Saturday, 22 April 2017

Jomblo Itu Asasi Manusia

Mungkin telinga kita sudah sering mendengar dengan namanya Jomblo. Baik dari kalangan muda hingga tua saat ini sudah berbicara mengenai jomblo. Dalam pemahaman kekininian jomblo sering di pahami sebagai perasaan sedih yang di terima oleh seorang. Lebih pasnya, di saat seorang yang mengakhiri atau diakhiri suatu hubungan dengan pasangan. maka dari proses itulah lahirlah benih-benih jomblo. Akan tetapi lebih pasnya fase ini dinamakan sebagai fase jomblo galau.

pinterest
Mungkin hari ini, anak muda sekarang sudah sangat akrab dengan sapaan seperti itu. Apalagi sapaan itu sangat trend dalam pergaulan sosial sekarang. Sepanjang hari setidaknya dalam rumpian-rumpian pasti terucap kata-kata yang mudah tersebut. Baik dalam rumpian kesedihan, dan juga rumpian kebahagian. Untuk melihat itu sebaiknya kita selami saja bagaimana kehidupan dari jomblo tersebut.

Menelisik jomblo, mungkin terlintas para jomblo lebih sering dihujat, ditertawakan, dan di lecehkan dalam pergaulan sosial. Setiap tindakan yang dilakukan oleh para jomblo mungkin dimata orang akan terasa salah. Contoh para jomblo disaat bahagia: setiap orang yang perhatian dengannya akan berfikir bahwa dia adalah orang jahat, atau tidak tahu dengan keadaan. Langsung teori yang sebenarnya tidak diperlukan mengalir lancar di kepala pengamat yang tidak berada di fase jomblo untuk melakukan pelecehan kepada jomblo. Sedangkan di saat jomblo bersedih, setiap orang akan menertawakan si jomblo yang bersedih. Maka kesimpulannya jomblo tidak akan pernah benar.

Jika dikaitkan dengan persoalan moralitas. Mungkin kita semua akan sadar bahwa dalam konteks agama (Islam) berpacaran atau berhubungan dengan yang tidak sah itu haram. Alasan pendukung lainnya, karena dengan sebuah ikatan yang tidak sah akan menimbulkan sebuah perbuatan yang dilarang keras oleh agama seperti zina. 

Sedangkan negara Indonesia yang besar ini dalam kurun waktu enam bulan kebelakang, warga negaranya selalu memperjuangkan agama. Yang berarti dalam pikiran tetangga (negara lain), moralitas warga negara Indonesia cukup kuat. Akan tetapi pertanyaan muncul dengan keadaan seperti itu, kenapa dalam konteks manusia yang memperjuangkan syariat Islam (Jomblo) malah harus dihina sebegitu besar di negara ini baik seagama maupun berbeda. Malahan warga negara (Jomblo) tadi di ajak untuk berbuat untuk tidak menegakkan syariat supaya mengakhiri pelecehan tersebut.

Mungkin dalam konteks moralitas kita bisa menilai mana yang benar atau salahnya. Karena dalam hal tersebut penulis juga tidak akan membahas cukup panjang. Karena bagi penulis agama cukup untuk penulis semata. Selain itu penulis juga takut terjebak dalam hal penggunaan agama yang tidak tepat. Seperti halnya pena yang digunakan untuk menulis di atas kertas dijadikan untuk menulis di dinding. Semuanya memang bisa dituliskan, akan tetapi pena yang dituliskan di dinding akan lebih cepat rusaknya karena tidak tepat guna.

Selanjutnya Dalam konteks bernegara. Negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau dan juga memiliki pancasila sebagai dasar negara, juga tidak paham dengan akan adanya keberagaman. Dimana dalam keseharian bernegara masih banyak juga yang mengkerdilkan kaum-kaum lemah. Sebenarnya semuanya sudah diatur dalam sila ke 3 yang berbunyi Persatuan Indonesia. Dalam sila tersebut, kita semua diminta untuk bersatu untuk merajut bersama NKRI menjadi satu. Otomatis dalam persatuan tentu kita tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa membuat seorang dideskreditkan karena latar belakang.

Pada konstitusi Indonesia, kita berpegang teguh bahwa negara Indonesia sebagai negara hukum. Berarti setiap tindakan negara dan warga negara harus mengacu kepada hukum yang dibuatnya. Dengan begitu pelecehan-pelecehan yang dilakukan kepada jomblo sehendaknya negara juga berperan aktif untuk melindungi. Dimana pada Pasal 28 tentang Hak Asasi Manusia, setiap warga negara mendapatkan perlindungan dari negara untuk berkembang tanpa mendapatkan kekerasan dan diskriminasi. Selain itu pilihan jomblo yang dipilih oleh warga negara adalah sebuah kebutuhan dasar yang harus dilindungi oleh negara.

Jika kita kaitkan keadaan sekarang, jauh panggang dari api. Karena bagaimana kita bisa bersatu itu sangat sulit direalisasikan. Terkadang toleransi itu hanya sekedar Lips service semata warga negara. Kaum-kaum yang lemah seperti jomblo yang baru bersedih saja tidak mendapkan hak-hak dasarnya untuk tidak di diskriminasi. Malahan kita di ajarkan budaya latah untuk mengoreksi kehidupan orang lain. Seakan kehidupan yang tidak sejalan menjadi sebuah olokan bersama. Sedangkan kita beralasan juga untuk menghormati HAM orang lain. Mungkin para jomblo sudah berkesimpulan HAM itu seperti hamburger yang lezat dimakan dan  Hukum itu tidak akan berlaku bagi minoritas.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Diki sebagai pemenang.

Diki Rafiqi
Ketua LAM & PK
Bisa jadi juga seorang jomblo.

0 comments:

Post a Comment