Wednesday, 26 April 2017

Jomblo Hakiki

Ini cerita tentang saya. Tentang seorang remaja SMA yang tak pernah mendapat balasan perasaan yang sama terhadap orang yang disukainya. Tentang bagaimana seorang remaja berimajinasi tentang sosok impiannya. Ini akan menjadi cerita cinta remaja yang paling menyedihkan se jagad raya. Jadi, siapkan peralatan menangis terbaik anda. Saya akan mulai bercerita jika anda sudah siap. Jika anda belum siap, maka saya akan tetap bercerita. Baiklah, akan saya mulai. 


Ini diawali dengan tahun ajaran baru kala itu. Saya baru saja menjadi murid SMA, dan kegiatan belajar mengajar pun baru berlangsung sekitar 2 bulan. Seperti biasanya, sekolah baru berarti ekstrakulikuler baru. Saat itu saya memilih ekstrakulikuler kerohanian. Sebuah organisasi yang mengurus tentang keagamaan di sekolah. Seperti acara-acara keagamaan, mengadakan jum’at bersih, mengurus mushola dan lain sebagainya. 

Hari  itu, pulang sekolah saya diminta untuk rapat tentang acara Idul Adha yang akan dilaksanakab oleh ekstrakulikuler kerohanian ini. Dengan malas, saya menuju ruang rapat. Sendiri. Ya, teman saya tidak ada yang mengikuti ektrakulikuler ini. Menyedihkan memang. 

Saat sampai disana, ternyata rapat sudah dimulai. Saya terlambat. Jujur saja, itu menambah kemalasan saya. Sebelum saya kabur, ternyata ada salah satu kakak kelas saya yang baru datang juga dan dia mengajak saya masuk. 

“Ayo dek, masuk saja gapapa,” katanya. Dan saya pun masuk ruangan itu dengan rasa kesal tiada tara. Kenapa dia datang saat saya ingin kabur? 

Ternyata rapat itu sudah akan selesai. Karena itu rapat pertama, jadi agendanya hanya mengumumkan susunan kepanitiaan dari acara tersebut. Karena ada yang terlambat – saya dan kakak kelas saya tadi, akhirnya susunan kepanitiaan pun dibacakan ulang oleh ketua pelaksana. Ternyata saya ada dibagian seksi kegiatan. 

Saya kaget. Saya bingung. saya tidak mengerti apa pun tentang tugas dari seksi kegiatan. Karena sebelumnya saya tak pernah penjadi panitia dalam acara apa pun. 

Ah, ya sudah. Nanti saya tanyakan saja pada orang yang punya tugas sama. Pikir saya begitu. Dan saat anggota dari seksi kegiatan disebutkan, tak ada satu pun yang saya kenal. Tapi saya ingat satu nama. REVAN. 

***
Karena saya hanya ingat satu nama, besoknya- sebelum rapat kedua dimulai, saya mencari orang yang bernama Revan itu. Saya bertanya pada salah satu teman, dan dia menunjuk seorang anak laki-laki yang duduk di bangku paling depan ruang rapat. Saya langsung menghampirinya, dan bertanya tentang tugas dari seksi kegiatan. 

“Jadi seksi kegiatan itu tugasnya mengatur acara supaya tetap kondusif, dan bla bla bla.” Sangat lumayan panjang jawabannya jadi tidak bisa saya tuliskan disini. 

Saat bertanya seperti itu, hati saya biasa saja. Saat dia menjawab pun hati saya sangat biasa saja. Lalu, kapan rasa suka itu muncul? Kejadiannya setelah acara Idul Adha itu selesai. 

Selepas acara itu, tidak tahu kenapa saya lebih sering bertemu Revan. Entah itu sekedar berpapasan di jalan, atau pun tak sengaja bertemu di kantin saat jajan. Semuanya kebetulan. Dia juga sangat manis. Selalu menyapa kala melihat saya, selalu tersenyum di setiap ujung perkataannya, dan tentu saja yang paling membuat saya terpesona adalah, sorot matanya. Meneduhkan. Sangat. 

Perasaan suka saya itu makin menggumpal, saat saya dan Revan menjadi anggota marawis sekolah. Saya sebagai vokalis, dan dia sebagai pemegang alat. Tentu saja pertemuan kita menjadi sangat lebih sering. Dan tentu saja, kita lebih banyak mengobrol setelah itu. 

Pernah waktu itu, saya akan pulang selepas latihan. Karena kakak saya belum datang menjemput, jadi saya harus menunggu beberapa lama. Waktu itu saya pulang duluan, karena itu sudah jam sembilan malam. Tim marawis kami memang lebih suka latihan malam karena siang nya kami sibuk sekolah. 

Dan saat itu Revan menemani saya. Lebih tepatnya, ia memang selalu menemani saya kala menunggu jemputan. 

“Aku ngga mau kamu nunggu sendiri disini. Aku khawatir.” Katanya, saat saya bertanya kenapa dia selalu menemani saya. Dan saya yakin, pipi saya pasti memerah saat itu. 

Kejadian di atas hanyalah beberapa hal manis yang dilakukan Revan kepada saya. Hal manis yang selalu membuat saya semangat latihan marawis, menyuruh kakak saya untuk terlambat menjemput, atau pun bolak-balik toilet hanya untuk melewati kelas nya. 

Tentunya masih banyak hal manis lain yang semakin membuat saya menginginkannya. Hingga hal manis itu berakhir saat saya mendengar bahwa ia berpacaran dengan teman seangkatan saya. 

Berita itu mendadak. Sangat mendadak bagi saya. Saya mendengar kabar itu dari teman saya, karena Revan tak pernah membahas tentang ini bahkan, sampai sekarang. Dan saat itu juga saya tahu, bahwa ia juga mendekati beberapa gadis dan memperlakuka hal manis yang sama, seperti terhadap saya.

Dan, ya sudah. Saya tak pernah mau memikirkannya lagi sejak itu. Meski dia masih melakukan beberapa hal manis sampai saat ini. Saya memilih tak menyukainya lagi. Terlalu sakit, batin saya. 

Dan itu lah cerita cinta SMA saya. Bagaimana? Menyedihkan bukan? Jika tidak, saya mohon maaf karena saya berbohong. Terimakasih sudah membaca! Saya harap anda tak pernah mau membaca cerita ini lagi. 

Oh ya, hanya sekedar informasi. Saya sudah menjomblo 18 tahun. Silakan jika anda ingin bertepuk tangan untuk saya. Terimakasih. 

THE END

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Silvia sebagai pemenang.

Silvia Zahrotun Nisa 

Biasa dipanggil Uflung. Jangan tanya kenapa nama panggilan saya begitu karena saya pun tak tahu asalnya. Saya lahir pada tanggal 18 April 1999 di hari minggu, saat orang-orang sibuk CFD-an. Saya anak bungsu dari 4 bersaudara. Saya baru saja melaksanakan ujian nasional dua minggu lalu. Dan foto diatas adalah foto ijazah terbaik saya. Karena jilbab saya tak pernah serapih itu jika difoto. Sekarang, saya sedang menikmati liburan yang sangat berfaedah selepas UN. Sangat nikmat sekali. Tak ada tugas sekolah atau pun tugas pura-pura bahagia saat melihat si doi dengan yang lain. Sungguh faedah liburan saya. Hanya itu deskripsi tentang saya, semoga anda tidak menyukai saya. Salam Godok!

0 comments:

Post a Comment