Thursday, 20 April 2017

Emang Kenapa Kalo K-Popers??

Once you enter the K-POP world, you will never find the way out” Mungkin itulah yang terjadi kepadaku. Sampai sekarang aku masih menjadi fans K-POP.


Siapa yang gak tau K-POP? Yah, minimal walau gak terlalu suka, tapi pasti tau, kan? Demam K-POP ini sudah menjamur sejak lama. Gak cuma menyerang remaja putri, anak-anak dan orang dewasa pun banyak banget yang suka K-POP. Serba-serbi ala K-POP juga jadi banyak diburu. Pokoknya, segala hal yang menyangkut idol pasti jadi booming banget.

Aku pun juga ikut keseret jadi fans K-POP. Bermula dari kelas 6 SD, waktu itu lagi ada drakor tayang di TV. Bermodal wifi gratis di rumah yang bikin bocah ingusan jadi jatuh cinta sama Lee Min Ho. Apa yang dicari? Drakor, profil artisnya, music video, dan pokoknya serba-serbi K-Pop deh. Parahnya, waktu itu di kelas cuma aku yang update masalah K-Pop. Jangan bandingin sama yang sekarang, anak SD sekarang sih udah pada canggih.

Beranjak ke masa SMP, akhirnya punya temen-temen yang suka K-Pop juga. Mulai deh download lagu, video, drakor, dan masang poster idol korea di kamar sampai tembok putihnya gak terlihat lagi. Suka teriak tengah malam waktu streaming atau nonton drakor sampai satu rumah jadi kesel. Alay? Baca dulu sampai habis. 

Dulu waktu SMP juga sempet bikin geng fansnya SNSD. Suka ngumpul di kelas sambil ngerumpi atau nyanyi-nyanyi gaje meski gak bisa ngelafalin lirik koreanya. Bawa laptop ke sekolah cuma buat nonton dan ngakak bareng. Seringkali beberapa temen cowok memandang kita dengan ekspresi sarkatis atau malah cenderung jijik? Tapi ya tetep aja, waktu itu ngerasa keren. Kalau diingat-ingat bikin aku jadi geli sendiri. Ya, aku akui dulu alay. 

Di masa SMA, ya semua tau K-POP, tapi bukan yang fangirling akut kayak aku ini. Yang suka drakor Cuma beberapa. Kalau ngomongin tentang K-POP, yang lain pada geleng- geleng gak ngerti. Darisana, mulai deh diledekin sama temen- temen, terutama yang cowok. 

Hal yang paling annoying adalah ketika ada pelajaran yang nyebutin masalah remaja suka K-POP atau apa, temen- temen pada neriakin aku. “Itu tuh pak, si Ega, taunya K-Pop aja.” Pokoknya kalau ada yang nyebut tentang Korea aja, udah pasti semua dihubungin ke aku. Apa yang salah?? Emang fans K-POP kenapa? Walau suka K-POP aku tetep cinta produk indo kok (Soalnya yang impor korea mahal).

Semakin lama, aku jadi semakin gak PD menunjukkan jiwa fangirlku. Prinsipku sih biarlah jiwa fangirl ini tersimpan untuk diri sendiri, gak usah ditunjukin ke orang-orang lagi. Meskipun begitu, tetap aja masih ada beberapa oknum yang ngeledekin aku sebagai K-Popers alay. Entah kenapa, dia sensitif sama orang- orang yang suka K-POP. Which is saat itu aku K-Popers sendiri di kelas.

Padahal, semenjak SMA aku jadi fangirl alim yang tidak suka mengusik orang lain loh. Buktinya? Aku gak pernah maksa orang tuaku untuk memberi uang lebih untuk beli official stuff K-POP atau apa. Kalau aku mau, ya berarti harus nabung. Selain itu, aku mulai ngelapak online barang- barang K-POP. It suchs a good thing, kan?

Selain itu, menurutku fangirlingan bener- bener membantu menaikkan mood. Waktu aku kesel, capek, pusing, frustasi, putus dan lainnya, nonton atau denger lagu korea itu drastis mengembalikan moodku. Mungkin gak semua orang mengalami hal yang sama, tapi rata- rata fans K-Pop begitu.

Intinya, aku merasa segala sesuatu dalam hidup ini adalah pilihan. Ini nyambung gak ya? Jadi maksudku, kita bisa milih mau jadi fans K-POP, J-POP, bollywood atau apapun itu. Pilihlah yang nyaman *eaa. Perlu ditekankan, bahwa jadi fans itu gak salah, selama kita bisa bawa kearah positif.

Aku gak bermaksud untuk menyinggung orang- orang yang gak suka K-POP atau siapapun yang merasa tersinggung sama secercah kegabutanku ini. Aku juga gak memaksa siapapun untuk menyukai K-Pop. Seperti yang aku bilang tadi, hidup adalah pilihan. 

Terpenting, K-POP bukanlah sesuatu yang aneh atau menjijikkan. Selain aku, masih ada puluhan ribu fans K-Pop yang tersebar dan justru bangga jadi K-Popers. Mungkin cuma beberapa orang aja yang mengalami kasus sama denganku. Sekarang sih aku bangga menjadi fans K-POP yang tetap cinta Indonesia *eaa (2). Indonesia tetap nomor satu! Meskipun aku mungkin tidak menuliskan bukti seberapa besar rasa cintaku pada Indonesia *eaa (3). 

Last but not least,  apakah ini yang namanya karma? Orang yang selama ini ngatain aku K-Popers alay ternyata malah addicted sama drakor “The Legend Of The Blue Sea” (yang K-Popers pasti tau). Terus juga mendadak suka nonton drakor lainnya. Oh haii, itu drakor dan bagian dari Korea- Koreaan juga kan? Gak cuma itu, dia mulai jadi suka nyampur omongan pakai bahasa Korea dan Indonesia. Ini yang dulu kamu bilang aneh, woy!

Ini alay gak sih? Terlepas dari alay atau enggaknya, aku harap semua fans bisa tetap PD. Buktikan bahwa jadi fans K-POP belum tentu kita tidak menghargai negara sendiri. Buktikan juga bahwa kita tetap rajin belajar, semangat menabung, hormat kepada orang tua dan jadi anak yang santun, wkwk. Sekian dan terimakasih.  

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Luh Putu sebagai pemenang.

Luh Putu Ega Suratningtyas

30 April 1999. Penulis newbie yang sedang mencari jati diri dan menemukan ketertarikan terhadap dunia menulis. Sedang belajar sabar dan tabah menghadapi segala cobaan hidup. 

0 comments:

Post a Comment