Sunday, 16 April 2017

Haruskah Cowok Diginiin?

Ujian Nasional SD sudah kelar dan isu libur panjang pun beredar. Aku adalah siswa yang akan dinyatakan lulus dari sekolah dasar setelah berjuang selama 6 tahun mengeyam pendidikan dasar. Libur 2 hari sudah terasa membosankan. Siang itu aku melamun di depan rumah dan gak tau harus ngapain. Tiba–tiba hp bapakku bunyi di meja ruang tamu. Setelah aku cek, ternyata itu adalah telpon dari kakakku yang sedang bekerja di kota Semarang. Percapakannya begini :


“assalamualaikum,” kakak mulai percakapan.
 
“waalaikumsalam.”
 
“eh, ini adek?”
 
“iya kak ini adek. Ada apa kak?”

“nggak, cuma mau nanya kabar keluarga. Gimana bapak dan emak dek?”
 
“alhamdulillah, Bapak & Ibu sehat wal afiat. Kakak sendiri gimana?”
 
“alhamdulillah kakak sehat juga, eh dek kamu ujian nasional gimana kemaren?”

“mudah kok kak ! , soalnya Cuma itu itu aja!”

“awas kalo dapet kabar nilai ujian kamu 5 , mau dijadiin sate atau oseng-oseng?”

“kalo soal ujian mudah kak!”
 
“oke oke. Wah libur panjang dong?”
 
“iya kak libur panjang dan bingung mau ngapain. Main sama temen bosen, main game bosen, nonton tv bosen, semuanya membosankan.”
 
“aku ada ide untuk ngisi libur panjangmu dek! ”
 
“apa itu kak?” (aku berharap semacam liburan mencari suasana baru)
 
“KAMU SUNAT YA DEK !” (nada halus suara wanita)
Duarrrrrr... Gemuruh suara dari langit, petir kilat turun dari langit ke bumi, hujan tornado siap menerjang dan dunia berhenti berputar. Aku hanya bisa melongo dengan tatapan kosong dan mulut terbuka lantaran mendengar kabar tersebut. Aku tidak tahu apa yang harus aku jawab dari pernyataan kakakku yang baik ini. Percakapan kami berhenti selama satu menit karena aku tidak berani berkata apapun,
 
“dek..... dek..... dek.... halo... halo...”
 
“kak aku harus pergi ke rumah temen !” (telepon putus)
Aku matikan telepon dan lari terbirit birit  ke kamar sambil membayangkan bagaimana rasa sakit sunat yang pernah diceritakan kakak kelas yang sudah sunat. Aku gelisah gundah gulana, aku bingung tanpa arah dan tujuan karena bagiku ini terlalu awal dan aku belum siap. Maka aku putuskan untuk tidur siang agar fikiran hilang dan setelah tidur akan kuceritakan bapak bahwa aku belum siap.
 
Waktu menunjukan pukul 16.00 , aku terbangun dan tiba-tiba bapak dan emak udah di samping. “sepertinya ada ancaman nih !”(batinku). Bapak dan emak fokus matanya tertuju kepadaku. Karena kurang tersadarnya aku, mataku masih susah untuk dibuka. Akhirnya aku tanya ke mereka,
 
“ada apa ya pak mak? ”
 
“kamu tadi nelfon sama kakak kamu?” (jawab bapak)
 
“iya, gimana emang ?”
 
“dia akan ngasih kamu sebuah ide untuk ngisi hiburan kamu! dan ingat kamu sudah gede kan. Kalo cowok udah gede mau diapain?“

Jantungku semakin berdegub kencang, kulihat tatapan kekejaman mereka. Aku harus berfikir kritis untuk mencari alasan agar kabur dari kamar ini. Terlihat handuk di samping lemari, ide yang tepat. Aku berlari menuju samping lemari dan mengambil handuk sambil berterik “Aku belum siaaaaaaaaaapppp.....”

Aku berusaha menghidar dari bapak dan emak untuk malam ini, Meskipun biasanya makan malam bersama rutin dilakukan. Aku beralasan ada persediaan roti dan buah dikamar, padahal hanya roti sisa kemaren yang ada. Ibu datang ke kamar.

“dek.. ayo makan ! kamu jangan alasan. Ibu sore tadi lihat hanya ada sisa roti itupun sedikit.”

Berpapasan juga dengan perutku yang benar lapar karena tadi tidak maka siang karena tidur siang, aku memutuskan ikut makan malam. Aku berjalan menuju ruang makan sangat pelan seperti pengantin jawa. Sesampai ke pintu ruang makan, kulihat emak sedang mempersiapkan minum dan bapak sedang mengangkat telepone dari bosnya. Pelan tapi pasti aku menginjakkan kakiku di ruangan makan, aku duduk dengan agak gugup dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Setelah semua selesai dengan kesibukan masing-masing, akhirnya makan malam bersama berlangsung dan doa dipimpin bapak. Aku hanya berdiam diri dan makan yang telah disajikan emak. Setelah selesai makan malam, kita sedang berbicara masalah  kerusakan pipa dibelakang rumah dan topik berikutnya adalah tentang sekolahku. Aku sudah berprediksi pasti ujung-ujungnya adalah seperti kemarin. Setelah aku berbicara mengenai liburan panjang, serangan mereka keluar.

“dek, kamu liburan bosan kan? mau nambah uang saku tidak?” ucap bapak.

“tidak pak, nggak perlu minta bapak dan aku nggak mau kerja”
 
“tinggal tiduran dapet uang lho dek..” sambut emak.
 
“beneran pak, mak ?”
 
“iya besok sabtu kamu siap ya !” tegas bapak.
 
“persiapan apa pak ?”
 
“sesuai apa yang dibicarakan kakakmu di telepon kemarin, kan kamu yang nelpon”.
Sudah kuduga, pasti mereka berusaha untuk membujukku dengan apa yang menjadi permasalahan hidupku kini, yakni sunat. aku pura-pura tidak tahu.
 
“intinya persiapin metal ke dokter ya ! ” ucap bapak.
 
“ke dokter buat apa sih pak ? ”
 
“KAMU HARUS SUNATTTT...” (teriak bapak dengan lantang sambil berdiri dan menunjukku)
Aku langsung berlari ketakutan ke kamar sambil berteriak kata tidak. Sembari lari dari kejauhan aku melihat mereka tetawa terbahak-bahak melihat aku berlari dan menerima kenyataan ini. Aku pun langsung mengambil selimut dan menutupi diri. Aku langsung tertidur pulas karena kenyangnya makan malam dan ketakutan yang sedang melanda diriku.
Ternyata malam itu aku bermimpi di kala dewasa, dimana aku sedang menikah dengan pasanganku. Saat melakukan pesta makan, aku izin ke istriku untuk ke toilet untuk buang air kecil. Di perjalanan menuju  ke toilet, aku merasakan bahagianya diriku sudah bisa menikah dengan wanita cantik. Setelah selesai buang air kecil di toilet, aku ingin mengetahui bagaimana dengan keadaan diriku sekarang lewat kaca dan aku kaget bukan kepalang. Memang benar bahwa aku gagah dengan baju jas, tapi entah kenapa wajahku masih lucu, tidak punya jakun, tidak berkumis, dan bentuk badan tidak bidang. Aku kebingungan tanpa arah dan teringat tentang masalah apa yang aku hadapi sekarang, aku sengaja melihat punyaku sendiri. Terkejutlah aku melihatnya masih utuh dan belum ada perubahan, bahkan sama sekali tidak ada semak belukarnya. Aku tambah kacau selagi bingung, aku hanya bisa berteriak.

“TIDAAAAAAAKKKK.....”
Akupun terbangun dengan keadaan bingung.  Kulihat jam menunjukan pukul 05.15, aku sesegera beranjak dari tempat tidur lalu menemui bapak untuk meminta kejelasan mengenai sunat. Bapak menjelaskan bahwa setelah sunat akan terjadi perubahan pada diri setiap laki–laki. Setelah itu aku langsung minta kepastian sunat yang bapak teror selama ini, akhirnya kami memutuskan sunat besok sabtu. Aku harus mempersiapkan mental dari sekarang.
Hari sabtu telah datang, kini aku harus melewati tahap sulit dalam hidup sebagai cowok. Hal yang pertama terlintas adalah kesakitan saat proses berlangsung sunat. Kini aku mengenakan sarung menuju mobil pengantar diriku ke alam kesakitan, yakni ke Rumah klinik sunat. Selama perjalanan aku hanya bisa terdiam diri dan membayangkan rasa sakit meskipun tidak tahu sama sekali. Sampailah ke rumah klinik tersebut, aku hanya bisa mengambil nafas dalam-dalam sambil berjalan ke ruangan sunat. Di ruangan sunat pintu dikunci, lampu ruangan dinyalakan dengan terang, dan hanya dokter, bapak, aku yang berada di ruangan.
 
Aku disuruh tidur terlentang dan mengikuti intruksi. Dimulai dengan mengintruksikan untuk mengucap 2 kalimat syahadat, sholawat nabi, dan surat alfatihah.  Dokter mulai membuka sarung dan celana dalamku, diambilah suntik bius. Dokter menyuntik punyaku 2 kali, aku hanya bisa memegang kuat tangan bapak. Dokter mengecek, “ apakah masih terasa? “. “masih dokter” jawabku. Dokter menyuntik bius 1 kali lagi tapi kali ini aku benar benar merasakan sakit, penyuntikan ketiga ini hampir mengalami goyah,  aku membisik ke bapak, ”pak, sakit !”. bapak membalas “tahan dek, kamu kuat”. Saat penyuntikan ke tigas aku berteriak kencang dan tubuhku mengeliat sembari bapak memegang erat-erat dan “busssssssstttttttttttt....” aku mengeluarkan kentut. Dokter dan bapak melihat dengan tatapan aneh dan aku hanya bisa meringis. Suasana ruangan menjadi cair dan menjadi gelak tawa, untung saja tidak menimbulkan bau kentut . Selanjutnya dokter bertanya masih terasa tidak, aku menjawab sudah tidak. Akhirnya proses sunat  berlangsung dan selesai dilakukan, tinggal persiapan untuk pulang.
 
Sesampai di rumah, aku disambut para tetangga rumah. Entah kenapa pas istirahat di kamar, mereka satu persatu memberi bingkisan amplop ( aku yakin itu uang ). Ada juga segerombolan teman bermain juga ikut menengok keadaanku sekarang. Kejahilan mulai bereaksi, mulai dari tanya bagaimana sakit saat disunat dan ingin menengok bagaimana bentuknya sekarang. Memang aneh teman-teman. Di sela istirahat aku juga menelpon kakak untuk mengatakan bahwa aku sudah melawati masa sulit bagi seorang cowok. Akhir cerita aku ngisi liburan yang membosankan dengan bermain PlayStasion yang sengaja dikirim kakak dari semarang sebagai hadiah tekad menghadapi masalah hidup masa kanak-kanak.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Sarjuki sebagai pemenang.

Sarjuki

Berasal dari bagian timur Jawa Tengah yang berbatasan dengan Jawa Timur, yakni Sragen. Telah lahir pada 10 april 1998 dan  menginjak umur 19 tahun. Sedang memperjuangkan langkah kehidupannya dengan menjalani statusnya sebagai mahasiswa jurusan akuntansi Universitas Negeri Semarang. Posturnya  tinggi, kurus, item. Hobinya dengerin musik dan launching instagram. Menurut pandangan Teman-teman, Beliau dikenal sebagai humoris spontanitas tapi yakinlah masih terdapat awan cummolonimbus di lubuk hatinya. Doakan apa yang diharapkan beliau tersukseskan. Let’s say aamiin !!

2 comments: