Friday, 21 April 2017

Filosofi … Ayam

Masalah?? Masalah apa?? Siapa orang hidup di bumi yang luput dari problematika. Keragaman masalah jelas mengintai setiap makhluk bernyawa di dunia ini. Jangankan manusia! Binatangpun punya masalah, hanya saja mungkin kita tak tau. Fais duduk dikursi rotan dengan kaki nangkring diatasnya. Termangu diberanda rumah gedongnya, mahasiswa tingkat akhir yang seharusnya semester lalu lulus bareng teman sekontrakan meratapi nasibnya.


Dia berfikir apakah topik skripsi yang dia ambil itu salah, terlalu beratkah jika diukur dari kemampuannya. Atau dosen pembimbingnya yang terlalu saklek menuntut ini itu?? Tak keliru, dia sering gelagapan mengimbangi tuntutan dosen tersebut. Beberapa kali sukses lebihnya revisi, lagi dan lagi. Banyak revisinya, entah sudah berapa kali pada pembahasan yang sama. Semangatnya mulai surut, dibuktikan dua bulan ini dia tak bimbingan malah pulang kampung. Dia memandang nanar kedepan, kesebuah jalan desa tepat depan rumahnya. Menggigit bibir bawahnya, pikiran menerawang jauh dengan dibekali pertanyaan "kenapa?".

Terlihat lima anak seusia kelas empat SD melintas dijalan tersebut. Memakai kaos keseharian yang tak mewah, warnanya pun mulai memudar, dan bertelanjang kaki alias nyeker. Lamunan Fais terusik oleh kehadiran mereka, yang sepanjang jalan dibumbui candaan. Salah satu dari kelimanya tiba-tiba berhenti, kepala tertunduk memandang kearah bawah yaitu kaki kanannya. Diangkatnya sekilas kearah belakang, nampaklah telapak kakinya. Terlintas dipikran anak itu untuk menutupi kejadian tersebut, biar tak malu. Akan tetapi semua teman yang melihat gelagatnya, ternyata  ikut memandang kearah kakinya. Sejenak suasana menjadi ramai teriakan serempak itu.

"Hiiih e’ e’ ayam" semuanya berlari menghindari anak tersebut, berlarian diiringi tawa olokan.

Sontak anak yang menginjak kotoran ayam pun ikut berlari mengejar temannya. Temannya mungkin takut, kalau-kalau anak tersebut berlaku jail menularkan apa yang barusan diinjak.

Pemuda berusia 22 tahun itu tersenyum simpul. 

"Ah dasar anak-anak" dengungnya pelan, dan mengusap poni rambutnya kebelakang, menyisir dengan jari tangannya. 

Dengan sadar, dia melihat bayangan masa lalunya. Kenangan tak jauh berbeda dengan apa yang barusan dia liat. Saat seusia mereka, halaman rumahnya dipenuhi ayam. Terutama teras rumahnya jadi tempat favorite buat  nongkrong hewan berbulu itu. Tak jarang Fais kecil menginjak kotoran-kotoran itu meski sudah berhati- hati. Mulai dari terasnya ada, dihalaman samping rumahnya juga ada, menyatu satu dengan tanah samar-samar. Hingga akhirnya dia memutuskan kemana-mana harus pakai sandal. 

Bapaknya hobi miara si ayam-ayam itu. Bukan bapaknya saja sih, tetangganya juga ada yang miara, tapi tak seheboh dengan kelakuan bapaknya itu. Hingga belasan pasang ekor ayam dewasa. Pernah pemuda itu larang, tapi bapaknya bilang pengin dapat pahala dari miara ayam. Gimana ceritanya?? Ternyata menurut bapak dia, bahwa ayam-ayam itu terutama pejantan adalah alarm kehidupan. Yang otomatis setiap pagi jadi pedoman orang-orang yang denger bangun buat ibadah. 

Belum lagi yang tengah hingga sepertiga malam mau sholat tahajud jadi tambah semangat, terutama kalau dengar ayam jago bersenandung itu artinya malaikat sedang turun. Kan katanya ayam bisa lihat cahaya malaikat. Siapa si yang tak mau sedang sholat diliat malaikat?? Entah itu malaikat pencatat kebaikan, malaikat pemberi rahmat, dsb. Terutama malaikat maut. Khusnul Khotimah Insya Alloh. Nah untuk nyenengin si pejantan otomatis bapaknya juga harus miara si betina, terus lagi biar hidupnya bahagia lahirlah anak-anaknya. Pokoknya sulit menang deh kalau berdebat tentang ayam lawan babehnya itu. Hingga beranak pinak, sampai tiga turunan baru beberapa ada yang dijual. 

Akan tetapi setidaknya ada yang membuat dia senang, bapaknya mau dengerin usul dia empat tahun lalu, perkara kandang dan kebersihan lingkungan.  Ayam-ayam itu dibuatkan tempat khusus, agar tak keluar kemana-mana. Sehingga hanya berlarian disebuah kandang yang di pager keliling kawat seluas 5x4 meter. Dengan jarak dari rumahnya sejauh 10 meter, yaitu berada dikebun belakang rumahnya. Bertengger diatas kolam ikan. Jadi tempat tongkrongan ayam yang dulu, sekarang dikuasai Fais dan dua adiknya.

Seorang gadis kecil berumur 9 tahun memasuki teras rumah, kelelahan terlihat diwajahnya. Hasil main pagi sampai sesiangan dirumah tetangga. Fatimah berjalan mendekati kakaknya yang terlihat sedang bersantai, padahal bukan.

Pemuda itu melemparkan pandangan kearah adiknya. Sekejap dia mendapati ada noda dikeramik putih dimana baru saja Fatimah tapaki.

"Dik berhenti," Fais mengagetkan Fatimah dengan suaranya. "Tuch liat kaki kirimu," belum sempat Fatimah berekspresi penasaran Fais melanjutkan kalimatnya.

Fatimah memeriksa telapak kaki kirinya, dengan  bahu kanan menyandar ditembok. Dicoleknya sesuatu berwarna hitam yang menempel ditumit kakinya kemudian dia cium.

"Hueekk…..iihh," Fatimah berjingkrang jijik setelah menyadari apa yang dia injak.

Fais tertawa melihat kekonyolan adiknya. Sudah tau kotoran ayam, ngapain pula dicium segala. Dia menggelengkan kepala, menertawai adiknya itu.

"Ih mas gak bilang dari tadi, kan jadi aku sentuh," Fatimah jengkel kakaknya itu malah hanya menonton dan tertawa.

"Makanya dek, kalau main tuch pakai sandal," jelasnya menasehati.

"Aku mau kebelakang cuci kaki, nanti mas Fais yang bantuin ngepel yah. Kalau ketahuan mama bisa marah dan....." kalimat Fatimah terdengar beriringan dengan perginya dia kearah sumur dan kaki kiri berjinjit.

"Gak maulah, itu masalahmu dik"  Fais menimpali dengan lantang kalimat adiknya yang belum selesai.

Tiba tiba dia tertegun mendengar kalimatnya sendiri. 

Masalah?? Yah dia ingat kembali masalahnya itu. 

Siapa yang akan menyelesaikan masalahnya itu jika bukan diri sendiri, dibantu mungkin saja bisa. Tapi bukan berarti akan menyelesaikan sampai akar, selain itu nanti tak ada rasa tanggung jawab yang kuat didalamnya. Yah masalah bagaikan kotoran ayam itu. Ketika manusia tak tau dirinya sedang dihinggapi masalah, maka dengan santai masalah itu akan merajalela menjajaki setiap sudut dimana manusia itu berpijak. Merugikan siapa saja yang terciprat. Saat manusia itu sudah tau dirinya terkena masalah masa iya akan membiarkan begitu saja menjalar bebas kemana-mana, dimana rasa tanggung jawabnya??

Belum lagi kekecewaan akan timbul pada hati orang terdekat jika masalah yang tercecer tersebut tak segera dibereskan, sampai berlarut-larut. Sama halnya dengan masalah yang dihadang Fais, kedua orang tuanya juga akan kecewa dengan sikapnya yang seperti itu. Meskipun belum tau kenapa anaknya malah bersantai ria dikampung halaman. Disisi lain motivasi yang dikirim teman-teman melalui berbagai macam pesan akan tersia-siakan pula.

Fais akhirnya menyadari tindakannya akhir-akhir ini salah, jika tak segera mungkin mengerjakan skripsinya maka masalah akan semakin menjalar. Mulai dari dosen yang semakin marah karena mahasiswanya seenaknya saja datang dan pergi, rasa malas yang menguasai akan semakin berkobar melahap habis benih semangat, waktu yang tersia-sia karena menunda-nunda kesuksesan dan masih banyak lagi kerugiannya. Tak keliru, pasti juga akan menjalar menambah masalah baru. Harusnya sudah punya pekerjaan jadi belum, harusnya sudah menikah jadi terhambat malah bisa-bisa pujaan hati kabur. Dia tak boleh malas, dia harus berusaha menemukan sumber masalah yang sebenarnya itu dimana, dibagian apa!

Bergegaslah dia, menuju sumur membantu adiknya membawakan ember berisi air. Fatimah membawa alat pel. Dan dengan komando Fais akhirnya lantai itu bersih kembali.

Sore harinya habis sholat ashar tanpa jeda menunggu esok, Fais langsung cuss mengendarai motor lanangnya, berangkat ke perantauan lagi. Kota yang selama hampir lima tahun menjadi ladang ilmunya. Dengan membawa semangat berkobar dia menemukan banyak pencerahan. Setelah sampai disana dia berniat menghubungi beberapa alumni mahasiswa yang lolos dari tekanan dosen pembimbinya itu. Berharap dapat mantra khusus yang dapat diaplikasikan untuk menemukan kelancaran dalam bimbingan. Pemuda itu juga berniat meluluh lantakan rasa malas dan patah asa.

“Hadapilah masalah atau kau semakin dikejar”

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Novi sebagai pemenang.

Novi Latifuraini

Istri dari seorang suami, yang mempunyai banyak mimpi. Salah satunya menjadi penulis, penulis yang penuh inspirasi. Terutama dalam bidang Pendidikan dan Agama (Akhlak, Aqidah).

1 comment:

  1. Semangat. Ditunggu tulisan berikutnya. Sangat menginspirasi

    ReplyDelete