Monday, 10 April 2017

Manusia di Atas Rata-Rata

Ada yang ngomong, “orang gila dan orang sukses itu beda tipis.” Kebayang gak? Ini quote dari salah satu manusia di atas rata-rata. Termasuk gue yang tiap hari di asrama sama teman-teman, makannya pake Seping. Itu loh, buah asam yang belum mateng bener. Buah itu kan nantinya kalau udah ditumis baru mantep. Maknyus tenan reek!!!

segiempat.com
Terlepas dari itu semua, gue dan kelima sahabat gue di asrama STKIP PC NW, punya mimpi-mimpi yang mungkin masuk kategori paling menentukan nasib dunia. Kok bisa? Nih, gue sebutin ya. Sebut aja nama sahabat gue yang pertama, namanya Indra. The cool man.  Sebutan untuk orang yang punya mimpi jadi penerusnya Philipus Brown. Dia katanya pengen jadi milyarder dan nyumbangin separuh hartanya buat anak-anak di timur tengah. Itu sih katanya. Terus yang kedua dan ketiga Umar dan Mustaqim. Yang satu jago Tilawah Qur’an dan yang satu hobinya keliaran ke alam bebas. Mimpi mereka sih, bisa disimpulin hampir sama, yaitu sama-sama pengen jadi legenda buat negaranya. Terus yang keempat namanya Ariel. Nama aslinya Satria. Bukan semata-mata dia dapat nama itu karena tampangnya emang 11:12 sih sama Ariel. Tapi di bagian rambutnya doang. Wkkkk. Eiiitss, jangan salah. Dia adalah mahluk penuh cinta dan paling puitis yang pernah gue kenal. Sering banget debat sama gue soal otak kanan sama otak kiri. Logika dan imajinasi. Weeiiiss, jadi ngesok nih gue. Iya emang gitu. Ariel bilang, "Dunia yang terlalu berlogika bisa  jadi melupakan cinta antar sesama". Ciiieee. Perhatian banget sama negerinya. 

Itu lah sosok Aril, si pujangga dengan sejuta cinta dan impian buat siapa pun yang dekat ama pribadinya. Dia pernah muji gue, katanya, “Bay, otak kanan lo over well!!!” seraya memasang karisma Bung Karno dan melanjutkan omongannya waktu itu, “Bay, lo tahu nggak, kalo tadi gue gak serius? Otak kanan emang mempengaruhi 80% kehidupan daripada otak kiri,” gitu kata Aril. Tapi bukan dia aja yang mirip sama artis. Gue kenalin, yang terakhir namanya Jamal Al-Afghani. Kok dia aja yang namanya disebutin lengkap? Biar kalian tahu kalo Afghani adalah nama untuk orang yang tergila-gila sama Sahrulkhan. Iya, dia emang punya tampang hampir mirip dah. Jamal itu sahabat kita yang paling sering ngasih santapan rohani alias ceramah soal agama di asrama PC NW. Nggak habis makan, habis bangun tidur, habis dari toilet, bahkan sambil ngantuk dan baring-baring kompak aja ia kadang-kadang ceramahin kita. 

Kalo kita sih, pemimpi kelas berat yang gak peduli aturan. Bayangin aja, hukum sekarang gak kenal namanya kasih sayang. Terlalu terikat ama aturan jadi lupa sama kreativitas yang bikin kita jadi manusia di atas rata-rata. Bener gak? Kayak gue sama kelima sahabat gue yang punya mimpi “menaklukan dunia”. Iya, kita emang hobi ngelakuin hal-hal yang kata orang itu mustahil. Padahal hidup kan memang masuk kategori abstrak yang penuh ketidakpastian? Hehe, udah lo semua jangan mikir jauh-jauh.

Nih gue kasih tahu ya? Ternyata, kalo dipikir-pikir, omongannya Om Albert Enstein itu bener. Om Einstein kan pernah bilang, “Semua orang adalah jenius.” lah terus, kalo semua orang terlahir jenius, kenapa kita sekolah? Haha. Nyantai aja, gak perlu keratin dahi broowww. Itu lah kenapa orang-orang yang gila tapi sadar dengan kegilaannya dalam belajar untuk dapet ilmu adalah orang-orang di atas rata-rata yang suatu saat akan dikenang orang karena berhasil naklukin dunia lantaran kegilaannya. Udah, jadi diri lo sendiri dan gunakan aja kreativitas dan imajinasi untuk merubah dunia yang mau lo ciptain. Kayak kita-kita ini, semuanya adalah makhluk melarat yang pengen kejar beasiswa ke luar negeri. Kalo gue mau ke Paris. Belajar sastra dan filosofi. Gue kan pengen jadi penulis dan guru bangsa. Yah gak mungkin kan kita ngajarin satu dunia sekaligus. Makanya gue nulis. Lo gak percaya sama yang namanya mimpi? Haduh
***
Tulisan ini ikut arisan godok bulan April. Silakan dibagikan jika menyukai Bayu Maherta sebagai pemenang.

Bayu Maherta

Lahir di Alas,23 Maret 1996. Mahasiswa STKIP Paracendekia NW Sumbawa. English Department dan Sastra. Anak bungsu yang lahir bukan dari keluarga penulis. Belajar menulis secara otodidak dan mengambil Jurusan Sastra Inggris untuk mengarahkan minat menulis. 


0 comments:

Post a Comment