal cinta, mengenal bagaimana kami saling memberi satu sama lain. Memberi kasih sayang, memberi bantuan, memberi harapan dan kadang tak lupa juga kami saling memberi uang kalau butuh. Kami seperti layaknya anak-anak zaman dulu pacaran, bersepeda barengan, ketawa, bahagia seperti dunia hanya milik kami berdua. Tidak seperti pacaran zaman sekarang. Panggilnya mamah-papah, bunda-ayah. Padahal mereka ke WC aja gak berani. 

Itu lah momen penting gue, dimana gue pertama kali mengenal cinta, bagaimana rasanya orang pacaran. Gue akuin cukup asyik sih, cuma terlalu banyak membuang waktu gue. Begitupun dengan galau, gue saat itu mengenal yang namanya galau, setelah gue putus dengan Yumi karena hal sepele. Gue gak sengaja patahin pensilnya, dia akhirnya mutusin gue dan mengancam mau bunuh gue. Disitu lah gue mengetahui kalau lo sangat bahagia waktu pacaran, maka pasti lo akan hancur waktu putusan. Jujur gue cuma galau 2 hari saja, emang sih ngancem mau bunuh diri, tapi......... gue berhenti.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Irfan Amara Bittaqwa sebagai pemenang.

Irfan Amara Bittaqwa

Asal Kalimantan Selatan.
Pelajar. Jomblo. Bukan Homo. Apalah!

0 comments:

Post a Comment