Sunday, 9 April 2017

Dimana Anakku?

27 Februari 2017

Siang ini panas sekali. Angin bertiup sangat kencang, menerbangkan sampah-sampah plastik yang berserakan di pinggir jalan. Debu-debu masuk melalui jendela yang terbuka. Ah! Sudah biasa…

ummi-online.com
Cuaca Kota Bogor yang sedang tidak menentu membuatku enggan keluar rumah. Sekarang panas, setengah jam lagi bisa turun hujan deras. Itu juga sudah biasa. Seperti hari-hari sebelumnya, setelah lewat pukul 01.00 siang  Aku disibukkan dengan mengangkat jemuran di pagar kontrakan ku. Dilanjutkan dengan menyapu lantai, membersihkan pasir-pasir dan dedaunan kering yang berserakan di terasku karena tiupan angin. 

Ku tutup jendela depan dan kukunci pintu lalu kuajak anakku tidur siang. Tiga puluh menit setelah anakku tertidur, rintik hujan mulai turun, tercium bau khas tanah dan aspal yang tersiram air. Suasana tiba-tiba menjadi gelap, hujan turun dengan derasnya disertai angin kencang. Ku nyalakan lampu ruang tamu sambil melongok keluar lewat jendela. Benar saja, awan hitam bergulung-gulung seolah tak sabar ingin menumpahkan air yang dibawanya.

Allahumma Shoyyiban Naafi’an” gumamku, do’a yang biasa Aku panjatkan ketika turun hujan, memohon kepada Allah SWT agar Dia menjadikan hujan ini sebagai berkah dan rahmat.

Udara seketika menjadi sejuk dan dingin, membuatku tiba-tiba terserang rasa kantuk dan kuputuskan untuk ikut tidur siang bersama anakku. Ah, siapapun pasti akan tidur lebih nyenyak saat cuaca sedang hujan. Aku menarik selimut dan berdo’a meminta agar Allah menjaga Aku dan anakku ketika kami tertidur.

Satu  jam berlalu dan Aku pun terbangun, kulihat anakku masih tidur nyenyak. Waktu menunjukkan pukul 03.00 sore. Kuambil handuk lalu mandi dan shalat Ashar. Setengah jam kemudian, Aku memutuskan untuk menyetrika baju sambil menunggu anakku bangun. Prinsip seorang ibu rumah tangga, pastilah tak ingin ada waktu luang yang terlewatkan. 

Hujan di luar sudah mulai reda, angin pun tak ada. Langit sudah mulai cerah kembali, walaupun rintik hujan masih turun. Sepuluh menit setelah Aku menyetrika baju pertama, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari luar. Sontak Aku langsung mematikan setrika dan bergegas memakai jilbab lalu keluar. Beberapa orang terlihat berdiri di pinggir jalan sambil memegang payung. Tersirat wajah panik dan kebingungan.

“Ada apa, Bu?” tanyaku pada tetangga depan kontrakanku. 
“Itu Teh liat !” ujarnya sambil menunjuk ke arah bawah dari tempat kami berdiri.
Innalillahi wainnailaihi rooji’un….” Reflek Aku menelungkupkan kedua tangan diatas dada, mencoba menenangkan hati yang bergemuruh melihat air yang bergulung-gulung membanjiri jalan dengan cepatnya.

Dalam hati Aku bersyukur karena mendapatkan kontrakan yang tempatnya lebih tinggi  walaupun rasa heranku belum hilang sama sekali. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh tetangga-tetangga lain. Darimana asalnya air itu? Tempat tinggal kami tidak dekat dengan sungai, lebih tepatnya tidak ada sungai. Tapi banjir yang datang membawa sampah, ranting pohon, berwarna sangat coklat dan berarus kencang. Belum juga terjawab pertanyaan kami, tiba-tiba….

“Tolong… Ada orang hilang kebawa banjir ! Ayo bantu cari, sama anaknya yang kecil juga hilang…”
Semakin bertambahlah kepanikan kami yang sebagian besar ibu-ibu ini. Astagfirullah! Mana suamiku belum pulang dari kantornya. Segera Aku berlari kerumah, mengambil handphone dan menelpon suamiku untuk menyuruhnya segera pulang.
“Aniiiiii……..Aniiiii…. dimana Anii???? “ kembali kami dikejutkan oleh suara teriakan. Kali ini Aku hanya berdiri diteras, mengantisipasi jika tiba-tiba anakku terbangun. Posisi rumahku yang diatas dan tepat dipinggir jalan, membuatku bisa melihat kejadian itu tanpa harus turun kebawah.

Seorang ibu menangis meraung-raung dan terduduk di aspal yang basah. Beberapa warga sudah mulai mencari sosok Ani yang katanya hilang, suasana berubah mencekam. Warga mulai berspekulasi, kemana kira-kira harus mencari Ani, juga anaknya yang sama- sama dikabarkan hilang. Belakangan diketahui bahwa Ibu itu adalah saudara Ani.

***

Jalan ditutup untuk sementara, selain untuk memudahkan pencarian, juga karena arus banjir masih sangat kencang. Seorang tetangga yang biasa ku panggil Bude, memberanikan diri melihat lokasi kejadian yang berada sekitar 50 meter dibelakang rumahku. Tak lama berselang, Bude muncul dengan raut wajah memerah dan badan gemetar.

“Rumahnya hancur Teh, dindingnya jebol, air setinggi leher… ngeri saya ngeliatnya” ujarnya sambil mengusap wajah.
“Air dari mana ya Bude? Saya masih nggak ngerti” kataku heran.
Banjir sudah mulai surut, warga dibantu Basarnas masih menyisir saluran air dan jalan yang mungkin dilalui korban. Satu jam setelah pencarian berlangsung, ditemukanlah Ani didalam gorong-gorong saluran air dalam kondisi sudah tidak bernyawa. Seketika itu pula jenazah langsung dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

doc.astrianpandini
Suami dan anak pertama Ani yang berusia 6 tahun selamat dari banjir bandang itu, hanya mengalami luka-luka di tubuhnya. Sementara anak kedua Ani yang baru berumur 4 tahun belum juga ditemukan. Pencarian berlanjut, hingga akhirnya jenazah anak itu ditemukan sekitar 100 meter dari lokasi kejadian dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit.

Sekitar pukul 05.00 sore, dua unit mobil ambulance diiringi mobil Polisi dan TNI meraung-raung melewati jalan depan rumahku. Membawa jenazah ibu dan anak untuk disemayamkan dirumah saudaranya, tidak jauh dari lokasi banjir bandang. Aku dan suami yang saat itu baru pulang kantor memutuskan untuk langsung melayat. Rumah duka ditutup untuk warga sekitar, hanya sanak saudara yang boleh masuk. Warga yang ingin melayat hanya diperbolehkan duduk diluar dan mengintip dari jendela.

Menjelang Maghrib, Aku dan suami dengan penasaran bergegas menuju rumah korban. Apa yang kami lihat sungguh di luar dugaan. Kedua sisi rumah korban jebol dihantam banjir, menghayutkan seluruh isi rumah dan perabotan. Di belakang rumah tampak dinding yang membentengi sebuah SMA roboh menimpa rumah korban. Ternyata banjir berasal dari lahan perkebunan jambu yang tidak kuat menampung air hujan, lalu air yang tertampung merobohkan benteng sebuah SMA hingga menghayutkan puluhan motor siswa, air terus mengalir deras menuju tempat yang lebih rendah sehingga merobohkan juga benteng dibelakang rumah korban sampai jebol dan menyeret korban beserta anaknya.

Yang membuat kami miris adalah tidak adanya sungai kecil atau selokan yang dapat mengalirkan air jika tiba-tiba debit air meningkat, yang ada hanyalah saluran air atau got tempat pembuangan limbah rumah tangga. Sementara dari semua sisi terkepung oleh beton-beton kokoh dan bangunan sekolah yang megah. Padahal dengan predikat Bogor sebagai Kota Hujan, harusnya hal ini bisa lebih diperhatikan.

Malamnya masyarakat benar-benar siaga. Polisi, Basarnas dan TNI mendirikan posko siaga bencana di samping rumahku. Bantuan terus berdatangan, begitupun dengan warga dari kampung lain yang hanya ingin melihat lokasi kejadian. Tepat pukul 12 malam, jenazah ibu dan anak itu dibawa ke kampung asalnya di Sukabumi untuk dimakamkan.

Waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari ketika mataku mulai terserang kantuk, Aku pun memutuskan untuk segera tidur menyusul suami dan anakku yang sudah lebih dulu terlelap. Sebelum tidur Aku khususkan berdo’a memohon keselamatan untuk keluarga kami. Baru saja Aku memejamkan mata, terdengar suara ketukan dipintu. Seorang wanita berbusana muslim putih dengan jilbab warna salem terlihat menangis dan kebingungan.

“Dimana anak saya Teh? Teteh tau anak saya kemana? Udah saya cari-cari tapi belum ketemu juga… “ ujarnya sambil berlinang air mata.
Aku yang kebingungan pun tidak lantas menjawab, yang kulakukan hanyalah mengingat-ingat wajah yang ada dihadapanku ini. Siapakah dia?
Sontak Aku terbangun dari tidurku. Almarhumah Ani datang dalam mimpiku menanyakan keberadaan putri bungsunya. Segera  Aku mengucap istigfar dan mendo’akan Almarhumah beserta anaknya agar mereka dipertemukan Allah di Surga-Nya.

Bogor, 07 April 2017

Mengenang 40 hari meninggalnya Almh. Anita Fauziah Fitria beserta putrinya Dzia Mahira dalam musibah banjir bandang yang melanda SMAN 2 Bogor pada tanggal 27 Februari 2017.
Semoga Allah merahmati Almh dan ditempatkan di Sisi-Nya. Aamiin.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Astrian Pandini sebagai pemenang.

Astrian Pandini
Lahir di Banjar, 15 Februari 1993. Seorang Ibu Rumah Tangga dengan satu anak yang hobi membaca dan memasak. Suka ngomel dan nulis unek - unek seputar susah  senang menjadi full time Mommy. Sangat benci diganggu dan mudah terbawa perasaan. 


                                                    

0 comments:

Post a Comment