Tuesday, 25 April 2017

Emma Haven dan Pluit Ketiga Ambu-Ambu


Matahari seperti hendak memanggang kepala saat awak dan beberapa kawan menuju Bungus Teluk Kabung. Pukul setengah satu siang. Berangkat lebih awal dengan mobil kabin ganda yang hendak segera kami parkir diperut kapal antar pulau- Ambu-ambu, seolah waktu mengerut cepat. Mengapa pula harus sesiang ini? Padahal kapal akan berangkat sekitar pukul delapan malam? Sebab mobil tersebut harus berada diurutan paling depan agar sesegera mungkin keluar begitu sampai tujuan nantinya, mengingat akan banyak truk, mobil dan sepeda motor yang ikut naik kapal, belum lagi barang-barang dagangan milik masyarakat setempat. Kebetulan, perjalanan kali ini adalah tugas kantor sekaligus kesempatan melepas penat. Jalan-jalan nama lainnya. Jalan-jalan ke ranah tuah negeri para Sikerei, negeri dimana kebudayaan kuno proto melayu masih bisa ditemukan dan dilihat - kabupaten kepulauan Mentawai.


Uda Mon, kawan awak yang duduk disebelah supir mulai terkantuk-kantuk bahkan saat mobil belum sampai angka seribu meter. Sungguh luar biasa dan awak segera bertindak. Tiap sebentar awak bertanya. Bertanya apa saja. Bahkan warna celana dalam yang dipakai pria berambut setengah kebelakang dihari ini pun awak tanya, yang penting tak boleh tidur, tertidur apalagi ditiduri.

Saat melewati daerah Seberang Padang, sebelah kanan didepan sebuah masjid besar, ada kuburan tua dari abad yang simpang siur. Orang setempat menyebutnya kuburan Turki. Awak pikir, pasti yang berkubur disana sudah barang tentu orang Turki. Pas, tak lebih tak kurang. Kawan awak nan membawa mobil berkomentar macam bergumam, namun awak simak baik-baik apa yang dia hendak sampaikan. “ banyak sekali kecelakaan terjadi didepan kuburan itu “ katanya uda Ujang si supir. “ rata-rata karena melihat penampakan dalam rupa macam-macam” sambungnya sambil menghembus asap kreteknya. Awak tak mengangguk atau membantah, sebab, awak yakin betul, uda Ujang pun mendengar dari orang lain. Dari yang sering awak dengar dari orang lain pula, kecelakaan hanya terjadi dimalam hari saat jalanan lengang dan gelap. Dan bukankah Si Turki nan berkubur itu seorang ulama pula? Seorang saleh dalam hidupnya? Klenik memang masih hidup subur dikepala orang-orang, bahkan tak pandang siapa yang dijadikan hantu. Seorang ulama Turki ini misalnya. Kasihan. 

Mobil terus melaju. Kadang-kadang mobil disalip kencang oleh sepeda motor. Barangkali pengendaranya sakit perut hingga harus melarikan sepeda motor sekencang itu. Tetiba uda Ujang memelankan mobil, didepan, sebentang rel kereta api menghambat laju kendaraan lainnya. Setelah lewat, diujung jalan, pintu gerbang menuju kepelabuhan tua Teluk Bayur sudah nampak. Tapi kami tidak kesana, kami berbelok kekiri. 

Soal pelabuhan tua Teluk Bayur ini, awak punya kisah pula. Dahulu, saat VOC sedang jaya-jayanya mengendalikan stir dagang di nusantara temasuk sumatera, dua orang insinyur Belanda dalam dekade yang berbeda meyakini menemukan cadangan emas hitam yang tak akan habis ditambang berabad-abad diperut negeri Sawahlunto. Agar Konsesi dagang bisa segera menambang disana, pemerintah Belanda punya syarat. Pertama, harus ada kereta api dari Sawahlunto ke Padang. Kedua, musti membangun pelabuhan agar batubara bisa dibawa dengan kapal uap. Maka terbirit-birit konsesi dagang selain VOC kepunyaan pemerintah Belanda yang menang tender itu mengerjakan syarat-syarat tadi. Memang, sedari dulu, Pemerintah Kolonial Belanda terkenal dengan sebutan “tukang Kontrak”, dimana-mana menyebar kontrak dagang. Maka, ketika pelabuhan selesai dibuat, pemerintah Belanda di Padang memberi pelabuhan dengan nama Emma Haven, yang berarti “pelabuhan Emma”. Nama yang cantik menurut awak, namun dijaman kemerdekaan, entah kapan, Emma Haven berubah menjadi pelabuhan Teluk Bayur. Sesuai dengan pola kebiasaan masyarakat memberi nama sesuatu dengan nama daerah tempat benda berada, benda yang paling gampang ditemukan disekitar dan lain-lain. Padahal, awak sendiri tak tahu yang mana pohon “bayua” yang berubah di Indonesiakan menjadi “bayur” itu. Pohon yang banyak diseputar teluk. Teluk Bayur.

Langit sedang biru-birunya dan awan berserak-serak kecil diangkasa, macam kapas yang disobek kecil-kecil saat kami melintas dijalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan tebing-tebing tinggi disebelah kiri dan laut luas disebelah kanan. Awak membuka jendela mobil. Biarlah pendingin mobil dimatikan, sebab awak ingin menikmati panorama laut, pantai dan bukit-bukit yang kadang menjorok kelaut, kadang tersudut masuk diapit hutan-hutan sekitar. Sebentar lagi akan sampai dipelabuhan Bungus Teluk Kabung. Kapal antar pulau jenis Ro-ro sudah sejak semalam bersandar. Sekitar pukul tiga sore, kami sampai di Pelabuhan. Buruh-buruh angkat terlihat sibuk. Kami agak telat rupanya. Sudah ada beberapa truk jenis colt diesel mengantri dimulut kapal. “kalau ingin kendaraan parkir didepan, sebaiknya pagi-pagi mobil sudah diantar” kata Cik An. Pemuda setempat yang bolak-balik menyelam di Mentawai dulunya. Awak mengangguk. Sebaiknya memang begitu, karena kendaraan akan banyak disore hari. 

Begitu mobil kami sudah mendapat tempat didalam kapal, awak melihat arloji. Pukul lima sore. Tak terasa. Jam delapan malam masih tiga jam lagi. Maka kami putuskan duduk diluar dermaga untuk mencari kedai nasi. Perut perlu diisi sepadat-padatnya, agar tak gampang mual jika badai bertandang. Petuah ini awak dapat dari seorang kawan yang hidupnya lebih banyak di Samudera Hindia ketimbang didarat. Saking lebih lamanya ia dilaut, roman mukanya saja banyak berkerut macam gelombang laut diterjang badai. 

Didermaga, Ambu-ambu, kapal Ro-ro milik ASDP ini bergoyang pelan sekali. laut masih tenang didermaga. Ro-ro adalah kependekan dari roll on – roll off, artinya, kapal jenis ini bisa membuka pintu besar didepan atau belakang kapal dengan metode turun naik. Kapal laut punya sejenis sinyal penanda berupa lengking pluit untuk memberitahukan kesiapan kapal akan berangkat. Awak sedang nikmat menyeruput kopi buatan Etek Nar, perempuan paruh baya yang sudah hampir tiga puluh tahun berjualan nasi di sekitar pelabuhan ketika pluit pertama berbunyi. “tak perlu waang buru-buru minum kopi, masih lama kapal mau jalan” kata Etek Nar. Awak dan kawan lain tersenyum. Beberapa tahun lalu awak acap pulang pergi ke daerah Sikakap, Sipora dan Siberut. Ketiganya adalah pulau-pulau besar dari Kabupaten Kepulauan Mentawai. Masih ada dua lengking panggilan lagi hingga kapal berangkat. 

Sepuluh menit setelah Pluit kedua berbunyi, awak bergegas membayar kopi. Langit sudah gelap. Azan magrib sudah berganti menjadi Isya. Kami bersigegas pula kearah kapal. Orang-orang masih sibuk, ABK-ABK Ambu-ambu sibuk mengatur kendaraan dan barang. Kami melenggang kedalam kapal. Naik lewat tangga sisi kiri, kami sampai didek kedua kapal. Dek kedua adalah tempat penumpang. Disana ada bangku-bangku yang berjejer berkelompok. Dibagian paling depan dan belakang terdapat ruang berpendingin dengan ranjang-ranjang beralaskan busa empuk. Kami terus kedalam, bersua satu tangga lagi dan naik ke dek ketiga. Dek tiga masih lengang, hanya ada beberapa orang saja. Pemandangan sungguh lepas di dek tiga. 

Tak lama, pluit ketiga Ambu-ambu berbunyi. Bunyi ketiga adalah pertanda tegas, “bergegas atau ditinggal”. Sebab, jika tertinggal, tak mungkin pula harus berenang mengejar Ambu-ambu.  Deru mesin kapal mengecil. Biasanya karena kapal sudah mulai berjalan. Dua puluh menit berlalu, Ambu-ambu berjalan delapan knot. Pelan-pelan lepas dari Teluk Sirih. Teluk Sirih adalah gerbang keluar dari pelabuhan Bungus Tak lama, Emma Haven terlihat. Cahaya lampu menguning dikejauhan. Beberapa crane masih mengayun-ayunkan lengannya. Emma Haven akan selalu terlihat ketika pluit ketiga Ambu-ambu berbunyi.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uyung sebagai pemenang.

Uyung Hamdani


0 comments:

Post a Comment