Wednesday, 19 April 2017

Judul Mainstream

Seperti biasa, kecepatan cahaya selalu saja lebih cepat dibandingkan kecepatan suara. Dan akan begitu seterusnya. Pagi ini aku dibangunkan oleh silaunya mentari, dan bukannya oleh cipratan air ajaib yang diberikan oleh kanjeng ratu rumah ini. Aku terbangun, dan entah kenapa seperti ada tarikan nafsu yang menurutku itu adalah sihir kuat dari tempat tidurku. “Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi” begitulah kata Rumor jika ia merasakan hal ini. Ternyata aku salah, cipratan air ajaib dan suara melengking kajeng ratulah yang merupakan sihir terkuat hingga aku terbangun sepenuhnya. Opening pagi ini terasa sedikit berlebihan, tapi tak apa sedikit drama berharap hari ini tanpa kendala.


Panji, begitulah orang-orang memanggilku, umur 20 tahun dan kuliah di jurusan Kimia. Kuliah di jurusan ini bukanlah kehendakku, ini adalah kemauan ayahku. Aku hanya berusaha menjadi anak berbakti menurut pada keputusan orang tua, walaupun aku tidak menyukainya. Pun kuliah bagiku bukan sesuatu yang menjanjikan untuk masa depanku. Bagaimana tidak, ketika dosen memberikan ilmunya aku hanya duduk melamun, dan tak jarang tidur di tengah pelajaran. Aku termasuk mahasiswa yang rajin ngampus, itu kenapa nilaiku masih lumayan terjaga walau aku tidak peduli itu untuk apa. Kuliah bukan sesuatu yang menjanjikan, ketika aku dikelas dan yang kutunggu hanyalah jam pulang. 

Paragraf kedua dari tulisanku ini sungguh menyebalkan, jangan terlalu dipermasalahkan, itu hanya luapan mahasiswa pengangguran. Intinya hidupku monoton, bahkan kalah oleh cerita FTV yang sesekali ku tonton. Dari hidupku yang menyebalkan ini aku hanya antusias pada satu hal, dan setiap hari aku menunggu untuk itu. Mimpi, mungkin hanya aku yang menunggu menghabiskan hari untuk tidur dan bermimpi malam hari, pun siang hari. Terdengar aneh dan seperti seseorang yang sudah putus asa menjalani hidupnya, tapi itu terlalu berlebihan. Aku menjalani hari dengan normal seperti manusia pada umumnya, aku hanya merasa hidup dan seperti nonton film 3D jika aku sedang bermimpi. Walaupun terkadang aku tidak ingat apa mimpiku setelah bangun dari tidurku. Pokoknya aku suka mimpi, hidup mimpi !!! Allahuakbar !!!

Riwayat bermimpi unik-unik, ya mungkin bukan hanya aku saja yang punya mimpi unik, tapi bisa kukatakan mimpiku lebih unik dan tentu saja menarik. Aku pernah bermimpi menjadi kera sakti dengan tongkatnya, menyelamatkan sekolahku karna serangan teroris, dan yang lainnya. Waktu SD, bisa dibilang aku sering bermimpi buruk, bermimpi tentang hantu, iblis, monster atau sejenisnya. Tapi aku bisa mengatasinya. Setiap kali aku bermimpi horor seperti itu aku sealalu punya cara agar terhindar monster atau hantu, yaitu dengan melarikan diri, tenntunya sambil mengejek monster atau hantu yang sedang mengejarku, dan pada saat aku sudah terpojok dan akan tertangkap, aku bangun dan membuka mataku. “Yes, aku berhasil kabur” kataku dalam hati sambil senyum-senyum sombong. Dan setelah itu, aku tidak bisa tidur lagi, aku terjaga semalaman, menyebalkan.
Itu hanya salah satu dari mimpi masa kecilku. Kini bayangan dari mimpiku berbeda dan beragam menyesuaikan umur dan kedewasaanku, tapi terkadang mimpi masa kecil juga kerap hadir. 

Hari ini sedikit berbeda dengan hari-hari menyebalkanku seperti biasanya. Sebenarnya bukan pertama kalinya, ini sudah kesekian kali sejak sekitar lebih dari satu tahun aku putus hubungan dengan mantan pacarku. Ini bukan seperti aku mengharapkannya kembali, tapi ya entah kenapa dia ada di mimpiku, padahal aku gak mikirin dia sama sekali, toh kita udah putus lama. Dan entah kenapa pula sesi ini jadi serius. Terlepas dari si mantan tadi, mimpiku jauh lebih penting untuk diceritakan. Aku melamun dan memikirkan tentang mimpiku malam tadi, dari bangun hingga menjelang tidur lagi aku masih saja belum mengerti apa maksud dari mimpiku. 

Aku akan menceritakan mimpiku, tapi mulai dari sini akan sedikit serius dan mungkin akan sedikit puitis pula. Berawal dari aku memejamkan mata, di tengah mimpiku aku berada di suatu tempat yang tidak aku ketahui. Yang aku ingat adalah aku berada di suatu jalan raya, jalan itu lurus membentang entah di mana ujungnya, jika dibayangkan lagi itu seperti berada di landasan pesawat terbang. Aku dalam keadaan duduk, dari kejauhan aku melihat seseorang berdiri jauh di tengah jalan sana. Pertama aku tidak peduli, lama-lama jadi penasaran. Aku bangun dan menghampiri orang itu, baru kusadari kalau orang itu tidak berdiri diam saja, ia sesekali melangkah tapi terlihat amat ragu, entah kenapa ia begitu. Jalanku mendekatinya, perlahan kaki melawan jarak kita. Puluhan panah jarak aku dengannya, sedikit demi sedikit kupotongnya. Perlahan aku mengetahui kalau ia adalah wanita, aku semakin mendekatinya. Dia berjalan selangkah, setelah itu berhenti lalu berjalan lagi selangkah, sebenarnya kenapa dia berjalan amat meragu? dan siapa dia?

Beberapa langkah lagi dengannya entah kenapa seperti aku mengetahuinya, serasa aku mengenalnya. Terpaut beberapa langkah lagi semakin jelas terlihat siapa dia, dan aku mulai bisa menebaknya. Bukan hanya sekedar menebak, tapi aku yakin mengenalnya. Aku tau, dia adalah orang yang pernah aku kenal. Setelah aku sampai di sisinya, dia hanya diam dan menunduk, tubuhnya gemetar tanpa kutahu sebabnya. Kemudian dia mengarahkan wajahnya perlahan kearahku. Aku terkejut, wajahnya teramat sedih dengan air mata yang siap jatuh dari ujung bola matanya. Mata yang dulu dipenuhi kupu-kupu, sekarang dipenuhi tangis pilu. Bulu mata yang dahulu milik pandangku, sekarang layu dibasahi air mata itu. Sebenarnya apa yang terjadi?

Hal yang membuatku lebih terkejut adalah setelah aku melihat matanya yang berkaca-kaca, dia seketika memelukku. Aku tidak membalas pelukkannya. Setelah dia melepaskan pelukkanku, dia menggenggam erat tanganku. Kali ini aku membalas genggamannya karna aku mulai sedikit mengerti. Kemudian kita berjalan di jalan yang panjang ini hingga aku terbangun. Dari situ aku mulai menyadari, bahwa kesedihan tidak harus dibicarakan apalagi diperdebatkan. Cukup dengan pengertian. Dan juga mungkin pelukan jika itu dibutuhkan. Itu adalah pernyataan setelah aku berpikir keras tentang apa arti mimpiku itu. Tapi tetap saja yang jadi pertanyaan dan kebingunganku adalah kenapa harus dia yang muncul? kenapa gak orang lain aja? Kenapa juga aku bergandengan dengannya melewati jalan yang panjang itu? 

Lagi-lagi itu bukan pertama kalinya, selang beberapa hari setelah itu aku memimpikan hal yang serupa, mungkin mirip tapi tidaklah sama. Dalam mimpiku ini latarnya adalah kampus. Kejadiannya adalah di dalam kelas ketika dia sedang berdebat dengan seseorang, aku muncul dan langsung memegang tangannya. Kita sempat bertatapan tapi kemudian keluar kelas dan berjalan dilorong kampus hingga aku terbangun. Hal yang sama dengan pertanyaan sama muncul, kenapa harus dia lagi yang muncul? Kenapa juga aku bergandengan lagi dengan dia? Sebenarnya ini mimpi buruk atau mimpi baik? Kejadian ini hampir membuatku frustasi.

Aku gak tau harus nulis konklusi apa, tapi yang aku tau mimpi adalah cerminan prilaku atau kegiatan yang kita lakukan pada setiap harinya. Jika mimpimu buruk, berarti hari yang kamu jalani hari itu buruk, berlaku sebaliknya. Tapi terkadang hal tersebut gak bisa buat acuan. Dan untuk judul cerpen ini sebenarnya sudah jelas tersirat dalam hal yang aku ceritakan. Semua ini tentang mimpi, jika bermimpi adalah suatu hal yang menyenangkan, kenapa harus terus dipikirkan. Jalani dan nikmati saja, mungkin jika itu bagus, mewujudkannya adalah hal yang harus.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Pras sebagai pemenang.

Pras Aji Zheto

Bebas mau manggil apa. Gua adalah mahasiswa salah jurusan yang ketrusan sampe mau lulusnya. Gak ada yang penting juga buat di deskripsiin tentang gua. Gua gak pernah suka baca, tapi gua suka nulis. Gak penting ya? Oke skip. Oiya satu lagi, bacanya pelan-pelan, jangan buru-buru.

0 comments:

Post a Comment