Tuesday, 18 April 2017

Jatuh Sinetron Membawa Kebahagiaan

Cerita ini terjadi pada saat aku berniat pergi ke Toko Buku Gramedia bersama temanku, tetapi setelah aku sampai ke toko buku ini ternyata sedang ramai sekali! Pantas saja, sedang ada diskon besar-besaran untuk novel dan komik. Kami berjalan-jalan dan memulai membaca buku ke satu tujuan dikarenakan terlalu penuh dan sempitnya tempat itu. Kami takut tersesat dan lebih tepatnya kita tidak bertemu.


Temanku itu bernama Yoga, dia tinggi dengan kulit putih dan mata sipit yang menambah daya tariknya, aku pun memperhatikan banyak perempuan yang mencuri lirik ke arahnya. Sambil tersenyum genit, dan ada juga yang mencoba menyenggol dia dengan sengaja. Memalukan.

Mungkin mereka berpikir, bagaimana cowo sekeren dia berjalan dengan pembantunya. Layaknya, Beauty and The Beast

Well, memang sih pada saat itu aku hanya memakai kaus dan jeans belel saja, tidak bisa dikategorikan menarik, tentu saja.

“Bagaimana kalau kita mencari buku yang kita sukai, lalu mencari tempat duduk, Ci?” saran Yoga dengan suara bassnya. Well, aku tidak menyukainya ya, hanya saja suaranya itu adem banget.

“Boleh juga, tapi kalau kita tidak bisa saling menemukan diri, bagaimana?” ucapku sambil mengangguk.

“Oi. Dasar berpikiran sempit, memangnya toko ini akan ramai sepanjang hari? Walaupun ada diskon, tapi kan tidak semua orang seperti kita, kuker dan tidak punya duit. Mungkin, mereka langsung memborong dan pulang, tidak seperti kita yang nongkrong di sini. Lagipula, kalau kamu menghilang, gampang saja kan ada Layanan Komunikasi, gw bisa laporin orang hilang.” Ucapnya. Well ya, Yoga itu kalau ngomong rada pedas gimana gitu ya, tidak sesuai dengan penampilannya yang kalem.

Awalnya sih enggak, makin kesini makin tajem. Kaga tau, itu anak makan apaan.

“Iya-iya biasa aja dong, emangnya gue anak kecil apa dilaporin hilang? Lagian kalaupun lo hilang, gue tinggalin aja sih gampang.”

“Jangan gitu dong beb, hehe. Bercanda, buset.” Ucapnya, dan ya dia suka manggil aku dengan ‘beb,ayang,hun’ dasar jomblo ngenes.

Kami menuju ke rak buku bertema ‘Novel’ dan kami mencar kemana-mana, sampai pada akhirnya aku tidak peduli kalau Yoga hilang, dia juga bukan anak kecil lagi dan berpikir ‘mungkin nanti juga ketemu lagi, memangnya bakal ramai sepanjang hari begini?’ Aku melewati 2 jam begitu saja, banyak buku-buku menarik ber-genre fantasi/misteri yang cocok dibaca di rumah. Sayang, dompet tak memadai.

Aku celinguk ke arah mana saja, mencari yoga yang mungkin lebih kelihatan, dia kan lebih tinggi.

Seperti anak ayam kehilangan induk pikirku, kesannya kok kaya aku yang bergantung sama dia ya. Padahal, dia yang mengajak dan aku yang menyetir, hufftt. Untung teman.

Lebih baik mencari dia, daripada mengomel tak karuan.

Oh, itu dia. Sosoknya mudah dikenali karena ia jauh lebih tinggi daripada aku.

Aku berniat mengejar sosoknya, tapi malang sekali ditengah keramaian itu aku tergelincir dan menabrak dada seorang. Seperti adegan sinetron saja, kuakui menyenangkan bertabrakan begini.

Dalam posisi seperti berpelukan ini, membuatku sesak nafas dan berdebar sedikit. 

Malu woi! Tapi, wangi badannya, aduh mak. Wangi parfum orang kaya, aku menengadah mencoba melihat siapa yang kutabrak ini, kuharap itu Yoga, tapi takdir tak sebaik itu. Aku malu tapi mukanya itu loh, mengalihkan duniaku. Kita tergugu dan tetap kukuh dalam posisi ini.

Wajahnya tampan sekali, hidungnya mancung dengan kulit putih dan bibir berwarna pink, disertai dengan wangi parfum dan pakaiannya, yang membuatku pusing. Dia bergerak tetapi tidak melepaskan pelukan ini.
 
“Ehm mbak, eh mau sampai kita pelukan begini hehe?” Subhanallah, suaranya seterang bulan, mensejukan daratan. Aku pun tersadar, dan segera berdiri tetapi kakiku oleng dan terjatuh lagi, lalu dia menahan lagi. Yaampun.
 
“Ohiya maaf om, b-b-bagaimana kalau kita hentikan dan berdiri saja, sepertinya kita sudah menjadi tontonan public.” Ucapku.
 
“Sorry? Panggil Dimas aja and gue belom om-om, you know?” katanya
 
“Oh, iya maaf hehe. Well, nama gue Kika tapi orang biasa memanggil Cici. Terserah mau manggil apa asal jangan tante, demesh juga boleh.” Ucapku,
 
“Well, kika salam kenal. Mungkin takdir berniat mempertemukann kita dengan cara begini.”
 
“Hehe …”

Selang beberapa menit kita mengobrol dengan pembicaraan asik, Yoga pun muncul dan terengah-engah.
 
“Woi, kemana aja sih lo! Gue cariin dari tadi, malah disini asik pacaran! Ayo pulang, badan gue pegel-pegel gini gara-gara elo.” Ucap yoga.
 
“Kalem, kenapa dah. Ohya kenalin, ini Dimas dan Dimas ini Yoga, sahabat gue. Gue pulang duluan ya, byee …”

***
Hari demi hari kujalani dengan lesu, baru ketemu Pangeran berkuda putih tapi tugas makin banyak. Aku berharap bisa ketemu Dimas lagi di toko buku itu, dan betapa bodohnya aku, tidak meminta kontaknya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Dyah sebagai pemenang.

 
Dyah Rizka Andrianny 

Bisa dipanggil Kika. Memang suka menulis, jadi kalau tidak menang juga tak apa-apa tapi kalau bisa sih kepilih. Umur 16 Tahun, merupakan siswi aktif di salah satu kota Cimahi. Ig: @kfmzx_

0 comments:

Post a Comment