Friday, 14 April 2017

Duo Gadis (Li dan Gina)

Akan aku ceritakan padamu sebuah kisah seorang gadis yang penuh dengan kerisauannya.
pinterest.com
Di sebuah kafe yang dekat dengan apartemen sederhanaku. Kami janji bertemu siang ini, sebelumnya pagi tadi ia menelponku dengan isak tangisnya- walau terdengar samar.
“Li, aku mau ketemu denganmu hari ini boleh?” Aku mendengar suara yang tercekat itu hanya menjawab prihatin. “Hmm, di kafe purple jam satu siang”. Aku tidak banyak tanya dia langsung menutup telpon, percakapan kami hanya sesingkat itu bahkan jauh pernah lebih singkat dari itu.

“Li” katanya setelah aku menerima telponnya suatu ketika. “Ya?” jawabku pendek. “Kafe” hanya itu dan aku pun langsung paham. Namun saat aku sudah berada di kafe, aku harus menunggunya lama lebih dari dua jam. Aku hampir marah karenanya tapi berusaha berhusnuzhon. Aku menghubunginya tapi telponnya masih tidak aktif. Hingga keesokannya harinya. Dia menjelaskan kalau dia tiba-tiba ada urusan kantor dan tidak sempat menghubungi aku dan dia lupa meng-charge hp-nya.

Untung saja stock kesabaranku masih banyak, aku hanya bisa mengelus dada sambil menghela  napas panjang. Aku melirik kembali jam tanganku. Sudah pukul satu lebih dua puluh menit, dia telat lagi. Aku mengambil smartphone di saku ku dan menelponnya. “Maaf Li, aku terlambat”. Dia sudah duduk dihadapanku dengan napas tersengal-sengal. Dia berkeringat banyak sekali hingga membentuk pulau di leher bajunya yang  berwarna coklat..
“Haah, hari ini panas hah banget haah” ia mengipas-kipas dirinya.
“Kamu abis ngapain? Kenapa keringatan gitu, mau pesen yang ding-“
“Jus orange” jawabnya cepat dengan sisa tenaga dan kemudian ia terkulai lemas. Kami berteman sejak masih putih abu-abu. Dulu ia sangat membenciku, aku pernah di bully olehnya beserta dengan geng usilnya yang suka bikin ulah di sekolah.

Mejaku pernah di coret-coret dengan tulisan ancaman serta makian. Sok alim, malaikat sok suci, jilbab aja yang cantik hati busuk, dan segala macamnya. Aku berusaha sabar dan menahannya tapi tidak untuk satu hal. Mereka berusaha menarik jilbabku supaya lepas. “Lepaskan” teriakku. Mereka tertawa dan tak memperdulikanku. Mereka berani mengangguku di dalam kelas. Teman-teman di kelas hanya bergidik ngeri dan tak berani mencegah mereka. “AKU BILANG LEPASKAAAAN!!” aku tanpa sadar sudah menolak salah seorang dari mereka, dan tak lain dan tak bukan adalah Gina si ketua geng.

“Jadi, apa yang membuatmu sedih? Suaramu terdengar abis nangis tadi pagi” tanyaku setelah setengah jam menunggu dia yang sudah sibuk dengan makanan yang dihadapannya. “Begini” mulutnya masih penuh dengan makanan, belum selesai ia kunyah “Aku tu” dia menelan makanannya, aku masih sabar menanti tanpa mendesaknya “Di pu-tu-sin Li..huaa..hikss…hiksss..” meletakkan sendok di mangkuk sup dan menggesernya jauh-jauh seakan tak berselera.

“Kamu tau alasan kenapa dia mutusin aku?” tanyanya dengan wajah memelas. Aku hanya bisa menghela nafas panjang sambil melipat tangan, sepertinya urusan ini akan sangat panjang. “Kenapa?”. “Dia bilang karena aku gendut jadi dia malu punya kekasih kayak aku..hikss..hiks..Li, apa orang gendut itu harus semenyedihkan ini?”.
“Dia sudah mengenalmu dan jalan denganmu lima tahun dan dia baru malu sekarang?” tanyaku tidak mengerti “dan lagian, aku sudah berapa kali mengatakannya padamu, tidak baik pacaran apalagi sampai lima tahun, kalau kredit motor mah sudah lunas itu” jawabku menggebu-gebu, tapi aku sadar temanku sedang ada masalah “Gina, dengarkan aku baik-baik”. Gina yang sedari tadi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan perlahan menatapku. “Dia bukan lelaki yang baik, lelaki sejati adalah mereka yang tidak memandang fisik seseorang melainkan hatinya, itu sudah membuktikan dia tidak baik”.

Gina mendengarkan dengan seksama, ia tidak merespon apapun. “Gina?” tanyaku menyelidik. “Aku baik-baik aja Li, tapi yang membuatku menangis sampai menelponmu bukan hanya itu”. “Lalu?” aku melipat dahiku, kalau bukan masalah ini lalu apa? Seperti yang sudah-sudah ia akan menangis dan curhat mengenai asmaranya.
***
Aku merasa bersalah. Gina pingsan dan harus dibawa ke UKS. Namun beberapa menit Gina tidak sadar-sadar, guru pun menyarankan di bawa ke rumah sakit yang berjarak tiga ratus meter dari sekolah kami.

Selama beberapa hari aku membantu mengurusnya di rumah sakit. Ternyata dia hanya tinggal sendiri di kota ini. Teman-teman satunya gengnya yang mengangguku tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya tau kalau Gina anak orang kaya yang tinggal di apartemen mewah dan orang tuanya selalu melakukan liburan ke luar negeri. 

“Aku sudah berbohong pada mereka” Katanya ketika masih rawat inap di rumah sakit.
“Aku kira pertemanan itu adalah seperti yang mereka gambarkan, ternyata aku salah, buktinya aku disini hanya sendiri-“
“Ada aku disini, kamu tidak sendiri Gina”. Ia menangis dan terus menangis. 
“Maafkan aku” ia menyeka air mata di pipinya. 
“Justru aku yang minta maaf sampai membuatmu sakit begini” kataku yang penuh dengan rasa bersalah. Ia hanya menggeleng dan tersenyum.
“Terimakasih” ucapnya sambil memintaku memeluknya. 

Hingga suatu hari ia mengatakan padaku bahwa sudah lama ia ingin berhenti menjadi ketua geng usil itu namun dengan apa yang telah aku lakukan padanya memberi ia jalan hijrah untuk lebih baik. Sejak itulah kami mulai berteman dan aku menjadi pendengar baik untuk kisah-kisahnya selanjutnya.
****
Ia menyuruput habis jus orange dan memanggil waiters memesan satu gelas jus orange lagi.“Maaf Li, aku lapar banget”.
“Aku sabar menunggu, kamu beruntung hari ini aku tidak banyak kerjaan jadi kita bisa membicarakan masalahmu sampai sore. Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?” Aku mendekatkan wajahku dan menatapnya lekat-lekat. Ia tiba-tiba bergedik ngeri.
“Merinding aku Li, melihat tatapanmu. Ehem-hem, jadi sebenarnya semalam itu setelah kami benar-benar putus, aku menangis di sepanjang trotoar dan sempat ke minimarket membeli banyak cemilan, kamu tau kan kalau aku stress tingkat kelaparan dan ngemilku langsung berda di level tertinggi?” aku memejamkan mata dan mengangguk-angguk setuju.
“Setelah belanja di minimarket, aku naik busway yang paling terakhir. Di dalam busway itu” ia memelankan suaranya, dan aku seketika membuka mata “hanya ada aku, supir dan kondektur”
“Apa? Lalu kamu baik-baik aja kan?” tanyaku khawatir.
“Aku baik-baik aja dan sampai di kost-an dengan selamat” jawabnya datar sambil menyeruput jus orange yang baru saja datang.
“Trus masalahnya dimana? Apa hari ini aku sedang uji kesabaran?” aku tertunduk lemas, ada ada dengan temanku ini.
“Masalah sesungguhnya terjadi setelah aku tiba di kost-an Li” suaranya terdengar lemah dan jus orangenya sudah setengah gelas ia habiskan.
“Kali ini apa?” jawabku ogah-ogahan.
“Li, dompetku hilang”.

Aku hamper berdiri dari kursi panasku demi mendengar kabar itu.
“Ya ampun, kenapa gak bilang dari tadi sih Gina? Kenapa muter-muter pembicaraannya? Kalau gitu kita bisa mencari solusinya cepat”. 
“Dompetku memang hilang beserta  isinya tapi tidak begitu penting karena setelah aku ingat-ingat semua dokumen pentingku ada ditasku”.
“Apa kamu yakin?”
“Yakin” jawabnya dengan senyuman wajahnya.
“Huuh, kamu membuatku cemas…”
“Justru aku yang cemas padamu, ceritaku masih belum selesai” Aku terdiam dan melihat wajah Gina yang tiba-tiba serius. Serasa awan hitam mengelilingnya dan siap mendatangkan petir.

“Setelah aku menyadari dompet hilang dan dokumen penting ada di tas, aku bisa sedikit bernafas lega, jika uang bisa dicari lagi yang sangat susah adalah ktp, atm, sim, dan hal lainnya sungguh susah, tapi tenang aku aku sudah menghubungi polisi melaporkan kejadian ini, namun masalah sesungguhnya datang setelah aku menelpon polisi. Kamu tahu apa itu?” Aku yang dari tadi menyimak hanya bisa menelan ludah dan menggeleng tidak tahu.
“Kamu! Kamulah masalahnya” Katanya tegas dengan tatapan tajam.
“A-aku?”
****

Gina sosok yang sangat humoris dan tergolong cukup santai, namun terkadang lebay. Ia jarang bisa menangis kecuali masalah asmaranya. Berakali-kali pun aku menceramahinya tentang lelaki yang ia sayangi selama lima tahun itu, tapi ia tidak pernah bosan untuk terus curhat kepadaku dan besoknya ia kembali ceria mengatakan bahwa ia dan kekasihnya baikan. Aku sempat merasa tidak nyaman akan hal ini hingga suatu hari. “Kamu adalah teman terbaik yang pernah aku miliki, kamu seperti sosok kakak bagiku ketika aku lagi dalam masalah, selalu sabar dan baik hati” katanya-katanya membuatku tersentuh dan tak lagi berniat marah padanya, sebenarnya aku orang yang sabar atau tidak sih?.

Kembali ke Kafe.
“A-aku? Ada apa denganku?”
“Jangan menutupinya dari sahabatmu ini, dari tadi kamu terus tidak sabaran dan terlihat mudah sekali marah. Memang kisah tragis cintaku dengan lelaki itu harus berakhir tapi aku sudah mengikhlaskannya, seperti nasehat yang selalu kamu katakan. Dan kali ini aku ingin mendengar masalahmu, katakan padaku”. Gina terus mendesakku. Eh? Kenapa begini? Bukankah aku yang diajaknya ketemu untuk membicarakan masalahnya, kenapa jadi menyinggungku.

“Kalau kamu tidak mau bilang, kamu yang traktir makan siang hari ini. Dan coba liat, kamu bahkan tidak menyentuh makananmu, seakan mengejekku yang tukan makan ini. Aku tahu aku gendut tapi setidaknya kamu juga makan” Apa hubungannya? Sejenak aku dan Gina terdiam. Gina terus memainkan jari-jemarinya di meja sambil menopang dagu.
“Li,” Gina mendesakku. Ia sudah mulai meluruskan posisi duduknya.
“Sebenarnya aku batal menikah Gina…”
“Benarkah? Apa itu maksud Ibumu menelponku. Memintaku untuk menghiburmu karena kamu lagi ada masalah?” Aku hanya mengangguk.
“Laki-laki itu membatalkan lamarannya semalam dan mengabarkan ia akan menikah dengan wanita yang ia cintai, aku sungguh kaget mendengar kabarnya, bagai petir dan badai, lalu malam itu aku ingin menenangkan diriku sampai aku menerima telponmu dan kamu membutuhkanku. Sebenarnya aku sudah ingin memberitahumu tapi menunggu waktu yang tepat.

“Liiii” Gina berlari menujuku dan memelukku erat diriku. Tangisnya benar-benar membuatku tak bisa membendung air mata ini yang sedari semalam terus ku coba tahan. Aku tidak peduli dengan tatapan aneh pelanggan lainnya di kafe melihat adegan kami yang mirip telenovela ini. Dan kini pun aku tahu bahwa ini bukan kisah seorang gadis tapi dua gadis yang penuh dengan kerisauannya tentang patah hati, kehilangan dan amarah.

“Li”
“Ya”
“Traktirannya tetap berlanjut ya” Gina melepas pelukan lalu tersenyum dengan wajah polosnya.
“Baiklah” Anak ini tetap tidak bisa baca situasi.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Melisa/Isyarayle sebagai pemenang.
Isyarayle
Nama lengkap Melisa yang sudah sangat lengkap. Lahir dan besar di Pekanbaru, Riau. Keturunan Minang, anak bungsu dari enam bersaudara. Sangat suka makan, baca buku sampai ketiduran, suka drama korea (tapi pilih-pilih), suka anime dan sedang berjuang menulis.



0 comments:

Post a Comment