Thursday, 20 April 2017

Hampa

Elegi senja mengantarkan suka-duka tiga orang insan yang terjebak dalam cinta segitiga. Berawal dari cinta lokasi yang menuntun mereka ke dalam sekelumit rasa yang mengundang tangis sedemikian rupa. Terjebak dalam sandiwara menuai luka terkadang cinta datang dengan mesra, semesra kisah FTV yang kadang menjadi imajinasi semua pemuda-pemudi.


***

Perkenalkan namaku Yuda dari Kota yang semua penduduknya menggantungkan nasibnya di bidang Industri. Aku seorang mahasiswa tanggung yang bisa dikatakan bukan baru dan bukan akhir, tapi kemamanganku dalam menjalani hidup sangatlah tanggung. Kesibukan yang aku bangga-banggakan hanya satu, yakni membuat mereka melihatku dengan terkagum-kagum. Inilah yang menjadi masalahku di tahun-tahun berikutnya.

Matanya menyiratkan kemanjaan, ingin sekali kukecup keningnya –yang kata orang kekinian tanda ketulusan—menjadikan dia ratu yang mengurus segala keperluan, wah wah imajinasi ini membeludak sampai-sampai masa depan terlihat di depan. Haha. Aku sendiri mengenalnya sudah lama, namun saat ini entah kesadaranku sepenuhnya sadar padahal aku nggak disiram air dingin. Iya lebih tepatnya kita sudah saling kenal dalam acara yang bertema pendidikan.

KKN, menjadi ajang mahasiswa seperti ku untuk unjuk kebolehan. Yah seperti yang ku katakan tadi aku sangat lihai dalam menarik perhatian banyak orang. Salah satunya wanita yang kini menjadi kekasih ku, Endang. Endang namanya, wanita yang masih gadis dengan perawakan ke-ibu-an layak dipertahankan sebagai pengasuh bagi anak-anakku kelak. Endang ini lain orang dengan wanita –Nawang namanya – yang aku kagumi karena mata nya.

Senja menjadi saksi. Aku terjebak –namun sesungguhnya aku tak menyadari—takdir Tuhan begitu kurasakan 4 bulan berikutnya. Di sebuah tempat yang menjadi eksodus kami bertiga menjadi saksi bisu. Dalam kegiatan yang ada dalam program kerja kami. Ketika aku melihat Nawang seakan dia.. dia.. diaa.. yang kucari dalam keheningan pribadiku, bersamaan pula Endang yang memandangku dengan penuh arti. Namun egoku mengantarkan ku pada Nawang. Nawang yang aku kagumi meresponku dengan seksama, Nawang yang kuartikan sebagai dewi sinta ternyata benarlah dia. Entah bagaimana ceritanya waktu terasa cepat, dan KKN yang sebulan menuai tanda tanya.

***

Dua pekan berlalu, aku mengisi kekosongan bathinku dengan berjaga dalam diam. Angin sepoi-sepoi menjadi kawan, pohon yang jadi tempat teduh di warnai wewangian, dan ini hanya penggambaran ku tentang bathin. Dua pekan yang lalu kami bersama, sepertinya berhasil pula aku menjadi maestro diantara teman-teman ku. Heuheu. Pertemuan-pertemuan yang bernuansa rindu kami hadirkan dalam berbegai acara hingga pertemuan pribadiku dengan Nawang.

“Yuda, tidak kah kau lihat bahwa kekosongan bathin kita berdua, tentulah kita dapat untuk saling mengisi. Bukan hanya menjadi umpatan dalam hati” kata Nawang padaku

“iya, sepertinya kita telah menjadi gelembung renkarnasi Rama-Sita. Aku menduga bahwa saatnya aku menunjukan rasa ku padamu” jawabku.

***

Seolah menjadi kenangan saja percakapan ku itu dengan Nawang, yang akhirnya berpisah pula jalinan cinta yang sungguuh singkat ini. 2 bulan saling memadu kasih. Padahal aku belum sepenuhnya memulai peraduan dengannya.

Dalam kegalauan yang tertahan datanglah Endang. Yang sedari zaman KKN terbius akan daya Tarik ku. Ending datang membawa sejuta kehangatan melebihi Nawang. Ending yang datang mengganti alam lama menjadi alam baru yang dapat difungsikan sebagai kehidupan.

Endang, Endang, oh.. Endang…

Senyum penuh dilemparkan kepadaku. Hingga aku menggali makna tersirat dalam bibirnya. Ia menantikan saat-saat ini. Saat dimana kehancuran melandaku, dan kesiapannya memberikan penawar. Aku mencintai ketulusannya hingga aku mencintainya dengan sepenuhnya. Jangan ditanya tentang Endang. Sungguh ia sempurna dalam hal cinta, ia mencintai ku dengan tak pernah berkurang sedikitpun.

Bulan berganti bulan hingga menemui tahun. Tak terasa hamper 2 tahun aku bersama Endang. Namun aku menjadi hilang, karna aku selalu mengikutinya yang tak pernah kurang dari kesempurnaan. Dalam perjalanan 2 tahun itu sudah berapa kali aku melukai perasaannya. Karena Nawang. Iya Nawang.. aku mencintainya meski menjadi bayang dalam setiap langkahku. 

“oh. Yuda tidakkah semua ini karna kasih Tuhan kepada kita. Aku dan kau menjadi satu. Menjadi ikatan yang kuat. Tapi kenapa kau menjadi kerbau congok dengan selalu menghamba pada bekas pacarmu itu” kata Endang.

“entahlah.. entahlah…”

Aku dan Nawang setelah berakhirnya sebuah ikatan kita dulu. Seakan aku sendiri merasa ada ikatan lain antara aku dengannya. Pada setiap kesempatan aku selalu terhubung dengannya. Tapi selalu saja Endang mengetahui. Padahal ending sendiri telah menjadi terbaik untukku.

Nawang menjadi inspirasi ku dan Endang menjadi pelipur lara. Sebagai lelaki yang binal aku berfikiran untuk menikahi keduanya saja. Tapi mana mungkin antara Endang dan Nawang terlibat konflik yang nyata seolah aku diperebutkan dan seolah aku dipercundangkan.

Kemarahan Endang tak tertahankan, kekecewaan Nawang sungguh membuat tak karuan. Hingga dijalan itu aku kembali berteriak, “SUDAH CUKUP TUHAN AKU TELAH PAHAM !!”

Hingga  di pagi buta semuanya hening nan hampa. Dan aku menuliskan cerita ini.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Muhammad Rafly sebagai pemenang.

Muhammad Rafly Rosadi

Tinggal di Sidoarjo kota, berkesibukan mengajar di lembaga pendidikan Al-Quran, dan di sekitaran dimana berada.

0 comments:

Post a Comment