Wednesday, 19 April 2017

Kisah Kepemimpinan John Bleh

Dari semua petualang terkenal, dari yang level Bocah Petualang, Jejak Petualang, Anak Petualang, Anak Langit, Anak Bumi, sampai ke level Antoine de Saint, Steve Fosset, dan Stephen Si Petualang Cinta alias Playboy Cap Tiga Anak yang rumahnya deket masjid itu, pasti kalian tidak pernah mendengar seorang petualang asal Swedia yang bernama John Bleh. Ya jelas belum pernah, lah. Karena John Bleh sangat rendah hati. Tujuan John Bleh berpetualang adalah agar untuk mengasah kepemimpinannya karena suatu saat John Bleh akan menjadi penerus ayahnya yang adalah seorang mandor terkenal di Kotamadya Stockholm. 


John Bleh berambut pirang, sebenarnya tidak asli pirang tapi karena John Bleh adalah seorang mantan Beliebers. Ia selalu mengenakan pakaian ala-ala Che Guevara. Terkesan rebel, katanya. Tapi ingat, John Bleh tidak merokok, minum minuman keras, apalagi judi togel. Tertera di bawah ini adalah tiga motto hidupnya;

“Tiada rotan, cari sampai dapat..”

“Menyelam, ya menyelam aja jangan minum aer, kembung ntar.”

“Sekali mendayung, dua kali mendayung, tiga kali mendayung, dan seterusnya.”

Jelas sekali bahwa John Bleh memiliki sifat optimis yang tinggi sekali alias oper konpiden. Tapi, hal tersebutlah yang membuat ia bisa sampai sejauh ini. Menjadi petualang sejati.

Setiap petualang biasanya memiliki kru. Tak terkecuali John Bleh. John Bleh menamai kelompoknya adalah “kelompok”. Apalah arti sebuah nama, katanya. Bahkan, ketika sudah menikah dan memiliki anak nanti, anaknya akan dinamai “Anak”. Bahkan lagi, anjingnya ya di kampung ia namai “Sotong”. Waw, kenapa tidak dinamai “Anjing”? Ya kembali ke konteks tadi, apalah arti sebuah nama.

Anggota kelompok yang pertama bernama Jin Min To. Tapi kita singkat saja jadi Jinto. Ya dari namanya kita bisa lihat bahwa Jinto adalah orang Jepang (lho, kok bukan Korea atau Cina? Again my friend, apalah arti sebuah nama). Jinto adalah teman sekampus John Bleh dulu, bisa dibilang mereka berdua ini adalah sahabat. Sampai diketahui bahwa ternyata mereka bersaudara. Jauh. Pada tahun 1492, nenek moyang John Bleh yang bernama Mimi Cry sempat menikah dengan seorang ninja Jepang yaitu leluhur Jinto yang bernama Jin Pa Cul. Tetapi kemudian bercerai karena tak sanggup LDR. Kenapa John Bleh bisa tau? Semua ada di diary “Oh Love, Dear Me - Cry part 306” halaman 48b yang telah ditemukan di ruang bawah tanah rumah John Bleh. Ya. Begitulah. Saya juga heran.

Terlepas dari semuanya itu, Jinto memiliki wajah seperti artis-artis Kpop lah yang itulah pokoknya, mau searching cari namanya saya malas sekali. Ia sering terlihat memakai kaos oblong putih dan celana pendek hitam serta sandal jepit sewa-low yang sangat terkenal itu. Terkenal murah. Kepribadian Jinto berbeda dengan saudaranya. Ia sangat ceroboh, sering was-was, dan mudah terprovokasi. Meskipun begitu, ia sangat pandai dalam hal teknologi, yang sebenarnya kurang berguna juga ketika di alam liar.

Kru kedua, yang dalam hal ini adalah seorang bangsawan, seorang putra mahkota, pangeran, prince, lebih tepatnya anak kepala suku Wonoshopping, yang terletak di suatu pulau terpencil yang pokoknya kalian tidak akan mau tau dimana itu. Mau tau? Kepo ah gausah. Kru kedua tersebut bernama Kwimba. Seorang anak kepala suku pastinya sangat lincah, gesit, pandai berbicara dengan binatang (walaupun binatangnya gak pernah jawab), serta ahli dalam memanjat pohon serta berlari. Kepribadian Kwimba adalah bertolak belakang dari status sosialnya. Kwimba sangat naif, apa adanya, dan terkadang tidak memahami situasi dengan cepat. 

Perlu diketahui bahwa John Bleh, Jinto, dan Kwimba masih lajang. Bukan apa-apa, jelas kalau sudah menikah, mana boleh naik gunung dan berpetualang, yang ada itu ya kerja. Cari uang. Buat anak istri. Boro-boro naik gunung, mau main futsal sama temen-temen aja udah dicurigai kok. Ehem. Maaf bagi yang tersindir.

Tak lengkap rasanya suatu kelompok tanpa anggota yang pintar melucu, yang sungguh kocak, yang terganggu fisik dan mentalnya, dan yang paling lebay. Semua sifat tersebut terangkum dalam satu orang anggota yang bernama Madison. Madison adalah seorang laki-laki yang kekar, kuat, tetapi hatinya selembut salju. Keahlian Madison adalah memasak. Madison sudah pernah menikah, tetapi istrinya meninggal karena sebab yang misterius.

Lengkap sudah perkenalan dari Kelompok. Ingat kan anggotanya? John Bleh, Jinto, Kwimba, dan Madison. Jangan lupa.

Sebenarnya belum lengkap, karena masih ada satu anggota lagi. Tetapi, perkenalannya nanti saja karena ternyata repot juga menceritakan satu per satu (baru sadar).

Saat ini, Kelompok sedang melakukan ekspedisi di suatu perbukitan. Bukit Buayaya. Tidak, bukit ini tidak banyak buayanya. Lagi, masih ingat kan? Apalah arti sebuaaa....itulah pokoknya. Nah, sebelum melanjutkan perjalanan, kelompok ini beristirahat di rumah penduduk yang bernama Ibu Kangkungwati. Bu Kang, begitu panggilannya, sangat baik hati. Ia mempersilahkan keempat pemuda tersebut untuk beristirahat di rumahnya yang sederhana. Bu Kang memiliki seorang anak gadis bernama Lady. Nama lengkapnya adalah Melady. Melady adalah seorang yang cantik, baik, dan tidak suka dugem apalagi mencontek teman ketika ujian. Melady sangat menyayangi ibunya. Setiap hari ia membantu ibunya berjualan warung makan dengan menu spesial sayur bayam. Namun, di dalam hati Melady tersembunyi jiwa seorang petualang, seperti Moana from Motunui.

Maka dari itu, ketika rombongan Kelompok datang, Melady seperti terpanggil jiwanya untuk ikut dalam Kelompok. Tetapi hatinya bimbang, karena ia tak sampai hati untuk meninggalkan ibunya sendirian. Dirundung dilema, Melady berpikir keras. 

Berkat pemikiran kerasnya, Melady menemukan solusi.

Tibalah saatnya Kelompok untuk pergi melanjutkan perjalanan, ketika itu pagi hari, tepatnya pukul 11.14 (udah siang apa masih pagi ya ini, nanggung banget). Melady menahan mereka untuk menunggu 15 menit lagi. Jinto berkeras hati ingin melanjutkan perjalanan sekarang, tetapi John Bleh dengan bijaksana berkata, 

“Tak apalah kita menunggu lagi. Aku juga kebelet soalnya.” Sungguh kata-kata yang membuat Melady senang dan berjingkrak di dalam hati.

16 menit kemudian, seseorang tiba-tiba datang dari arah bukit dengan tergesa-gesa lalu masuk ke dalam rumah Bu Kang tanpa permisi. Menakutkan. Madison sangat ketakutan sampai berpegangan pada Kwimba. Orang itu melewati mereka dan langsung menuju ke toilet. Mereka sedikit lega. Tapi, di sana ada John Bleh! Bagaimana ini? Apakah John Bleh dalam bahaya?

Tentu tidak. 

Ternyata itu adalah suami Bu Kang. Ayah dari Melady. Namanya Surojo. Dia pulang dari berladang di bukit, lalu perutnya sakit dan ingin buang air besar. Makanya terburu-buru dan wajahnya menakutkan karena menahan hasrat ingin BAB.

Setelah masalah BAB selesai, Melady langsung meminta izin untuk ikut berpetualang bersama Kelompok.

Akhirnya Melady dapat pergi berpetualang dan ia juga tidak meninggalkan ibunya sendirian. Jenius sekali kamu Lady.

Berangkatlah mereka berlima dengan bekal sayur bayam buatan Bu Kangkungwati. Dalam perjalanan, mereka bersenda gurau dan mengobrol tanpa beban. Tetapi entah mengapa perasaan John Bleh tidak enak. John Bleh tidak mengatakan apapun kepada teman-temannya, karena begitulah sifat John Bleh, macam Kapten Amerika.

Hari sudah gelap, Jinto sudah merengek-rengek minta bobok. John Bleh memutuskan untuk bermalam di tempat itu. Masing-masing orang langsung mendirikan tenda untuk dirinya sendiri, tak terkecuali Melady. Ia belajar mendirikan tenda dari youtube. Susunan tenda mereka dibuat melingkar. Dan di tengahnya ada kayu bakar yang ditumpuk untuk menjadi api unggun.

Ketika akan menyalakan api unggun, Madison berteriak,

“Oh tidak! Kita lupa membawa korek api!”

“Kita pasti akan mati kedinginan, tamatlah kita!” Kwimba pun ikut panik. Semua panik. Namun, John Bleh dengan sangat bijaksana berusaha menenangkan mereka.

“Mari kita berusaha menyalakan api unggun ini dengan cara lain,” John Bleh berusaha mencari solusi. Tapi...
Nihil. Berbagai cara mereka lakukan. Dari gaya pramuka sampai gaya militer. Tidak ada nyala api sama sekali.

Melady mulai menangis. Ia memanggil-manggil nama ibunya. Jinto juga sudah pasrah terduduk termangu. Kwimba tetap berusaha menggosok-gosok kayu, tetapi malah jadi ukiran khas sukunya. Madison memanjat pohon sambil berteriak auo auo. Melihat kondisi anggota kelompoknya yang miris, John Bleh mengambil langkah bijak.

“Baiklah, teman-temanku, aku akan kembali turun bukit untuk mengambil korek api. Kalian tunggu di sini, ya.”

“Terima kasih, John.” Senyum Jinto tersungging.

“Kamu memang dapat diandalkan, John.” Madison berteriak dari atas pohon.

Begitulah jadinya. Sang Ketua pun akhirnya bertanggung jawab, dengan turun kembali untuk mengambil korek api di kediaman Bu Kangkungwati yang kira-kira berjarak 37 kilometer. Sambil menunggu Sang Ketua, para anggota Kelompok berkumpul mengelilingi api unggun yang belum menyala. 

“Lalu sekarang kita bagaimana?” Kwimba memulai pembicaraan. Langsung dijawab oleh Melady.

“Kita tidur saja. Besok pagi mungkin John Bleh sudah kembali membawa korek api.”

Jinto menimpali, “Malas ah. Lebih baik kita membakar sosis aja ini aku punya sosis sapi.”

“Adududu.. Apinya mana Jinto?” Madison centil centil menjijikkan.

“Nih aku bawa Z*pp*.” Jinto mengeluarkan korek api merek terkenal tersebut.

“O iya ya. Kamu kan kolektor Z*pp*. Pasti punya banyak ya. Sini bagi aku satu.” Kwimba bergurau. Tetapi saat itu Jinto sedang baik hati. Mereka diberi masing-masing satu korek gas. Tak terkecuali Melady. Ia mendapatkan versi limited, yang ada tombol ketika dipencet muncul suara gajah. “Krongkreng!” begitu bunyinya. Melady sangat senang. Mereka sangat berterima kasih pada Jinto. 

Semua bersorak gembira. Lalu mereka menyalakan api unggun, membakar sosis, dan bersenda gurau.

Setelah kenyang dan mengantuk, mereka semua memutuskan untuk tidur. Sebelum tidur, mereka berdoa bersama agar John Bleh sampai di tujuan dan berhasil membawa korek api untuk mereka.

Sementara itu, John Bleh berjuang keras menuruni bukit sendirian. Banyak hewan buas menyerang, tetapi dikalahkannya. Tak jarang pula, muncul sosok mistis mengganggu perjalanannya. Tetapi ia tak gentar, tetap tersenyum, dan bersemangat karena yang utama bagi John Bleh adalah mengambil korek api agar teman-temannya tidak kedinginan. Sungguh ia berjiwa pemimpin. 

Demikian Kisah Kepemimpinan John Bleh, cerita sebelum tidur yang sering saya ceritakan kepada istri ketika ia susah tidur. Hasilnya sangat manjur, istri melek semalaman karena penasaran dengan ceritanya. Pasti kalian juga penasaran, bukan? Haha, tenang saja. Akan ada lanjutannya. Sabar ya. Kalau tidak ada ya berarti saya menambah dosa dengan membuat para pembaca sekalian hidup dengan diliputi rasa penasaran yang menusuk-nusuk ke kalbu. 

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Naga sebagai pemenang.

Naga Ligan

Lahir, muda, dan masih betah di Magelang, Jawa Tengah. Penyuka segala makanan pedas dan suka berkata-kata pedas. Pernah bercita-cita menjadi pilot namun takut ketinggian. Hobi selain menulis adalah memutarbalikkan fakta.

0 comments:

Post a Comment