Tuesday, 25 April 2017

Impian Si Anak Kardus

Tak sengaja aku melihatnya. Berjalan setapak menelusuri sepanjang jalan raya. Dia hidup di lingkungan yang kumuh. Sampah di mana-mana. Lalat-lalat terbang kesana kemari tanpa ada yang mengusik. Melihat keadaannya yang tak sewajarnya, hati ini tergerak untuk menghampirinya.


“Selamat siang dek. Boleh kakak duduk di sini bersamamu?”

“Iya kak boleh. Tapi ini kotor, nggak papa iya kak,” jawabnya dengan nada lirih.

“Iya nggak papa kok dek. Kakak mau nanya boleh nggak?”

“Boleh kak silahkan.”

“Adek kok ada di sini? Emang nggak sekolah iya?”

“Aku udah nggak sekolah kak,” sahutnya dengan raut wajah sedih.

“Lo kenapa? Ada masalah? Coba cerita sama kakak.”

“Aku nggak pernah merasakan yang namanya sekolah. Karena sejak kecil aku sudah hidup sendiri di rumah kardus ini.”

“Oo begitu ya. Kalau boleh tau, cita-citamu ingin jadi apa?”

“Aku ingin jadi orang kaya yang dermawan. Aku ingin kelak bisa membantu orang-orang yang kurang mampu untuk mencukupi hidupnya serta menyekolahkannya. Karena berada di posisi mereka tidaklah nyaman dan mudah.”

Hatiku tersentuh saat mendengar jawaban Didin, nama anak itu.

“Oo begitu. Pokoknya kamu nggak boleh putus harapan.Harus terus berjuang demi cita-citamu dan bangsamu. Semoga apa yang kamu inginkan dan kamu cita-citakan dapat tercapai. Udah dulu iya dek, kakak mau meneruskan perjalanan dulu.”

“Iya kak, hati-hati di jalan!”

Akupun memutuskan untuk beranjak dari tempat itu meneruskan perjalananku untuk sampai ke kampus.

Setiap hari saat aku pergi ke kampus, aku selalu melewati jalan yang sama. Jalan yang saat itu aku bertemu dengan Didin. Namun setiap kali aku melihatnya, dia selalu berjalan sendiri. Tak ada satu orangpun yang kutemui berjalan dengannya. Beberapa hari kemudian, aku memutuskan untuk menghampirinya kembali.

“Didin,” sapaku.

“Eh kak Bella.”

“Sini bentar dek. Kakak pengen ngobrol nih sama kamu.”

“Iya kak sebentar.”

Diapun berjalan lurus mendekatiku dan duduk disampingku.

“Ada apa kak?”

“Nggak ada apa-apa kok dek. Cuma pengen ngobrol aja sama kamu.”

“Oo iya kak silahkan. Aku juga mau istirahat dulu nih masih capek.”

“Oh iya dek, kakak kan biasanya kalau berangkat kuliah selalu lewat sini, tapi setiap kakak lihat kamu, kamu selalu sendirian. Emang orang tuamu kemana? Atau saudara-saudaramu?”

Dia tak mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Malah air mata yang keluar dari kedua matanya.

“Lo kenapa Didin nangis? Apa kata-kata kakak ada yang menyinggung Didin ya? Maaf ya dek. Kakak nggak ada maksud kayak gitu ke kamu,” kataku dengan nada cemas.

“Nggak kok kak. Kakak nggak salah.”

“terus kenapa kamu kok tiba-tiba menangis dek?”

“Aku teringat dengan kedua orang tuaku kak.”

“Lo orang tuamu sudah meninggal?”

“Iya kak sudah meninggal. Ayah dan ibu sudah 6 tahun meninggalkan aku sendiri. Saat itu aku masih berumur 2 tahun. Kejadian itu tak akan pernah hilang dari pikiranku.”

Saat hendak menanggapi ceritanya Didin, tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata itu dari mama yang menyuruhku pulang sekarang juga. Akhirnya tanpa basa-basi lagi, aku beranjak dari tempat itu dan pulang ke rumah.

Sesampainya dirumah, aku disambut mama di depan pintu. Dengan wajah yang gembira, mama lalu memelukku. Akupun heran dengan semua kelakuan mama kepadaku.

“Mama kenapa sih kok tiba-tiba kayak gini? Bella heran deh,”dengan raut wajah bertanya-tanya.

“Selamat ulang tahun sayang. Semoga semua yang kamu impikan tercapai dan jadi anak yang berbakti sama papa dan mama.”

“Astaghfirulloh sumpah ma Bella nggak keinget sama sekali kalau sekarang hari ulang tahunku. Makasih ya ma pa buat do’a dan kejutannya ini. Bella seneng banget deh mama sama papa inget sama hari spesialku. Aku aja lupa lo ma pa hehehe.”

“Iya nak sama-sama. Jadi yang terbaik ya buat papa dan mama. Papa selalu berharap kelak kau menjadi anak yang sukses lahir dan batinnya.”

“Iya pa aamiin. Bella janji deh bakal jadi anak yang baik buat papa dan mama.”

“Papa sama mama nggak ngasih kado barang ke kamu karena kami tahu kamu udah besar. Tapi papa mama maunya kamu minta satu permintaan nanti pasti kami kabulin.”

Seketika itu aku langsung ingat sama Didin.

“Aku mau papa sama mama membiayai sekolahnya Didin. Dia yang sering aku temui di dekat jalan Soekarno I.”

“Kamu yakin nak dengan permintaanmu?”

“Iya yakin banget ma pa.”

“Oke deh besok ajak papa sama mama ketemu dia ya.”

“Oke papa oke mama.” 

Keesokan harinya, aku beserta kedua orang tuaku pergi menemui Didin ditempat biasa kita bertemu.

“Hai dek. Ini papa sama mamaku. Dia kesini mau njenguk kamu.”

“Oh iya kak. Salam kenal tante, om,” sapanya sambil berjabat tangan.

“Kamu sendiri nak tinggal dirumah kardus ini?”

“Iya tante sendirian aja. Orang tuaku sudah lama meninggal.”

“Oh begitu iya. Oke langsung saja kami dan Bella kesini ingin mewujudkan apa yang menjadi cita-cita kamu yang sampai sekarang belum kesampaian.”

“Benarkah begitu tante, om?”wajah Didin sumringah.

“Iya nak. Tapi kamu harus tetap semangat belajar nggak boleh gampangputus asa loh iya.”

“Siap om siap tante. Makasih banyak iya tante, om atas bantuannya. Sungguh ini hadiah yang luar biasa yang tak pernah aku dapatkan sebelummya.”

Beberapa tahun kemudian, Didin pun merintis impiannya yang selama ini ia cita-citakan untuk mejadi orang kaya yang dermawan lagi baik hati. Dan impian itupun akhirnya terwujud. Kini si anak kardus itupun dapat membantu orang-orang yang seperjuangan dengannya dulu.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Uswatun sebagai pemenang.

Uswatun Nurul Muthoharoh

Saat ini aku kuliah di Universitas Sunan Giri Surabaya. Sebenarnya dulu nggak suka menulis. Tapi semenjak SMA, sering banget patah hati dan nggak mau ada orang yang tau akhirnya kutuangkan isi hatiku lewat tulisan. Dari situlah aku suka menulis. Impianku adalah ingin menjadi desainer busana yang terkenal. Tapi juga ingin jadi guru. Minimal jadi guru bagi anak-anakku kelak lah hehehe.

Motto hidup: bisa karena terbiasa


0 comments:

Post a Comment