Sunday, 16 April 2017

Jangan Menir: Tentang Filosofi Rasa

Bagi orang sepertiku yang sedang merantau jauh dari rumah, momen bersama keluarga tercinta adalah momen paling membahagiakan. Bagaimana tidak bercengkrama di sore hari sambil menikmati cemilan buatan ibu adalah kebiasaan yang sekarang jarang dilakukan.


Ibu, begitu berharga bagiku. Hal ini sangat terasa ketika jauh darinya, pernah suatu hari ketika pertama kali tiba di Yogyakarta, tempat dimana aku menempuh pendidikan sekarang. Saat itu aku merasa lapar, bukannya membeli makan malah menelepon ibu, menanyakan apa masakan hari itu. Rasanya ingin sekali menyantap masakan yang dimasak ibu. Hal itu memang sederhana atau bahkan remeh temeh, tapi bagiku sangat luar biasa.

Jika ditanya “apa makanan favoritmu?” Maka aku menjawab sayur menir atau dalam bahasa jawa disebut jangan menir buatan ibuku. Bukannya tidak menyukai masakan ibu yang lainnya, bahkan aku sangat menyukai segala macam masakan ibu. Namun, masakan sayur menir ala ibuku memang sangat legit rasanya.

Sayur menir yang berbahan utama daun bayam dengan kaldu jagung sangat mudah dibuat. Apalagi bahan-bahannya yang tergolong murah dan mudah didapatkan, sangat cocok untuk kita yang ingin masakan enak, bergizi, dan berbahan murah tapi rasa tidak murahan.

Cara membuatnya juga tergolong mudah, cukup haluskan bawang merah, bawang putih, kencur dan jagung manis. Kemudian masak air sampai mendidih, campurkan bahan yang telah dihaluskan kedalam air. Lalu masukkan daun bayam dan daun kemangi untuk menambah harum pada masakan. Jangan lupa ditaburi garam untuk menambah rasa gurih pada masakan. 

Sayur menir tidak hanya menawarkan cita rasa yang enak dan legit, namun juga tergolong masakan yang kaya akan nilai gizi dan mineral. Daun bayam memiliki asam folat tinggi yang cocok untuk ibu hamil, zat besi dan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh serta zat anti oksidan dalam jagung yang sangat penting untuk mencegah pertumbuhan sel kanker dan masih banyak lagi kebaikan daun bayam dan jagung. Sehingga sayur ini tergolong bagus untuk dikonsumsi segala usia, baik itu anak-anak sampai orang tua. 

Biasanya ibuku menyajikan sayur menir ini dengan berbagai lauk, kadang dengan bakwan jagung ala Jawatimuran  yakni, jagung dihaluskan dengan sedikit tepung untuk perekatnya saja  selain itu sangat cocok juga jika dengan lauk ikan gurame bakar dan sambal terasi. Lauk ini yang sangat aku sukai, sehingga tercipta sensasi manis, pedas, gurih dalam satu cita rasa. sungguh membuat ingin segera melahapnya. Jika teringat momen seperti itu rasanya ingin segera pulang. Jarak jauh tidak menjadi halangan lagi, seperti halnya ibu yang selalu ikhlas membuat masakan apapun yang dapat membuat anak-anaknya lahap menyantap makanan buatannya.
   
Menu sayur ini tidak ada di sembarang tempat hanya masakan rumahan biasa saja namun syarat akan filosofi yang terkandung di dalamnya. Ibuku menjelaskan bahwa makanan favoritku ini mengandung banyak makna mulai dari jagung, sayuran ini memiliki ciri khas manis yang dapat menumbuhkan sensasi manis di hati yang memakannya jadi anak yang menyukainya ia akan tumbuh menjadi anak yang manis (baik) perilakunya. Sedangkan sayur bayam yang memiliki rasa hambar dan berdaun hijau ibarat hidup pasti ada senang susahnya, rasa hambar menjadi pengingat bahwa kita harus selalu bersyukur kepada apapun yang sedang Tuhan ujikan kepada kita. Warna hijau identik dengan warna sejuk penuh kedamaian menunjukkan bahwa ketenangan jiwa menjadi kunci utama manusia dapat mensyukuri segalanya. Rempah-rempah khas Indonesia sebagai pelengkap rasa menunjukkan bahwa hidup sangat membutuhkan berbagai macam ujian (rasa) untuk membentuk jiwa yang kokoh dan tidak mudah melangit (lupa pada asal-usul negerinya).

Ketika aku tumbuh dewasa filosofi sayur menir sebenarnya hanyalah cara ibu untuk memberiku pelajaran agar menjadi anak yang baik dan tidak nakal mengingat bahwa masa kecilku sangatlah nakal dan keras kepala. Selain itu rasa daun bayam tidaklah hambar tapi memiliki sedikit rasa manis. Namun filosofi sayur menir yang diceritakan ibu seperti sudah terpatri pada ingatan dan aku selalu mempercayainya.

Itulah ceritaku tentang masakan favorit buatan ibu, doa kebaikan selalu kupersembahkan agar beliau diberi kesehatan dan umur panjang. Agar beliau selalu hadir dalam setiap moment indahku, begitu juga soal masakan. Beliaulah juru masak inspiratifku.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nuryati sebagai pemenang.

Siti Nuryati Sholikah

Sering menggunakan sebutan Nuryati Shoo sebagai nama beken. Saya sangat menyukai bidang sastra, seni dan komunikasi. Berharap memiliki profesi di bidang yang tak jauh dari tulis menulis walaupun tulisan saya masih tergolong biasa. Traveling dan kuliner adalah hasrat yang susah dikendalikan dan semoga saya memiliki kebaikan di dalamnya. Itulah sedikit tentang saya, jangan banyak-banyak nanti tidak rahasia lagi.

0 comments:

Post a Comment