Thursday, 20 April 2017

Ketika Dr. Zakir Naik Ceramah di Indonesia, Aku Sadar Bahwa....

Bagi Muslim di Indonesia, siapa, sih yang tidak mengenal sosok Dr. Zakir Naik? Seorang penceramah umum yang belakangan ini sangat terkenal melalui video-videonya di Youtube yang mengupas fakta semua agama di dunia. Tidak sedikit umat Islam maupun agama lain yang mendapatkan ilmu tambahan darinya. Sejak debat pertamanya diadakan di tahun 2005 dengan Dr. William Campbell, namanya menjadi memuncak. Itu semua dikarenakan kehebatannya dalam  menghafalkan bab, ayat, bahkan halaman dari setiap kitab suci yang ada di dunia. Otaknya seperti sudah terprogram ala “auto-saving” saat membaca suatu buku dan bisa mengaitkannya dengan kemampuan berlogika yang dimiliki. Yup, aku merupakan salah satu fans beratnya. 


Sejak tahun 1991 memulai karir di bidang da’i (penceramah), akhirnya ia diundang untuk menjadi pembicara terbuka di Indonesia di tahun 2017 setelah sebelumnya melakukan banyak tour seperti Malaysia, Gambia, beberapa negara Afrika bahkan di Inggris dan Amerika. Sebenarnya jauh sebelum rencana kedatangan Dr.Zakir, aku pribadi sudah menonton sekian banyak videonya di Youtube. Namun, aku sudah memikirkan, “Impossible rasanya Dr. Zakir bisa berceramah di Indonesia.”  Bukan karena alasan keamanan, tapi karena bahasa yang dituturkan oleh orang Indonesia itu sendiri. Dr.Zakir merupakan seorang pembicara intenasional dimana semua yang disampaikannya dituturkan dalam bahasa inggris. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Saat info mengenai Dr.Zakir Naik Visit Indonesia bermunculan, aku pun mulai kepo. Entah itu hoax atau fakta. Setelah aku cari tau, ternyata itu real. Panitia juga sudah menyiapkan penerjemah karena mengetahui kondisi masyarakat Indonesia yang terbatas di bidang bahasa inggris. So OK. Aku sudah memantapkan hati untuk menonton langsung di Bekasi, mumpung sekarang aku sedang melanjutkan pendidikan S1 di Cikarang. Yah... tiga puluh menitan lah ke Bekasi kalau enggak macet. Aku berpikiran pasti bakal rugi banget kalau tidak datang. Soalnya Indonesia itu luas. Aku yang aslinya lahir dan besar di Aceh justru merasa sedih saat melihat teman-teman di sana yang ingin menonton langsung tapi terkendala karena jarak dan transportasi yang mahal.  

Hari pun tiba dimana Dr.Zakir Naik akan berbicara di depan 40,000 penonton di Stadion Patriot, Bekasi (08/04/2017). Setelah terjebak macet di bus selama dua jam (terpaksa nyambung Go-Jek agar bisa datang on-time dan bener-bener kepengen nonton) akhirnya sampai juga disana. Walau agak telat ya gapapa, deh asalkan bisa lihat langsung. Awal kedatangan sempat ada perselisihan antara penonton dengan aparat keamanan. Mungkin karena jumlah penonton yang membludak, panitia menjadi kewalahan sehingga yang masuk menjadi tidak teratur. Panitia juga tidak ada yang menjaga di gerbang masuk. Padahal dari registrasi online saja sudah susaaaah banget. Terus tau-taunya saat sampai di gerbang, pihak “situ” justru mengatakan, “Konfirmasi registrasi online sudah tidak berlaku. Karena di dalam sudah penuh.” Otomatis aku langsung mengerutkan kening. Lah, kalau memang mereka tidak berniat menghitung jumlah penonton, untuk apa harus ada registrasi online kalau ujung-ujungnya ada yang tidak kebagian kursi? 

Ah, bodo amat! Aku yakin Allah pasti akan memberikan yang terbaik. Sesudah muter-muter, finally kita bisa masuk ke dalam stadion. Saat masuk, aku langsung menatap ribuan orang yang menonton dan bertepuk tangan dengan meriah. Aku merasa seperti superstar yang baru naik panggung, hahaha. Tau-taunya, bangku stadion di bagian paling atas masih banyak yang kosong. Noh, tadi katanya gabisa masuk karena udah penuh? Sehat, Mas? 

Well, jadwal Dr. Zakir di Bekasi merupakan jadwalnya yang ke empat setelah berceramah di beberapa kota. Aku selalu menonton streaming¬-nya selama beliau ada di Indonesia. Sayangnya, acaranya tidak berjalan lancar seperti yang diselenggarakan di beberapa negara. 

Saat beliau memberikan ceramah selama dua jam, semuanya berjalan dengan mulus tanpa gangguan. Namun tidak disaat sesi tanya jawab berlangsung. Tentu saja, yang menjadi kendala adalah bahasa. Terkadang translator sering kebingungan dengan maksud si penanya (aku juga bingung) karena di Indonesia banyak suku maupun bahasa. Translator yang digunakan di kota sebelumnya juga sering salah menerjemahkan. Sebenarnya, hal seperti itu cukup disayangkan karena di depan kita sedang berdiri seseorang yang sangat jenius bahkan dunia mengakui kehebatannya. Banyak yang tidak mengerti aturan yang diberikan seperti menanyakan to the point, atau dengan bahasa yang lugas. Bahkan waktu 20 menit berjalan sia-sia hanya karena ada si penanya yang bertanya dengan bahasa yang tidak jelas dan berputar-putar. Padahal bagi sebagian besar masyarakat luar, mereka sudah mempraktikkan “Time is Money” dengan baik. 

Jujur saja, aku pribadi merasa kesal dengan orang yang bertanya dengan cara yang aneh entah itu berputar-putar atau justru balik memberi ceramah. Parahnya, tidak sedikit penanya yang demikian. Saat menonton video Dr.Zakir di Youtube, semuanya berjalan lancar karena penanya mampu berbicara dalam bahasa inggris dan bertanya sesuai prosedur, ask to the point. Tapi entahlah. Tidak ada yang bisa disalahkan. Tapi sejak Dr. Zakir Naik berceramah di Indonesia, aku baru sadar bahwa sistem pendidikan Indonesia itu menyedihkan. Kenapa aku jadi lari ke pendidikan? Well... jika kalian mengenal Sacha Stevenson, pasti kalian dengar, kan pendapat dia soal pendidikan Indonesia?

Indonesia memiliki kurikulum pelajaran yang daebak! 13 bahkan 16 pelajaran per semester di sekolah menengah. Daebak tidak? Dan hasilnya, sebagian besar rakyat Indonesia tidak mampu berbahasa inggris bahkan yang meraih gelar sarjana sekali pun. Coba tanya sebagian besar yang mampu berkomunikasi dengan bahasa inggris. Pasti kebanyakan dari mereka mempelajari bahasa inggris dari lagu, game, atau pendidian non formal seperti les yang jauh dari sistem sekolah biasanya. Coba lihat India. Mereka hanya menerapkan enam atau tujuh pelajaran per semester. Tapi mayoritas dari mereka mampu berbicara bahasa inggris dengan baik. Mengapa? Karena India sendiri menerapkan penggunaaan bahasa itu, bukan hanya mempelajari teori kemudian ikut tes tulis lalu selesai. Tidak sedikit juga orang India yang berhasil masuk ke perusahaan ternama dunia seperti Apple atau Microsoft. 

Sungguh sangat disayangkan, aku sadar bahwa sangat lemah pendidikan di Indonesia ini. Jumlah mata pelajarannya banyak namun tidak diterapkan dalam kehidupan. Apalagi saat melihat Dr.Zakir Naik marah karena kesalahan penerjemah di salah satu kota, dan marah karena masalah teknis yang sudah dijelaskan oleh Dr.Zakir sebelumnya. 

Yah... aku enggak bermaksud menjelek-jelekkan pemerintah disini. Kita sebagai warga negara wajib menghormati pemerintah. Walau bagaimanapun kita masih bisa hidup dengan damai dan tentram di Indonesia. Sedikit bersuara dan mengemukakan pendapat, is it Ok, kan? Hehehe

Hope, Disamping lebih banyak menerapkan praktik dari pada teori, semoga kedepannya pendidikan karakter dan moral juga ditanamkan di Indonesia. Bukan hanya sebatas datang ke kelas, duduk, ngerjain tugas trus pulang. Aku hanya manusia biasa, sorry banget kalau ada kesalahan atau menyinggung pihak tertentu. Thanks banget bagi yang udah ngebaca ^_~ 
Share kalau menurut kalian ini layak untuk di share. If no, it your wish, readers  (^_^)

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Millati sebagai pemenang.

Millati Ishaq 

Seorang mahasiswi Desain Komunikasi Visual (DKV) yang sedang berusaha menjadi graphic designer sekaligus penulis yang baik. Jatuh cinta dengan ilmu sastra sejak menginjak umur 8 tahun. Peraturan formal yang mengatur atau mengikat segala kebebasan adalah hal yang paling dibencinya. Tidak suka dengan kegiatan yang bersifat “main-main”. Ngumpul di suatu perkumpulan buat main game, ciptain yel-yel, ngerumpi hal yang enggak banget buat dilakuin. Lebih menyukai kegiatan sosial dan sharing dengan orang yang lebih dewasa. 

0 comments:

Post a Comment