Friday, 14 April 2017

Digigit Semut

Umurku baru 8 tahun ketika orangtua memutuskan membeli seekor kambing untuk dipelihara. Saat itu saya belum paham betul alasan keluarga kami memelihara kambing ini, mungkin hidup kami belum sah sebagai orang desa kalau belum punya hewan ternak seperti kabanyakan tetangga.

123rf.com
Kambing pertama kami adalah kambing gibas betina berwarna putih dengan ekor yang besar menyerupai huruf “v”, dengan melihat ekornya kita bisa tahu kalau ini adalah tipe kambing yang bisa tumbuh gemuk kalau orang bilang “balungane gede”, tidak seperti kambing kacang yang walaupun makan sebanyak apapun tetap bertubuh kecil. Keberuntungan kami ternyata tak sebanding dengan besarnya ekor  ini, setelah sekian lama dipelihara dia tidak kunjung hamil juga barulah kami tahu kalau dia majer atau mandul. Setelah ibu tahu kalau kambing ini mandul maka kami membeli lagi kambing kacang yang bertubuh kecil tapi perutnya sangat besar karena sedang hamil, ibu beli kambing ini dari Mbokde Pon tetangga sebelah rumah dan tidak butuh waktu lama untuk menunggu dia melahirkan dua ekor anaknya, selalu ada harapan di atas ketidakberuntungan.

8 tahun, usia yang cukup muda bahkan sangat muda, adikku yang pertama belum genap umur 5 tahun sehingga kalau ibu angon (bahasa jawa; menggembala) kambing dia selalu diajak karena tidak ada yang mengasuh, sedangkan ibu masihlah wanita yang muda dan kuat tidak seperti sekarang yang rambutnya mulai memutih dan tidak gesit bergerak karena penyakit diabetesnya. Aku sendiri masih duduk di bangku kelas 3 Sd. 

Karena bapak bekerja di Jakarta sebagai kuli bangunan maka hanya saya dan ibu yang mengurus kambing-kambing ini. Pagi hari adalah tugas ibu angon karena saya harus sekolah, baru selepas sekolah saya yang angon dan ngarit (bahasa jawa: mencari rumput), karena ini saya juga punya predikat baru sebagai “cah angon” atau penggembala yang disebut dalam lirik lagu jawa “Ilir-ilir”.
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro”, dan yang terpenting kalau ada kenduri desa bocah-bocah angon ini mendapat jatah berkat tersendiri.

Umumnya orang ngarit, untuk tempat rumput menggunakan karung besar bekas pupuk atau beras ukuran 50kg atau lebih, saya menggunakan karung bekas beras kecil ukuran sekitar 20kg, tidak ada setengahnya, tapi jangan ditanya berapa lama saya harus mengisinya sampai penuh, belakangan setelah skill ngarit saya terasah akhirnya bisa juga ngarit dengan karung besar.

Pernah saya ngarit di tegalan yang tanahnya merah, saat itu musim hujan sehingga rumput tumbuh dengan lebat juga tinggi. Ada jenis rumput yang tumbuhnya jarang-jarang tapi sangat tinggi, daripada dibabat dengan arit saya memilih untuk mencabutinya saja karna lebih cepat. Menurut prosedur wong ngarit kalau rumput yang dicabut seperti ini harus dipopoli yaitu  dipangkas akarnya dulu supaya bersih dari sisa tanah yang menempel, tapi karena saya malas langsung saja rumput dimasukkan  karung sampai rumah juga langsung dituang ke bak makan kambing.

Keesokan harinya kambing yang gemuk, matanya berubah menjadi merah, saya tidak curiga apa-apa, tapi  kalau berjalan tidak segesit biasanya yang paling merepotkan kalau menyeberangi kalen atau parit dia selalu terjatuh sehingga saya dengan tubuh mungil ini harus bersusah payah menarik kambing gemuk yang berkali-kali lipat beratku keatas. Disini kecurigaanku muncul  kalau dia susah melihat karena matanya kelilipan tanah dari rumput yang saya berikan kemarin, untungnya ini tidak berlangsung lama, hanya beberapa hari dari saya memberinya pakan “beracun” itu, tak terbayangkan kalau kebutaan ini permanen, saya bisa kena marah besar.

Pernah juga suatu sore saya angon di perempatan jalan di tengah persawahan  selatan kampung yang di keempat sudut jalan ada tugu yang tidak begitu tinggi sehingga kami biasa duduk-duduk disitu sambil menunggu kambing makan sampai kenyang. Baru saja saya datang, kambing juga baru mulai makan saya merasakan sakit di titit yang saat itu belum disunat, setelah kulihat ada semut hitam yang asyik menggigit ujung tititku, seketika juga aku langsung pulang menggiring kambing-kambing yang perutnya masih kempes.

Di perjalanan pulang beberapa orang bertanya.  
“Lagi mangkat kok wis mulih to le..?”, saya hanya membalas dengan senyum getir menahan sakit. 
Tiba dirumah ibu menyambut dengan muka galak siap ngomel-ngomel, benar saja dia langsung bertanya dengan pertanyaan yang sama ditanyakan orang-orang di jalan tadi, bedanya ibu bertanya dengan nada yang tinggi. Kemarahan ibu langsung hilang saat saya menangis sambil berkata “tititku digigit semut buk..” ahh, kalau ingat kejadian itu…

Sudah 18 tahun berlalu sejak hal-hal itu terjadi tapi memorinya masih melekat diingatanku. Oh waktu tak kukira kau berlalu secepat ini, kalau bisa berputar baliklah sehingga aku bisa mengulang masa-masa itu, masa-masa kecil yang penuh warna, petualangan dan kerja keras. Oh Doraemon, dimana aku bisa menemuimu untuk meminjam mesin waktu?
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nanang Irawan sebagai pemenang.

Nanang Irawan.
Seorang Introvert, pecinta kesunyian, senang berpikir berbeda dari kebanyakan orang di lingkungannya, suka lari dan mempunyai mimpi menjadi Pelari Ultra. Menulis menjadi sarana untuk membagikan pengalaman hidup. 





0 comments:

Post a Comment