Friday, 7 April 2017

Jangan Menambah–nambah Resah Saya, Tolong Jangan!

Sebenarnya apa yang saya tulis ini sebagai tuangan kegelisahan dan keresahan saya tentang  kelangsungan relasi antar saya dan yang lain (Manusia). Saya itu ya cemas, saya merasa seolah-olah bakal tidak punya hak kebebasan untuk begitu dan begini, selalu salah sini dan salah situ, kemudian buruk sana dan buruk sini. Benarnya tidak ada. Duh, malang dan lucu sekali.

pekanbarutribun.com

Isi dari kepala manusia siapa yang tahu? Kita (manusia) dibentuk dan diciptakan oleh Yang Maha Satu tentu dengan sebuah keunikan, sebuah misi, sebuah hal yang membuat berbeda satu dan lainnya sekalipun masih dalam satu lingkupan kata M A N U S I A. 

Tentu saya pikir itu sudah memperjelas bahwasanya isi kepala masing-masing individu tentu berbeda. Seseorang bisa saja berkata “sepakat”, “setuju” atau “sepertinya kita sepemikiran” dan apalah-apalah yang lain dengan pihak yang mengatakan sebuah pendapat, sah - sah saja toh memang tidak ada undang - undang yang melarang kok, tapi sejauh apa? Emang hidup sampean juga semuanya sesepakat dan sesetuju yang dikatakan para Mas atau Mbak (kita sebut saja demikian) itu? Yo tidak kan ya? Perjalanan hidup kamu tentu ga bakal sama dengan para Mas dan Mbak yang lain.

Mari kita ngalor-ngidul sedikit para pembaca yang tidak budiman, saya tahu anda semua sudah resah menunggu inti dari apa yang saya katakan. 

Begini, sebagai seorang Anak Sulung dari keluarga yang kecil saja. Dengan satu Ibu Nilda, satu Ayah Haris, dan satu Adik Laki-laki Iki, saya dibentuk dalam sebuah karakter bahwasanya “sebagai yang sulung kamu mesti tangkas dan berani sekalipun kamu perempuan” itu versi Ayah Haris. Kemudian, “kamu mesti paham seni menjadi kuat namun tetap anggun, sebab kamu perempuan” kalau ini versi Ibu Nilda, untuk yang ini saya sedikit kewalahan sebab menurut pengamatan subjektif, saya perempuan yang cukup frontal mengatakan sesuatu yang tidak saya sukai (dalam periode tidak sabar), saya terkesan nyablak kalau bahasa kampungnya dan dalam berpenampilan saya berani jamin saya sama sekali tidak perempuan sekali, sebab idola saya dalam stady in style selalu sepatu converse, kemeja atau kaos yang ukurannya 2-3 kali lipat lebih besar dari tubuh saya dan celana jeans (jika ukuran kata anggun adalah dalam tutur kata dan berpenampilan). Tidak hanya saya yang kewalahan Ibu Nilda juga begitu sebab dia sibuk memikirkan kapan saya insaf dan menyukai benda-benda yang perempuan sekali. Tenang Bu! Saya akan selalu berusaha. 

Lain lagi kalau versi Adik Iki “Uni, yang penting kasih uang jajannya tidak telat saja, sesekali dilebihkan juga tidak masalah” menurutnya demikian. Maklum saya memang tinggal satu rumah dengan dia sekaligus merangkap pemegang keuangan. Macam-macam, Dik? Potong uang jajan ! Nah itu sedikit perihal mau keluarga saya terhadap saya sebagai dasar penilaian kamu sekalian.

Jangan bosan dulu, mari kita beranjak ke pengantar kedua. Ini perihal dunia keanakmudaan saya di sekolah (baca:kampus), saya lebih suka kata sekolah dan jangan banyak tanya.

Di sekolah saya di Negeri nun Jauh Disini, saya cukup giat dalam berseni membangun hubungan. Dari membangun hubungan keluarga, hubungan pertemanan bahkan hubungan kamu sama saya, lah eh !

Ya intinya hubungan lah. Menurut beberapa artikel yang saya baca, kunci pertama sebuah hubungan adalah “kepercayaan” kalau tidak percaya ya jangan berhubungan. Klise kan? Biasa kata-kata sehomogen demikian tidak cuma di artikel namun quote-quote cinta merah jambu yang sering kamu kutip sebagai caption di Instagram tanpa menyertakan sumbernya darimana (mau keren kok malah jadi pelagiat kezel deh !). 

Yang kedua saling menghargai dan dihargai. Sebenarnya ada sih hubungan yang hanya dihargai namun tak menghargai dan sebaliknya, contohnya seperti budak dan tuannya (versi zaman baheula) atau bahkan pasangan muda – mudi sekarang yang senang tanpa sadar ditandaskan isi dompetnya kemudian menjadi sadar setelah ditinggalkan. Saya tidak tahu ini bodoh jenis apa. Besok kalau ada istilahnya akan saya pakai. 

Maaf ini melebar sedikit, saya bukan mau membahas perihal cinta, namun percontohan di atas tadi tentu gampang melekat di saraf – saraf kepala kamu sekalian. 

Nah, yang terakhir itu jika ingin membangun sebuah hubungan yang emejing, mesti punya cinta kasih sesama umat manusia. Kalau tidak punya, kamu bakal dicap sebagai benda mati yang tidak punya hati. Jika tiga hal tadi sudah ada, dijamin seni berhubungan kamu bakal sukses. 

Tiga kunci yang saya sebutkan di atas tersebut, bisa saya sebut sebagai keyakinan – keyakinan dasar dalam menjalin hubungan, sebab jujur pembahasan demikian memang sudah banyak bisa kamu seacrh di google sekeren-keren dan sepanjang – panjangnya si pembahas, intinya ya tiga di atas tadi namun bisa benar bisa tidak itu tergantung mau kamu apa. 

Dalam dunia berhubungan dengan manusia – manusia peranakmudaan, saya sering dijumpai dengan keadaan seperti kata – kata ini “Maunya dipercaya, tapi realisasinya tidak ada” atau seperti ini “Huh! Mau dihargai, tapi menghargai saja tidak pernah” atau bahkan “Ngomong cinta dan manusia, ga usah berat lah, kencing aja belum lurus!” (sejak kapan kalau kencing itu lurus, pakai kateter iya lurus !).

Yang mirisnya menurut survei saya kebanyakan dari mereka ada yang bermental korban menganggap dirinya sudah di bang*satkan sekali oleh pihak-pihak yang bersangkutan dan keluarlah kata – kata di atas sebagai bentuk pertahanan dirinya bahwa “Saya itu tidak salah, tapi kamu! Semua kegagalan terjadi di diri saya adalah karena kamu”.

Begitulah sedikit petunjuk perihal dunia keanakmudaan saya dan mau orang – orang tersebut jika ingin berhubungan dengan saya baik perkawanan, perkumpulan dan percintaan. Itu jadi poin kedua kamu dalam menilai saya. 

Saya mengerti betul bahwasanya manusia diciptakan dengan sifat egois akan sesuatu, termasuk kehendak pribadi yang ingin di capai, kesalahan – kesalahan yang di abaikan, merasa paling benar terhadap pendapat di kepala. Tenang! Saya bukan orang yang mau menyalahkan seperti Mas dan Mbak itu sebab saya juga sering demikian dan sebenarnya itu adalah suatu bakat eksistensi manusia yakni berbeda dari makhluk lainnya. Kalau para hewan dan tumbuhan besok sudah berani dan di anugerahi dapat berbicara atau kamu bisa mengerti bahasa hewan seperti Nabi Sulaiman saya jamin itu bukan kehebatan tapi tanda – tanda kiamat yang sering diributkan umat manusia kapan waktunya sampai, percayalah. Sekali – kali percaya sama saya ga bakal merugikan. Kalau ternyata salah intinya kamu kurang percaya saya hahaha.

Sudah, sudah! Pengantarnya cukup jauh dari yang ingin saya katakan. Dari “Mau Keluarga Saya” dan “Mau Orang – Orang Peranakmudaan Saya”. Saya harap kamu sudah mengerti bagaimana pribadi dan bagaimana saya akan menyikapi hal – hal tersebut. 

Di dalam keluarga saya tentu dong saya akan senang hati berusaha mewujudkan impian Ayah Haris, Ibu Nilda dan Adik Iki. Sebagai Sulung saya di kejar deadline segala tanggung jawab dan tumpuan percontohan untuk Adik Iki saya terkasih. Well, saya sempat menyerah dan merasa kenapa saya tidak jadi anak bungsu saja! Tapi setelah beranjak menjadi gadis yang mulai dewasa di umur menjelang 22 tahun (ciee) saya sadar kalau apa Yang Di Atas mau tentu tidak pernah ada yang sia – sia. Justru saya menjadi berbeda dari kebanyakan sebab sebagai sulung, merangkap sebagai kakak dan abang kemudian panutan. Jadi Ki, kalau kamu baca ini berbanggalah punya Uni seperti saya. Dengan tubuh kecil dan kurus begini saya berani diserahi tanggung jawab demikian hahaha

Di samping hal itu, saya juga tidak mau menjadi Malin Kundin tandingannya Malin Kundang karena gagal sebagai anak yang baik. Tidak Ibu, tidak Ayah ! Ampuuuun! Intinya saya percaya kalau apa yang mereka katakan adalah benar dan baik bagi hidup saya sebab tidak ada orang tua manapun yang akan mencelakai anaknya (kecuali yang di tipi – tipi ada kasus Bapak menganu anaknya, Ibu meng-inu anaknya itu bukan orang tua, tapi mereka Manusia yang penuh dengan D O S A ). Saya akan berusaha sampai titik darah penghabisan demi kalian. Yosh !

Tapi lain hal dalam dunia peranakmudaan saya. Menjabat ini dan itu, berkawan dengan A – Z, menjalin relasi dengan laki – laki. Seringkali di beberapa hal saya di ibaratkan Matahari, terang menghidupi semuanya, pusat dari segala pusat Luar Angkasa terlebih Bumi. Lagi – lagi saya menjadi tumpuan, diharapkan banyak orang dengan segala kemungkinan - kemungkinan yang bahkan di luar kebiasaan dan kepala saya. Tuhan ! Saya tidak mau berpikir menjadi Anak Muda yang aktif adalah suatu kesalahan. Karena itu segerakan saja saya menjadi wanita dewasa yang membeli mobil berwarna putih sesuai wasiat Ibu Nilda. Amin! 

Seperti yang sudah saya haturkan di alinea 14 – 15 di beberapa periode, kegiatan peranakmudaan saya tidak berjalan dengan mulus. Harapan – harapan yang besar di tuangkan, keinginan – keinginan yang wajar sampai abnormal di paksakan, kemauan – kemauan yang mustahil diminta di lakukan oleh Saya si Pelaku Utama. 

Nanti kalau tidak terwujud saya mesti siap di gunjingkan pada pembicaran sore di tepi laut sambil makan langkicut (langkitang cucut), mesti oke di sindir di grup organisasi Ulalaulalabeibeh atau bahkan dikatakan buruk - buruk tidak mampu begini dan begana dalam pembicaraan antar si Anu dan Si Ani yang mengerucut. 

Duh, gegana (gelisah galau merana) rasanya kalau kata Cita Citata. Sebab, Mas dan Mbak yang hebat kata mereka itu bahkan tidak mampu menyuarakan itu semua di depan saya, tidak mau ikut terlibat dengan kesepakatan yang di buat, tidak mau nimbrung memikirkan yang baiknya sebab sudah sibuk dengan kehebatan yang dibuat di lingkup jempol dan tombol enter. Klik

Ada lagi perihal tidak mau salah yang sering saya alami dengan beberapa rekan dan seorang kawan. Mereka sibuk dengan mana yang baik dan buruk, mana yang sepakat dan tidak sepakat, mana yang untung atau rugi untuk diri pribadi dan siapa yang paling salah dalam suatu keadaan. Memamerkan dahaga sudah baca buku ini dan itu, tapi kok pribadinya tidak seperti padi yang merunduk. Saya suka sedih sendiri, atau sekarang buku itu cuma sebagai tameng bahwa terlihat kamu pintar dan tak kalah ketika di tekan? Tapi Mas dan Mbak coba baca judul buku Rusdi Mathari. Judulnya saja ya isinya tidak usah dulu nanti merasa tersindir loh “Merasa Pintar Bodoh Saja Tak Punya”. Judul yang mengandung sentilan keras sekali bahwasanya kita ga boleh merasa hebat. 

Kalau buku yang Mas atau Mbak baca itu tidak menjadi bahan “koreksi” untuk pribadi mending tidak usah baca. Saya yang sedih lihat Mas dan Mbak menghabiskan uang yang cukup banyak tanpa mencari esensi untuk imbas baik ke diri pribadi “ini sebenarnya di beli untuk apa?” Mending buat traktir saya gitu, beli docmart baru. 

Ya ada baiknya ketika menuntut mau, mbok yo di pikirkan lagi dalam kondisi sehat dan masuk akal. Lucu rasanya ketika kita ingin sesuatu tapi kita sendiri tidak berusaha. Lalu ketika tidak tercapai maunya kamu mulai menyalahkan orang lain. Kamu bukan Maryam yang di kasihi Allah sehingga tanpa keluar pun Maryam sudah kenyang sebab ada makanan terletak di meja. Bukan juga tokoh animasi dalam Disney yang tinggal tring dan semua jadi sabi. Sadarlah Mas dan Mbak sekalian cuma manusia biasa yang tidak sempurna. 

Welas Asih saya rasa itu jadi tiang utama dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa kamu temui di quote – quote yang kamu kutip dari Bunda Theresa, Dalai Lama, Mahatma Gandhi, Penggalan Surah di Al Qur’an dan Ayat dalam Alkitab tak pernah di ajarkan bahwasanya kamu mesti membenci sesamamu kan. Balik lagi ke diri kamu, koreksilah, sadari apa yang sudah kamu lakukan. Bukan sesuatu yang hebat kok, ketika kamu mampu membuat orang lain percaya bahwa kamu unggul dan Si Anu yang paling salah. Tidak, justru saya pribadi melihat itu sebagai kekerdilan jiwa yang kamu punya.

Ketika kamu Welas Asih, kamu juga sudah membangun rasa menerima perbedaan sesamamu, saya rasa kita kurang hal itu akhir - akhir ini. Mas dan Mbak terlalu sibuk dengan hal besar sehingga mengesampingkan hal - hal yang kecil. Mas dan Mbak buat apa kita sibuk hebat di luar tapi diri kita sudah tidak jelas substansinya. Semoga cepat sadarnya atau bahkan ngeh ketika baca tulisan ini. Jangan menambah – nambah resah saya, tolong jangan !

Saya pamit mandi dulu Mas dan Mbak, mau siap - siap menghalau Ani dan Budi yang mulai ikut - ikutan jejak sampean semua itu. Semoga belum terlambat. Duh, duh !
***

Andina Amalia Haris
Saya adalah Puisi. Puisi itu Indah. Indah sama dengan Ibu. 
Saya; Ibu dari anak - anak puisi yang ringkih sebelum jadi Ibu dari anak - anak yang syukur. 










0 comments:

Post a Comment