Sunday, 9 April 2017

Gara-Gara Fisika

Tini Hartini Marditini atau yang biasa dipanggil Tini adalah seorang siswi di salah satu SMA negeri di daerah Jakarta. Ia sudah kelas XII, tepatnya di kelas XII MIPA 3 dan sebentar lagi akan melaksanakan Ujian Nasional. Peraturan baru mengenai mata pelajaran yang diujikan mengharuskan Tini dan teman-teman seangkatannya memilih. Dulu untuk jurusan MIPA, mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Fisika, Kimia dan Biologi. Sedangkan untuk jurusan IPS, mata pelajaran yang diujikan adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, Sosiologi, Ekonomi dan Geografi. 

blogeimie.com


Namun pada tahun 2017 ini, mata pelajaran yang diujikan hanya empat saja yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan satu mata pelajaran pilihan. Untuk jurusan MIPA boleh memilih salah satu di antara Fisika, Kimia, atau Biologi. Sedangakan untuk Jurusan IPS boleh memilih antara Sosiologi, Ekonomi dan Geografi. Tini sebagai siswi jurusan MIPA memilih mata pelajaran Fisika, di sekolahnya hanya sedikit yang memilih Fisika. Dari tiga mata pelajaran yang boleh dipilih, Kimia mempunyai peminat terbanyak yaitu sebanyak 101 siswa, Biologi 62 siswa, sedangkan Fisika hanya diminati oleh 42 siswa. Pemadatan di sekolah yang dilaksanakan setelah Ujian Sekolah bertujuan agar semua siswa lebih fokus pada pelajaran yang akan diujikan.

Saat melihat pembagian kelas untuk pemadatan dan juga melihat jadwal pelajaran selama pemadatan yang akan dilaksanakan mulai besok Senin hingga dua minggu kedepan, Tini merasa kaget. Namun ia menutupi kekagetannya dengan tampang yang biasa saja.

"Wih, kamu ambil fisika kan Tini? Gila, 14 jam dalam seminggu Tini. Semangat ya kamu, kalau aku sih mundur aja. Hehe." Kata seorang teman Tini yang bernama Tuti yang memilih mata pelajaran Biologi.

"Biasa aja kali Tuti, malah seru lagi." Kata Tini sambil menyedekapkan tangannya di depan dada berlagak santai lalu pergi ke kelasnya. Tini buru-buru pergi ke kelas. Sesampainya di kelas yang terlihat sepi itu, Tini duduk di bangkunya dan memijit-mijit kepalanya yang mendadak pening.

"Fisika, 14 jam dalam seminggu. Mimpi apa aku ini. Semangat, Tini pasti bisa." Kata Tini menyemangati dirinya sendiri. Tini semakin giat belajar, ia tidak mau kalah dengan teman-temannya. Ia ingin membuktikan kalau Fisika itu bisa menjadi mudah asalkan ada kemauan untuk mempelajarinya. Tini lebih memfokuskan diri pada mata pelajaran Fisika, setelah lulus nanti ia ingin melanjutkan ke perguruan tinggi dengan jurusan Teknik Fisika. Terdengar horor memang, bahkan itu juga membuat bulu kuduk Tini sendiri merinding. 

Entah mengapa ia tiba-tiba jatuh cinta pada mata pelajaran yang dianggapnya paling sulit ini. Ia ingin menaklukkan Fisika, ia tidak akan menyerah sebelum ia berhasil menakhlukkan mata pelajaran yang sangat ditakuti ini. Ia ingin tau tentang fisika lebih lanjut, ia tidak pernah mau kalah. Ia ingin merangkul dan menaklukkan Fisika, lalu memberitahukan kepada dunia bahwa fisika itu tidak seburuk yang orang-orang kira.

Tini terlihat serius di teras rumah dengan setumpuk buku di hadapannya, yang tidak lain adalah buku Fisika. Siang dan malam ia belajar Fisika, kemampuan Tini dalam mata pelajaran lain memang tidak bisa diremehkan. Tini merupakan salah satu siswi terbaik di sekolahnya. Hanya Fisika lah yang membuatnya sedikit lemah, oleh karena itu Tini ingin sekali bisa menaklukkan mata pelajaran ini.

"Tini, udah malem ini Neng. Istirahat dulu sana." Kata seseorang yang tidak lain adalah Ibunya Tini, yang biasa dipanggil dengan sebutan Emak.
"Sebentar lagi Mak, nanggung ini. Tini udah mau bisa nih kayaknya." Kata Tini sambil membuka lembaran demi lembaran buku lalu mencoret-coret di kertas.
Emak meninggalkan Tini di teras sendirian, coretan demi coretan yang dibuat oleh Tini tidak menghasilkan apa-apa. Tini mulai pusing, ia sedikit depresi. Kemudian ia menutup buku itu dengan kasar dan membawanya ke dalam rumah dengan wajah cemberut.

"Gimana Tini?" Tanya Bapak pada Tini.
"Gimana apanya sih Pak?" Tanya Tini lagi.
"Belajarnya?" Tanya Bapak lagi.
"Belajarnya nggak gimana-gimana. Bapak aneh deh, emang belajarnya kenapa Bapak? Ah, Bapak bikin Tini tambah pusing." Kata Tini meninggalkan Emak dan Bapaknya yang sedang menonton televisi.

Emak dan Bapak menjadi bingung melihat Tini akhir-akhir ini. Tini jadi sering tidak nyambung bila diajak bicara, lebih sering cemberut dan tidak fokus pada apa yang sedang dilakukannya. Hari Senin pun tiba, hari ini ada empat jam mata pelajaran Fisika. Tini selalu terlihat santai saat ditanya tentang Fisika oleh teman-temannya.

"Tini, hari ini Fisika empat jam ya? Semangat ya Tini. Hahaha." Kata Tuti pada Tini.
"Norak deh Tuti. Empat jam doang mah biasa buat Tini, di rumah aja bisa sampai berjam-jam kok sama fisika." Jawab Tini santai lalu meninggalkan Tuti. Bel masuk telah berbunyi, 42 siswa yang ada di kelas fisika akan merasakan pelajaran fisika selama 4 jam mulai dari pelajaran pertama sampai istirahat yaitu jam 10. Tini terlihat serius memperhatikan pembahasan soal yang sedang berlangsung, ia juga mengerjakan soal-soal yang ada dan menanyakan kepada guru atau teman lain apabila ia belum bisa mengerjakan.

Satu jam Fisika para siswa di kelas masih semangat, masih fokus memperhatikan penjelasan guru maupun mengerjakan soal-soal. Jam kedua, siswa mulai tidak fokus pada fisika. Mereka ada yang bermain HP apabila lengah dari pengawasan guru. Jam ketiga, para siswa sudah mulai ramai karena lelah, pusing, dan berbagai keluhan lainnya. Jam keempat, otak mereka mulai panas dan pandangan lebih fokus pada jam dinding yang kebetulan terletak di depan kelas. Tak jarang mereka juga meletakkan kepalanya di atas meja karena sudah benar-benar lelah. Tak lama kemudian, bel istirahat telah berbunyi, para siswa bersemangat kembali. Tak bisa dipungkiri oleh Tini bahwa dia pun senang karena akhirnya pelajaran fisika telah berakhir, meskipun esoknya juga ada jam fisika lagi.

"Tini, mau kemana kamu?" Tanya Laras yang merupakan teman sekelas Tini di kelas fisika.
"Mau ke toilet bentar, emangnya kenapa? Mau ikut?" Jawab Tini tanpa merasakan sesustu yang janggal.
"Ayo bareng, tapi di toilet sebelah sana." Kata Laras namun tak digubris sama sekali oleh Tini.
"Ribet dah Ras, disini aja deket." Jawab Tini yang terlihat sudah kebelet itu kemudian masuk ke toilet tersebut.
Laras pergi meninggalkan Tini sambil geleng-geleng kepala.
"Aaaaaaaa." Teriak Tini lalu berlari keluar toilet.
"Kenapa Tini?" Tanya Laras yang kebetulan belum jauh dari toilet itu.
"Tini, kamu sudah gila ya? Ngapain masuk toilet cowok. Kan ada tulisannya itu, toilet cowok. Ah, kamu mah nggak fokus." Kata Akbar yang keluar dari toilet tersebut.

Tini melihat ke arah papan yang terpampang cukup besar dan bertuliskan "Gentle". Ia menepuk dahinya dengan keras kemudian menutupi wajahnya dan menarik Laras untuk pergi dari tempat tersebut karena malu dilihat oleh siswa lain yang kelasnya tidak jauh dari toilet tersebut.

"Kamu lihat cowok-cowok tadi lagi ngapain Tini?" Tanya Laras pada Tini.
"Ganti baju. Kamu puas lihat aku ditertawakan seperti itu? Kamu kok nggak ngasih tau aku sih kalau itu toilet cowok." Kata Tini memperlihatkan kemarahannya pada Laras.
"Kok nyalahin aku sih, aku kan udah bilang tadi. Jangan di toilet itu, tapi kamu tetep aja masuk. Ya udah aku biarin." Jawab Laras dengan kesal karena disalahkan.
"Tau ah." Jawab Tini lalu meninggalkan Laras sendirian.

Tini memilih ke mushola untuk melaksanakan sholat dhuha. Ia bertemu dengan Fifi dan Rosa di tempat wudhu, mereka sudah selesai wudhu sedangkan Tini baru saja akan melakukan wudhu. Setelah wudhu Tini ke ruang mukena, ia bertemu seseorang yang sepertinya ia kenal dan segera menyapanya.

"Woy, kamu kangen nggak sama aku?" Tanya Tini sambil menepuk bahu orang itu terlihat sangat akrab.
"Ada apa ya mbak?" Tanya orang tersebut kepada Tini.
"Eh, Bu Fitri. Mau sholat dhuha ya bu, itu tadi ada nyamuk di bahu Bu Fitri. Tini cuma takut kalau itu nyamuk Aedes, jadi Tini singkirkan nyamuk itu Bu." Jawab Tini terlihat tenang.
"Oh, makasih ya mbak." Kata orang tersebut yang ternyata adalah Bu Fitri kemudian keluar dari ruang mukena.
"Gila, aku pikir si Fifi ternyata bukan. Wah, panas nih otakku. Apa gara-gara kebanyakan ngitung ya? Untung disini nggak ada orang. Nggak kebayang deh kalau dilihat orang." Kata Tini lalu segera mengenakan mukena dan melaksanakan sholat dhuha.

Setelah selesai, Tini kembali ke kelas. Orang-orang yang dilewati oleh Tini banyak yang berbisik-bisik sambil tertawa. Namun sama sekali tak digubris oleh Tini. Bel masuk telah berbunyi, pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Indonesia yang kebetulan gurunya sedang ada urusan. Semua siswa mengerjakan soal-soal bahasa Indonesia sendiri-sendiri. Setelah pelajaran bahasa Indonesia akhirnya bel pulang berbunyi juga karena untuk kelas XII yang sedang pemadatan pulanganya 2 jam lebih awal dari biasanya. 

Tini segera pulang, ia menunggu bus di depan sekolah. Tak lama kemudian, bus yang ditunggu pun tiba. Tini segera masuk ke dalam bus tersebut. Ia tidak mendapatkan tempat duduk, jadi ia terpaksa berdiri selama perjalanan pulang. Sesampainya di gang tempat ia biasa turun, ia pun memberi tanda untuk berhenti. Setelah bus berhenti, ia langsung turun dan langsung berjalan ke arah rumahnya. Tiba-tiba ia mendengar langkah seseorang yang mendekatinya.

"Neng, dipanggil dari tadi kok nggak nengok sih." Kata orang tersebut pada Tini.
"Bapak siapa? Ngapain ngikutin Tini? Mau culik Tini ya?" Kata Tini pada orang tersebut sambil berjalan mundur.
"Enak aja, saya ini kondektur bus yang tadi." Jawab orang tersebut.
"Oh, kenapa Pak? Uang tini ada kembaliannya? Ambil aja Pak, buat anak Bapak." Jawab Tini sambil tersenyum lalu berbalik badan.
"Eh, kembalian apanya? Eneng belum bayar." Kata kondektur tersebut dengan kesal.
"Enak aja Bapak kalau ngomong, saya udah bayar." Kata Tini tidak mau kalah.
"Cek deh Neng uangnya, pasti masih ada." Kata kondektur itu lagi terlihat geregetan.
"Enggak ada Bapak, eh ada pak. Ini uangnya, maaf ya pak. Tini lupa, kirain udah bayar. Hehe." Jawab Tini sambil tersenyum malu. Kondektur tersebut geleng-geleng lalu meninggalkan Tini.

Tini terlihat kesal pada dirinya sendiri, sebelum pulang ia memutuskan untuk berbelok dulu ke sebuah toko yang kebetulan sedang ada promo. Ia segera mengambil barang-barang yang dibutuhkan. Setelah semua barang yang dibutuhkan terambil, ia menuju ke kasir dan menyiapkan uang tabungannya yang berjumlah Rp70.000,00 yaitu 1 lembar Rp50.000,00 dan 1 lembar Rp20.000,00. Kasir tersebut segera menghitung jumah belanjaan Tini.

"Semuanya Rp43.800,00." Kata kasir tersebut sambil tersenyum.
"Oh, ini uangnya." Tini segera memberikan uang yang dibawanya.
"Yang ini saja ya mbak, tadi kan jumlahnya Rp43.800,00." Kata kasir tersebut mengambil uang Rp50.000,00 dan mengembalikan uang yang Rp20.000,00 kepada Tini.
"Eh, iya mbak maaf." Kata Tini terlihat malu.
Setelah menerima kembalian, Tini langsung keluar dari toko tersebut dengan santainya. Ia merasa ada orang yang memanggil di belakang.

"Tini, kamu tadi belanja dari toko itu?" Tanya orang tersebut yang ternyata adalah Tuti.
"Iya, kenapa emangnya?" Jawab Tini santai.
"Mana belanjaannya?" Tanya Tuti lagi.
"Ini, eh, loh. Dimana belanjaan aku? Aduh, ketinggalan di toko lagi." Tini kemudian kembali ke dalam toko diikuti oleh Tuti di belakangnya.

Setelah mendapatkan belanjaanya yang memang ketinggalan, Tini langsung berlari keluar toko, ia sempat mendengar orang-orang di dalam toko yang menertawainya. Ia benar-benar kesal hari ini.

"Semua salah aku, belajar nggak kenal waktu. Jadi gini kan, malu-maluin aja. Salah masuk toilet, salah negur orang, lupa bayar uang ke kondektur, salah ngasih uang ke kasir, dan sekarang lupa bawa barang belanjaan. Tini, malu banget deh. Ini semua gara-gara otak Tini panas nih kayaknya, kebanyakan belajar Fisika sih." Kata Tini sambil mengusap-usap wajahnya yang memerah karena sangat malu.

Setelah hari itu, Tini mulai mengatur waktunya untuk belajar. Tidak sampai larut malam, ia pun tidak hanya belajar Fisika, tetapi juga menyeimbangkannya dengan belajar mata pelajaran yang lain. Ia tidak ingin kejadian yang benar-benar membuatnya malu terulang lagi. Belajar memang hal yang baik, namun menjadi tidak baik apabila tidak ada pengaturan waktu. Belajar akan menjadi baik jika dilakukan secara efektif dan efisien.

Akhirnya, Tini pun bisa mengerjakan Ujian Nasional dengan baik. Ia mendapatkan nilai dengan rata-rata 92,5 dari empat mata pelajaran yang diujikan. Ia bersyukur karena akhirnya ia sadar sebelum terlambat, sehingga ia bisa mengatur waktu belajarnya dan akhirnya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Iin Khumairoh sebagai pemenang.

Iin Khumairoh


Lahir di Pati, 18 Februari 1999. Hobi Menulis, Bernyanyi dan Membaca





0 comments:

Post a Comment