Monday, 24 April 2017

Krisis Jati Diri

Ini persoalan berat, tapi bukan cuman punya anak SMA atau SMP yang masih nyari spot foto bagus atau outfit kekinian biar followers instagram nambah. Tapi saya juga masih. Umur 20 tahun begini juga masih begitu. Mau masih kecil, atau mulai tua, atau udah tua juga masih suka krisis jati diri, disamping uang. Fenomena ini masih suka dilupakan orang banyak, tapi masih nyata bentukannya dan masih bisa diliat di depan mata sendiri. Kalau gasalah, ini toh yang bikin negara susah-susah revolusi mental? Ternyata tanpa disadari sama siapapun, krisis jati diri tuh ada karena tuntutan orang-orang disekitar. Yang menuntut jadi cantik kayak Emma Watson, kurus kayak model-model pakaian dalam di catwalk, yang menuntut kita jadi Albert Einsten kedua, yang menuntut kita jadi presiden termuda di dunia dan masih banyak lainnya. Tuntutan itu kadang memotivasi kita, untuk jadi orang lain saja, untuk cabut dari kelas, untuk makan bakso 3 porsi sendirian, untuk mabuk dangdutan, untuk nyanyi di bawah shower lebih kencang, dan hal-hal bodoh lainnya. Karena intinya takut untuk menemui ekspektasi orang-orang yang selalu, sekali lagi SELALU berbeda dengan kita.


Kalau begitu saya mau kasih tau, kalau itu gak apa-apa. Memang salah, memang menganggu dan menyebalkan, tapi sumpah, itu gak apa-apa untuk tidak memenuhi ekspektasi mereka. Toh apapun bentuknya kita ini, akan memenuhi dan tidak memenuhi kriteria orang-orang di luar sana, jadi gak apa-apa. Mereka sendiri, tanpa ada yang sadar sebenernya juga lupa sama hakikat hidupnya. Buat apa susah-susah kasih ekspektasi orang untuk begini ataupun begitu, kalo mereka sendiri juga gatau ekspektasi yang mana yang harus dipenuhi untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Suka ironis ya hidup di antara makhluk hidup bernama manusia. Krisis jati diri itu sih sebenernya karena ke-gakmau-an seseorang untuk menerima diri mereka yang super apa adanya ini dengan lapang dada. Juga, kadang karna mereka lupa cara jadi hebat versi sendiri, seringnya versi on the spot. 

Mimpi besar, mimpi yang tinggi, mimpi yang jauh, mimpi jadi apa aja, jadi kebo, jadi jerapah, jadi elang, jadi meja, jadi kaus kaki bau, jadi cucian lembap, jadi panci, jadi sayur, jadi sapu, jadi apa aja asal gak mengkerdilkan diri kita sendiri, kecuali memang sudah kerdil. Mimpi apa saja yang sesuai sama minat bakat. Realistis sih perlu, tapi gak usah terlalu didengarkan. Realistis itu cuman kegiatan menyiapkan mental kalo-kalo kita punya pacar reza rahadian siap followersnya nambah 2000, atau kalo kita punya anak harus siap gantiin popok harum kasturi tiap harinya. Itu, namanya resiko yang memang ada di setiap keputusan. Jadi gak usah dibesar-besarin sampe kita harus menjadi kecil nyaingin marmut. 

Krisis jati diri boleh jadi terjadi karna kita belum tau kita mau jadi siapa, atau kita mungkin udah tau tapi ditengah jalan terbawa arus globalisasi. Intinya mah jangan takut sama siapa diri kita. Kita berhak buat jadi seperti apa aja, tapi bukan jadi siapa saja. Mungkin kata-kata be yourself  itu terdengar basi banget ya, dan sangat hits di kala tahun 2008-an dimana majalah cewek kebanyakan menjadikan itu quote favorit di setiap edisinya. Tapi oh tapi, kalau kalian udah pernah mencoba untuk mengeksekusi dua kata mujarab itu di kehdiupan nyata, asli itu susah bukan main. Saya mendingan ngerjain soal integral yang udah saya lupain daripada harus mempertahankan quote yang satu itu. Karna lingkungan kita suka gak terima dengan diri kita yang sebenernya belum juga jadi kayak Lady Gaga atau Nicki Minaj yang dulu. Kita cuman jadi manusia yang misalnya mimpi mau jadi mahasiswa perguruan tinggi favorit, atau mau pergi ke luar negri. Atau bahkan sesederhana pingin naik gunung aja masih suka dilarang-larang. Krisis jati diri seringkali diawali sama yang namanya pembunuhan karakter. Ya itu, dengan praduga dan tuntutan-tuntutan mengerikan yang bikin kita diem, gak kemana-kemana. Kerjanya cuman di zona aman aja tanpa pencapaian apa-apa. Tulisan ini dengan penuh suka cita saya sampaikan untuk mereka yang suka menghentikan kebiasaan orang lain yang bahkan gak merugikan mereka sedikitpun, juga untuk orang-orang yang berhenti bangun tidur dengan bergairah karna dua belah bibir orang-orang di sekitarnya.

***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Larasati sebagai pemenang.

Larasati Puspita Dewi

20 tahun. Insya Allah jomblo sampai halal. Suka menulis semenjak masuk sd walaupun mengalami degradasi dalam hal tulis tangan. Asal depok, tapi tenang saya bukan tukang begal, kejahatan terbesar saya masih ngambil pulpen yang ketinggalan di kelas. Keturunan Jawa tapi muka Arab, gak apa-apa saya suka diversitas. Semoga yang ngeshare dapet pahala dan masuk surga Aamin. 

0 comments:

Post a Comment