Saturday, 8 April 2017

Hujan, Bayi, Rangga dan Pacarnya Nadia (Awas Salah Sangka)

Hujan, selalu dekat dengan kenangan. Ah, bukan. Hujan selalu dekat dengan genangan. Becek, kotor, berlumpur pula. Siapa coba yang suka? Iya, siapa yang suka? Suka hujan? Nyatanya, yang suka hujan banyak sekali. Soalnya, setiap hujan, aku bisa menangis tanpa ada satupun orang yang melihatnya –kata teman saya begitu.

rian-ss.blogsopt.com
Ah, masa. Saya tidak yakin. Tapi saya tertarik untuk membuktikannya. Maka saya pun mencobanya saat di rumah. Ketika hari sedang hujan, saya menangis di dalam kamar. Tiba-tiba kakak saya masuk. Dia menatap saya heran.

“Kamu nangis?” tanyanya dengan nada mengintimidasi.

Kok kakak bisa lihat?” saya tanya balik.

“Itu air mata kamu, sudah mirip  got meluap.” cetusnya sewot. 

Saya pun kecewa. Ternyata teori teman saya salah. Sangat salah.

“Kamu kenapa nangis? Patah hati?” tembaknya. Saya tambah manyun. 

Selalu ya? Orang nangis itu patah hati? Kalau setiap tangis selalu identik dengan patah hati, berarti bayi yang baru lahir patah hati dong. Siapa yang berani mematahkan hatinya? Di dalam kandungan? Apa dia punya kekuatan telepati? Yang bisa membuat dia merasakan kehadiran bayi lain di rahim yang berbeda? Kemudian keduanya berkomunikasi, lantas jatuh cinta. Dan akhirnya, dia langsung menangis ketika lahir di dunia, sebab dia tidak akan bisa bertelepati-telepati ria dengan kekasih hatinya. 

Bisa jadi sih seperti itu. Siapa yang tahu coba. Tidak ada salahnya kita berimajinasi. Yang salah itu kalau korupsi. Kenapa salah? Karena orang korupsi makan uang rakyat. Masa manusia makan uang rakyat. Harusnya kan makan nasi. Iya kan? Saya tahu kalian mulai kesal baca ini. Tapi jangan menyerah untuk lanjut membaca. Biar kalian semakin kesal sama saya. Nanti, siapa tahu bisa jadi cinta. Kan kalau di sinteron, seringnya ada cerita semacam itu. Kesal jadi cinta. Benci jadi cinta. Musuh jadi cinta. Lama-lama saya mikir, nanti akan terlalu banyak cinta di dunia ini. Kasihan Rangga nanti, dia bingung mau milih cinta yang mana. Pilih cinta yang ini saja Bang Rangga. Yang nulis tulisan ini. Cinta yang asli dua puluh empat karat. Ngarep.

Kok sampai ke Rangga? Memang tadi ngomongin apa? hujan? bayi? Terus apa hubungannya dengan Rangga? Ah semua hal tidak harus didasari dengan hubungan, kalau akhirnya tetap harus berpisah –tsahh. Kelihatannya saya kebanyakan baca novel romantis deh, jadi tulisannya menjurus ke arah baper terus. Iya, baper terus. Tapi syukurlah kalau masih menjurus ke baper, daripada menjurus ke hati kamu? Iya kamu, kamu, yang sudah punya pacar, yang pacarnya punya inisial Nadia Erika. Eh, itu bukan inisial ya, maaf keceplosan. Biasa, perempuan sirik kan begitu. Siapa yang sirik? Ya saya. Masa tetangga saya. Dia kan cowok. Masak dia sirik sama Nadia. Berarti dia titik-titik dong. Isi aja sendiri titik-titiknya. Yang bisa jawab benar, saya kasih mie gemes.

Oh iya, tentang kamu, pacarnya Nadia itu. Sebenarnya, saya mau cerita tentang kamu. Anggap saja, cinta saya bertepuk sebelah tangan. Karena, kalau bertepuk dua tangan, namanya tepuk tangan donk. Kan kurang menyentuh kalau judul ceritanya saya buat “cinta bertepuk tangan”. Kesannya jadi kayak kisah cinta yang bahagia, padahal kan kisahnya sedih sekali. Teramat sangat sedih, sampai-sampai ibu di pengajian ikut menangis ketika mendengar da’inya berceramah. Soalnya menyentuh. Loh? Kok malah gak nyambung? Maaf-maaf salah fokus. Efek patah hati. Dimaklumi ya.

Jadi ceritanya begini, si pacarnya Nadia itu, suka sama saya. Menurut saya sih gitu. Anggap aja gitu ya. Biar kesannya saya itu cantik dan mempesona. Meski aslinya agak dekil sih. Nah, si pacarnya Nadia itu berusaha mendekati saya, dan saya tidak keberatan. Soalnya saya belum tahu kalau dia sudah pacaran sama Nadia. Ketika hubungan kami sudah semakin dekat, tiba-tiba ibu saya membangunkan saya. Katanya sudah siang, saya disuruh nyuci baju. Saya akhirnya sadar, kalau si pacarnya Nadia itu suka sama saya cuma dalam mimpi. Yah, kirain beneran. Ternyata cuma mimpi. 

Karena, pada kehidupan sesungguhnya, si pacarnya Nadia memang gak suka saya. Dia jelas lebih suka sama Nadia. Secara tuh ya, Nadia perempuan cantik jelita yang mulus dan berkilau. Mungkin dia mandinya pakai shampoo ya –secara kan ada tuh iklan shampo, yang nampilin cewek dengan rambut berkilau. Jadi saya mikir, mungkin si Nadia memang pakai shampoo sebagai sabun seluruh badan. Makanya kulitnya berkilau. Nadia mah curang. Saya juga bisa kalau caranya seperti itu. Oke deh, mulai besok saya mau beli shampo seperti di iklan itu. Siapa tahu badan saya jadi berkilau. 

Tapi saya mikir, kalau ibu saya sampai tahu, mungkin dia mikirnya saya sedang tidak sehat. Terus saya dibawa ke dukun, terus di jampi-jampi. Di semprot pake air. Mending ya, kalau abis di semprot, muka saya langsung berubah jadi Katty Perri gitu ya. Nah ini, muka saya masih konsisten gitu-gitu aja. Muka standar, yang masih harus di upgrade dengan pelembab, dan segala macam bedak supaya keliatan lebih cling. Yah, maklum ya, kulit saya kan eksotik. Di sukai semut. Kok bisa? Kan hitam manis. Seperti kecap. Oh tidak, nanti saya bisa mirip Malika dong, si kedelai hitam itu.

Ya sudah lah, saya rasa kalian sudah darah tinggi baca tulisan saya yang gak penting ini. Saya sudahi dulu cerita saya. Sebelum kalian melempar botol ke arah saya. selamat pagi menjelang siang. Hati-hati di perjalanan.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Dwi Fikriyah sebagai pemenang.

Dwi Fikriyah

Lahir di Probolinggo, 25 Juli 1992. Lulusan S1 Pendidikan Profesi Guru. Lebih memilih berdiam diri di rumah dan menulis apa saja. Siapa tahu, besok saya terkenal karena tulisan saya. Amin.




1 comment: