Monday, 10 April 2017

Hutang Itu....

Aku hidup di kalangan keluarga yang harmonis. Tinggal di sebuah desa kecil yang terkenal dengan serabi kuah dan Tugu Palagan Ambarawa. Hidup tenang di desa tanpa sibuk dengan hiruk pikuk perkotaan, tapi kami tetap bisa mengenal perkambangan modernisasi yang pesat. Aku adalah sulung dari tiga bersaudara. Aku Dini, adik kaki-lakiku Ikhlas yang hanya selisih 21 bulan denganku dan si bungsu cantik Aulia. Aku terlahir dari bapak yang berdarah Jawa dan seorang ibu rumah tangga berdarah Lombok. Sejak menikah dengan bapak, ibu sudah biasa dibawa merantau karena bapak seorang konsultan jalan tol. 

infoyunik.com
Sempat ikut bapak berpindah-pindah proyek, ibu memutuskan untuk tinggal di desa kecil itu saat kami mulai bersekolah. Bapak yang harus mengalah pulang sebulan sekali atau dua kali tergantung jauh atau dekatnya proyek dari rumah kami. Kami sudah terbiasa ditinggal bapak, tapi masih saja rasanya sedih setiap kali melepas bapak pergi untuk bekerja. Kami juga sangat ingin seperti teman-teman lain yang bapaknya berada di rumah setiap hari. Namun, semakin dewasa, kami semakin mengerti kalau semua ini memang harus ikhlas dijalani. Meski tidak melimpah harta, tapi kehidupan kami berkecukupan sampai kami bisa sekolah di sekolah negeri favorit yang ada di luar kota dan adikku masuk SMK swasta yang berada di kota yang sama denganku sekolah. Fasilitas sekolah standar pun kami miliki dengan merek yang biasa saja tak seperti teman-teman yang lain.

Lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri di Solo. Bapak mulai merasa harus memiliki usaha sampingan untuk menyiapkan masa pensiunnya nanti. Beliau tak ingin terus menerus bekerja di proyek sampai tua. Ibuku yang hobinya memasak memang sudah sering menerima pesanan snack untuk beberapa acara skala home made. Namun, sepertinya belum cukup menjanjikan untuk menjadi bisnis besar karena kebutuhan masyarakat  pedesaan akan catering belum terlalu besar. Mereka sempat memberanikan diri membuka toko onderdil dengan modal seadanya, tapi karena ibu mulai sibuk di sebuah lembaga pembiayaan UMKM yang dibuat pemerintah, toko yang baru berjalan beberapa bulan itu dipercayakan kepada adik bungsu bapak. Saat itu ibu dan bapak memberanikan diri mengontrak toko milik sepupu bapak berharap mendapat harga yang agak murah karena tak punya uang banyak untuk usaha. Ternyata, hasil toko itu tidak banyak disetor kepada ibu dan bapak akhirnya semua habis tak bersisa sedangkan uangnya tidak terkumpul.

Ibuku mencoba usaha lain, ia membeli mobil L300 tua yang masih layak pakai dengan harga yang agak murah untuk disewakan berharap uang sewanya dapat untuk menutup hutang pembelian mobil itu baru kemudian memberi untung. Namun, sepertinya usaha itu juga tidak berjalan dengan baik. Tak banyak orang yang mau menyewa mobil tua meski mesinnya masih tahan untuk bisa berkendara jauh. Semua usaha kami pun tak ada yang menghasilkan. 

Di tengah semua kebuntuan usaha dengan meninggalkan sisa hutang yang lumayan, adik laki-lakiku yang baru saja lulus sekolah mengalami kecelakaan di Solo. Rahangnya retak sehingga harus operasi. Saat itu, kami tidak memiliki kartu miskin karena keluarga kami dipandang masih berkecukupan sehingga pengurus RT setempat tak memberikan rekomendasi keluarga tidak mampu untuk meringankan beban rumah sakit. Tak ada asuransi yang dimiliki bapak sehingga kami harus pinjam kesana kemari untuk menutup biaya rumah sakit yang cukup mahal. Apalagi rumah sakitnya juga rumah sakit swasta di Solo yang harus menempuh jarak tiga jam dari rumah kami. 

Bekas luka operasinya terjadi infeksi sehingga harus dilakukan operasi ulang oleh dokter bedah plastik. Ikhlas tidak tega melihat orang tua kami pontang panting cari uang untuk operasinya sehingga ia meminta untuk tidak operasi lagi. Tak ada orang tua yang tak sedih melihat anaknnya kesakitan seperti itu. Nanah mengalir setiap hari jadi kami harus mengganti perbannya setiap dua tiga kali sehari. Ibu dan bapak tidak tega melihat keadaan adikku, mereka pun memutuskan untuk menyetujui operasi kedua dengan resiko harus meminjam lagi biaya rumah sakit.

Bentuk muka adikku menjadi lebih baik setelah operasi kedua, tapi orang tuaku benar-benar kehabisan uang untuk biaya adikku. Ditambah adikku yang sudah diterima kerja percobaan di Unilever Surabaya tidak bisa memperpanjang kontraknya karena tidak lulus tes fisik. Orang tuaku mencari cara bagaimana agar dia tetap bisa melanjutkan sekolah D1 yang berikatan dinas di Wearness. 

Dua bulan setelah keadaan adikku membaik dan adikku juga sudah diterima kuliah, keadaan kami menjadi lebih tenang. Namun, sebuah fakta yang selama ini tak kami ketahui terkuak seperti bom yang langsung meluluhlantakkan semuanya. Sebuah sms yang kuterima dari ibuku di sela kegiatan kuliahku membuatku tidak tenang. Beliau meminta maaf kalau belum bisa membahagiakan kami. Minta maaf kalau beliau telah salah menilai semua dengan materi dan tidak pernah ada untuk kami akhir-akhir ini. Aku semakin tidak mengerti. Saat menelpon ibuku, terdengar isak tangis beliau, tapi beliau tak mau menceritakan apa yang terjadi. Bapak menceritakan padaku kalau ternyata ibuku memiliki hutang yang cukup besar di seorang rentenir. 

Orang yang selama ini sering kerumah dan terlihat baik, ternyata dialah orangnya. Dia mengajak ibuku mengelola uang kakaknya untuk dipinjamkan ke orang-orang dengan bunga tertentu dan mereka mendapatkan untung dari itu. Mungkin inilah teguran Tuhan pada keluarga kami. Bapak dan aku tak pernah tahu tentang hal ini. Ternyata, uang yang tadinya sedikit dipinjam oleh ibuku, lama kelamaan semakin menggunung. Beliau tidak sanggup membayar bunga yang begitu besar sehingga meminjam lagi untuk membayar bunga yang membuat hutangnya terus menumpuk. Dengan meminjam nama beberapa orang, akhirnya semua baru terbongkar pertengahan tahun 2011. 

Tangis itu pun tak terbendung meihat ibuku kurus dalam seminggu. Tak pernah berhenti menangis karena terror dan ancaman terus bergulir. Orang yang dulu bekerjasama dengannya kini mengancamnya dengan berbagai cara untuk bisa mendapatkan uangnya. Mengancam membakar rumah, meracuni kami anak-anaknya bahkan sampai menyuruh ibuku menjualku pada seorang pria kaya yang mau membayar hutangnya. Hidup kami mulai tidak tenang. Setiap hari yang dilakukan ibuku hanya menangis dan kebingungan kesana kemari mencari uang yang diminta oleh orang itu. Semua sertifikat ada di tangannya dan minta untuk dibalik nama untuk dapat membayar hutangnya. Kenyamanan dan ketenangan berubah menjadi kecemasan dan ketakutan. Tawa dan canda itu berganti tangis dan pesimis. 

Bapak juga tidak bisa berbuat apa-apa, gaji sudah habis untuk membayar hutang pengobatan adikku. Disaat yang sama, aku harus membayar uang semester untuk masuk ke semester 6. Sayang kalau harus putus di tengah jalan, aku harus mencari cara agar tetap bisa melanjutkan kuliahku sampai sarjana. Bukan untukku, tapi untuk kedua orang tuaku dan pengorbanan mereka sampai bisa ke titik ini. Ku beranikan diri bicara pada pembimbing akademik ku tentang permasalahan membayar uang kuliah. Beliau pun mencarikan jalan keluar dengan mencari beasiswa. Saat itu, belum ada beasiswa yang keluar sehingga aku harus menggunakan dana talangan kampus yang nantinya akan dipotong langsung saat beasiswanya cair.

Aku masih bisa terus melanjutkan kuliah di tengah carut marut keluargaku yang semakin keruh. Gaji bapak terus diminta, ibuku beberapa kali minta solusi dengan pulang ke Lombok untuk menenangkan diri. Bapak tidak berani pulang karena terus dirongrong uang oleh si rentenir. Aku pun jadi jarang pulang karena tak bisa membantu apapun dengan keadaan seperti ini. Mencari pekerjaan sampingan menjadi guru private terkendala tidak punya motor, mencari pekerjaan sampingan yang lain pun sulit karena aku tidak memiliki sarana transportasi yang fleksibel. Adikku yang baru masuk kuliah pun harus menjadi penunggu warnet untuk membiayai kehidupan sehari-harinya di Semarang. Adik bungsu perempuanku yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar yang tidak tahu apa-apa harus menelan pil pahit keadaan ini. Entah mengerti atau tidak, ia hanya bisa diam melihat kami yang menangis bersama di sebuah kamar mencari solusi. Ibuku terus saja menangis dan menyalahkan diri sendiri sampai pasrah kalaupun bapak mau menceraikannya. Namun, bapak memang sosok yang sangat bijak. Beliau malah minta maaf karena mungkin semua ini karena beliau kurang memberi nafkah dan kurang mengontrol apa yang ibu lakukan selama ini. Beliau terlalu percaya pada ibu, meski sesekali menasehati ibu. Nasi sudah menjadi bubur. Keluarga kami benar-benar hancur berantakan.

Barang-barang di rumah satu persatu diangkut oleh orang yang mengaku namanya dipinjam oleh ibuku. Komputer, meja makan, buffet, kursi. Semua. Semua diangkut. Banyak orang berdatangan mengaku namanya dipinjam, uangnya dipinjam dan ternyata terlalu banyak dan rumit. Ibuku benar-benar menyimpannya dengan rapi selama ini hingga semua baru terbuka dalam sekejap. Menyesal bukan jalan keluar, tapi menghadapi dan mencari solusi adalah keharusan.

Satu persatu tanah kami diambil, dibalik nama agar dapat dijual oleh si rentenir. Salah satunya sawah yang disertifikat atas namaku sehingga mau tidak mau aku harus datang untuk tanda tangan di depan notaris dan melihat muka si rentenir keji itu. Tak ingin menyimpan dendam, aku lebih memilih banyak diam. Bapak pun demikian, tapi rumah yang kami tempati masih belum bisa diambilnya karena masih tergabung dengan tanah dengan atas nama kakek dan kakekku tidak mau tanda tangan apapun. Meski sertifikat itu dipegangnya, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. 

Yang lebih menyakitkan, keluarga dan teman ibuku satu persatu menghilang. Kami dikucilkan seperti orang yang sudah melakukan perbuatan menjijikkan. Kami seperti dibuang. Adik-adik kandung bapak pun memperlakukan kami seperti manusia menjijikkan yang tidak pantas laki dipandang karena ada hutang kami padanya. Kami pun menyisihkan diri, membuat jarak agar tidak sedih melihat tatapan jijik mereka. Hanya Allah SWT tempat kami mengadu dan bersandar. Doa menjadi kekuatan terbesar kami disaat semua tak lagi ada.

Polisi pun datang kerumah untuk menanyakan keadaan yang sebenarnya atas laporan adik si rentenir. Bukannya melanjutkan perkara itu, tapi dia malah menyarankan kami untuk pindah saja ke tempat lain karena terlalu rumit perkara yang sedang ibuku hadapi. Ibu dan adik bungsuku memutuskan untuk pindah ke Lombok dengan seizin bapak. Bapak masih melanjutkan proyek di Surabaya, aku menyelesaikan kuliah dan adik laki-lakiku mencari pekerjaan di Semarang. Selesai kuliah, aku pun menyusul ibuku ke Lombok. Mencari pekerjaan dan hidup di tanah kelahiranku. Membangun semuanya kembali dan semakin mendekatkan diri padaNya. Mengambil hikmah dari semua kejadian itu, kami pun berusaha melunasi hutang selain di rentenir itu sedikit demi sedikit. Mengganti semua nomor, memulai hidup baru dengan orang-orang yang mau menerima kami. Satu persatu kami dapat menyelesaikan masalah dengan ketenangan dan kedamaian. Hidup di lingkungan orang-orang yang tak lagi menatap kami menjijikkan, tapi menerima kami dengan tangan terbuka dan kasih sayang.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Venti Dini Rahmantika sebagai pemenang.

Venti Dini Rahmantika

Biasa dikenal dengan Shafa Farera, lahir di Lombok 28 tahun yang lalu. Menulis adalah passion untukku. Semua kutuangkan dengan tulisan di Kompasiana dan Blogger. Tulisanku pernah dimuat di surat kabar lokal saat masih duduk di bangku SMA dan saat kuliah aku pernah memenangkan sebuah lomba cerpen bersama tunanetra. Sejak dikarunai seorang putri kecil, hobi menulisku sedikit terkesampingkan karena fokusku padanya. 


0 comments:

Post a Comment