Wednesday, 12 April 2017

Jiah, Irfan dan Janji Kelingking

Sore itu di lapangan hijau, orang-orang sedang mengerumuni seseorang. Orang-orang yang sedang mengerumuni mungkin usianya 6 sampai 10 tahun dan mereka berjumlah 6 orang. Keenam orang itu sedang mengerumuni seorang wanita bernama Jiah. Mereka meledek dan menertawai dia.

brilio.net
Jiah seorang yang baik dan juga cantik. Hanya saja, Jiah punya penyakit bau badan dan dia juga seorang bisu. Maka dia ditertawai dan di ledek oleh kawan-kawan sebaya nya. Dengan tersedu-sedu Jiah menangis, dia dipaksa untuk meminta maaf kepada mereka sambil bersujud ke salah satu orang yang kelihatan lebih besar ketimbang anak-anak yang lainnya.

“Cepat minta maaf! Dasar anak bau,” si pria besar berusaha menurunkan kepala Jiah untuk menyentuh tanah. Tapi Jiah berusaha menahan kepalanya untuk tak tersentuh tanah. Jiah berpikir bahwa manusia tak pantas bersujud ke manusia dan kepala ini hanya untuk bersujud kepada Dia.
“Sampai kapan aku harus menahannya,” pikir Jiah. Sebenarnya, Jiah sudah meminta maaf kepada si pria besar atas kejadian jatuh nya es-krim dia. Tapi, si pria besar menginginkan Jiah meminta maaf sambil bersujud. Karena menolak melakukan yang diinginkan, maka Jiah di bawa ke lapangan hijau. Dengan kepala tertunduk dan pipi terbasahi oleh air mata, Jiah sekali minta maaf, walaupun suaranya tak bisa keluar.

“Ah, aku tak mendengarnya, coba kau ulangi lagi,” kata si pria besar. Tapi Jiah tak berbicara dan dia hanya menangis. Si pria besar menjambak rambut Jiah. “Eh! Kenapa kau diam saja. Selain bisu apakah kau tuli juga.”
“Sudah lah bos” ujar salah satu teman si pria besar.
“Dia juga sudah minta maaf, meskipun suaranya tak keluar dari mulutnya.” Si pria besar menatap salah satu teman dengan mata kemarahan.
“Kau bos di sini atau aku bos disini?” Tanya si pria besar. Karena dia tahu bahwa dirinya akan babak belur, maka dia cepat-cepat minta maaf kepada si pria besar.
“Bagus! Kau harus paham itu,” ujar si pria besar yang menjambak rambut Jiah dan Jiah menahan sakitnya cekraman tangan si pria besar. Sambil menjambak rambut, dia juga terus menjejalkan kepala jiah supaya menyentuh tanah.

“Hei!” Seru suara misterius. “Kalian beraninya sama perempuan, dasar hidung pesek.”
“Siapa yang bilang!” Seru si pria besar. “Tunjukkan tampang mu.”
“Di belakangan mu bodoh,” si pria besar menengok ke belakang dan dia melihat pria kurus dengan rambut berwarna hitam lebat dan dia memakai baju kaos berwarna merah dan celana kolor berwarna putih. 
“Jadi kau yang bilang aku pesek,” si pria besar melepaskan cengkaman di rambut Jiah dan dia mendekati dan ketika si pria besar sudah dekat dia langsung melepaskan tinjunya. Tapi, si pria kurus menangkis tangan kirinya. Si pria kurus mengetahui bahwa ada ruang untuk menendang perut si pria besar, maka dengan cepat dia menendang perut si pria besar dengan kaki kanannya. Si pria besar jatuh ke tanah dan si pria kurus cepat-cepat menindihkan badannya ke badan si pria besar. Si pria kurus mulai menonjok wajah si pria besar.

“Rasakan ini. Terima ini,” ujar si pria kurus. “Kau beraninya sama perempuan.” Teman-teman si pria besar memisahkan mereka supaya berhenti berkelahi. Tapi, sebenarnya teman-teman si pria besar bukan untuk memisahkan mereka. Tapi teman-teman si pria besar malah membantu si pria besar.
“Ayo boss hajar,” ujar salah satu teman si pria besar. Si pria kurus meronta-ronta supaya terbebas dari pegangan. Tapi karena pegangan nya kuat dia tak bisa bebas.
“Kalian bermain curang,” kata si pria kurus. Si pria besar bangun dan dia langsung meninju wajah sebelah kanan si pria kurus. Si pria besar terus menghantamkan tinjunya ke si pria kurus dan si pria kurus babak belur, dan dia ambruk ke tanah.

“Ciuh, hanya ini saja kemampuan kau,” ujar si pria besar yang merasa paling hebat. “Ayo, kita pulang. Hari ini aku merasa puas.” Para gerombolan itu pergi meninggalkan Jiah dan si pria kurus di lapangan hijau. Melihat gerombolan itu sudah pergi, Jiah buru-buru mendekati si pria kurus yang masih ambruk di tanah. Ia takut si pria kurus mati. Tapi, ternyata si pria kurus tak mati dan Jiah pun duduk di sebelahnya. Ia bingung, Jiah berpikir seandainya dia tak bisu, mungkin dia bisa langsung berbicara ke si pria kurus.

Si pria kurus berusaha untuk duduk. Si pria kurus merasakan sakit di badannya terutama di wajahnya. Jiah mengeluarkan dua plester luka di dalam kantongnya dan memasangkan plester itu di pipi si pria kurus.
“Terima kasih,” ujar si pria kurus. “Oh iya, perkenalkan namaku Irfan, namamu siapa?” Jiah bingung. 
“Kenapa kau diam saja?” tanya Irfan.
Jiah langsung teringat dengan buku catatannya dan ia mengeluarkan buku catatannya di dalam kantong celana nya dan setelah itu Jiah pun mengeluarkan pulpen. Ia mulai menulis di buku catatannya dan setelah selesai, ia menunjukkan buku catatannya ke Irfan. Di buku catatan nya ia tertulis: AKU BISU DAN NAMAKU JIAH.

“Oh pantas saja dari tadi kamu diam saja,” ujar Irfan. Jiah menulis kembali di buku catatannya. Di buku catatannya ia menulis: APAKAH IRFAN MAU JADI TEMAN JIAH?
“Tentu saja, mulai hari ini kita berteman,”Irfan memperlihatkan jari kelingkingnya. “Mari kita berjanji.” Jiah mengangguk kepalanya dan ia pun memperlihatkan jari kelingkingnya dan di jari kelingking mereka berjanji.

Cahaya senja sudah hampir kehilangan cahayanya. Meskipun cahaya sudah hilang. Tapi, cahaya persahabatan antara Jiah dan Irfan tak pernah padam dan justru akan terus tumbuh seperti pohon yang berdiri kokoh. 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Muhammad Zaqifuadi sebagai pemenang.

Muhammad Zaqifuadi
Seorang pecinta sastra yang tinggal di Tangerang.


0 comments:

Post a Comment