Tuesday, 18 April 2017

Ingatan Pada Bapak

Pria berseragam mirip banser, tentaranya Nahdatul Ulama. Ya itulah kira-kira salah benarnya. Seorang pria separuh baya sedang menggandeng gadis difabel keluar dari ruangan. Pemandangan yang biasa saja apalagi di tempat yang penuh keriuhan di pusat kota Yogyakarta seperti ini. Namun, pemandangan biasa itu menjadi pusat perhatianku dari pada penjual makanan dan aktivitas lainnya.


Saat ini jam tanganku menunjukkan tepat pukul 15:40 WIB dan detik itu pula pikiranku seperti teringat sesuatu. Ya, bapak. Bapak memenuhi seluruh rongga tubuhku. Sedikit berlebian memang tapi peduli siapa seorang bapak memang harus dilebihkan. Sungguh aku sangat merindukannya, kami berada di kota berbeda. Akupun membayangkan bahwa bapak saat ini pasti masih di ladang untuk merawat tanamannya. Dia seorang petani walaupun keterampilan dalam menanam menurutku harus diperbaiki, tapi demi putri-putrinya dia tetap gigih dan tak mudah menyerah. Pernah suatu hari bapak mengalami gagal panen buah semangka, bukan karena bapak tak bisa menanamnya tapi karena keadaan cuaca ekstrim tahun lalu. Aku melihat perjuangannya lagi tahun ini. aku hanya berharap pada Tuhan semoga bapak menuai kejayaan kali ini. 

Berbeda dengan gadis yang digandeng pria berseragam itu, dia gadis difabel yang menggunakan tongkat untuk bantuan pengelihatannya, sehingga bisa dipastikan bahwa dia tak bisa melihat raut muka pria berseragam itu. Sedangkan aku sangat jelas melihatnya, kerutan halus yang mulai tampak disela-sela muka lelahnya. Tak hanya itu saja langkah gontainya juga memperlihatkan kelelahan menderu yang tampak dari langkah beratnya. Ya pria paruh baya yang tampak sangat lelah. 

Pemandangan di depanku menyeret ingatanku kembali pada butiran keringat yang jatuh dari kening bapak saat melawan teriknya matahari. Aku sering mengingatkan jika bapak lupa membawa penutup kepala, hanya itu yang bisa ku lakukan demi menyelamatkan bapak dari radiasi sinar matahari yang akan merusak kulitnya. Bapak seolah tak pernah memperdulikaan keadaannya karena hanya putri-putrinyalah yang menjadi pusat perhatiannya. Ingin sekali ku menelponnya, mendengar suara beratnya, helaan nafasnya, segala kabar keggundahannya dan segalanya tentang bapak. Namun jari-jemariku rasanya sangat berat sekedar untuk menekan beberapa digit nomor teleponnya. Sangat ku sadari bahwa bukan tangankulah yang menolaknya namun logika dan hatiku yang mengurungkan niatan itu. Aku sadar itu tidaklah baik, bahkan setiap orang memiliki alasan untuk melakukan hal baik dan buruk. Akupun memiliki alasan itu.

Ketika suatu detik mataku terpejam disitu pula diriku melihat aktivitas bapak. Dia memang tak seistimewa ibu di hatiku, akan tetapi dia mengalir disetiap karakter sifatku. Begitu dominan hingga kami berdua hampir memiliki kebiasaan sama yang tak mau saling mengalah dan peduli orang lain. Suaranya memang jarang kudengar namun siapa sangkan bapak selalu hadir disetiap mimpiku. Ketika manusia tidur jiwa mereka tidak memikirkan keriuhan duniawi dan disaat itulah jiwa manusia benar-benar bersih dan tenang. Pada keadaan itulah aku merasa bapak berada pada dimensi yang sangat dekat. Tidak lagi suaranya, tidak lagi sifatnya bahkan jasadnya tapi bapak ada karena doanya. Ya, suara tak teraba itu adalah doa.

Apakah kalian pernah merasakan kejadian seperti ini? dipaksa nurani untuk memikirkan sesuatu pada hidup kalian, kenangan yang tak pernah kalian ingin ingat? tidak penting memang, bahkan terkesan sangat remeh temeh. Siapa peduli tentang orang lain. Namun inilah yang kurasakan, aku tak pandai mengungkapkan perasaan bahkan akupun tak cukup pandai menuangkannnya dalam bentuk tulisan. Tapi bagiku kejadian pukul 15:40 WIB begitu menarik sekaligus menggelitik. Siapa sangka pemandangan pria separuh baya berseragam bersama gadis difabel yang tak pernah kukenal itu mengingatkanku pada sosok dekatku yang berkilo-kilometer jauhnya. 

Saat pemandangan yang menjadi pusat perhatianku menghilang dibalik pintu kaca dan entah kemana perginya disaat itupula jiwaku tersentak untuk bangun. Tidak aku tidak tidur, itu nyata di depan mataku. Namun ada sedikit keanehan yang aku rasakan. Butiran-butiran air membasahi pipi, bahkan aku sendiri tak menyuruhnya untuk keluar. Aku mengusirnya secara paksa dengan tanganku tapi butiran-butiran itu semakin memaksa untuk keluar. Sekuat tenaga aku menenangkannya untuk tidak keluar dan hasilnya nihil. Disaat itu pula tubuhku tak kuat menopang tubuhku sendiri. Aku merindukannya “aku merindukan bapak”. Ucapan yang hampir mirip bisikan, bisikan pada diri sendiri, bisikan yang terbawa angin senja dan berharap hembusan angin itu melewati tubuh bapakku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nuryati sebagai pemenang.

Siti Nuryati Sholikah

Sering menggunakan sebutan Nuryati Shoo sebagai nama beken. Saya sangat menyukai bidang sastra, seni dan komunikasi. Berharap memiliki profesi dibidang yang tak jauh dari tulis menulis walaupun tulisan saya masih tergolong biasa. Traveling dan kuliner adalah hasrat yang susah dikendalikan dan semoga saya memiliki kebaikan didalamnya. Itulah sedikit tentang saya, jangan banyak-banyak nanti tidak rahasia lagi.

0 comments:

Post a Comment