Thursday, 20 April 2017

Ini Kendaraanku Mana Kendaraanmu?

2010 adalah tahun di mana saya menjadi seorang siswi SMA, tepatnya siswi SMA Tajurhalang, Bojong Gede. Seorang anak gadis yang mulai mencari jati dirinya, dan mulai belajar beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.


Karena sejak lahir sampai SMP saya hanya berkeliaran di sekitar Depok, Jawa Barat. Dan ketika SMA baru merasakan sekolah ke luar kota. Perjalanan dari rumah sampai sekolah kalau naik kendaraan umum (kereta dari stasiun depok sampai stasiun Bojong Gede lanjut naik angkot 117 menuju Pasar Selasa) itu memerlukan waktu tempuh kurang lebih 45 menit jika lancar dan 1 jam jika banyak halangan. Halangannya itu misalkan kereta yang datangnya tepat waktu banget *padahal ngaret. Karena di tahun 2010 kereta belum secanggih dan se modern sekarang jadi sering telat gitu. Di tambah lagi nunggu angkotnya, kalo ga rame-rame bareng sama temen, abang angkotnya ga mau jalan. Bisa nunggu setengah jam kali baru mau jalan angkotnya. Dan perlu diketahui rute untuk sampai sekolah pun banyak lika likunya. Saya sebutin ya, pertama banyak lubang di jalanan, ke dua jalanannya sepi dan masih banyak pohon yang menghalangi jalan, rawan kecelakaan banget. Tapi tenang tetap aman.

Sempat bergumam di dalam hati. “Duh, mau sekolah gini amat ya, udah cape di jalan”. Tapi saya bersyukur bisa lanjutin sekolah bahkan sampai SMA emang keren orangtua saya. 

Oke kita lanjut lagi rute menuju ke sekolah saya kalau naik kendaraan pribadi khususnya motor. Kalian harus tahu kalau naik motor itu cuma 30 menit, sumpah beda banget kalau di bandingin sama naik kendaraan umum. Kenapa bisa secepat itu? Karena jalan raya tak seramai sekarang dong, saya naik motor yang biasanya cuma 45km/jam bisa sampai 60-75km/jam (standar cewe kalem dan lembut kalo naik motor. Haha), asik ga tuh. Di tambah lagi rute jalan yang saya lewati berbeda dengan rute kendaraan umum, kami melewati jalan yang bernama jalan Pertanian lanjut sampai Sasak Panjang yang terkenal dengan begal motornya. Jalanan yang sepi, banyak pohon, dingin, penuh kabut dan banyak tikungan-tikungan tajam, asal jangan kena tikung teman aja buat ngerebut doi.

Asli cepat sampai ke sekolah. Memang si cepat sampai sekolah tapi ga bisa santai-santai kalau naik kendaraan umum. Namanya manusia, emang ga ada puasnya ya. Di kasih kendaraan umum maunya pakai kendaraan pribadi dan begitulah sebaliknya. Nikmatin aja prosesnya.

Padahal saya ga diijinin orang tua ke sekolah untuk bawa kendaraan motor sendirian, pertama karena saya sendirian dan ke dua karena saya belum lancar mengendarai motor. Tapi karena ada suatu peristiwa di saat saya menaiki kendaraan umum tepatnya kereta api yang membuat saya sedikit trauma di saat itu akhirnya orang tua mengijinkan saya. Untungnya kereta api sekarang tidak seperti kereta api yang dulu. Dulu pintu kereta api itu goib udah gitu keren, transparan, jadi orang-orang bisa bebas seenaknya naik dan turun kereta api tanpa pikir keselamatan, yang penting sampai tujuan. Murah meriah. Buat orang yang dulu masih ngerasain naik kereta api seperti ini di jamin hidup anda bahagia dan tentram ya. Amiin

Kembali lagi ke trauma saya saat naik kendaraan kereta api yang satu ini. Waktu itu saya lagi di kejar waktu banget, katanya anak kelas 10 wajib datang jam 6 pagi dan paling telat datang jam  setengah 7. Waduh, saya harus bagaiman ini, biasa berangkat dari rumah jam setengah 7 dan masuk sekolah jam setengah 8 bisa santai-santai dulu, tiba-tiba harus datang lebih awal.

Sedangkan kereta pertama ke arah stasiun Bojong Gede adalah pukul 6 pagi. Berarti saya harus rapi-rapi lebih awal dari biasanya. Dan tanpa saya sadari, ketika rapi-rapi untuk berangkat ke sekolah. Waktu telah menunjukkan pukul 05.50 WIB. Terkejut bukan main, jarak antara rumah dengan stasiun saja 7 menit. Belum sarapan lagi, dan mulai muncullah kepanikkan di diri saya. Tanpa pikir panjang, saya langsung pamit dan berlari dengan sekuat tenaga agar bisa tepat waktu sampai stasiun karena kereta pertama itu selalu tepat waktu. Untungnya saya tak harus repot-repot mengantri untuk membeli tiket karena saya punya tiket pribadi khusus untuk anak dari seorang pegawai kereta api namanya “KBD (Kartu Bukti Diri), tinggal kasih unjuk ke petugas stasiun, saya bisa langsung naik kereta.  Dan alhasil saya tiba tepat waktu, bukan hanya tepat waktu tapi kereta sudah mulai berjalan perlahan. Saya paksakan untuk masuk ke dalam kereta. Kalian tahu apa yang terjadi? Saya masuk ke dalam kereta dengan membantingkan tubuh saya terutama kaki saya sampai saya jatuh tersungkur dan buku-buku serta tas yang saya pegang ikut berhamburan entah kemana saja. Dan saya masih beruntung karena saya sendirian, coba kalau sama teman, bisa jadi bahan bullyan. Haha

Saya tak peduli sakit atau tidak, tapi yang saya pedulikan adalah rasa malu saya. Sampai bisa jatuh seperti itu. Untungnya lagi kereta masih sepi dan banyak yang membantu saya dan banyak juga yang menertawakan saya. Rasanya campur aduk, mau ketawa karena aksi nekat dan mau nangis karena nahan malu ditambah rasa sakit. Iya ternyata benar sakit, ketika turun dari kereta  api, kaki kanan saya pincang dan sedikit memar. Lebih sadisnya lagi ternyata berita untuk datang lebih awal itu cuma hoax alias palsu. Padahal saya tiba di sekolah sudah pukul 06.45 menit. Warbiasa bukan?
 
Jadi untuk generasi 2013 ke atas kalian nikmatilah kemajuan kereta api yang sekarang ya. Agar kejadian seperti ini saya saja yang merasakannya. haha

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Hijriani sebagai pemenang.

Hijriani
Saya seorang perempuan. Nama lengkap saya Hijriani, nama panggilan saya Ani, atau Hijri. Saya anak ke tiga dari lima bersaudara. Anak tengah dari bapak Baharudi dan ibu Indri Purwani.Saya menyukai dunia anak-anak. Saya menyukai musik bergaya jazz, jazz pop dan juga keroncong. Saya suka sekali dengan taman dan museum. Dan yang jelas saya menyukai seorang pria karena saya normal.




0 comments:

Post a Comment