Tuesday, 11 April 2017

Hembusan Cinta Tak Tergapai

Hari cerah yang kelabu, Minggu, 29 Juni 1998. Hari di saat aku dilahirkan ke dunia ini di rumah sakit ternama DKI Jakarta, Indonesia. Pertama kalinya aku mengeluarkan jeritan dalam hidupku. Aku menangis tanpa ada seorang ayah yang akan mengadzankan ku. Ibuku pun heran dengan ketidakhadirnya di rumah sakit. Saudara-saudaraku mencari tahu keberadaannya kesana-kemari. Dan sebagian dari mereka ada yang mendesak ibuku untuk mencari orang yang akan menggantikan ayahku untuk mengadzankanku. Akan tetapi ibuku tetap senantiasa menunggu kehadiran sang imamnya.    

duapah.com
Seiring dengan perputaran jarum jam, di antara saudaraku ada yang keluar dari ruang bersalin, ia melihat dari jarak kejauhan ada seorang pria yang lari luntang-lanting sambil membawa tas hitam yang ditentengnya ke arah ruang bersalin ibuku. Saudaraku pun tanpa sadar memanggilnya dengan sebutan Pak Nasir. Lalu, pria itu akhirnya sampai di depan ruang bersalin ibuku dengan menghela nafasnya yang terisak-isak. Pada akhirnya ayahku memasuki ruangan itu sambil tersenyum dan menangis dengan suara terbata-bata minta maaf kepada ibuku. Kala itu, ayahku berusaha untuk menjelaskan kepada ibuku mengapa tak kunjung datang, tetapi ibuku meminta untuk nanti dijelaskan.

Aku mulai menangis lagi, ayahku menghampiriku dengan penuh senyum manisnya, yang mana anak pertamanya lahir. Ibuku dengan suara lembutnya memerintahkan ayahku untuk cepat diadzankan putri mungilnya itu. Ayahku pun mengadzankannya. Awalnya aku menangis tetapi ketika suara adzan berkumandang di telingaku, aku pun terdiam dengan menikmati suara merdunya. Ketika aku telah diadzankan, ibuku balik menanyakan tentang ketidak hadirnya ayahku. Ayahku pun menjelaskan dengan sejujur-jujurnya.

“Sayang, kamu tahu apa yang aku lakukan di luar sana sampai-sampai aku tidak ada di sampingmu ketika kamu membutuhkan ku?” ayahku mulai mengeluarkan air matanya. Ibuku hanya terdiam tak berkata apa-apa. “Aku beberapa hari ini mencari uang untuk pembayaran bersalinnya anak kita. Aku tak mau meminjam uang kesana-kemari untuk merepotkan orang lain, walaupun itu saudara kita. Aku mau uang yang akan kita gunakan itu hasil dari jerith payahku. Dan akhirnya dengan izin Allah aku mendapatkan uang itu dengan cara yang halal”. Jelas ayahku. Ibuku memeluk suaminya dengan isakan tangisan. Sedangkan ayahku berusaha untuk meredakan tangisan istrinya.

Beberapa saat kemudian, saudara dari ibuku datang kembali ke ruang bersalinnya. Ibuku berusaha untuk menjelaskan masalah tadi kepada saudaranya. Ketika tahu sebabnya, mereka kagum dengan usaha ayahku untuk menghidupkan keluarganya tanpa merepotkan orang lain. Hanya saja mereka bilang kepada ibuku “Selagi kami masih bisa membantu, tidak ada masalahnya kami mencoba untuk membantu kalian sedikit demi sedikit,” ayahku dan ibuku pun tersenyum.

Matahari mulai terbenam, para sanak saudara dari ibuku bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Ruangan itu mulai sepi hanya ada tangisan halusku. Ayahku sendiri mulai bersiap-siap untuk menunaikan shalat maghrib. Ketika ayahku hendak pergi, suara tangisanku seakan-akan meminta pertolongan dari ayahku, dan ibuku pun kasih syarat ke ayahku untuk lanjutin pergi ke mushalla, tetapi ayahku malah mendekatiku. Ternyata popokku basah terkena kencing. Langsung ayahku menggantikannya tanpa ada kompromi dengan ibuku. Ayahku paham dengan kondisi ibuku yang lagi lemas tak berdaya. Ibuku hanya tersenyum dengan sikap suaminya itu yang mantan preman Medan, Sumatera Utara.

Setelah ayahku membereskan popokku, ayahku kembali pergi dengan ciuman yang diberikannya untukku dan ibuku. Kala itu, ibuku tersenyum senang melihat suaminya begitu prihatin terhadap keluarganya. Tak lama kemudian, aku menangis kembali, ibuku mendekati dan menimangku. Aku haus ibuku mulai menyusuku. Seiring dengan berjalanya waktu maghrib, ayahku tiba-tiba muncul.

“Assalamu'alaikum,” ayahku ucap sambil masuk ke dalam.

“Wa'alaikumussalam,”jawab ibuku. Ayah ku langsung duduk disamping ibuku sambil mengelus-elus pipi merah ku. Mendadak, ada suara ketukan di pintu yang diikuti dengan suara pintu dibuka.

“Assalamu'alaikum,” terdengar suara salam. Rupanya seorang dokter yang ingin memeriksa ibuku.

“Wa'alaikumussalam,” serempak ayah dan ibuku menjawab.

“Kapan istri saya bisa pulang dok?,” tanya ayahku dengan nada tak sabaran. 
    
“Insya Allah besok sudah bisa pulang pak,” jawab dokter dengan senyuman lembutnya. Suasana hening, ayahku pun menanyakan lagi.

“Oh iya dok, bagaimana dengan ADM-nya? Apa saya langsung bisa bayar malam ini terus?” tanya ayahku dengan nada semangat 45.

“Bisa juga pak, tapi kalau bapak maunya besok itu tidak masalah,” jelas dokter dengan ekpresi wajah tersenyum melihat ayahku semangat untuk membayar.

Pengecekan kesehatan ibuku pun telah selesai. Dokter kembali keluar. Ibuku tersenyum geli dengan sikap ayahku. Mungkin karena ayahku puas dengan uang jerih payahnya yang selama ini ia kumpul demi aku lahir. Malam pun mulai larut, ayah dan ibuku pun tidur dengan nyenyak, karena besok bersiap-siap untuk meninggalkan rumah sakit. Malam itu aku tidak menangis seperti siang hari tadi. Jadi ayah dan ibuku merasa aman malam itu. 
              
Sinar mentari begitu cerah menyorot pagi, namun tak mampu menembus kelabu jiwa ayahku yang bahagia itu. Ibuku turun dari ranjang tidurnya untuk melihatku di dalam tabung dengan aku masih tertidur pulas. Ibuku tak tega membangunkan ku. Langsung saja ibuku membereskan dirinya sendiri dan peralatan bayinya. Setelah semua selesai, mataku pun terbelek, aku tau saja kalau semuanya sudah siap. Ayah dan ibuku bergegas meninggalkan tempat bersalin istrinya. Sebelum meninggalkan rumah sakit itu, ayahku pergi ke administrasi untuk melakukan pembayaran persalinan istrinya. Aku dan ibuku pun menunggu di ruang tunggu.

Akhirnya pembayaran pun telah selesai, ayahku mencari taxi yang ada di seputaran rumah sakit tersebut. Ternyata ayahku mendapatkannya, taxi yang berwarna biru itu kami naiki. Kami pun menikmati perjalanan menuju rumah surga kami. Setiba di rumah, ayah dan ibuku mengemas-ngemas barang-barang yang ada di dalam tas. Aku pun di baringkan di atas ranjang ayah dan ibuku. Tak lama ibuku meletakkanku di atas ranjang, aku menangis, ibuku berusaha untuk mendiamkan ku, ternyata aku haus, langsung ibuku menyusuikanku.

Beberapa saat setelah ibuku menyusuikanku, tiba-tiba ayahku meminta kepada ibuku untuk izin keluar sebentar. Ayahku beralasan untuk pergi ke rumah kawannya. Ibuku pun memberikannya dengan syarat jangan pulang larut malam, karena ibuku takut, sikap premannya muncul lagi. Ayahku pun menyetujui permintaan ibuku. Waktu demi waktu, malam pun tiba. Ibuku mulai cemas karena ayahku tak kunjung pulang. Aku yang dari tadi menangis tak diam-diam membuat ibuku kesusahan. Padahal, malam ini adalah malam dimana pertama kali aku hadir di rumahku. Tapi ada saja yang membuat itu semua berubah. Ayahku entah kenapa tak pulang-pulang, entah apa yang ia lakukan di luar sana. Aku dan ibuku tetap saja menanti kepulangannya.

Setengah jam berlalu, ibuku merasa lega. Karena ada suara kendaraan yang memberi tanda bahwa ayahku telah pulang. Tak lama ibuku mau membuka pintu sambil mengendongku yang sedang menangis, terdengar suara asing dari luar rumahku. Dengan cepat ibuku membuka pintu.

“Assalamualaikum, selamat malam, apa benar ini dengan keluarganya saudara Muhammad Nasir?” tanya polisi tegas.

“Waalaikumsalam, iya benar, saya sendiri istrinya,” ibuku jawab terbata-bata sambil terbelalak. Polisi pun mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke rumahku.

“Begini bu, tadi ada razia dari pihak kami. Suami ibu kedapatan tidak memiliki KTP dan juga memiliki identitas palsu. Lalu suami ibu menjelaskan semuanya tentang keluarganya. Ia bilang bahwa ia memiliki seorang bayi di rumah yang baru saja lahir kemarin. Lalu saya ancam pak Nasir, jika bapak bohong, maka ini berlanjut. Dan saya tidak begitu percaya perkataan pak Nasir. Saya ingin dibawakan langsung oleh pak Nasir ke rumahnya. Ternyata benar apa yang dikatakan pak Nasir kepada kami, bahwa ia memiliki seorang bayi,” jelas polisi.

Ibuku berusaha menenangkan dirinya. Dan aku awalnya menangis mulai diam. Polisi yang awalnya memborgol tangan ayahku kini dilepaskannya. Lalu polisi itu pulang dengan wajah yang penuh kasihan terhadap keluargaku. Ayah dan ibuku pun serempak mengucapkan “terima kasih pak”. Andaikan aku belum lahir malam itu, mungkin ayahku telah dimasuki ruang dengan pintu besi. Malam itu aku menjadi pahlawan bagi ayahku. Pantas saja ayahku mendapatkannya, karena begitu baik kepadaku dan istrnya. Suasana mulai hening, ayah dan ibuku hanya diam membisu. Tak ada suara yang terdengar, hanya jangkrik yang mengeluarkan suaranya. Untuk memecahkan suasana ini, aku menangis. Ibuku kembali menyusuiku.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Aku pun meranjak besar. Umurku telah genap 2 tahun pada 29 Juni hari ini. Ibu dan keluarga ayahku meminta untuk balik ke Medan, Sumatera Utara. Ayah dan ibuku pun mengabulkannya. Kami pun bergegas untuk membenahi barang-barang yang mau dibawai. Perjalanan ke Medan pun kami nikmati, tak sabar untuk ngumpul bersama keluarga besar. Apalagi ditambah aku yang tak pernah muncul dipermukaan bumi Medan, Indonesia. Mungkin ini menjadi sebuah dambaan ayah dan ibuku kapada sanak keluarganya.

Sesampai di Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Tempat keluarga dari ayahku. Kami pun disambut dengan gembira di Bandara Polonia. Aku langsung diambil dan digendong sama pamanku. Betapa bahagianya kala itu. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal. Aku, ayah dan ibuku tinggal di rumah ayahku. Rumah itu warisan yang diberikan kakekku kepada ayahku. Untuk sementara ini kami tinggal disana.

Hari demi hari kami lalui. Ibuku merasa tak nyaman dengan lingkungan yang tak ada bau syariah islamnya. Ditambah lagi topik pembahasan ibu-ibu di kampung itu masalah harta. Sedangkan ibuku bukan tipe yang selalu memikirkan harta suaminya. Ibuku meminta kepada ayahku untuk tinggal di komplek yang ditawarkan kawannya kapada ibuku. Ayahku pun mengabulkannya karena alasan dari ibuku membuat ayahku kasihan terhadapnya. Kami pun mengemas kembali barang-barang kami. Aku berfikir hidupku penuh dengan hijrah kesana-kemari. Tapi tak apalah, ini semua untuk kepentingan dan kenyamanan ibuku.

Akhirnya kami tiba di rumah komplek yang dicita-citakan ibuku itu. Hari demi hari kami lewati, akupun meranjak kanak-kanak, yang mana aku harus menempuh pendidikan sekolah dasarku. Tetapi dengan latar ayahku yang tidak memiliki penghasilan yang memadai, terpaksa aku di masukin tahun depan. Tetapi ayah aku punya tekad lain untuk mendidik aku. Walaupun aku ditunda untuk tahun ini, tetapi ayahku tetap menjadikan anaknya seperti anak-anak yang lain. Jadi aku setiap malam diajari membaca oleh ayahku. Ayahku tak pernah meyerah dan lelah mengahadapi anak yang tak pernah dididik sebelumnya. Ibuku pun senang memiliki seorang suami yang memiliki tujuan hidup untuk anak-anaknya, walaupun ayahku tak sekaya seperti sanak keluarganya. Tapi ibuku bahagia dan bersyukur dikaruniai seorang lelaki sepertinya. Kami hidup penuh dengan sederhana, tak ada yang mewah dari kami. Ibuku pun tak mengikuti gaya-gaya kawannya yang super kaya. Walaupun seperti ini, cinta ibuku terhadap ayahku tak pernah pudar.

Pagi hari, ibuku bingung untuk mempersiapkan sarapan untuk suami dan anaknya. Ia tak tau mau masak apa lantaran bahan masakan tak ada. Ketika ibuku melirik ke arah luar lewat jendela belakang. Ibuku melihat ada pohon ubi disana. Langsung ibuku ke luar untuk mencabut pohon yang ada ubinya di dalam tanah itu. Setelah ibuku mendapatkannya, ibuku mulai mengupasnya di dapur tanpa sepengetahuan ayahku. Direbusnya ubi itu setelah dikupas dan dicuci. Setelah direbus, ia tumbuk sampai halus. Makanan ini dinamai sama orang medan getuk ubi. Setelah getuk ubi ditumbuk dengan halus. Ibuku menaruhnya di setiap piring makan, terutama piring ayahku.

Tak lama kemudian ayahku muncul dengan wajah yang lesu akibat lelah mengajariku yang begitu sulit diajari. Ayahku mengambil air wudhu untuk menunaikan shalat subuh, sedang ibuku lagi tak bisa, datang bulan. Setelah selesai shalat, ayahku ke dapur melihat ada makanan di dalam tudung saji. Ayahku terkejut, kenapa bisa ada makanan, sedang ibuku tak punya uang sepersen pun. Tak lama ayahku membuka tudung saji, tiba-tiba muncul ibuku dari belakang ayahku dengan mengatakan “Insya Allah makanan yang dihadapanmu itu halal kok. Aku mengambilnya dari pohon ubi di belakang dapur kita,” jelas ibuku dengan nada agak penuh kasih.

Betapa sedih ayahku kala itu. Ia merasa tak mampu menjadi seorang suami yang tak dapat memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Padahal ibuku tak mengkhawatirkan masalah kondisi keluargaku ketika itu. Hanya saja ibuku meminta kepada ayahku tidak mengulangi sifat preman yang pernah ia miliki.

Tahun demi tahun kami lewati. Ayahku tiba-tiba ada niat untuk kembali ke Jakarta. Ia meminta izin kepada ibuku untuk terbang kesana, dengan niat mau mengubah nasib. Ibuku mengizinkan asalkan dengan niat yang baik untuk keluarga.

Hari demi hari pun berlalu. Saatnya ayahku meninggalkan anak dan istrinya di sebuah rumah yang mungil di perkomplekan Medan menuju kota Jakarta. Ibuku tak menampakkan kesedihannya sedang aku menangis terisak-isak melihat ayahku pergi. Sebelumnya ayahku berpesan kepadaku malamnya. Ia mengatakan kepadaku “rajinlah belajar nak, kamu perlu tahu mulai dari sekarang bahwa masyarakat memandang seseorang itu dari 3 jalur, yang pertama hartanya, jabatannya dan yang terakhir ilmunya nak. Sedangkan kita tak punya harta dan jabatan. Dan yang bisa kita ambil ialah ilmu nak. Oleh karenanya nak, ayah berharap penuh denganmu untuk sungguh-sungguh belajar demi masa depanmu yang cemerlang,” katanya sambil mengeluarkan air mata yang begelimang sebelum keberangkatannya. Aku pun tambah nangis dibuatnya. Dan juga semangatku memuncak untuk belajar.

Ayahku pun tak meminta dari kami untuk diantarkan ke bandara, karena ayahku tahu, itu merepotkan kami yang tidak ada kendaraan untuk balik. Kalaupun naik angkot, itu sama saja menghabiskan uang simpanan ibuku kata ayahku. Ya sudah, kami hanya mengantarkannya hanya di depan pintu rumah dengan senyuman hangat dari kami. Kehidupan kami saat ayahku merantau tak ada ubahnya dengan adanya ayahku di sisi kami. Malah ini membuat kami semakin sedih. Tapi tak apa, ini demi keluarga.

Kala itu ibuku memelukku sambil mengatakan aku harus tegar walaupun ayah tak di sampingku ketika malam hari. Karena biasanya ayahku mengajariku membaca dan berhitung. Ibuku kembali mengingatkanku kalau bulan depan aku akan masuk sekolah dasar (SD). Ternyata ayah dan ibuku sudah jauh-jauh hari mempersiapkan atribut sekolahku. Orang tua yang luar biasa walaupun uang sedikit di tangan.

Waktu pun tak terasa telah terlewati, dimana aku mulai masuk sekolah dasar. Ibuku senantiasa mendampingiku setiap saat. Ia malah menungguku sampai aku pulang. Tetapi ini hanya berlansung 2 minggu. Seterusnya ibuku mengajariku untuk mandiri. Dan aku pun mematuhinya. Aku akan hidup mandiri dan tak ikut gaya hidup kawan-kawanku yang lain, seperti ibuku juga. Ia tak pernah mengikuti gaya hidup kawan-kawannya yang kebanyakan dari mereka hidup dengan berfoya-foya.

Saat jam pelajaran telah habis, saatnya kami pulang. Aku pun mencari ibuku yang telah lama menungguku dari pagi hingga menjelang siang. Ibuku mencari angkot kesana-kemari. Tiba-tiba ada mobil pribadi berwarna merah lewat di depan kami berhenti. Seorang wanita yang menurunkan kaca mobilnya sambil menawarkan kami untuk pulang bersamaan dengannya. Awalnya ibuku berusaha untuk menolaknya, tetapi ibu itu bersikeras untuk mengajak kami bersamanya. Dengan rasa malu, kami pun menaiki mobilnya.

Di dalam mobil kami berbincang-bincang. Ternyata ibu ini kawan ibuku masa SD-nya, tapi tak terlalu dekat. Ibuku dan ibu pemilik mobil pun berbicara sepanjang jalan. Aku hanya bisa diam di belakang sopir, sedang ibuku di depan disamping sopir. Perjalanan pun telah kami lewati, akhirnya kami sampai juga ke rumah. Aku dan ibuku pun mengucapkan banyak terima kasih kepadanya.

Sesampai di rumah. Aku pun membereskan atribut sekolahku dengan rapi. Aku tak mau ibuku yang membereskannya. Karena aku sudah berjanji untuk tetap mandiri. Sambil aku membereskannya, ibuku ke dapur untuk mempersiakan makan siang.

Ketika aku sudah selesai membereskan semua atribut sekolahku, aku pun bergegas ke dapur untuk makan siang. Aku lihat ibuku terduduk di samping meja makan yang sudah lapuk itu. Ibuku termenung. Aku tak paham maksud ekspresi raut wajah ibuku. Sambil aku mengelus-elus tangan ibuku, aku menoleh ke arah dalam tudung saji. Ternyata ini permasalahannya. Ibuku khawatir kalau aku sedih dengan tak adanya lauk-pauk, hanya dengan nasi putih. Menurutku ini sudah lebih dari cukup bagiku memakan nasi putih. Aku pun memeluk ibuku sambil mengajak untuk makan siang bersama.

Kami pun makan nasi dengan di awali senyuman beserta doa semoga apa yang kami makan itu berkah. Setelah kami selasai makan, ibuku menyuruhku untuk ambil air wudhu untuk shalat dzuhur. Walaupun kami hidup dalam susah, ibuku tetap meingatkanku kalau Allah menguji kesabaran kami. Aku begitu terharu memiliki orang tua seperti ini. Seiring dengan gemulainya rumput yang bergoyang, seirama dengan tegarnya batu karang yang dihempas sang ombak. Tiada henti-hentinya aku mengucapkan rasa syukur kepada Allah, Tuhan yang memberikan umur panjang sehingga aku sekarang duduk di bangku SMA, dimana ayahku telah kembali ke Kota Medan.

Ternyata. walaupun ayahku sudah balik dari Jakarta, kehidupan kami sama saja seperti sebelum ayahku berangkat kesana. Malah tubuh ayahku semakin kurus. Mungkin faktor kepikiran kepada keluarganya. Aku dan ibuku bukan senang dengan kepulangannya, malah kami sedih lihat tubuh gemuknya yang kini telah kurus. Ibuku pun merasa kasihan melihat sang imamnya tak tampak sehat seusai merantau. Akan tetapi, walaupun ayahku sudah berbadan kurus, ayahku tetap saja memperlihatkan wajah cerianya kepada keluarganya. Aku dan ibuku semakin kasihan melihatnya.

Suasana di dalam kelas SMA. Dimana pelajaran komputer di mulai. Lagi-lagi aku bingung untuk belajar Microsoft World di laptop mana. Aku bingung, karena komputer sekolah kala itu banyak yang sedang diperbaiki, biasanya aku menggunakan komputer sekolah, tapi kali ini tidak, kami diwajibkan untuk membawa laptop masing- masing. Semuanya membawanya, hanya saja aku yang tidak membawa. Dan semua teman-teman kelas tau, kalau aku tidak memiliki laptop pribadi. Pak guruku pun menyapaku. Aku disuruh untuk mencari kawan yang mau denganku, tapi aku terus terang mengatakan kalau aku segan untuk nyebeng laptop ke teman-teman sekalian. Akhirnya pak guru sendiri yang menanyakan ke teman-teman.

"Anak-anak semuanya, siapa diantara kalian yang senang hati bekerja sama dengan Diyana?," tanya pak guru. Suasana kelas hening, tiada satupun diantara mereka yang mau menwarkan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengunjukkan tangannya.

"Dengan saya saja pak," tegasnya. Teman-teman yang lain pun menyoraknya dengan tawaan mereka. Dan pak guru pun menyuruhku untuk duduk disampingnya. Aku pun pergi ke arahnya untuk belajar bereng dengan laptopnya. Sambil kami mengerjakan tugas, pak guru mengatakan susuatu kepada kami.

"Kita harus tolong menolong antar sesama. Kita ini makhluk sosial yang membutuhkan antara satu sama yang lainnya. Kita tak dapat hidup sendiri. Coba anak-anak bayangkan, seandainya suatu saat nanti Diyana menjadi seorang menteri negara ini, pastilah kalian memerlukannya, misalnya meminta dana atau beasiswa untuk para anak kalian. Tapi, kalau sekarang kalian memiliki hubungan buruk dengannya, bagaimana kedepannya", nasihat pak guru sambil meyuruh kami tetap mengerjakan tugasnya.

Aku pun malu-malu mengetik di laptopnya, Hafiez. Sebelumnya aku belum pernah sedekat ini dengan cowok. Aku merasa aneh pada diri aku hari ini. Aku yakin Hafiez tau kalau aku sangat risih dengan belajar bareng seperti ini.

"Kamu tak usah malu denganku, Din. Anggap saja ini laptop kamu juga", ujarnya. Aku tak kuasa menahan haru kepadanya. Aku tak menyangka masih ada orang kaya yang masih mau peduli dengan orang miskin sepertiku. Aku bangga memiliki teman sepertinya. Hanya saja aku merasa minder dekatnya, karena aku merasa beda tahta dengannya.

Seusai belajar, bel pun berbunyi. Aku dan teman-teman sekelas meninggalkan ruang kelas. Aku seperti biasanya nunggu angkot yang lewat untuk aku naiki. Panas terik aku jalanin, tak sengaja ada mobil Jazz merah berhenti di depanku. Aku pun heran, ini kan mobilnya si Hafiez, kenapa tiba-tiba berhenti di depanku, batinku. Dan dia pun membuka kaca mobil depannya.

"Diyana, yuk, barengan pulang denganku," tawarnya. Langsung aku tersentak batin melihat dia terlalu baik denganku.

"Oh tidak, terima kasih, Fiez. Aku bisa pulang sendiri kok, aku sudah biasa seperti ini," Tolakku.

Tak lama kemudian, angkutan pun hadir di depanku. Aku pun langsung naik, sedang Hafiez agak merasa sedih karena aku tolak tawaran baiknya. Perjalanan pun aku lalui, hingga akhirnya aku pun sampai ke rumah.

"Assalamualaikum," sapaku.

"Wa'alaikumussalam," jawab ibuku dari dapur. Seperti biasanya, sepulang sekolah aku disambut dengan kecupan hangat dari ibuku. Langsung saja aku pergi ke kamar untuk ganti baju sekolahku. Dan setelah itu aku shalat dan makan. Setelah semuanya tuntas aku kerjakan, shalat dan makan. Ayahku tiba-tiba menyapaku dari belakangku.

"Nak, kamu sekarang sudah tumbuh dewasa, Ayah takut di luar sana kamu berteman dengan orang yang dapat menjerumuskan mu ke jalan yang tidak diridhai-Nya. Apalagi kamu cewek, nak, dan sekarang kamu duduk di bangku SMA, itu sangat rentan kamu jatuh cinta," ujar ayah sambil mengelus-elus rambutku.

"Emangnya Yah, jatuh cinta itu tidak boleh ya di dalam islam?" tanyaku.

"Boleh-boleh saja, tapi harus dibendungi dengan iman, kalau iman kita tidak kuat, bisa-bisa kita zina hati. Dan mencintai seseorang itu fitrah, tidak bisa dipungkiri, hanya saja harus seperti yang ayah katakan tadi," jawab ayahku. Kenapa tiba-tiba aku terbayang Hafiez ya, apa maksud semua ini. Sebelumnya aku tak pernah merasakan seperti ini. Aku harus buang jauh-jauh perasaan aneh ini.

"Ayah, apakah seorang ayah itu sangat sayang kepada putrinya ketika ada laki-laki lain untuk mendekatinya," tanyaku dengan wajag serius.

"Perlu Diyana ketahui, tidak ada seorang ayah itu yang rela putrinya itu dipegang-pegang atau disentuh dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Kalau dia benar-benar menginginkan anaknya, pastilah dia menjumpai ayahnya," jawab ayahku.

"Jadi seperti itu laki-laki yang baik ya, yah?" tanyaku balik.

"Dan tidak cuma itu, nak. Laki-laki yang baik itu, laki-laki yang tidak mau memacari wanita yang ia sayangi," jawab ayahku.

"Kenapa seperti itu ayah?" tanyaku lagi.

"Karena kalau dia tau agama, pastilah ia tidak mau memperlakukan wanita yang ia cintai melalui jalur pacaran, malah ia menginginkan yang namanya di dalam islam ta'aruf-an. Dan kalau laki-laki itu ingin memacarimu, nak, sama saja dia menyampakkanmu ke jurang api neraka. Apakah itu yang dinamakan cinta hakiki di dalam islam?" jawab ayahku sambil membuatku yakin akan nasihatnya.

Aku sangat bahagia memiliki seorang ayah sepertinya. Dan aku berharap aku dipertemukan jodoh seperti ayahku ini. Yang tau agama, yang dapat menjadi imamku kelak. Beberapa menit kemudian, ayahku memberikan nasihat terakhirnya pada siang itu. "Dan janganlah kamu mencintai seorang lelaki berlebihan di masa mudamu, karena cinta sebenarnya kamu itu ada setelah akad nikah," tambahnya. Dari nasihat ayahku tadi, aku mengambil kesimpulan bahwa aku dilarang keras untuk pacaran, bukan saja ayahku melarangnya, tapi agamaku pun melarangnya. Agama yang begitu indah, yang memberi batasan-batasan jatuh cinta dangan lawan jenis.

Seiring dengan do'a yang selalu kami panjatkan kepada Allah, tiba-tiba ayahku mendapatkan tawaran pekerjaan tetap dari para kawannya semasa SMA. Ini suatu hal yang sangat bahagia bagi keluargaku terutama ayahku. Yang awalnya ayahku seorang lelaki pengangguran tapi tak pernah ngeluh dengan keadaan yang seperti itu ditambah lagi dengan istri yang selalu tulus dan setia, yang selalu memberikan semangat hidup untuk suami tercintanya.

"Ternyata ketika kita memilih lelaki untuk pendamping hidup, bukan semata-mata kita melihat lelaki itu dari sisi harta kekayaannaya, tetapi kita melihat kedekatannya kepada Tuhannya. Kalau dia tidak dekat dengan Tuhannya yang selalu memberikan dia kenikmatan, tetapi dia melupakannya, bagaimana denganku yang manusia biasa. Malah aku dicampakkan dan dilupakannya, Astagfirullah," batinku.

Hari demi hari pun kujalani bersama keluargaku. Aku melihat ayahku semenjak mendapatkan pekerjaan, ia semakin taat tuk beribadah. Walaupun gaji yang besar ia dapatkan tetapi tak melumpuhkan hatinya untuk beribadah kepada Tuhannya. Saatnya aku pergi ke sekolah seperti biasanya. Aku diantar oleh ayahku. Biasanya aku pergi sendiri tanpa diantarin. Tapi hari ini beda dengan hari biasanya. Ayahku mengantarku dengan motor barunya. Betapa senangnya aku dan ayahku dapat membeli kendaraan untuk kebutuhan kami. Seusai tiba di sekolah, aku disapa oleh Hafiez, padahal ayahku masih ada disitu. Ia menyapaku dan ayahku.

"Assalamualaikum, Diyana, Om...," sapanya.

"Waalaikumusslam," serentak aku dan ayahku.

"Perkenalkan Om, ini aku, Hafiez, teman kelasnya Diyana," jelasnya.

"Oh iya, teman baik ya dengan anak Om. Tegur dia kalau lalai dalam setiap pelajaran," pinta ayahku.

"Insya Allah Om, sesanggup saya menegurnya," ujar Hafiez sambil tersenyum malu. Akhirnya kami memasuki kelas dengan bersamaan. Aku pun dan dia mulai terasa dekat. Tapi aku selalu ingat dengan pesan-pesan ayahku. Aku harus mampu menjaga hati ini. Jangan sampai cinta membuatku buta untuk segalanya. Aku hanya berdoa kepada Sang Rabbi, untuk menjaga hati ini, biar tak sampai zina hati. Dan aku tahu, bahwa Hafiez adalah laki-laki yang baik.

Tak sengaja, aku menemui sebuah surat di atas lantai kelas ketika aku sedang piket siang yang berisi kata-kata jatuh cinta, ternyata surat itu milik Hafiez. Langsung saja aku membacanya, kala itu orang sedang tak ada di kelas, karena sudah pada pulang, sedang Hafiez hari ini dijemput oleh orang tuanya. Makanya ia cepat pulang.

Ketika aku mulai membacanya, aku duluan terkejut, karena ada namaku paling atas. Aku tak kuasa untuk melanjutkan baca isi suratnya. Karena di awal surat itu ia sudah bilang, bahwa ia sedang jatuh cinta dengan wanita yang kelahiran Jakarta. Dan di kelas itu hanya aku seorang yang lahir di Jakarta. Aku tak tau kenapa ini bisa terjadi, padahal ayahku baru saja menceritakan bagaimana cara membendungi jatuh cinta. Dan semua ini aku tak mengundangnya, tapi apa buat, cinta itu sesuatu yang tak diundang, melainkan datang sendiri. Aku juga tak bisa memarahinya kalau ia jatuh cinta kepadaku, karena itu sudah fitrah manusia. Setelah aku menemukan suratnya, langsung aku meletakkan balik di atas lantai dekat dengan bangkunya. Dan aku pun meninggalkan kelas menuju mobil angkot.

Sesampai di rumah, handphone tiba-tiba berdering. Ternyata ada pesan masuk.

"Assalamualaikum, by Hafiez." sapa Hafiez dengan berikan tanda emotikon senyum. Terkejut batinku. Kenapa tiba-tiba Hafiez dapat meng-SMS ku, sedang ia tak mempunyai nomor handphone ku. Entahlah, batinku.

"Wa'alaikumussalam," jawabku telat membalas pesannya. Setelah ku jawab, tak ada balasan lagi darinya. Mungkin ia mencoba untuk meng-SMS ku, dan mungkin dia mau melihat bagaimana reaksiku. Untung saja aku hanya menjawab dengan tidak ada kata-kata yang dapat menimbulkan pertanyaan. Aku berusaha untuk tidak menampakkan ekpresiku bahwa aku telah mengetahui isi hatinya. Aku lalui hidupku di masa SMA ini dengan ada seorang lelaki yang mencintaiku. Aku mau melihat, apakah dia termasuk laki-laki yang seperti dikatakan ayahku.

Seiring dengan gemulainya rumput yang bergoyang, seirama dengan tegarnya batu yang dihempas sang ombak, Tiada henti-hentinya aku menjaga perasaan ini hingga akhirnya aku tamat SMA. Ternyata, aku dan Hafiez pisah seusai SMA. Aku tak tau keberadaanya. Mungkin begitu juga dengannya. Aku hanya saja berdoa kepada Allah semoga diberikan jodoh yang terbaik untukku, dan aku harap dia masih memiliki perasaan jatuh cinta kepadaku. Aku bangga memiliki teman seperti dia yang memendam perasaan sampai usai SMA. Hati yang begitu tegar menurutku. Tapi aku tak tau di luar sana, apakah dia masih Hafiez yang sama seperti yang ku kenal dulu. Entahlah, batinku.

Setelah sekian lama aku menjalani kuliahku, tak di duga ternyata rezeki tidak kemana-mana. Aku mendapatkan tawaran untuk tukar pelaja ke luar negeri. Aku termasuk 10 oarang mahasiswa dari Indonesia yang akan tukar pelajar ke Jepang. Ayah dan ibuku sangat terharu dengan prestasiku, walaupun aku dulu telat masuk sekolah karena latar ekonomi yang rendah. Kemudian aku diberikan syarat-syarat untuk keberangkatanku nanti ke Jepang, negara yang pernah ku nanti-nantikan bersama Hafiez.

"Seandainya saja di sepuluh orang itu ada termasuk namanya, pasti tambah bahagia diriku," batinku. Perjalanan ke Jepang pun ku lalui, akhirnya aku pun sampai ke Jepang. Dan para mahasiswa tukar pelajar sibuk dengan sendirinya, termasuk aku. Aku tak tau bagaimana aku menjalani hidup sendirian disini, karena di sepuluh orang itu hanya saja aku yang berasal dari universitasku. Tapi tak apa, tak membuatku lemah. Aku harus ingat pesan-pesan dari ayahku kepadaku.

Tiba-tiba, dari jarak kejauhan, aku melihat seseorang yang tak asing bagiku. Ia adalah temannya Hafiez. Karena sempat dulu Hafiez mengatakan, bahwa yang cinta dengan Jepang bukan hanya saja aku dan Hafiez, melainkan sahabatnya, Baihaqi.

"Assalamu'alaikum...," sapanya dengan senyuman.

"Wa'alaikumussalam, kamu sahabatnya Hafiez, bukan?" tanyaku dengan senyuman.

"Haha, ternyata kamu masih ingat denganku, ku kira kamu hanya mengingat Hafiez doang," candanya. Langsung terbesit di benakku untuk menanyakan keberadaan Hafiez.

"Ngomong-ngomong, Hafiez sekarang ada dimana,??" tanyaku dengan nada rendah. Ketika aku menanyakan tentang keberadaan Hafiez, Baihaqi sempat terdiam. Aku tak mengerti dengan gerak-geriik dia. "Kamu ga tau ya, Din, Kalau Hafieeeezzzzzzz.......," dia tak menyambungnya.

"Kalau Hafiez apa, yang jelas dong, Bai. Kamu buat penasaranku saja," gumamku.

"Kamu bener-bener ga tau ya, Din, kalau Hafiez sudah menikah?".ujarnya dengan nada kasihan. Tak senagaja pop ice yang ku pegang terjatuh. Aku tergepak dia bilang seperti itu, seakan ada badai yang menghembus tubuhku. Tak lama dari dia bilang seperti itu, dia melanjutkan perkataannya.

"Tapi Din, setelah beberapa hari dia menikah, istrinya meninggal dunia. Karena Hafiez menikah dengannya bukan karena cinta, melainkan permintaan dari ayah wanita itu. Karena ayah dari wanita itu sangat dekat dengan keluarga Hafiez, dan wanita itu meminta sesuatu kepada ayahnya untuk menikahkannya dengan Hafiez, karena dia ingin mewujudkan impiannya untuk menikah dengan Hafiez sebelum dia dipanggil oleh Sang Khaliq," jelasnya.

"Sungguh kasihan wanita itu. Dia mengidap penyakit apa, Bai?" tanyaku.

"Aku kurang tau, Din, penyakitnya. Intinya Hafiez masih memiliki rasa yang dulu sama wanita yang dia senang untuk menolongnya waktu pelajaran komputer dulu," ujarnya sambil tertawa. Aku pun paham maksudnya, hanya saja aku pura-pura tidak paham.

"Din, kamu tahu, bahwa Hafiez sekarang tau keberadaan mu sekarang, dan dia ada niat untuk terbang ke sini hanya untuk mejemputmu," jelasnya denagan gaya bicara seolah-olah menyakinkan.

"Kita buktikan saja nanti," jawabku dengan nada rendah. Hari demi hari ku jalani sambil menunggu kedatangan Hafiez seperti yang dikatakan Bayhaqi tadi. Tiba-tiba Baihaqi menarikku ke arah rumah sakit terdekat dari posisiku. Aku tak paham dia mengajakku untuk ke rumah sakit untuk apa, hanya saja aku menurutinya.

Sesampai di rumah sakit, aku dan Bayhaqi memasuki ruang UGD, ternyata di dalam sana adalah Hafiez yang dibalut dengan perban karena luka. Dia mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju tempat kampusku dan Baihaqi. Tak lama dari kami menunggu, Hafiez pun siuman dari pingsannya. Dia tersenyum melihatku ada di sampingnya ketika dia sedang kesakitan.

"Di...ya...na...," sapanya dengan nada terbata-bata.

"Iya Fiez, ada yang bisa aku bantu?" pintaku.

"Aku ingin mengatakan sesuatu, dan sesuatu itu aku pendam 10 tahun yang lalu," ujarnya. Jantungku langsung berdebar, mungkin inilah saatnya dia mengungkapkan isi hatinya kepadaku seperti yang ada di surat itu.

"Aku mencintaimu karena Allah, Din," katanya dengan senyuman.

"Kalau kamu mencintaiku karena Allah Fiez, kamu jumpai ayahku, karena ayahku mengatakan laki-laki yang tangguh dan pemberani itu ialah dia yang berani langsung menjumpai ayahnya," tambahku.

Tak lama kemudian, tiba-tiba dokter memeriksa kondisi tubuhnya. Ternyata Hafiez mengidap penyakit kenker tulang. Aku pun menangis dengan informasi yang diberikan oleh dokter kepadaku dan Baihaqi. Aku sangat takut tentang kondisi Hafiez kalau dia tau, pasti dia terasa terpukul dengan semua ini.

Akhirnya Hafiez pun tau tentang kondisi tubuhnya, dia meresponnya dengan wajah yang seakan-akan itu penyakit sepele. Ternyata dia orangnya sangat pasrah apa yang diberikan oleh Allah, hanya saja dia beristigfar untuik diberikan yang terbaik untuk tubuhnya. Ketika aku mengetahui sifat baiknya, bertambah besar cintaku terhadapnya. Aku mulai tak sabar untuk dia menjumpai ayahku. Aku tak peduli dengan kondisi buruknya sekarang, karena aku yakin bahwa Allah memberikan yang terbaik buatnya.

Keesokan harinya, Hafiez pun diperiksa lagi oleh dokter, bahwa penyakit kankernya itu dapat diatasi, dan dia pun boleh meninggalkan rumah sakit ini karena kondisi tubuhnya mulai membaik. Akhirnya Hafiez pun mengajakku untuk pulang ke Indonesia, dan study ku pun telah selesai. Sesampai di Indonesia, Hafiez minta kepadaku untuk menuntunnya datang kerumahku, karena dia tak tau alamat rumahku sebelumnya. Sesampai di rumahku, kami pun masuk ke rumahku, langsung dia menyapa ayahku dan mengatakan maksud kedatangannya kesini.

"Pak, saya Muhammad Hafiez, dengan kedatangan saya hari ini untuk melamar putri bapak," ujarnya dengan rasa menyakinkan si Bapak.

"Masya Allah, kamu adalah laki-laki yang pemberani dan memiliki jiwa yang tangguh dalam hidupmu. Mungkin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dari pada putri bapak di luar sana," jelas ayahku dengan senyuman.

"Maksud bapak?" tanyanya dengan nada terkejut.

"Maaf sebelumnya, Nak. Bapak bukan bermaksud nolak lamaranmu, tetapi putri bapak sudah duluan lelaki lain yang memiliki," jelas ayahku. Dengan langsung dia meninggalkan sofa yang dia duduki tadi. Karena merasa menyesal untuk tidak duluan melamarku.

Tak lama kemudian, ayahku menyapaku, dan meminta maaf kepadaku bahwa ayahku tak beri tahu duluan bahwa ada kawan anak ayahku meminangku. Akupun terkejut dengan berita itu. Langsung fikiranku ke Hafiez.

"Jadi bagaimana dengan Hafiez, Yah...?" tanyaku dengan nada kesal.

"Ayah terpaksa menolaknya, Nak," dengan nada bersalah.

"Ya sudahlah yah, aku turuti permintaan ayah, mungkin ini yang terbaik yang diberikan oleh Allah kepadaku," ujarku dengan nada bersedih. Handphone ku pun berbunyi, ternyata pesan dari Baihaqi.
"Diyana, kamu harus tau bahwa Hafiez kecelakaan dan dia tewas di tempat,".

Langsung aku tak membalas SMS-nya, dan aku menjerit menangis dengan semua ini. Ibuku aneh melihatku, langsung ibuku memelukku, dan melihat pesan dari Bayhaqi. Dan ibuku paham dengan semua ini. Ibuku menyuruhku untuk menjumpai jenazahnya untuk terakhir kalinya. Aku tak sanggup untuk melihat kejadian ini. Aku hanya berdiam diri di rumah, aku pasrah dengan semua ini. Aku belum menemui jawaban dari semua kejadian ini.

Hari berganti hari, dimana aku dipertemukan ayahku dengan calon suamiku. Aku tak mampu dengan semua ini. Aku berusaha menampakkan tegar di hadapan ayah dan ibuku. Akhirnya aku dan keluargaku bertemu dengan keluarga calon suamiku. Dan ketika sampai disana aku tak melihat seorang pria dari keluarga mereka.

"Ayah, mana lelaki yang ingin ayah nampakkan ke aku," gumamku.

"Sabar, nak, bentar lagi dia sampai, sekarang dia lagi dalam perjalanan," ujar ayahku. Aku pun menunggunya. Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti dan ada seorang pria yang keluar dari mobil tersebut. Jantungku terus berdebar, aku semakin penasaran dengannya.

"Masya Allah, apa maksud semua ini, apakah Baihaqi jodohku sebenarnya,?" batinku dengan rasa sedih.

"Nah, itu dia yang kita tunggu dari tadi," ujar ayahku dengan rasa bahagia.

Berarti inilah jawaban dari Engkau ya Allah, dan aku sangat yakin ini ada hikmah yang begitu besar dari-Mu yang engkau turunkan kepadaku laki-laki pendamping hidupku yang tidak jauh beda dengan Muhammad Hafiez, sahabatnya.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Diyana Nasir Widjaya sebagai pemenang.

Diyana Widjaya 
Bernama pena Day. Lahir 29 Juni 1998 di Kuala Lumpur. Bertempat tinggal di Aceh. Anak Pertama dari empat bersaudara yang dibesarkan keluarga yang religius. Sejak kecil saya didik untuk mandiri mulai dari berangkat sekolah dan mengerjakan tugas. Sehingga saat ini saya merasakan hasil dari didikan mandiri itu dari orang tua saya. Moto hidup yang saya pegang yaitu 
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِى سَبِيْلِ اللَّهِ حَتَى يَرْحِعَ
Artinya :Barang siapa yang keluar dalam menuntut ilmu maka ia adalah seperti berperang di jalan Allah hingga pulang. (H.R.Tirmidzi)





0 comments:

Post a Comment