Saturday, 22 April 2017

MABA (Mahasiswa Bangkotan)

Kalau boleh memilih, saya tidak mau jadi mahasiswa. Saya lebih memilih jadi orang biasa saja, tidak pintar atau bodoh. Yang sedang-sedang saja, kata seorang Haji yang posternya selalu nangkring di tembok warteg langganan saya. Jadi mahasiswa itu susah, banyak cobaan daripada bahagianya. Ah, kalau saya ceritakan dukanya nanti kamu nggak mau kuliah seperti saya, nanti orang tuamu marah dan kecewa.

pinterest
“Sah, Isah, bangun!. Pak Min jadi datang tuh!”, ujar Tami galak.
Ergghh, apaan?, tadi katanya nggak bisa. Gimana sih?”, saya mengucap jengkel sambil mengucek-ucek belek yang masih menempel. Ngantuk. 
“Ini jam berapa?”
”Jam setengah delapan”, Tami melengos pergi.
Saya hanya bisa ngedumel dalam hati, padahal saya baru tidur jam empat subuh tadi. Begadang, merampungkan drama korea. Entahlah, pagi hari selalu seperti ini, mau jengkel, marah, capek jadi satu. Seringkali mereka memberi harapan palsu, ya dosen-dosen itu. Maunya berjanji terus, eh akhirnya tidak ditepati. Dan kamu kalau mau jadi mahasiswa, harus maklum.

Bau sedap dari rumah makan Padang tercium dari seberang jalan, aduh perut saya mulai keroncongan, seperempat jam lagi Pak Min janji datang, “Kamu tidak boleh telat”,  katanya. Segera saja saya berlari kencang dengan gerimis yang mulai mengguyur. Mungkin benar kata si Tami, bulan ini musim hujan. Ia ngoceh seperti pawang hujan saja, rame dan bikin saya pusing. Dingin, saya mulai masuk angin. Orang di pinggir ruko heran melihat saya yang lari sambil loncat-loncat seperti orang kebakaran rumah.

Kata banyak orang, jadi mahasiswa itu enak, dan banyak senang-senangnya. Iya sih, tapi asal kamu tahu, yang cerita itu pasti bohongnya minta ampun. Iya, senang hati menerima tugas yang segunung. Senang hati dikecewain sama dosen. Senang di suruh ini-itu untuk akhirnya tidak diluluskan. Aduh, senangnya!

Masih belum percaya? Nah, sekarang coba saya cerita tentang Bu Ipda. Dosen paling cantik nan judes seantero kampus ini. Kamu ke kampus pakai sepatu warna merah? Bu Ipda nyerocos  panjang kali lebar pangkat tiga meter kubik. Kamu ke kelas basah-basahan setelah susah payah menerjang hujan demi kelasnya, apa kata Bu Ipda?
“Saya, paling tidak suka dengan mahasiswa yang terlambat dan lecek, basah-basahan, sepatunya kotor. Silahkan Mbak dan Mas-nya pulang saja”.
Aduhai, lembut nian kamu Buk, pengen di kekep deh.

Jam delapan pas saya sudah duduk di depan pintu kelas, masih tertutup, belum ada yang datang. Baju saya lumayan basah kena hujan, ditambah saya belum makan,  jadilah perut saya berbunyi dengan riang-nya. Krucuk krucuk. Mungkin itu suara yang biasa kamu dengar kalau sedang lapar, entahlah, apa karena saya terlanjur terbiasa atau apa, belakangan ini bunyinya sudah beda, macam-macam jadi campur aduk. Sehingga saya bingung membedakan mana bunyi perut yang lapar, masuk angin, kekenyangan ataupun sekedar mencret setiap akhir bulan. Karena di akhir bulan saya hanya makan mie instant saja, uang saya sudah tak tertolong. Buat makan di warteg saja sudah malu, banyak hutangnya.

Dua puluh lima menit sudah lewat, lorong masih sepi. Jangankan mahasiswa lain, Pak Min saja tidak nampak batang hidungnya, oh iya, saya lupa Pak Min hidungnya pesek. Jadi sangat susah untuk melihat dimana garis batang hidungnya. Kadang saya kasihan, lihat Pak Min yang susah payah memasang kacamata presbiophy-nya saat sibuk presentasi. Melorot terus. Mendadak saya terngiang dengan chat WhatsApp yang pagi tadi dikirim Pak Min.

“Kamu jangan sampai telat ya, saya tunggu jam delapan pas. Tidak kurang atau lebih!”, ditambah empat emoticon senyum. Aduh pak, kamu kok imut sekali. Naskah skripsi saya sedikit luntur pinggirnya, kena hujan tadi. Untung saja hanya pinggir, bukan bagian dalamnya. Karena saya sudah bosan bolak-balik ketempat fotocopy, bosan juga ditanya oleh mas-mas penjaganya, “Lho mbak, kapan lulusnya?, dari kemaren-kemaren kok masih buat skripsi”, yah, saya cuma bisa meringis selebar-lebarnya supaya dikira ramah. Biasanya kalau orang lain yang tanya,  jangan kaget mereka langsung kapok sebab saya maki-maki. 

Saya telepon Pak Min berkali-kali tidak diangkat, saya SMS dan coba chat sampai  belasan kali juga tidak dibalas, padahal saya cukup senang ketika tujuh kali saya telepon ada suara perempuan yang mengangkat, “Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah anda hubungi sesaat lagi”. Saya kecewa. Pak Min mungkin tidak datang, padahal saya sudah beli tiket pesawat buat pulang kampung lusa. Kalau hari ini Pak Min batal bimbingan, maka sampai kapan saya bakalan lulus?

Sudah jam duabelas lewat tujuh menit, empat jam sudah saya menunggu. Terlantar dan kelaparan, barulah SMS dari Pak Min masuk. “Mbak, maaf ya saya ada rapat penting. Coba nanti Mbak tunggu di ruang 301 ya. Saya tidak tahu jam berapa bisa bimbingan skripsi, coba tunggu saja ya”. Saya balas cepat, “Oh ya Pak, Saya tunggu”. Jengkel. Tapi mau bagaimana lagi, saya mahasiswa. Kata kakak tingkat saya, memang beginilah nasib mahasiswa semester tua, apalagi kalau lebih tua dari yang tua. Sesepuh kampus kami bilang. Sejenak saya ingat, ayam goreng yang saya beli tadi malam masih di dalam kulkas. Sengaja saya simpan buat sarapan pagi tadi. Saya chat Tami.

“Mi, ayam goreng dalam kulkas jangan dimakan ya. Nanti aku makan. Kamu kalau lapar makan aja mie rebus di atas lemari makan”, klik, terkirim. Belum dibaca Tami. Menjelang sore, hujan turun lagi. Padahal tadi sudah reda, tinggal gerimis keci saja. banyak calon mahasiswa baru yang lalu lalang mendaftar ujian masuk, beberapa kelihatan sumringah ada juga yang kelihatan masam. Saya jadi ingat awal kuliah dulu, muka saya seperti jenis mahasiswa yang pertama. Sumringah. Awal masuk kampus apa-apa kelihatan wah,  tapi pas dijalani kok jadi loh?

Sore makin kelihatan gelap, Pak Min datang dari ujung lorong. Beliau memakai batik warna coklat-emas dengan celana bahan kain warna abu-abu dan sepatu pantofel warna hitam tidak mengkilap, mungkin karena kena hujan sepatunya jadi kelihatan kusut. Rambutnya yang dari jauh seperti Hatta Rajasa kelihatan layu kena hujan, basah. Saya pasang muka semangat empat lima, gigi yang sengaja saya pamerkan setelah seminggu sebelumnya di behel pun tak lupa saya persiapkan, cek ada kulit cabai atau sayur kangkung sisa tadi malam atau tidak. 

Belum sempat saya sapa, alih-alih minta maaf karena terlambat. Dengan teganya beliau melambaikan tangan, membuat gerakan untuk memeriksa handphone saya lantas dengan santai masuk ke ruangan sebelah untuk mengambil kunci mobilnya, dan kemudian menghilang dari pandangan. Saya segera sadar dan kembali melihat layar handphone yang disana tertera dengan jelas pesan :
“Mbak Aisah, bimbingan tidak jadi hari ini ya. Sebab sore ini saya mau mudik ke Jember.  Kalau tidak hari ini mudik, nanti tiket keretanya mahal Mbak”.

Aduh Tuhaaann, peduli amat dengan tiket-mu Pak!, hampir lebih sembilan jam saya menunggu. Dengan teganya Bapak, ah sudahlah, lebih baik saya pulang ke kos, makan dan kemudian tidur menenangkan diri. Badan sudah lelah, remuk, pegal. Hati pun sudah tak tahu lagi apa rasanya, jengkel, kecewa, sedih, capek jadi satu. Pulang pun saya disambut hujan deras, sederas-derasnya. Basah, badan dan seluruh yang melekat ditubuh sudah tidak saya pedulikan. Saya sudah tak peduli lagi dengan skripsi saya. Entah seperti apa bentuknya sekarang, carut marut luntur sana-sini.

Sampai rumah, sepiring nasi dan ayam goreng sudah ada di lantai. Saya ganti baju, lantas dengan gembira menyantap ayam goreng saya. Dalam hati saya memuji Tami, betapa baiknya dia. Walau memang dia cerewet, tapi siapa sangka dia dengan perhatiannya menghidangkan makanan untuk saya. Saya pikir dia tahu betapa lelahnya saya hari ini. Degan terharunya saya makan dengan lahap. Pintu depan terbuka, Tami dengan payung Hello Kitty-nya masuk buru-buru.

“Loh, Sah. Jangan kamu makan itu!, tadi saya belum sempat balas chat, kuota saya habis. Ini baru pulang beli kuota”. Perasaan saya mulai aneh, “Itu ayam basi, jadi rencananya saya taruh dipiring buat kucing tetangga nanti”. Aduh, senangnya jadi mahasiswa. Dan sepertinya lusa saya tidak jadi mudik, mungkin saya akan tidur saja di kost.
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Yufegi sebagai pemenang.

Yufegi Dinasti Sutrisno
Lahir di Sumatera Barat, 23 Februari 1998, 19 tahun silam. Hobi menulis dan membaca berbagai jenis buku. Bercita-cita menjadi penulis, pengusaha dan pembicara. Kalau gak percaya main aja ke instagramnya @yufegids. Sekarang sedang berkuliah di Universitas yang ada di Jawa Tengah. Dan lagi sibuk meneliti tentang studi kasus menghitung berapa banyak sudut bintang dan kenapa bintang itu digambar lima atau empat sudut. 








0 comments:

Post a Comment