Saturday, 15 April 2017

Madura dan Besi Tua

Konon, pada akhir abad ke 15 dan awal abad ke 16, tepatnya ketika masa keruntuhan impermium Majapahit—para pengikut yang masih setia hingga  berakhirnya masa kejaan Majapahit akhirnya lari dan berpencar ke berbagai wilayah Nusantara: prajurit lari ke Bali, para Kesatria dan Punggawa memilih lari ke arah utara dan selatan, sedangkan Empu lari ke Madura dan berkumpul dalam sebuah desa yang bernama Aeng Tongtong, Soengenep (Sumenep). Hingga hari ini, desa itu dikenal sebagai desa penghasil keris.


Pada suatu masa, saya pernah bingung ketika membedakan antara Pandhe dan Empu. Untuk menemukan perbedaan antara keduanya, saya memilih jalan yang berputar-putar.

Begini.

Profesi tukang kayu, dalam budaya Jawa disebut Undhagi. Ahli kuningan disebut Gemblak. Ahli tembaga disebut Sayang. Jlagra adalah seorang yang mempunyai keahlian dalam bangunan, terutama pada struktur batunya; sederhanya adalah tukang batu. Kundhi adalah pengrajin gerabah, pembuat batu bata, genteng, dan lain-lain. Pandhe sebutan untuk seorang ahli besi. Sedangkan Empu, satu tingkat di atas Pandhe.

Kemampuan Empu dalam bidang metalorgi, dunia perbesian—dalam konteks khasanah keilmuan Nusantara yang notabene bukan wilayah penghasil besih (terbesar)--sungguh merupakan pengetahuan yang sangat ampuh dan misterius. Keris adalah salah satu produknya, merupakan senjata tusuk yang memiliki kekuatan magi.

Bagaimana tidak, dari bahannya saja, keris diciptakan dari dua unsur semesta: unsur bumi (pasir besi) dan langit (meteor). Saya tidak tahu, apakah ini ada kaitannya dengan konsep ‘Ibu Bumi Bapa Angkasa’ yang merupakan simbol kesempurnaan? Yang jelas, hingga hari ini, sebagian dari masyarakat kita masih percaya bahwa, keris adalah benda yang memiliki kekuatan supranatural.

Mengapa demikian?

Ya ndak tau. Tapi, menurut informasi dari salah seorang karib, cara pembuatan keris mirip dengan—ketika sesorang menggulung dinamo: ditarik dan diulur. Awalnya, bahan yang berasal dari pasir besi itu dipanaskan dengan suhu yang sangat tinggi, kemudian dibentuk dengan cara dipukul. Pada saat proses dipukul-pukul itulah material yang non-metal akan merothol. Setelah itu, masih dalam keadaan suhu yang tinggi, besi yang dipukul-pukul akan modhot, lalu dilipat (sehingga menjadi pendek), dipukul lagi, dilipat lagi, dan seterusnya. Pada proses itulah, keris memiliki kandungan elektro-magnetik. Dan, ditambah dengan bahan meteor—yang secara nature memiliki komposisi kimia tertentu, selain akan menjadi yoni (motif atau sret-sret berwarna putih pada badan keris), tidak mustahil jika keris dapat mengacaukan sistem medan elektromagnetik yang berada diluar dirinya—oleh budaya dijuluki sebagai daya (baca: kekuatan).

Pada tahun 1930, meminjam M. C. Ricklefs dalam bukunya yang berjudul: Mengislamkan Jawa; bahwa tahun tersebut merupakan masa depresi ke-2 (depresi pertama adalah tahun 1830, yakni perang Diponegoro) di mana banyak sekali problem-problem ekonomi yang membuat sebagian penduduk Madura merantau ke Surabaya. Ketika itu, Surabaya merupakan kota industri yang dipersiapkan untuk mem-backup kepadatan lalulintas perdagangan Batavia yang notabene sebagai pusat industri. Sedangkan empu yang berkumpul di Madura tadi, tak luput dari dampak krisis ekonomi. Akhirnya mereka merantau ke Surabaya, beralih profesi sebaga reparasi bus, reparasi kereta, dan lain-lain—yang tentu masih berkaitan dengan dunia perbesian.

Kemudian, pada masa berakhirnya masa kolonilaisme, dan terjadi nasionalisasi di segala bidang, di sinilah cikal-bakal motif perdagangan besi-besi tua itu.  Misalnya, kasus Perusahaan Pelayaran Kerajaan Belanda: K.P.M (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) yang didirikan pada tahun 1888 untuk melayani pelabuhan-pelabuhan besar, juga pulau-pulau kecil untuk keperluan pemerintahan dan kepentingan kolonial Belanda menghubungkan pulau-pulau di Indonesia. Ketika Indonesia merdeka, dan secara resmi K.P.M digantikan oleh PELNI, perusahan (dengan nama) baru itu tidak berhasil menyamai kesuksesan K.P.M. Ditambah keterbatasan kemampuan memelihara, dan keterbatasan sparepart, maka jadilah ia besi-besi tua yang kemudian dilirik oleh orang Madura sebagai sebuah peluang bisnis.

Pada perkembangannya, laiknya rantai makanan, bisnis besi tua pun secara alamiah membentuk rantai bisnisnya sendiri. Bayangkan saja nasi tumpeng; bagian paling atas adalah pabrik, lalu di bawahnya adalah para saudagar besi tua. Di bagian ini, klas saudagar besi masih dibagi lagi menjadi: A1, A2, dan A3. Dan, di bawahnya lagi adalah pengepul, atau tukang rosok. Sedangkan bagian paling bawah adalah para pemulung. Ketika kesadaran ‘rosok’ terwariskan kepada banyak orang, maka muncullah sistem ‘Bank Sampah’. Dan, secara otomatis rantai bisnis besi tua ditambah satu gandul lagi. Pertanyaannya adalah, apakah para pedagang besi tua ini adalah para empu dalam versi yang non-spiritual, laiknya pandhe yang wawasan metalorginya menyublim dalam bentuk yang lain? Tentu saja jawabannya tidak. Atau, kita ambil jalan tengahnya: tidak tahu.
 
Justru yang lebih mengganggu pikiran saya adalah: siapakah Madura, jauh sebelum Majapahit dan kerajaan-kerajaan lain? Dugaan sementara, saya kira Madura adalah kerajaan Pringgadani. Yakni sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja muda berkumis lebat bernama Gatotkaca, yang ototnya kawat dan yang paling pentingan adalah tulangnya bessi, dik, bessi....
Itu!
 
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Fajar Saputro sebagai pemenang.
Fajar Saputro

Lahir di Surabaya, 28 Juni 1984. Dari SD, SMP, hingga SMA sekolah selalu berpindah-pindah dan untungnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga S1 fakultas Ekonomi di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Sudah menikah, dan sudah dikaruniai seorang puteri. Pekerjaan hanya wiraswasta biasa. Kegiatan lain, sebagai Ketua Umum di Padepokan Les Kendalisodo – Gresik.

0 comments:

Post a Comment