Tuesday, 11 April 2017

Ketagihan 'Makan Rumah' di Kampung Adat Tololela

Rumah kok dimakan? Sepertinya terdengar menyeramkan bukan? Itulah reaksi saya ketika pertama kali mendengar tentang istilah ini. Tentunya sedikit membuat saya mengerutkan dahi. Eits, tapi jangan panik dulu! Saya bukan rayap yang menggerogoti bagian-bagian rumah dan menelannya mentah-mentah. Yang dimaksud dengan ‘makan rumah’ di sini adalah sebuah ritual yang biasa dikenal dengan nama ka sa’o.

klayap.com
Sedikit cerita, saya ditugaskan untuk mengajar di daerah tertinggal di Bajawa, tepatnya di provinsi Nusa Tenggara Timur melalui sebuah program pendidikan. Yap! Pengalaman itu terjadi satu tahun yang lalu. Kebetulan, saya ditempatkan di daerah yang memiliki adat dan budaya yang sangat kental, sehingga banyak hal yang pastinya bisa saya pelajari di sana.

Ngomong-ngomong, saya akan bercerita tentang tradisi unik yang bisa ditemukan di beberapa kampung adat di Bajawa, salah satunya di kampung adat Tololela. Mengapa harus Tololela? Biar dramatis! Arsitektur kampung adat Tololela yang sangat menarik ditambah keramahtamahan warga masyarakatnya membuat kampung adat tersebut menarik untuk diceritakan. Rumah-rumah adat di kampung tersebut terbuat dari bambu dan alang-alang. Kampung dengan luas 1.000 meter persegi ini merupakan salah satu kampung adat yang bangunannya masih asli. Tidak ada bangunan yang menggunakan semen untuk pondasinya. Atapnya juga masih terbuat dari alang-alang, berbeda dengan rumah adat lain yang sudah ada sentuhan modifikasi.

Selain itu, pemandangannya cukup memanjakan mata karena pengunjungnya dapat melihat keelokan pemandangan di sekitarnya. Jajaran bukit dan gunung yang tampak seperti hamparan karpet hijau yang berkerut membuatnya tampak semakin elok. Pesona Tololela bukan hanya sampai disitu saja, kampung adat yang terletak di desa Manubhara, kecamatan Jerebu, Bajawa ini pernah digunakan sebagai lokasi shooting film berjudul ‘Inerie’ yang diproduseri oleh Lola Amaria lho. Luar biasa kan? 

Okay, back to the topic! Apakah itu ka sa’o? Dalam bahasa Bajawa, ka berarti makan sedangkan sa’o berarti rumah. Singkatnya, ka sa’o bukanlah sebuah ritual memakan rumah, namun sebuah tradisi yang dilaksanakan sebagai pentahbisan rumah adat yang baru maupun renovasi. Ingat ya, bukan ritual memakan rumah dalam arti sebenarnya! Nah, acara ini biasanya dihadiri oleh semua anggota suku, saudara dan kerabat dekat. Lalu mengapa saya bisa masuk untuk menyaksikan acara ini? Padahal saya kan bukan anggota suku, saudara, atau pun kerabat dekat. Yap! Salah satu pemilik sa’o mengundang saya untuk hadir. Tentunya, mereka senang jika tradisi turun-temurunnya dipelajari oleh orang lain. Suatu kehormatan bukan, bisa berada di tengah-tengah mereka?

Pada acara ka sa’o biasanya ditampilkan tari ja’i (tarian adat Bajawa) dan diikuti dengan penyembelihan kerbau dan babi (baca: kerbau-kerbau dan babi-babi). Jumlah babi dan kerbau yang disembelih bisa mencapai belasan. Wah… bisa dibayangkan berapa banyak budget yang dikeluarkan untuk acara ka sa’o ini? Kalkulator mana kalkulator?

Lalu, apa hubungan antara ka dengan sa’o ya? Hubungannya adalah dalam merayakan rumah baru tersebut, kerbau dan babi yang telah disembelih, kemudian akan dimasak untuk dimakan bersama. Dagingnya akan dibagi-bagikan untuk semua orang yang ada di kampung tersebut secara adil. Acara pembagian daging ini dikenal dengan nama meghe. Salah satu rangkaian acara yang banyak orang nantikan. Acara meghe merupakan simbol acara puncak dari ka sa’o dimana orang-orang akan berbaris rapi di halaman tengah kampung adat untuk menerima nasi dan daging-daging itu menggunakan beka (tempat makan tradisional yang terbuat dari anyaman). 

Banyak nilai moral yang bisa saya pelajari melalui ritual ka sa’o misalnya budaya saling berbagi dan berkepedulian satu sama lain. Memupuk tenggang rasa dan keadilan sesama umat manusia. Menghargai nilai ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan menjalin persaudaraan dalam perbedaan. Setuju? Nilai-nilai itulah yang membuat saya kecanduan untuk menghadiri tradisi ka sa’o di berbagai kampung adat di Bajawa. 

Ada yang tertarik untuk mengunjungi kampung adat Tololela? Nih, saya kasih bocorannya. Bila ditempuh dari ibukota Bajawa. kampung ini berjarak kurang lebih 30 km. Akses yang dilalui tidak mudah alias harus mendaki gunung dan melewati lembah lho! Kalian harus melalui jalan mendaki untuk dapat sampai di kampung tersebut, sebab Tololela terletak di lereng Gunung Inerie. Jalur pendakian bisa dimulai dari desa Manubhara. Gak papa lah, sekalian olahraga! For your information, acara adat ka sa’o pun tidak diadakan setiap hari, namun di saat-saat tertentu sebagai rasa syukur tuan rumah yang baru saja menyelesaikan renovasi atau pembangunan rumah adat mereka.

***

Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Nungky Mia Pratiwi sebagai pemenang.

Nungky Mia Pratiwi

Mahasiswa PPG SM3T Universitas Sanata Dharma yang punya kelebihan bisa tidur di sembarang tempat tanpa peduli itu nyaman apa enggak. Punya prestasi pernah minum kopi Bajawa 7 gelas dalam sehari. 





0 comments:

Post a Comment