Friday, 21 April 2017

Different Definition of Kemerdekaan

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk merayakan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu. Kebetulan, aku dengan -entah- berapa puluh anak lain tahun ini trackking dari Desa Bebandem - Bukit Bada Budu - Tenganan untuk mengibarkan Merah Putih di puncak bukit.


Seperti biasa, kami berkumpul jam 05.30 dan berangkat menggunakan truk jam 07.00. Iya, truk. Yang biasa mengangkut batu atau bahan bangunan lain, sekarang mengangkut kami sekelas ber 30 orang. Dari tahun ke tahun. Jadi entah kenapa jadi biasa aja, malah kangen (halah padahal kaki gempor-_-). Dengan perjalanan sekitar 2 jam, akhirnya kami sampai dan langsung berjalan kaki memulai perjalanan yang sesungguhnya.


Awal medannya lumayan mudah. Tanjakan - tanjakannya belum terlalu susah untuk dilewati. Aku masih berteriak ala orang gila, sekadar meluapkan semangat karena YO BRO INDONESIA MERDEKA YOOHOO gitu. Makin lama, aku mulai terpengaruh suasana dan gravitasi karena tanjakannya makin curam dan naiknya panjang banget. Entah berapa kali aku berhenti untuk sekadar minum atau menunggu teman - temanku yang lain dibelakang. setelah sekitar 1 jam, akhirnya kami semua sampai di puncak walaupun di barisan paling terakhir.

Pemandangannya bagus.
Pemandangan yang langka didapetin di Denpasar yang daerah landai. Tapi sesungguhnya aku agak kecewa karena aku merasa cukup akrab dengan suasana itu saat aku main ke daerah Merapi, Jogjakarta. Tapi bedanya di Merapi cuma liat atap - atap rumah sama ijo - ijo, kalau ini ada biru - biru tua gitu dari laut lepasnya. Lumayanlah ya ha ha ha... Akhirnya aku sama temen - temenku ngambil foto - foto terus tanganku kena cutter gara - gara motong pita merah putih untuk properti foto -_- lelah hayati -_-

Lanjut menuju Tenganan inilah yang cukup memacu adrenalin dan menguji kekuatan kaki. SUSAH BANGET YA ALLAHHH LUMPUR BATU EVERYWHERE. Jalannya jalan semut, kecil banget, tengah hutan bambu dan pinus dan pinggir kanan kita adalah jurang. Yah, ga dalem - dalem amatsih, cuma tetep aja susah dievakuasi jikalau kita kepleset kesana. Awal - awal mulai masuk area nyusahin ini, aku masih seneng - seneng aja karena berasa Bolang. Salah satu temenku, Firdaus menghidupkan speaker portablenya dan aku masih sempat nari - nari ala Teater mengikuti lagu dari speaker itu. Makin lama, jalan makin licin. Entah berapa kali aku kepleset (gara - gara sepatu juga yang permukaannya emamg ga cocok untuk menjelajah) untungnya ga sampe ngrojok ke jurang. Setiap turunan batu, aku mulai jongkok dan merosot untuk turun karena kakiku udah ga kuat jalan biasa. Berasa ninja ha ha ha...

Di tengah perjalanan, saya bertemu dengan sekumpulan anak kecil (semoga beneran 'anak' deh, lumayan horror ada anak kecil yang mainnya di tengah hutan gitu) yang mengibaskan - ngibaskan tangannya. "Tenganan kesini, Tenganan kesini!" katanya sambil menunjuk - nunjuk jalan turunan di bawahnya. Aku hanya mengucapkan terimakasih sambil tersenyum, berlalu melewatinya. Guru pendamping di belakangku entah kenapa terlihat sumringah saat diberitahu jalan yang benar olah anak - anak itu. Ia mengeluarkan permen sebagai upah, tanda terimakasih dan berkata "Kapan - kapan main ke Denpasar ya dik!"

Yang membuatku terenyuh, anak - anak ini malah menjawabnya dengan "Memang ada tempat lain disini ya?" menggunakan Bahasa Bali sehari - hari.

Tujuan dari trackking ini adalah untuk berjuang dan merasakan kebebasan alias merdeka. Berjuang menahan mual di truk agar terbebas dari tatapan jijik teman - teman yang lain. Berjuang berjalan menuju puncak bukit untuk merdeka mengambil selfie sepuasnya. Berjuang turun melewati batu - batu licin untuk bebas dari rasa sakit pegal dan cepat kembali ke rumah.

Bagi mereka, anak - anak kecil ini, merdeka mungkin berarti bermain bebas di hutan tanpa memikirkan dimana sebenarnya mereka ada. Tapi dari sudut pandang pendidikan, mereka sepenuhnya terisolasi, terkurung di kemerdekaan mereka sendiri. Tidak mengetahui daerah selain tempat bermainnya, jelaslah mengatakan bahwa pendidikan yang mereka dapat tidak memadai dan membuka wawasan mereka. 

Ini baru Denpasar, apa mungkin mereka tidak tahu Indonesia ya?

Sebagai pelajar yang (alhamdulillah) selalu mendapatkan fasilitas pendidikan yang memadai, aku merasa kasihan dengan mereka. Tapi juga tak mengerti apa yang harus dilakukan. Maksudnya, mereka terlihat sangat polos saat menyeletuk menjawabnya. Tak terlihat tertekan atau bermasalah karena tak tahu ada tempat lain selain di hutan itu. Apa sistem adat tempat mereka tinggal, bermasyarakat memang memberlakukan hal ini? Menolak informasi demi kelestarian tradisi? Ah, tapi apa mungkin, sampai pelajaran tata letak kota di Bali mereka juga menolak?

Kemerdekaan menurutku adalah bebas untuk berjuang hingga puncak. Kemerdekaan menurut mereka adalah bebas bermain tanpa perlu repot mengenal tempat selain itu. Sayangnya, Indonesia memerlukan generasi yang membuatnya dijuang habis - habisan. Bukan generasi yang membuatnya dimainkan kesana - kemari. 

Dirgahayu Indonesiaku ke 71. Salam dariku, anak bangsa yang bingung melakukan apa melihat ironi di depan matanya sendiri. Semoga pejuangmu tak bersedih, memaki melihat kenyataan. Kenyataan bahwa generasi penerusnya terlena dengan kukungan, tanpa melihat nasib junjunganmu ke depan.

Salam dariku, anak bangsa yang semoga bisa menyadarkan dan merubah ironi untuk Indonesia yang lebih baik.

(Bali, 2016)

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Ima sebagai pemenang.

Fatima Gita Elhasni

Panggilan Ima. Statusnya masih terombang ambing antara pelajar atau mahasiswa. Gendut, pendek tapi percayalah, menggemaskan. Suka koriya, tapi tidak se-alay kpopers lainnya. Suka hujan, buku - buku dan menulis random. Cita - citanya ke luar negeri, dan balik ke negeri sendiri. 
(Instagram : itsima_) (Twitter : @imagita_) (Email : gitaelhasni@gmail.com)

0 comments:

Post a Comment